Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

One Day Training Bekam








Institut Dakwah Tauhid (IDETE) bekerjasama dengan Bidang Perempuan di bawah naungan KAMMI Komisariat  LIPIA  telah sukses menggelar pelatihan One Day Training Bekam.

Acara yang dilaksanakan pada hari Ahad, 5 November di Aula Masjid Al-Ikhlash lantai 4, Jati Padang, Pasar Minggu. Dihadiri oleh 34 peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswi dan umum.

Pelatihan yang ditujukan khusus untuk akhwat ini mengambil tema Melestarikan Pengobatan Rasulullah SAW. Bekam adalah metode terapi klasik yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya dan telah teruji keefektifitasan-nya untuk mencegah, mengobati dan meringankan berbagai penyakit.

Oleh karena itu, melalui pelatihan ini, diharapkan semua peserta dapat menguasai softskill bekam yang nantinya dapat dipraktikkan secara langsung kepada masyarakat. Mengingat pentingnya keutamaan bekam ini, maka One Day Training Bekam melaksanakan tiga sesi dalam membekali softskill pesertanya, sesi yang pertama dimulai dengan materi Konsep Sehat dan Sakit” oleh Ns. Utari Suzan Balqis S,Kep. Kemudian dilanjutkan dengan materi “Satu Keluarga Satu Pembekam” oleh Ummi Iis Muflihat, pemilik rumah bekam di Depok. Untuk sesi yang ketiga, semua peserta berpasangan melaksanakan praktik bekam yang diawasi oleh pemateri sebelumnya, dibantu dengan seorang asisten yaitu Ibu Ria Ratnaningsih.

Output yang ingin dicapai adalah setiap peserta dapat melaksanakan konsep sehat ala Rasulullah SAW dengan mengikuti pengobatan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, salah satunya bekam. Pelatihan yang sekaligus kegiatan sosial ini melibatkan tiga orang ibu dari TPA-IQ Al-Fath yang kami fasilitasi secara gratis.
Karena beragamnya makanan yang kita konsumsi ditambah dengan pola hidup yang tidak sehat, menyebabkan banyak sampah yang tertimbun dibawah permukaan kulit kita dalam bentuk toksin atau darah kotor. Dan itu harus dikeluarkan dengan Bekam.” Ujar salah satu pemateri. 

Acara ditutup dengan penjelasan singkat bagaimana menjaga alat bekam agar tetap steril oleh Ibu Utari. Selain kemampuan bekam, para peserta senantiasa dibekali dengan keyakinan bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah SWT dan bekam yang disertai dengan keyakinan pasien dan terapisnya hanyalah salah satu jalan untuk memperolehnya. 

Tak kalah penting, pelatihan bekam ini tidak akan sukses kecuali Allah telah menakdirkan kesuksesan, kemudian atas kerja keras para panitia yang mengorbankan waktu dan kemampuannya untuk membantu terselenggaranya acara ini. Semoga dengan acara ini Allah ridhoi dan Allah takdirkan kita dengan rahmatnya untuk berkumpul bersama dengan Rasulullah di akhirat kelak. Amiin.

( Rep : Siti Nuril Fatimiyyah) 



~Sedang mendengarkan arahan untuk persiapan praktek~

~Foto berang peserta dan pelatih~







             


Kemuliaan perEMPUan



Islam memandang perempuan memiliki banyak keistimewaan. Bahkan, al-Quran telah banyak mengungkap kepada kita tentang kedudukan seorang perempuan. Rasulullah SAW ketika ditanya siapa orang yang paling berhak dihormati, beliau menjawab, "Ibumu! Ibumu! Ibumu! Kemudian ayahmu." Subhanallah, begitu mulianya seorang perempuan dalam Islam.

Perempuan yang mulia, bukan mereka yang hidup serba ada, bukan mereka yang selalu dipuja, bukan pula mereka yang mampu menaklukan banyak pria.

Julukan perempuan sejati adalah untuk mereka yang mampu menjaga kehormatannya, menghias diri dengan iman dan taqwa, dan mampu menjaga akidahnya.

Perempuan sejati adalah mereka yang berupaya mencerdaskan diri untuk perkara dunia dan akhiratnya.

Perempuan sejati adalah mereka yang mampu berfikir 2 kali. Berfikir untuk dirinya juga untuk keluarganya.

Dan hanya mereka perempuan sejatilah yang dapat disebut butir-butir berlian. Karena mereka mampu menjaga diri kapanpun dan dimanapun.

Begitulah banyak keistimewaan yang dimiliki perempuan sejati. Itulah mengapa mereka disebut perEMPUan. Artinya, mereka telah dipercaya memiliki berbagai keahlian. Pun seorang EMPU haruslah dihormati, dimuliakan, dibimbing dan disayangi.

Perempuan adalah perhiasan dunia, pun ia adalah tiang negara.

Maka dari itu, untuk kalian para perempuan. Jangan ragu untuk menyerukan aksi, karena kalian adalah pembentuk generasi. Jangan takut untuk menjadi berbeda, asal kalian bermanfaat untuk sesama.

Sungguh, kalian lebih dari itu perepuan sholihah.


Penulis : Anggun Sukma Faradila ( Sekretaris al-Fath)

Perhiasan Islami


Perhiasan adalah pernak pernik yang identik dengan perempuan. Karena perempuan itu cantik, dan suka pernak pernik yang cantik cantik. Perilaku yang cantik, ekspresi yang cantik, make up yang cantik, baju yang cantik, segalanya yang terlihat cantik, perempuan menyukainya. Karena itu wanita gila terhadap perhiasan, karena perhiasan bisa bikin cantik.

Tapi dalam Islam, perempuan adalah kecantikan itu sendiri. Perempuan adalah kecantikan yang membuat segala di sekitarnya terlihat cantik. Suatu ruangan terasa benderang dan ceria jika hadir seorang perempuan di dalamnya. Acara televisi digilai masyarakat karena banyak bintang perempuan yang tampil. Dan dalam aspek kehidupan lain. Situasi yang melibatkan kehadiran perempuan jadi terasa berbeda. Jadi pendeknya, Islam menganggap perempuan adalah perhiasan. Dan sebaik – baik perhiasan adalah perempuan shalihah.

Apa sih yang menjadikan perempuan itu perhiasan? Tentu saja wujudnya secara fisik adalah perhiasan. Islam membaginya menjadi perhiasan yang tampak, dan tidak (boleh) tampak.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An Nur : 31)

Nah, seluruh tubuh perempuan adalah perhiasan. Perhiasan yang tampak adalah wajah dan telapak tangan, selebihnya harus dilindungi, dan dibatasi siapa yang boleh melihatnya.

Perempuan suka sekali make up. Karena dianggap menambah kecantikannya. Sesuatu yang cantik jadi semakin cantik menggiurkan setelah dipulas makeup. Maka Islam juga membaginya, menjadi makeup yang boleh ditampakkan dan tidak boleh.

"Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang – orang jahiliyah yang dahulu." (Al – Ahzab: 33)

Ada beberapa hiasan yang diatur dalam islam. Dalam sebuah hadist,

"Kami dilarang berkabung untuk mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami tidak boleh bercelak, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang bercelup." (HR. Bukhari & Muslim)

Bila dibaca dan dipahami dari hadis diatas, berarti selain hari berkabung kita diperbolehkan untuk bercelak, memakai wewangian dan pakaian yang bercelup. Ada hadis lain juga yang menyebutkan larangan – larangan pada kondisi berkabung (ihdad).

Ibnu Qudamah Al – Hanbali berkata, “Haram atas perempuan yang tengah berkabung memerahkan wajahnya dengan bahan yang digunakan untuk memerahkan wajah (kalkun), dan memutihkannya dengan bahan berwarna putih untuk berdandan (‘arais), karena yang demikian lebih tinggi pemakaiannya daripada khidhab.”

Nah, itu artinya perempuan Islam juga diizinkan memakai make up, namun tidak boleh berlebihan, dan tidak di masa berkabung setelah kematian suaminya. Make up-nya pun hanya diizinkan di area yang boleh diperlihatkan, yaitu wajah dan telapak tangan.

Namun setelah semua pemaparan tentang perhiasan perempuan secara fisik. Ada perhiasan sesungguhnya yang dipuja dan dibanggakan Islam akan keindahannya. Yaitu perempuan shalihah. Islam sangat menjunjung tinggi term perempuan shalihah. Karena perempuan dengan akhlak yang mulia dan perangai santun menyejukkan, akan mengeluarkan aura kecantikannya yang sesungguhnya.

“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim,Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Karena menjadi perempuan shalihah itu artinya menaati semua perintah Allah dan RasulNya. Dan apakah yang lebih indah dari seorang yang cantik wujudnya yang menaati Tuhannya sehingga cantiklah perilakunya. Kecantikannya sempurna. 

Oleh : Atikah Kinasih 

Kapitalisme Lecehkan Wanita

Semenjak berakhirnya Perang Dunia II dan berdirinya PBB, keuangan dunia dipegang oleh 5 negara pemilik hak veto, terutama AS. Saat itulah sistem kapitalisme mulai menjajah negeri-negeri di dunia ini, termasuk Indonesia. Walaupun di awal pemerintahan Soekarno menolak tegas sistem kapitalisme dan ingin menghancurkannya, namun penyebaran sistem kapitalisme ini tak dapat terbendung pada zaman pemerintahan Soeharto. Soeharto yang sering berhubung erat dengan AS maupun PBB, menjadikan Indonesia semakin teracuni oleh sistem Kapitalisme.

Langkah kapitalisme terus berkembang setiap tahunnya, terlihat dari kenaikan BBM yang kita rasakan terus- menerus. Banyak masyarakat yang kurang menyadari bahawa 36 kali kenaikan BBM semenjak tahun 90-an hingga saat ini sangat menguntungkan kaum kapitaslis. Belum lagi akhir-akhir ini dihebohkan dengan keberlanjutan proyek Reklamasi yang jelas-jelas makin menguntungkan kaum kapitalis dan menindas kaum miskin. Industri-industri besar milik asing semakin makmur di atas tanah reklamasi Indonesia. Penduduk pribumi Indonesia malah terusir dari Teluk Jakarta hingga memaksa mereka tinggal kolong –kolong jembatan. 

Sistem kapitalisme di dunia termasuk di indonesia ini telah menyebabkan kemiskinanan global. Jutaaan rakyatnya terbelenggu kemiskinan, sedang di sana klongomerat makin kaya. Klaim sesat Kapitalisme “pertumbuhan ekonomi adalah sarana utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat” semakin dapat dipatahkan. Dalih meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara bukannya menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat, justru memperlebar kesenjangan sosial dan memperburuk tingkat kemiskinan. Sistem kapitalisme telah berkali-kali terbukti hanya memusatkan kekayaan pada tangan segelintir orang dan memiskinkan rakyat secra massa.

Akibatnya kaum lelaki mengalami pengangguran massal, sehingga memaksa banyak wanita mencari pekerjaan ke luar negeri untuk bertahan hidup. Satu dari 54 wanita Indonesia harus berkerja di luar negeri untuk membantu keuangan keluarga, meninggalkan anak-anak mereka, dan menyebabkan mereka harus mengkrompromikan peran penting mereka sebagai ummu wa robbatul bait. Wanita yang mengadu nasib di luar negeri inipun mengalami berbagai siksaan, kekerasan, pelecehan, hal ini tak ubahkan dengan perbudakan era modern.

Selain itu, kapitalisme menuntut para lelaki maupun wanita untuk bekerja mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, hingga para wanita terpaksa harus bekerja layaknya lelaki. Fitrah wanita yang berbeda dengan lelaki tak lagi dipedulikan. Pemerintah telah memperkerjakan wanita dalam beberapa projeknya. Sehingga banyak wanita zaman ini menjadi tukang tenun, pekerja pabrik, bahkan buruh. Memang mereka mendapatkan beberapa keping uang, namun ia telah mengobrak-abrik rumah tangga mereka. Memang laki-laki mendapatkan manfaat dari hasilkerja istrinya, namun pada waktu bersamaan penghasilan lelaki menjadi lebih sedikit karena wanita menyertai mereka dalam bekerja. 

Padahal dalam islam martabat wanita sangat dijaga, dilindungi, dan dimuliakan. Islam tidak mewajibkan wanita untuk memberikan nafkah kepada dirinya sendiri. Namun islam mewajibkannya kepada sang ayah, saudara, suami, atau salah seorang dari kerabatya yang laki-laki. Oleh karena itu, wanita muslimah yang memiliki kesadaran tidak mencari-cari pekerjaan di luar rumah, kecuali jika dia sangat membutuhkan nafkah. Ia tidak berkerja di luar rumah kecuali jika masyarakat membutuhkan dirinya untuk menjalankan tugas yang menjadi keahliannya, selama tidak bertentangan dengan fitrah kewanitaannya, tetap menjaga martabatnya, serta tidak merusak nilai agama dan akhlaqnya.

أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون (المائدة : 50)
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al Maidah : 50)

Masih nyamankah manusia di dunia ini mengikuti sistem kapitalisme ciptaan barat. Sedang Allah telah menyempurnakan segala aspek kehidupan dengan Islam. Kapitalisme terbukti telah menginjak-injak martabat wanita. Sedang Islam menjunjung tinggi dan memuliakan wanita. Seorang gadis Italia mahsiswi Universitas Oxford (setelah mengetahui bagaimana islam memberikan segala bentuk permuliaan kepada wanita muslimah dan bagaimana pahitnya kapitalisme barat) mengatakan “Sungguh, aku merasa iri terhadap wanita muslimah, andaikata aku dilahirkan di negeri kalain.”

Oleh karena itu, para muslimah KAMMI dengan ijtihad bersama berusaha memposisikan wanita dan memperdayakannya dengan benar. Badan Pemberdayaan Perempuan diharapkan dapat memberdayakan wanita sesuai karakternya agar dapat bermanfaat dalam masyarakat, dan juga dapat menghindarkan wanita dari arus kapitalisme. Tafsir tentang fiqih wanita akan selalu berkembang, namun gagasan tentang fitrah wanita sebagai ummu wa robbatul bait tidak akan pernah diubah.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Iffa Abida




Wanita Itu Fitnah

Wanita adalah manusia yang sangat mulia. Cerminan keluarganya adalah cerminan dirinya. Wanita adalah tiang agama dan negaranya. Jika rusak wanitanya maka akan rusak pula agama dan negaranya. Sebaik-baik wanita adalah yang mampu menjaga dirinya dan keluargannya dari fitnah dunia. Tapi, perlu kita lihat di jaman sekarang ini banyak wanita-wanita yang lupa akan kodratnya sebagai wanita. Mereka berpura-pura menutup mata dan telinganya untuk tidak mendapatkan ilmu agama yang semestinya dia dapatkan. Mereka dengar dan mereka tahu tapi mereka tidak menjalankannya dengan baik karena mereka hanya mampu berfikir banyak tentang dunia. Mereka lalai dengan kewajibannya, mereka bahagia bila banyak lelaki yang menyanjungnya karena fisik yang ia miliki, seandainya mereka tahu bahwa sebaik-baik wanita adalah wanita sholehah. Bahkan, di dalam Islam wanita sangatlah di muliakan, terbukti bahwa di dalam Al-Quran nama wanita di abadikan dalam surah An-Nisa.

Indah memang indah, cantik memang cantik, itulah sebutan umum bagi wanita jaman sekarang. Adapun salah satu sebutan yang tidak dapat dipisahkan dari wanita adalah fitnah. Anak perempuan bisa menjadi fitnah bagi ayahnya, saudari perempuan bisa menjadi fitnah bagi saudara laki-lakinya, bahkan seorang istri bisa menjadi fitnah bagi suaminya. Jika mereka tidak menjauhkan diri dari segala macam fitnah dunia. Adapun bukti bahwa wanita adalah fitnah terbesar dunia yaitu ungkapan Imam Ibnu Hajar yang selaras dengan hadits baginda Rasulullah yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid yang menyatakan bahwa "Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita." (HR. Bukhari). Hadits ini tidak berlebihan karena itu benar-benar terbukti adanya. Karena meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, namun mereka mampu menundukkan lelaki yang cerdas, kuat dan gagah perkasa. Dan meskipun wanita diciptakan dengan keterbatasan agama, mereka juga dapat menundukkan ahli ibadah dan di buat lupa dari tuhannya. Tidak jarang milyader korupsi karena permintaan seorang istri tercinta, ada juga beberapa lelaki waras menjadi gila gara-gara wanita, dan bahkan seorang laki-laki bunuh diri karena cintanya kepada seorang wanita. Pantaslah jika baginda Rasulullah SAW mengatakan fitnah yang paling luar biasa adalah fitnah wanita.

Tulisan ini tidak ada maksud untuk menjadikan wanita sebagai sesuatu yang lemah bahkan buruk. Seandainya wanita di jaman sekarang tidak memiliki kedudukan, kecantikan, dan kesempatan seperti apa yang dimiliki oleh Zulaikha, maka perlu diketahui tidak ada lelaki saat ini yang mampu menahan fitnah wanita seperti Yusuf Alaihissalaam. Jadi, wanita hendaklah kalian berusaha menjaga diri, jangan sampai membuat lelaki berpaling dari Allah atau menyebabkan mereka bermaksiat kepada Allah. Baik itu suami, ayah, saudara laki-laki, bahkan orang lain yang ada di sekitarnya. Dan Allah Maha Adil menjadikan wanita sebagai fitnah yang luar biasa tetapi Allah juga memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi wanita untuk menjadi perhiasan termahal di dunia. Wallahu a'lam bisshowab.


Oleh : Nur Fajrin Aslam (Kadept Mekominfo)

Tenanglah, Setenang Khadijah


"Demi Allah, Dia (Allah) tidak akan menghinakanmu selamanya, sungguh engkau adalah penyambung tali silaturrahim, pemikul beban orang yang mendapat kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu dan pendukung setiap upaya penegakan kebaikan."

Itulah kalimat yang keluar dari lisan ibunda Khadijah -radhiyallahu 'anha-, wanita yang mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril, wanita yang sudah mendapat jaminan masuk surga dengan istana yang megah, wanita yang selalu disamping sang suami dikala orang-orang menjauhinya karena menjalankan tugas kerasulan, padahal mereka memberinya gelar "ash shodiq al amin".

Ada peristiwa yang melatarbelakangi kalimat ibunda Khadijah -radhiyallahu 'anha- itu keluar dari lisannya, peristiwa yang merubah perjalanan hidup suami dan dirinya. Suasana yang tegang, emosional, takut sangat tergambarkan dalam detik-detik itu. Peristiwa yang diriwayatkan oleh imam Bukhari di kitab shahihnya dari ibunda 'Aisyah -radhiyallahu 'anha- adalah saksinya.

Berikut ibunda Aisyah menuturkan setelah nabi mendapat wahyu pertama di gua Hira: "kemudian Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- pulang dengan gemetar lalu menemui istrinya sembari berucap: "selimutilah aku, selimutilah aku" beliau pun diselimuti sampai hilang rasa takutnya. Lantas nabi menuturkan kisahnya dan berkata: "aku sangat khawatir terhadap diriku", Khadijah kemudian berkata: "Demi Allah, Dia (Allah) tidak akan menghinakanmu selamanya, sungguh engkau adalah penyambung tali silaturrahim, pemikul beban orang yang mendapat kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu dan pendukung setiap upaya penegakan kebaikan." Kemudian Khadijah bersama nabi berangkat menuju Waraqah bin Naufal sepupu Khadijah."

Itu adalah penggalan peristiwa pasca wahyu pertama turun. Kondisi yang menggambarkan bagaimana ketakutan nabi akan apa yang terjadi padanya. Bagaimana tidak takut dan gemetar? sesosok orang asing tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk membaca surat kemudian mendekapnya erat sampai-sampai nabi susah bernafas karena tidak bisa membaca. Dan lebih membuat takut lagi sosok orang tadi muncul dengan wujud aslinya yaitu malaikat dengan enam ratus sayap dan duduk di singgasana diantara langit dan bumi.

Pada saat inilah hadir sang istri dengan kelembutan hati, ketenangan jiwa, ketulusan cinta dan kecerdasan solusi.

Sang istri dengan tenang melayani permintaan suami dan menemaninya, bukan menyuguhkan segudang pertanyaan yang akan menambah keruhnya suasana hati nabi. Setelah kondisi suami tenang barulah dimulai dialog yang diawali dengan kata-kata nabi: "aku sangat khawatir terhadap diriku" dengan tenang yang diselimuti rasa cinta pada suami sang istri lagi-lagi hadir dengan solusi yang menentramkan hati: "Demi Allah, Dia (Allah) tidak akan menghinakanmu selamanya."

Ada hal menarik dari kalimat Khadijah -radhiyallahu 'anha- yaitu bagaimana bisa seorang Khadijah dengan yakin Allah tidak akan menghinakan nabi (padahal saat itu belum jadi nabi)? DR. Ali Muhammad ash Shalabiy dalam bukunya as Sirah an Nabawiyyah menjelaskan hal itu bisa diketahui oleh Khadijah dari perangai nabi di kesehariannya yang selalu berakhlak baik dan orang yang paling dekat dengan nabi, yang merasakan langsung baiknya akhlak nabi setiap hari adalah sang istri "Khadijah -radhiyallahu 'anha".

Setelah hati nabi tenang dan suasana sudah mulai cair, sekali lagi sang istri hadir dengan solusi penyelesaian yang menunjukkan kecintaannya pada sang suami dan kecerdasannya. Dibawalah nabi menemui sepupunya yang ahli ilmu untuk menyelesaikan masalahnya. Subhanallah, cerdasnya Khadijah penyelesaian masalah di tangan ahli ilmu, dibawanya masalah untuk diselesaikan kepada ahlinya. 

Radhiyallahu 'anki duhai bunda...
Tiga solusi yang luar biasa dari sang istri: sentuhan fisik (menyelimuti nabi), sentuhan jiwa (kalimat penentram) dan solusi inti (ahli ilmu).

Maka,
Tenanglah, setenang Khadijah duhai para istri.
Baiklah, sebaik suami Khadijah wahai para suami.


Oleh : Ardhan Misa Tonadisiki

Tarhib 'Aam Jadiid, Menyambut Mahasiswi Baru Lipia


Setelah libur panjang musim panas 4 bulan, KAMMI LIPIA kembali mengadakan penyambutan maba Lipia di Masjid As salam Jum'at (30/09/2016), tepat akhir pekan pertama kuliah.

Tema acara ini adalah "Mahasiswa Berkarya, Bekal Peradaban", dengan menghadirkan salah satu Dosen di Lipia Dr. Sarmini (mahasiswi terbaik S3 Sudan) sebagai narasumber.

Istimewanya, kuliah di Lipia berlangsung selama 7 tahun, 3 tahun kuliah bahasa dan 4 tahun kuliah syariah. Lipia tidak pernah mengadakan penyambutan atau OSPEK untuk mahasiswa baru. Kampus Lipia memang berbeda dengan kampus lainnya. Untuk itu KAMMI Lipia selalu mengadakan acara penyambutan Maba rutin setiap tahunnya, yang biasa disebut Tarhib 'Aam Jadiid.

Di awal sesi, narasumber mengingatkan tentang tujuan para mahasiswa kuliah di Lipia.

"Kuliah 7 tahun apa yang kita cari di Lipia?", tanya sang pembicara.

Tujuan utama kita menuntut ilmu adalah menjadi 'Aalim atau orang yang berilmu. Seorang yang dikatakan berilmu adalah ketika ilmunya bisa menjadikannya lebih takut kepada Allah swt. Dalam Al quran di sebutkan,
َ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ (فاطر : ٢٨)
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama".

Dalam kesempatan ini, beliau juga berbagi ilmu bekal sukses dalam perkuliahan yang diberi judul "Tholibah Dzati Dzatiyah" atau mahasiswi yang punya kepribadian.

Ada 3 kepribadian yang harus diperhatikan oleh mahsiswi syariah kususnya mahasiswi Lipia; Dzatiyah Imaniyah, Dzatiyah Akhlaqiyyah, Dzatiyyah Khairiyyah.

واتقوا الله ويعلمكم الله
"Dan bertaqwalah pada Allah swt; Allah akan mengajarkanmu". (Al baqoroh : 282)

Dari ayat di atas bisa disimpulkan dengan 3 kepribadian yang harus dimiliki, agar ekspetasi dan harapan masyarakat sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Karena terlalu miris ketika seorang yang belajar ilmu agama tapi palanggan film korea, yang dipenuhi jahiliyah dan adegan maksiat. Na'udzubillah.

Mahasiswa yang punya keimanan yang kuat, tidak mudah melakukan kemaksiatan yang menghalangi masuknya ilmu.

Setelah keimanan, mahasiswa juga harus menjadi pribadi yang berakhlak, beradab. Adab terhadab guru, teman dan ilmu. Memperhatikan sikapnya terhadap dosen, sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas, dan tidak meremehkan teman lain. Karena nilai tidak menentukan kesuksesan di masa depan.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain".

Bertawashul dengan melakukan berbagai kebaikan, semoga dengan kebaikan tersebut mendatangkan kemudahan dari Allah SWT. Selalu jeli melihat peluang-peluang kebaikan walau sekecil apapun.

Terakhir beliau juga menegaskan agar mahasiswa bisa aktif berorganisasi. Karena di dunia nyata pasca wisuda, syahadah atau ijazah bukan hal pertama yang bisa diandalkan. Pengalaman organisasi sangat membantu kita untuk berbaur dengan banyak orang, dan mempunyai jaringan yang luas. Ustadzah juga menyarankan untuk tinggal berjamaah, tidak nge-kos sendiri, setidaknya 2 orang. Tapi lebih baik tinggal di kosan atau kontrakan. Agar ada yang mengingatkan dan menghilangkan sikap ego. Dengan hidup berjamaah, bakal banyak peluang kebaikan dan lebih kuat daripada sendiri yang rentan futur dan lalai.

Yang paling penting juga mahsiswa harus membuat peta keilmuannya. Menentukan langkah-langkah ke depan setelah lulus Lipia atau semasa di Lipia. Tidak mencukupkan diri dengan muqorror dari kampus. Mencari buku-buku tambahan untuk memperluas wawasan, dan menentukan spesialis ilmu yang ingin dikuasai.

Sesi terakhir dilanjutkan dengan panahan di lapangan masjid. Para peserta dan panitia melemparkan arrow ke facetarget dengan busur yang telah disediakan.

Alhamdulillah seluruh peserta sangat menikmati acara dengan antusias, dari habis zuhur sampai menjelang maghrib. Bahkan ada dari mereka yang langsung menanyakan cara bergabung dengan KAMMI Lipia. Semoga acara ini menjadi awal baik, menarik mahasiswa Lipia untuk bisa berkontribusi lebih bersama KAMMI Lipia dalam perbaikan bangsa ini.

(rep: Atikah)
Panahan bersama Maba



Jangan Salahkan Lelaki Bila Tak Memberimu Duduk


Perempuan. Sejak dulu bahasan tentangnya selalu menarik dan istimewa. Mahkluk Allah yang unik ini selalu jadi topik asyik untuk dibahas sepanjang zaman. Mulai dari hal sesederhana anting-anting, sampai segenting emansipasinya. Menyebut emansipasi wanita tentunya menggiring saraf otak memunculkan kata 'feminisme'. Istilah kata ini sendiri diyakini pertama kali muncul di Prancis dan Belanda pada akhir abad ke-18 yang nantinya akan menyebar ke seluruh Eropa, bahkan dunia.

Feminisme sejak dulu hingga saat ini selalu dilabeli dengan embel-embel 'pejuang kesetaraan hak' bagi perempuan. Gerakan dan pendukungnya selalu menyuarakan tuntutan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Awalnya para pejuang isme ini mencoba untuk mengembalikan hak wanita yang selalu ditiadakan; hak belajar, berkembang, meniti karir, hingga hak suara dalam pemilihan. Semua itu menjadi barang mahal yang tak bisa mereka dapatkan sebagai perempuan. Beberapa tokoh perempuan bergerak, banyak massa yang tersentuh, gelombang pergerakanpun mulai tercipta dan meluaslah paham ini yang digambarkan sebagai bentuk kejengahan wanita akan diskriminasi sosial, budaya, ekonomi, hukum atasnya. Dari sinilah, lahir tuntutan kesetaraan gender dan LGBTIQ.

Jika kita mau menilik sejarah, gelombang feminisme ini memang muncul dalam suasana lingkungan yang mendiskreditkan perempuan. Maka menjadi logis, jika pada saat itu gerakan ini berkembang dan berhasil membuat banyak orang empati terutama dari kalangan perempuan. Sehingga hampir di seluruh dunia, perempuan tak lagi menjadi 'setengah manusia' dalam masyarakatnya. Singkatnya, kini perempuan bisa duduk di bangku sekolah manapun dan tingkat apapun. Perempuan kini memiliki hak suara dalam setiap pemilihan dan memiliki kesempatan pula untuk bekerja di berbagai tempat. 

Apakah cukup? Tidak. Penerus gerakan ini terus menuntut persamaan dalam berbagai bidang. Mari kita persempit lingkup bahasannya menjadi Indonesia saja. Sejak tahun 2002, sebagai negara demokrasi, setiap elemen kenegaraan perlu mewakili rakyatnya. Maka ditetapkanlah undang-undang; kuota perempuan harus mencapai 30% di kursi legislatif. Belum puas juga, agama dikritisi, terlebih Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia dinilai terlalu maskulin. Hak waris dianggap tak adil, hak perceraian diminta, permintaan berhubungan oleh suamipun dianggap pemerkosaan. 

Para feminis ini ingin menafikan perbedaan fisiologis maupun psikologis antara laki-laki dan perempuan. Padahal, jelas sekali perbedaan tersebut membentuk cara berpikir, berprilaku, dan kemampuan bekerja yang beda pula. Saya sendiri percaya bahwa perempuan dapat mengembangkan diri dan mencapai berbagai tingkatan dalam segala aspek tanpa harus melupakan fitrah dan kewajiban utamanya sebagai perempuan. 
Bila rambu-rambu agama, norma budaya dan kearifan masyarakat ditinggalkan demi menuntut kesetaraan gender, maka peradaban selanjutnya akan hancur. Jika diteruskan, kedepannya para ibu enggan mengurus rumah dan anak karena dalih perbudakan dan eksploitasi wanita. Perempuannya sibuk menjadi superior diatas laki-laki. Sebagian pria akan kehilangan peran dan sense of leadership yang akhirnya menjauhkan ia dari kodratnya sebagai pemimpin, menjadikan laki-laki lemah gemulai dan lembek ala tempe mendoan. Bayangkan masyarakat apa yang terbentuk jika mental dan prilaku individunya tertukar-tukar.

Yang disayangkan, para aktifis feminis ini rata-rata menjejak pendidikan yang tinggi, aktif dalam berbagai tataran sosial, organisasi bahkan menjadi tokoh politik. Sehingga, mereka dengan terbuka dapat menyebarkan paham ini sebab memiliki jangkauan pendengar yang luas. Sebaliknya, kebanyakan perempuan yang bersikap kontra terhadap paham ini memilih tidak terlibat dan mencukupkan diri dengan kompetensi seadanya. Akhirnya edukasi mencerdaskan sulit ditemukan. Maka jangan marah jika di angkutan umum ada laki-laki yang tak hendak mempersilahkan perempuan untuk duduk. Bukankah ini yang diinginkan; kesetaraan dalam berbagai hal.

Oleh : Idzni Fitri (Koordinator Perempuan KAMMI LIPIA)

Ibunda Madrasah Peradaban


Di balik pria yang agung, ada seorang ibu teladan. Karena ibu tersebut memainkan peranan yang tidak akan sanggup dilakukan oleh kaum pria. Tugas dan peranan penting itu tak lain adalah mencetak dan menyiapkan peradaban umat manusia, generasi ya’lu wa la yu’la ‘alaihi. Dan benar apa yang dikatakan oleh Hafidz Ibrahim:

Ibu adalah madrasah
Yang bila kau siapkan dengan baik,
Yang berarti engkau menyiapkan generasi yang terdidik

Para ulama’ adalah pelajar kepada ibundanya sebelum pelajar di madrasahnya. Para mujahid adalah didikan ibundanya sebelum para murabbinya. Para pemimpin hebatpun demikian, hasil timangan ibunda sebelum tempaan guru zamannya. Dan selalu seperti itu sejarah terulang. Di belakang sahabat Anas bin Malik –radhiallahu anhu- ada ibunda pemilik terompah surga, di balik Imam Malik bin Anas –rahimahullahu- ada ibunda sang motivatornya. Memang benar, kadang-kadang seorang ibu lebih berjasa terhadap pendidikan buah hatinya, karena para anak lebih dekat dengan mereka. Dan pentingnya peranan ibunda ini, tidak berhenti pada ibu kandung saja, tetapi juga kepada para ibu susuan. Abul Qosim As-suhaily dalam kitabnya Raudhatul unuf menyebutkan bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha- secara marfu’, yang artinya: “janganlah kalian meyusukan bayi kalian kepada wanita bodoh, karena air susu akan mewariskan sifat sang ibu”.

Dikarenakan pentingnya peran ibunda dalam umat ini, maka islam pun memberikan solusi dengan mensifati bagaimana karakter seorang wanita yang siap untuk mencetak peradaban unggul. Rasulullah pernah bersabada: tazawwaju al-waduud al waluud, yang artinya: “menikahlah dengan wanita yang penuh kasih sayang dan juga subur”. Dan Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman yang artinya: “…maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memlihara diri ketika suami tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka…” (QS. An-Nisa’: 34). Maka seorang ibu akan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dan juga menanamkan norma dan akhlak yang mulia. Sebagaimana kaidah menyebutkan (faaqidu syai’ laa yu’thihi) artinya: orang yang tidak memiliki tidak bisa memberi.

‘Utsman bin ‘Affan –radhiallahu ‘anhu- pernah berpesan kepada anak-anaknya, “wahai anak-anakku, sesungguhnya orang yang hendak menikah itu, ibarat orang yang akan menyemai benih; maka hendaknya ia memerhatikan dimana ia akan menyemainya. Dan ingatlah bahwa (wanita yang berasal dari) keturunan yang buruk jarang sekali melahirkan melahirkan keturunan yang baik; maka pilih-pilihlah terlebih dahulu meskipun sejenak.” (sufyan bin fuad baswedan, ibunda para uluma’). Mari kita lihat siapakah ibunda dari sang Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz sang mujaddid abad ke dua hijriyah. Beliau adalah cucu dari ‘Umar bin Khaththab –radhiallahu ‘anhu-. Begitulah seterusnya, dibelakangnya selalu ada seorang ibunda penuh keberkahan. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَشۡكُرُونَ ٥٨ 

Artinya: Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS. Al-A’raf: 58)

Dengan demikian, jelaslah bahwa peran ibu amatlah esensial dalam dunia pendidikan. Ia adalah pemeran utama dan tokoh sentral sebagai salah satu faktor terpenting yang membelakangi keberhasilan proses pendidikan itu sendiri. Dengan keshalihannya masyarakat menjadi salih. Dan tanpa itu kita hanya akan menuai duri dan memetik buah yang pahit. Dan terakhir untuk para pencari madrasah buat calon buah hatinya, jangan hanya memandang madrasah/sekolah itu dari gedung dan fasilitasnya yang mewah saja, tapi tanyakanlah pelajaran apa dan pendidikan apa yang akan diajarkan didalamnya. Wallahu ta’ala a’lam.


Oleh: Rejoyo Al-Qutsam (kader IDEte)

Wanita Super Pendamping Sang Singa Podium


Sejarah mungkin telah meredupkan namanya, tapi perjuangannya bersama sang suami untuk kemerdekaan Indonesia sangatlah besar.


Adalah Inggit Ganarsih, wanita super dibalik kehebatan sang singa podium. Inggit Ganarsih lahir pada tanggal 17 Februari 1888 di Desa Kemasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ia adalah anak dari bapak Ardjipan dan ibu Amsi. Nama Inggit adalah tambahan dari nama Ganarsih.


Ada cerita menarik di balik kata Inggit. Ganarsih adalah gadis tercantik di desanya kala itu, ia menjadi pujaan para lelaki, sampai- sampai beredar istilah diantara mereka: "Mendapat senyuman dari Ganarsih ibarat mendapat uang seringgit". Betapa berharganya uang seringgit kala itu, nominal yang fantastis. Sejak saat itulah Ganarsih dipanggil si Ringgit atau si Inggit.


Saat usianya 16 tahun, ia menikah dengan kopral residen Belanda bernama Nata Admatja. Padahal ia sangat mengagumi laki-laki bernama Sanusi, seorang saudagar kaya yang telah dinikahkan dengan gadis lain. Namun pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Pada tahun 1904, Inggit dan Nata bercerai. Tak lama setelah percerain mereka, Sanusi bercerai dengan istrinya. Akhirnya Inggit dan Sanusi menikah dan tinggal di kost Bandung.


Setelah beberapa tahun hidup bersama, Soekarno dan istrinya, Oetari hadir ditengah kehidupan mereka. Soekarno tinggal dikosan Ganarsih atas rekomendasi dari mertuanya, Tjokroaminoto yang juga merupakan anggota Syarekat Islam seperti Sanusi. Ia pindah dari Surabaya ke Bandung untuk melanjutkan studinya di Technische Hogge School (THS) -sekarang ITB- jurusan teknik sipil.


Soekarno begitu terpesona dengan kecantikan dan kedewasaan Inggit. Mereka terlibat cinta terlarang. Rumah tangga Inggit dan Sanusi yang tidak lagi harmonis sejak Soekarno belum hadir di tengah mereka, menjadi alasan baginya untuk tidak merasa bersalah. Akhirnya Sanusi dan Inggit bercerai begitu pula Soekarno menceraikan Oetari yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.


Akhirnya Soekarno dan Inggit menikah pada tanggal 24 Maret 1923. Saat itu usia Inggit 35 tahun dan Soekarno berusia 22 tahun. Walaupun usia Inggit lebih tua 13 tahun lebih tua dari Soekarno, tapi ia bisa menjadi kawan sepadan untuk Soekarno. Dan kedewasaan Inggit sangat menguntungkan bagi Soekarno muda.


Semasa hidup dengan Sanusi yang kaya raya, kebutuhan keluarga sangat tercukupi namun sangat berbeda dengan kehidupan bersama Soekarno yang ia harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Sedari kecilpun ia sudah terbiasa bekerja keras membantu orang tuanya. Ia pandai menjahit baju, membuat bedak, meracik jamu dan memasak. Walaupun ia tidak bisa menulis dan membaca namun dengan keterbatasannya itu ia masih mampu membawa Soekarno menjadi pujangga negeri ini. Jika Soekarno di ibaratkan nyala api yang membara maka Inggitlah kayu bakarnya. Ia menjadi orang yang selalu menyemangati suaminya di saat- saat terpuruk, menghapus keringatnya, dan membuatkan wedang asam untuk sang Singa Podium yang suaranya mulai serak.


Sudah lama Inggit menginginkan anak tapi takdir berkata lain, 2 kali pernikahan sebelumnya, ia belum di karuniai anak begitupun pernikahannya dengan bung Karno. Akhirnya mereka mengasuh Arawati, anak dari kakak perempuan Inggit. Arawati kemudian diganti namanya oleh Soekarno menjadi Ratna Juami karena sering sakit-sakitan. Mereka sangat menyayangi Omi -panggilan akrab Ratna- seperti anak sendiri.


Pergerakan politik PNI ditambah pidato- pidatonya yang sangat menggugah hati rakyat, membuat pemerintah Hindia Belanda semakin gerah. Akhirnya tanpa ba bi bu, Soekarno dan kawan- kawannya ditangkap dan dikurung di penjara Bonceuy selama masa penantian untuk persidangan. 


Disaat inilah peranan Inggit sangat dibutuhkan Soekarno. Inggit bekerja lebih keras, menjahit baju anak-anak, membuat bedak dan jamu, berjualan rokok dan lain-lain untuk mencukupi kebutuhan mereka. Inggit mengunjungi Soekarno dan memberi motivasi-motivasi padanya untuk membangkitkan semangat Soekarno, membawakan buku- buku yang di pesan Soekarno. Bahkan Inggit berpuasa tiga hari untuk menyelundupkan buku dibalik bajunya. Atas pertolongan Allah kemudian pengorbanan Inggitlah, Soekarno menyelesaikan tulisannya yang berjudul "Indonesia Menggugat" yang ia gunakan sebagian pembelaanya dipersidangan. 


Akhirnya ia diputuskan 4 tahun penjara. Ia ditempatkan dipenjara Sukamiskin. Soekarno muda tidak patah semangat dalam berpolitik walaupun ia masih dalam kurungan. Ini semakin membuat pemerintah Hindia Belanda semakin gregetan dan akhirnya ia diasingkan ke Ende, Flores.


Inggit bukanlah wanita cengeng, pengasingan Soekarno membuatnya terpaksa menjual rumahnya di Bandung dan pindah ke Ende bersama ibu dan anak angkatnya.


Ia begitu asing dengan lingkungan barunya. Tapi itu tidak membuatnya berdiam diri dirumah. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia menjual kain-kain yang ia pesan kepada kerabatnya yang di Jawa untuk dikirim ke Ende. Di sinilah mereka mendapat satu tambahan anak angkat yang bernama Soekarti, anak keturunan jawa yang akhirnya dirubah namanya menjadi Kartika.


Di Ende, Inggit harus kehilangan ibu yang sangat disayanginya karena penyakit malaria. Dan tidak berselang lama, Soekarno pun jatuh sakit dengan penyakit yang sama dengan mertuanya. Berita ini terdengar sampai ke Jawa dan membuat para pejuang-pejuang kemerdekaan mendesak pemerintah Hindia Belanda memindahkan Soekarno. Salah satunya adalah Muhammad Husni Thamrin-anggota Dewan Rakyat-.


Dengan izin Allah, akhirnya Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Dengan setia Inggit menemaninya ke Bengkulu.


Disinilah awal keretakan rumah tangga harmonis, Inggit dan Soekarno yang telah mereka lewati bertahun-tahun lamanya. Soekarno jatuh cinta pada gadis manis putri Bapak Hasan Din, ketua Muhammadiyah cabang Bengkulu. Ia bernama Fatmawati, gadis cantik yang juga anak angkat Inggit dan Soekarno.


Soekarno menginginkan anak dari darahnya sendiri, satu hal yang tidak bisa diberikan Inggit. Soekarno mengutarakan keinginannya kepada Inggit yang membuatnya sangat sedih. Soekarno tidak mau menceraikannya , mengingat perjuangan dan pengorbanannya untuk dirinya dan Indonesia sangatlah besar. Tapi sangat pantang untuk wanita Banjaran di madu. Ia memberikan pilihan sulit untuk Bung Karno -lebih sulit dari menulis-, menikah dengan Fatma yang berarti harus menceraikan Inggit atau hidup bersamanya. Tak dinyana, Soekarno memilih menikah dengan Fatmawati dan menceraikan Inggit pada tahun 1943 ketika mereka di Jawa atas permintaan Inggit. Ibu hebat ini harus rela melepaskan suami yang sangat disayanginya dan tidak menjadi ibu negara yang pertama.


Namun Bung Karno tidak pernah lupa pada perjuangan Inggit. Pada tanggal 17 Agustus 1961 Soekarno menganugerahi Inggit tanda kehormatan "Setiyalancana Perintis Kemerdekaan".


Inggit yang berhati mulia tidak membenci Soekarno ataupun Fatma. Bahkan dengan tangan terbuka Inggit menerima kedatangan Fatma dengan anak-anaknya. Ia menangis dan bersujud mencium kaki Inggit. Dengan arifnya Inggit berkata "ibu maafkan segala kesalahanmu dari dulu, dan sampai sekarang pun engakau masih anak ibu".


Lihatlah, begitu beruntungnya Indonesia memiliki seorang Inggit, wanita yang tidak hanya cantik parasnya namun juga memiliki keluasan hati dan kedewasaan sikap. Begitu besar perjuangan pengorbanannya untuk negeri ini.


Terima kasih atas segala perjuanganmu ibu. Uhibbuki fillah


Oleh : Atika Tazkiyah (Badan Perempuan KAMMI Komisariat LIPIA)