Tampilkan postingan dengan label KAMMI LIPIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMMI LIPIA. Tampilkan semua postingan

Butir Pasir



Pernakah kita memandang sebutir pasir itu sebagai batu?

Mungkin kebanyakan manusia  malah memandang sebaliknya, mereka  malah memandang sebongkah batu sebagai pasir. Wajar jika mereka  berpandangan seperti itu. Sesuai logika, pasir adalah serpihan-serpihan batu. Ini karena mereka  berfikir sama seperti kebanyakan orang alias mainstream.

Al faqir dalam coretan ini hendak mengajak pribadi, dan kawan-kawan untuk berpandangan khoriju shunduq alias di luar dari yang orang biasa berpandangan. Berpandangan sebagaimana Kholid bin Walid memandang.

Alkisah pada perang Uhud dimana sebagian besar dari pasukan muslimin berpandangan bahwa pertempuran sudah dimenangkan oleh mereka. Pandangan yang sama terjadi pula pada pasukan musyrikin yang kala itu dipimpin oleh Kholid bin Walid. Disinilah pandangan anti mainstream dibutuhkan, dan Kholid Ibnil Walidlah sang pemilik pandangan ini.

Al-faqir berhusnuzan bahwa sebagai pemuda Islam sudah bukan rahasia lagi kisah kekalahan pasukan muslimin pada perang Uhud. Terlepas dari penyebab fatal kekalahan, yakni turunnya pasukan pemanah Muslimin dari bukit Uhud, ada sebab pendukung yang juga mengambil peran dalam kekalahan ini. Yaitu pandangan yang optimis oleh panglima perang pasukan musyrikin kala itu.

Melihat situasi kekalahan yang menimpa pasukan musyrikin di fase awal perang Uhud, Khalid bin Walid  justru menjadikan pelarian mereka dari medan pertempuran sebagai kekuatan untuk memukul balik pasukan lawan dengan memanfaatkan kelalain pemanah pasukan lawan. Hal ini tidak akan lahir kecuali dari mereka yang berpandangan luas dan anti mainsream. Akhirnya kekalahanpun berbalik arah mengampiri pasukan muslimin. lantas kemenangan merasa risih dengan hadirnya kekalahan, lalu memilih berbalik arah seratus delapan puluh derajat dan menghampiri pasukan musyrikin.

Masih dalam kisah yang sama, jika pemimpin pasukan musyrikin memiliki pandangan yang anti mainstream, di sana jauh sebelum perang berkecamuk, ada seorang yang berpandangan jauh melebihi pandangan manusia seisi bumi ini. Dialah Rasulullah -shallahu alaihi wa sallam- dengan keluasan pandangannya, beliau mewanti-wanti  pasukan pemanah agar tetap bertahan dan tidak turun dari bukit Uhud sebelum ada perintah dari Baginda Rasulullah apapun kondisinya, kalah atau menang hidup atau syahid. Dikarenakan Hubbud Dunya (cinta dunia) dan pandangan yang mainstream-lah pasukan ini lantas turun dari bukit Uhud guna mendapat harta rampasan perang yang berujung pada kekalahan pasukan muslimin.

Andai saja pasukan pemanah kaum Muslimin taat berpandangan sebagaimana  Rasulullah memandang mungkin Rasulullah  tidak sampai berdarah-darah pada perang tersebut, bahkan sempat beredar kabar bahwa beliau telah syahid kala itu.

Andai saja saat penaklukan Andalusia, pasukan Muslimin tidak menyisahkan sedikit saja pasukan kafir yang lari mengungsi ke pegunungan maka delapan abad peradaban Islam di Spanyol itu tidak akan runtuh.

Siapa  sangka tukang kayu kini berubah menjadi tukang jual aset Negara. “Kullu maalikin azdhim kaana thiflan baakian, wa kullu binaayatin azhimah kaana mujarradal hariithah.” " Semua pemimpin-pemimpin dunia, dulu adalah anak kecil yang hanya bisa merengek, dan seluruh bangunan-bangunan besar nan megah, dulu hanayalah sebuah gambar."

Sebagai pemuda pewaris peradaban, sudah seharusnya memiliki pandangan yang luas. Tidak seperti kebanyakan manusia, yang memandang batu adalah batu, dan pasir asalah pasir.


Oleh: Mahatir Ali Haniyah ( Staff Dept. Sosmas) 

WASPADA BERAMAL, BIJAKSANA MENILAI


Manusia di masa hidupnya tidak pernah tahu dimana tempatnya di akhirat kelak. Di sebaik baik tempatkah? Atau di seburuk-buruknya? Amalan dan perbuatan baiknya semasa hidupnya, belum tentu mengantarkannya ke surganya Allah swt kecuali jika ia memang mati dalam keadaan tersebut. Sebaliknya, amalan buruk seorang semasa hidupnya, tidak pasti membuat orang menuju neraka setelah kebangkitan kecuali ia memang mati dalam keadaan tersebut.

Satu peristiwa yang terjadi di perang Khaibar tahun 6 Hijriah membuktikan dua gambaran diatas.

Ibnu Ishaq menyebutkan kisah tersebut dalam sirohnya, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahwa ia berkata "Tatkala kami meninggalkan Khaibar bersama Rasulullah saw. Menuju Wadil Quro, kami singgah di sana sore hari menjelang terbenamnya matahari. Waktu itu Rasulullah saw ditemani seorang budaknya, yang dihadiahkan kepada beliau oleh Rifaah bin Zaid. Demi Allah, sesungguhnya budak itu tengah meletakkan barang bawaan Rasulullah saw ketika tiba-tiba melesat ke arahnya sebatang anak panah yang nyasar, lalu mengenainya sampai ia tewas. Kami pun berkata, 'Beruntunglah ia mendapat surga.'

Akan tetapi Rasulullah saw langsung membantah, 'Tidak, demi Allah Yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya selimutnya sekarang benar-benar sedang bernyala api atas dirinya. Selimut itu dia ambil secara curang dari harta fa’i yang diperoleh kaum muslim dari musuh di Perang Khaibar.’ Pernyataan Nabi saw. itu didengar oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw. lalu dia datangi mayat budak itu. Ia berkata ‘Ya Rasulullah saw, saya mendapatkan sepasang tali sandalku.’

Rasululllah saw. bersabda. ‘Kelak dalam neraka, akan dipotongkan untukmu yang serupa dengan sepasang tali sandalmu itu..’” Inilah gambaran pertama, yang menegaskan bahwa tidak selamanya seorang yang terlihat baik, ternyata mendapati dirinya dijanjikan dirinya masuk neraka oleh Rasulullah saw.

Di dalam riwayat yang lain, Ibnu Ishaq mengisahkan satu riwayat pembandingnya, yaitu tentang seorang budak lain bernama Al Aswad yang datang menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw, terangkanlah Islam kepadaku.” Rasulullah saw. pun menerangkan Islam padanya, lalu dia masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, dia berkata, “Ya Rasulullah saw, sesungguhnya saya ini seorang buruh yang bekerja pada pemilik (yahudi) kambing-kambing ini. Binatang-binatang ini merupakan amanat kepadaku. Apa yang harus saya lakukan terhadap mereka?” “Pukullah wajah binatang-binatang itu, sungguh mereka pasti akan pulang kepada pemiliknya.” Demikian jawab Rasulullah saw.

Mendengar saran Rasulullah saw, bangkitlah ia lalu mengambil batu kerikil sepenuh kedua telapak tangan dan dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu seraya berkata, “Pulanglah kamu kepada tuanmu. Demi Allah, aku tak sudi lagi menemanimu buat selama-lamanya.” Kambing-kambing itu pun pulang semuanya, seolah ada yang menggiring mereka hingga masuk ke dalam benteng.
Sesudah itu, majulah Al Aswad ini mendekati benteng Khaibar itu untuk ikut bertempur bersama kaum muslimin. Malang, dia tertimpa batu lalu gugur, padahal ia belum pernah shalat sama sekali. Jenazahnya lalu dibawa dan diletakkan di belakang Rasulullah saw. dengan ditutupi selimut yang dipakainya. Rasulullah saw berkenan melihatnya bersama beberapa orang sahabatnya. Tiba-tiba beliau berpaling dari mayat itu. Para sahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa anda berpaling darinya?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia sekarang sedang ditunggui dua orang istrinya dari bidadari.”

Syaikh Munir al Ghadhban-rahimahullah­-mengomentari kisah ini dalam Manhaj Harakinya, bahwa inilah dua gambaran yang kontras dari dua orang budak yang ada dalam barisan bala tentara pasukan Islam. Keduanya sangat unik dan mengagumkan. Yang seorang adalah budak Rasulullah saw. sendiri yang terbunuh di hadapan beliau, yang menurut lahiriahnya patut mendapat ucapan selamat karena akan masuk surga. Yang lain ialah seorang budah Yahudi, yang sama sekali belum pernah melakukan shalat dan terbunuh di depan pintu benteng dari mana ia berasal.

Walau demikian, selimut yang diambil secara curang oleh budak Rasulullah saw. itu cukup menjamin dia bakal terbakar oleh selimut itu sendiri dalam neraka dan menyebabkan dia tidak mendapat surga. Bahkan, bakti dan khidmatnya kepada Rasulullah saw. maupun keberadaannya selama ini dalam barisan kaum muslimin tidak bisa memberinya syafaat.

Sementara itu, sifat amanat dari budak Yahudi itu telah berubah menjadi karamah baginya, berupa pelemparan batu kerikil sepenuh dua telapak tangan yang dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu. Dia lalu masuk Islam, bersih dari ke-yahudian, dan dosa-dosanya selama ini menjadi musnah, berkat berpegang teguh pada amanat yang luhur tersebut. Semua itu tidak berlangsung lama, hanya sebentar. Budak Yahudi itu pun maju ke medan pertempuran dan langsung terbunuh. Datanglah kepadanya kedua istrinya dari bidadari dan dengan sikap yang genit digandengnya budak itu menuju surga.

Hai Para Pemuda Aktivis Da’wah Islam!

Hendaklah pelajaran tersebut senantiasa hidup dalam jiwa kita sekalian. Bahwa kesalahan sedikit apa pun bisa saja menjeremuskan ke dalam neraka walaupun hanya sehelai selimut yang diambil dari harta rampasan perang, yang tidak seberapa harganya sekalipun. Kesalahan yang sedikit itu bisa mengakibatkan tidak tertolongnya seorang oleh syafaat dari aktifitasnya dalam da’wah atau jerih payahnya dalam perjuangan maupun posisinya dalam struktur tandzhim.

Adapun istiqomah dalam menempuh manhaj Islam meski hanya sebentar dan sekalipun dilakukan oleh orang yang dulunya merupakan musuhmu yang paling gigih memusuhimu, itu sudah cukup menjamin bahwa orang itu mati syahid di jalan Allah, tanpa dihalangi oleh sikapnya yang dulu ketika dia memusuhi habis-habisan terhadap Islam, bahkan ia tidak perlu memiliki aset ketaatan ataupun ibadah. Niat yang jujur dan tekad yang kuat untuk istiqomah itu saja sudah cukup dalam timbangan Allah untuk menjamin dia masuk surga. Dalam hal ini, kita tidak perlu melihat fenomena lahiriah karena Allah Ta’ala tidak melihat rupa maupun amal, tetapi justru mempperhatikan hati kita.

Sekarang, sudah saatnya bagi pemimpin gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menilai pribadi-pribadi-khususnya para aktivis gerakan-dengan hanya melihat senioritas struktural sehingga prajurit ini dinaikkan ke tingkatan tertinggi tanpa mempedulikan tingkah laku moral maupun tarbiyahnya.
Sekarang, sudah saatnya juga bagi para pemuda gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menolak memberikan kepercayaan kepada seseorang yang baru masuk ke dalam barisan. Misalnya dengan tidak mempercayainya sama sekali karena belum melewati jenjang struktural yang ada dalam jamaah. Hal ini karena bisa jadi seorang naqib (pemimpin) justru tergolong ahli neraka, sedangkan anggota baru, yang masik tampak bekas perlawanannya terhadap Islam itu, justru tergolong ahli surga.

Sekarang, sudah saatnya bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam beramal dan bijak dalam menilai!

oleh: M.Saihul Basyir (Ketum Kammi Lipia)

Serial Keteladanan Ibrahim as. Menyembah Dengan Akal (II)


“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk (Rusyd), dan Kami telah mengetahui dia.” (Al Anbiya: 51)

Berikut episode kedua dari serial keteladanan dari seagung manusia. Panutan dan ayah para nabi. Darinya mengalir manhaj dakwah risalah yang kokoh, dikarenakan kuatnya rasionalitas yang Allah swt. anugerahkan padanya mampu dipadu padankan dengan kesucian dan keagungan wahyu Allah swt. Yang akhirnya melahirkan hujjah peruntuh akidah materialisme & paganisme.

Jika pada episode pertama Allah swt. mengisahkan bagaimana ia menggunakan ‘penglihatan’ sebagai wasilah penyadaran kaumnya yang menyembah berhala. Ketika ia berkata kepada mereka: “Apakah kalian melihat nenek moyang kalian menyembah berhala?”

Maka pada potongan ayat kedua ini, Allah swt. kembali menceritakan bagaimana strategi dakwah beliau ditambah kekuatan dan ketepatan hujjah (argumen) yang dimiliki Nabiyullah Ibrahim as. sekali lagi berhasil meruntuhkan akidah paganisme tatkala mereka saling berhadapan.

Mari baca firman Allah swt. ini dengan seksama:
“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”. 

Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”. Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. 

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”.

Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al Anbiyaa’: 52-70)

Jika kita mencermati dengan seksama potongan kisah dakwah Ibrahim as. kepada kaumnya, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang seharusnya bisa diambil dan ditiru kembali oleh para pendakwah risalah di akhir zaman. Di zaman di mana akal dan rasionalitas begitu dijunjung tinggi oleh penduduk bumi. Sesiapa yang mampu menawarkan solusi dengan tingkat rasionalitas paling tinggi, maka itulah yang akan diterima oleh mereka.

Seandainya mereka tahu bahwa Ibrahim as. lah, manusia pertama yang menggunakan akal dan rasio yang murni dalam mencari kebenaran hakiki di atas muka bumi ini, pastilah mereka akan mengikuti jejak beliau. Namun sayangnya, mereka lebih menuruti hawa nafsu mereka sendiri. Maka mereka pun tidak menemukan kebenaran itu, kebenaran yang bersumber dari Yang Maha Benar. Mereka-para pendakwah Islam mauoun masyarakat yang didakwahi-tidak menemukannya, dan berakhir tunduk di bawah hawa nafsu.

Setidaknya ada tiga ‘Ibroh yang bisa diambil dari potongan kisah dakwah Nabi Ibrahim as. diatas, yang semuanya dilakukan dengan strategi matang hasil olah pemikirannya ; Pertama: berani dan lantang menyerukan kebenaran. lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim as. bertanya dengan lantang kepada kaumnya, bahkan ayahnya sendiri tentang hakikat sesembahan mereka selama ini. Pertanyaan yang serupa juga Allah swt. kisahkan di surat-surat lain.

Sikap berani dan lantang dalam mengkritisi kemungkaran seperti diatas haruslah dimiliki oleh tiap pendakwah. dalam hal ini, hadits tentang menghilangkan kemungkaran dari atas muka bumi dari Rasulullah saw. yang berisi tiga tahap penghapusan kemungkaran;, tangan, lisan & hati teraplikasikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. dimana beliau menumbangkan kemungkaran lewat lisannya terlebih dahulu lewat pertanyaan ini.

Nabi Ibrahim as. melakukan hal tersebut karena tahu dan faham betul akan kondisi manusia yang ia dakwah, dimana mereka semua adalah kerabat dan kaumnya sendiri. Maka tidak mungkin beliau langsung menggunakan tangannya untuk menghancurkan kemungkaran tersebut, karena dikhawatirkan akan muncul kerusakan yang lebih besar. Begitu pula yang dicontohkan oleh seluruh nabi dan rasul, bisa kita dapati dalam kisah-kisah mereka.

Walau pada akhirnya cara tersebut tidaklah berhasil juga. Bahkan merekalah yang akhirnya disiksa, dibunuhi, dikejar dan disalib. Termasuk Nabi Ibrahim as. sendiri akhirnya pun dibakar, setelah bersilat lidah panjang dan mereka kalah dengan hujjah yang disampaikan olehnya, sebagaimana terkisahkan di atas. Sejatinya, mereka semua syahid di jalan Allah swt., mereka tahu bahwa kemenangan adalah milik Allah swt. dan tugas mereka adalah bekerja menunaikan tugasnya saja.

Kedua: ketelatenan dan kesabaran dalam menyeru. Sikap ini begitu nampak pada diri Nabi Ibrahim as. ia tidak patah arang tatkala seruannya tidak diterima oleh kaumnya. Bahkan berkat kesabaran beliau, Allah swt. anugerahkan ketajaman lidah. Jika pada episode pertama, ‘kemampuan penglihatan’ lah yang jadi wasilah penyadar kaumnya, maka pada episode kedua ini, ‘kemampuan berbicara’ lah yang menjadi wasilah tersebut.

Ia dengan cerdas menjawab pertanyaan kepada kaumnya ketika ia diadili di hadapan mereka,“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. dan terhenyak lah mereka semua dengan jawaban cerdas ini. mereka terdiam seribu bahasa tidak mampu menjawabnya lagi. Karena mereka sadar betul bahwa patung-patung mereka tidaklah mampu berbicara! Maka dengan logika yang sama, bagaimana mungkin Tuhan yang tidak mampu berbicara juga mampu memberikan manfaat!.

Runtuhlah seketika kemungkaran kaumnya. Kebatilan yang mereka bangun selama berabad-abad mampu dihancurkan seketika oleh pemuda bernama Ibrahim as. Itu semua bisa terjadi karena ketelatenan dan kesabaran beliau dalam berdakwah. Telaten dalam mencari cara berdakwah paling tepat, atau dengan istilah lain, banyak akal.

Ketiga; kekuatan & kecerdikan dalam mengaplikasikan metode dakwah. Tatkala Ibrahim as. berfikir dengan akal & rasio yang murni, ia menemukan cara jitu untuk meruntuhkan kebatilan kaumnya. Yakni, dengan menghancurkan semua berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan yang paling besar. Dengan melakukan hal tersebut, ia akan melakukan sebuah rekayasa sosial pada kaumnya.

Tentu, hal tersebut tidak bisa ia lakukan kecuali dengan kekuatan yang efektif, maka dengan cerdik, ia memisahkan diri dari kaumnya ketika mereka sedang melakukan acara besar. Dan di waktu yang singkat, ia ambil palu besar dan menuju ruangan tempat dimana semua berhala kaumnya di berdirikan, dan dihancurkanlah semuanya, kecuali yang paling besar.

Jika kita cermati, seandainya ia menghancurkan semua patungnya, maka tidak akan terjadi percakapan panjang dan cerdas tersebut. Percakapan bernas yang meruntuhkan tuduhan yang diajukan pada dirinya. Walau memang benar bahwa dirinya lah yang menghancurkan semua berhala kaumnya.

Ia tidak mengelak lari, karena itulah yang ia tunggu. Berhadapan langsung dengan kaumnya dan meruntuhkan makna kebatilan dari hati mereka dengan lidahnya yang tajam. Dan di akhir, ia pun berhasil mendapatkan dua hasil sekaligus; runtuhnya fisik kemungkaran berupa berhala dan runtuhnya makna kemungkaran di hati mereka berupa syirik.

Itulah sekelumit pelajaran yang seharusnya bisa diambil oleh tiap da’i dalam menyerukan kebenaran. Akal yang bersih, hati yang murni, pikiran yang matang, dan kuatnya argumentasi ketika berhadapan dengan kemungkaran dibalut dengan keberanian, ketelatenan dan kecerdikan akan menghasilkan terangkatnya derajat kebenaran yang ia bawa dan terjatuhnya derajat kebatilan yang dibawa oleh musuh-musuh dakwah. Tentu dengan tidak lupa untuk tunduk pada tuntunan wahyu yang benar.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari kisah panjang dakwah Nabi Ibrahim as. semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran tersebut. Karena kita ingin menyembah Allah swt. dan meng-esakan-Nya dengan kesadaran penuh dan akal yang murni sebagaimana Nabi Ibrahim as. menyembah Tuhannya dengan akal yang juga murni. Tidak dengan buta hati dan lemah akal, sebagaimana yang tergambar pada kaum Nabi Ibrahim as.

Wallahu A’lam.


Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA)

الوقت في حياة المسلم





هل شربتم عصيرا ؟ وهل صنعتموه ؟

حينما نعصر الفواكه  ، سنحصل على قدر قليل من الماء مقابل الفواكه الكثيرة أو الكبيرة ، وهذا العصير القليل نشربه ونتلذذ به وننتفع منه . أما باقية من الفواكه نرميها لعدم نفعها . فاعلم إن مثل الوقت في حياة الإنسان كذلك . ما من فوات الأعوام إلا وهي ذاهبة بلا جدوى كأنها أقشار الفواكه التي رميناها ... ومدة قليلة منها نستغلها للعبادة والعمل والإنتاج والابتكار. ألا وهي مدة قصيرة نديرة من الأعوام الطويلة !

قال الشاعر :
والوقت أنفس ما عنيت بحفظه                               وأراه أسهل ما عليك يضيع
وقال أحمد شوقي :
دقات قلب المرء قائلة له                                     إن الحياة دقائق وثواني

إن الوقت ينفذ كالسهم . غادر الغافل عن حياته . ولا يحسه إلا بعد مماته . ويوم يقوم التغابن ويبعث من مرقده ، ليدرك التحسر عن تفريط حياته .. كأنه يوم يراه لم يلبث إلا عشية أو ضحاها ...
فصدق الله الذي قال في إحدى سوره :
وَالْعَصْرِ (١)  إِنَّ الْإِنسٰنَ لَفِى خُسْرٍ (٢)

نعم ، إن الإنسان لفي خسارة . غرق في اللهو واللعب . وتعدى في الكسل والأسى . وفرط أموره . لايعرف قيمة الوقت فيفعل ما يشاء ويريده . ولكن ، هل يقصد أن الإنسان كله في خسارة ؟

أجاب الرحمن بالآية التي تليها :
إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِالصَّبْرِ (٣)

إن المؤمنين الحقيقيين يخافون الله فاطر السموات والأرض . فيمتثلون أوامره ويجتنبون نواهيه . وينظمون أوقاتهم  ولا يؤجلون أعمالهم ؛ لأنهم يدرون أن موارد الموت ليس لها مصادر ، وأنهم سوف يسألون عن أوقاتهم فيما أفنوها. فالمؤمنون يدومون الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر . ويقومون بالتواصي بالحق والصبر في الطاعة .

فيبقى سؤال ينبغي على أنفسنا .هل فعلنا مثل ما يلزم على المؤمنين الحقيقيين كما في سورة العصر كي لا نكون من الخاسرين ؟

نتمنى ذلك .

_ابنة الحليم_
Oleh : Nur Mawaddah  (Direksi IDETE)

SUARAKAN HATIMU UNTUK MENGGANDAKAN AMALMU





            Tahukah kamu? Jika suara hatimu jujur, kamu akan meraih apa yang kamu impikan. Mengapa hanya dengan suara hati saja, amalan kita akan dilipatgandakan? Suara hati seperti apa yang bisa melakukannya? Tentu jika kamu benar dan jujur dengan suara hatimu maka, kamu akan berusaha sebaik mungkin bukan? Suatu amalan yang biasa saja ditambahkan dengan suara hati yang tulus ikhlas akan menjadi amalan yang luar biasa. Lalu suara hati apakah itu? Itulah NIAT! Hanya niat! Amalan yang sudah biasa kita lakukan ditambah dengan banyak niat yang kita azamkan akan melipatgandakan pahala amalan kita. Mengapa saya menyebutnya suara hati? Karena niat merupakan perkara hati, terdapat dalam hati dan hanya Allah yang mengetahuinya.
Hadits pertama dalam Hadits Arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi adalah Amirul Mu’minin Abu Hafs Umar bin Khattab radiyallaahu‘anhu berkata, “aku mendengar Rasulullah shallaahu alaihi wasallam bersabda,” “semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul- Nya maja hijrahnya untuk Allah dan Rasul- Nya dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menurut Imam Ahmad dan Imam Syafi’i mencakup sepertiga ilmu, karena perbuatan manusia terkait dengan tiga hal; hati, lisan dan anggota badan. Sedangkan niat dalam hati merupakan salah satu dari tiga hal tersebut.
Ibnu Mas’ud berkata, “Diantara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak hingga ia hijrah ke Madinah. Maka laki-laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.” ketika itu para sahabat saling silang pendapat apakah hijrahnya diterima atau tidak. Akhirnya Rasulullah mensabdakan hadits tersebut, oleh karena itu, laki-laki tersebut diberi julukan Muhajir Ummu Qais.
Maka, niat sebelum amalan itu adalah sangat-sangat penting karena kita akan diganjar dengannya. Niat adalah pintu gerbang keikhlasan. Keikhlasan yang menurut seorang Tabi’in walaupun hanya satu jam namun bisa menjadi keselamatan seumur hidup. Seumur hidup?? Bayangkan betapa sulitnya untuk Ikhlas.
Sahl bin Sa’d pernah ditanya, “Apakah yang paling sulit bagi jiwa?” Ia menjawab, “Ikhlas”. Mengapa sulit? Karena ketika ikhlas, jiwa tidak memiliki bagian sedikit pun.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.” Artinya sesuatu yang paling berat untuk diobati adalah qalbu (hati), karena ia mudah berubah-ubah. Padahal Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal ibadah. Syarat lainnya ialah harus benar sesuai dengan sunnah Nabi shallaahu alaihi wasallam. Ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah semata, bukan yang lain. Melupakan pandangan manusia, tidak mengubrisnya dan hanya melihat pandangan Allah dan agar dilihat Allah saja.

“Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi- Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan padaku.” (Al- An’am : 162 - 163)

Gerbang pertama dalam keikhlasan adalah Niat. Niat dalam hal apa?

1. Niat Dalam Ketaatan
Shalat, zakat, puasa dan haji semua ada niatnya. Bahkan shalat tidak sah jika dikerjakan tanpa niat. Jangan sampai kita berbuat sesuatu tanpa didasari niat. Ikhlash memang sulit untuk diraih tapi niat bukankah sesuatu yang bisa kita ubah? Maksud saya, mulailah dengan hal yang terkecil sekalipun, mulailah dari ibadah seharian kita.
Mengapa Muslimah memakai hijab? Tanyalah pada diri sendiri dan jawablah. Apakah “karena ingin terlihat cantik”? Jika begitu, maka hanya itu saja yang kamu dapatkan. Jawablah “karena ini adalah perintah Allah, aku mengikutinya ingin agar Allah ridha kepadaku. Karena muslimah itu seorang yang terjaga kehormatannya. Karena dengan hijab maka seorang wanita tidak hanya dilihat dari bodinya saja, tapi perangai dan kecerdasannya, dengan hijab akan membuatku malu untuk berbuat jahat, aku menyeru kepada sekitarku bahwa hijab bukan penghalang kesuksesan dan hijab nyaman dipakai juga terlihat lebih cantik.” Apa yang kamu dapatkan kalau niatmu seperti ini? Pasti berlipat-lipat kan keuntungannya?
Pelajarilah dan biasakanlah, seperti saat kita tidak bisa makan dengan tangan kiri, karena fitrah kita terbiasa dengan tangan kanan. Dan kita akan diciptakan dalam keadaan ini. Kita tidak bisa melangkah satu langkah saja kecuali dengan niat. Berbahagialah jika kita mampu seperti itu.
Begitulah jalan menuju ikhlas, karena itu, ketika seorang sahabat Nabi meninggal, dikatakan kepada seorang tabi’in (generasi setelah sahabat), “Berjalanlah bersama kami mengikuti jenazah seorang sahabat,” ia menjawab, “tunggu sebentar.” Maka ia pun terdiam, lalu berkata, “Berjalanlah bersama kami.” Hingga laki-laki itu bertanya padanya, “apa yang menghentikanmu sebentar?” ia menjawab, “aku duduk mempersiapkan niatku.”
Ketika ketaatan berubah menjadi sekedar rutinitas kebiasaan, maka berkuranglah rasa ketaatan dalam ibadah tersebut. Oleh karena itu kita perlu memperbaharui niat, mengevaluasinya juga. Agar semangat dan keikhlasan di hati kita menjadi baru kembali. Sehingga keimanan kita tidak mengalami degradasi atau futur dan kelunturan.
Demikian juga para pemuda yang telah terbiasa melakukan shalat di masjid. Hendaknya mereka memperbaharui niat sebelum melakukan satu gerakan apapun, atau sebelum melakukan satu dari amal-amal ketaatan. Dengan demikian kita akan terus ikhlas dan mementingkan ketaatan kepada Allah.

2. Niat Dalam Adat Kebiasaan
Niat merubah amal kebiasaan menjadi ibadah. Di waktu kita sehari 24 jam ini apa yang paling banyak kita lakukan? Apakah shalat? Baca Al-Qur’an? Masak? Belajar? Bekerja? Jika kita seorang pelajar mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, pun dengan seorang pekerja akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya. Jadi, apakah waktu yang telah kita habiskan tersebut bukan untuk Allah? Waktu yang panjang itu? Apakah hidup kita yang bukan untuk Allah akan memberi manfaat?
Maka disinilah perannya niat. Niat mengubah kebiasaan menjadi ibadah. Ayo katakan, “Aku belajar karena orang shalih tak layak gagal, Sehingga aku tidak mencoreng muka orang mu’min nan shalih. Aku bekerja untuk menakhodai perekonomian dunia agar orang mukmin  tidak selalu bergantung dengan orang kafir dan orang fasik. Dan agar orang mu'min menjadi pemimpin dunia.”
Dengan niat yang seperti ini, Insya Allah setiap usaha, goresan pena, keringat dan langkah kaki kita mendapatkan pahala. Ikhlaskan hati kita hanya untuk Allah, karena tiada berguna jika menjadi kaya karena dunia, tapi akan sangat-sangat bermanfaat jika untuk fii sabiilillah.
Apa yang kita harapkan dari mempunyai anak? Apakah hanya untuk berbangga dengan keturunan? Hanya teman bersenda gurau? Dengan niat ini kita tidak akan mendapatkan pahala. Tapi jika kita niatkan, “Aku ingin mempunyai anak yang mentauhidkan Allah, aku ingin ia setangguh Muhammad Al Fatih yang meruntuhkan benteng Konstantinopel, secerdas Abdullah bin Mas’ud, segagah Umar bin Khattab, ingin ia menjadi syuhada di jalan Allah dan kelak membantu orang tuanya di akhirat.” Maka semua jernih payah kita selama mendidik dan mengasuh anak akan berbuah menjadi pahala, karena kita mendidiknya untuk menjadi hamba Allah. Demi Allah, sulit untuk sempurna dalam berikhlas, namun berniat dalam melakukan ibadah dalam adat kebiasaan kita sangat mungkin dilakukan.

3. Niat Dalam Perkara Yang Kita Tidak Mampu
Perkara apa yang kita tidak mampu untuk melakukannya? Misalnya pergi haji dan umrah. Maka katakanlah pada diri sendiri, “Ya Allah, jika engkau memberiku harta maka, aku akan melakukan umrah, mengunjungi masjid Rasulullah setiap tahun.” Percaya atau tidak, atas izinNya kita akan mendapatkan pahala umrah setiap tahun.
Ketika kembali dari perang Tabuk, jarak Tabuk ke Madinah hampir 1000 km, jarak yang jauh lagi panas. Konon, sahabat bergantian menaiki kendaraan yang terbatas, ketika itu Nabi bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada kaum yang tidak melewati jalan atau menerobos bukit kecuali mereka bersama kalian. Mereka bersama kalian dalam pahala, udzur telah menghalangi mereka.” (HR Bukhari Muslim). Dahsyatnya niat, mereka belum keluar karena udzur, tetapi mereka memperoleh pahala sempurna.
Jadi, sampai sini ingat niat kita, bagaimana kita harus meniatkannya. Nabi shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan qiyamullail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim)
Namun! Berusahalah sesuai niat kita, jika kita jujur meniatkannya maka kita akan memasang jam weker, atau memohon untuk dibangunkan oleh teman, atau minta dipercikkan air oleh ibu, jangan hanya niat tapi tidak berusaha! Apakah kita menyangka mendapatkan pahala qiyamullail meski kita tidak berusaha? Tidak! Maka jujurlah dengan niat kita dan berusahalah.
Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta kesyahidan di jalan Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas ranjangnya.” (HR Muslim, Abu Daud dan At-Turmudzi)
Apakah kita semua mau mati syahid yang jaminannya sudah pasti syurga? Jika kita meniatkannya dengan benar, dan mengusahakannya. 
Nabi bersabda, “Dunia diperuntukkan bagi empat golongan. Pertama, hamba yang dikaruniakan Allah kekayaan dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada Tuhannya, menyambung silaturahimnya, dan menyadari hak Allah di dalamnya. Ini adalah posisi yang paling utama. Kedua, hamba Allah yang dikaruniai ilmu oleh Allah tanpa karunia kekayaan, namun ia berniat tulus menyatakan, “kalau saja aku memiliki kekayaan, tentu aku akan beramal seperti fulan,” Meski ia hanya berniat, sedangkan yang pertama telah berbuat, menurut Rasulullah, “Pahala keduanya sama sejajar.” (HR An-Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)
Sampai disini, saya katakan sekali lagi niatkanlah pada perkara yang tidak kita miliki! “Jika aku mempunyai mobil....”. Jika aku dikaruniai anak......”. “Jika aku diberi kekayaan....”. Niatlah karena Allah, lalu bayangkan pahala kita mendapatkan pahala mereka. Sudahkah kamu meniatkannya?

(Dikutip dari buku Hati Sebening Mata Air karya Amru Khalid, dengan banyak perubahan)
Oleh : Siti Nuril Fathimiyyah (Direksi IDETE)