Tampilkan postingan dengan label Kolom Ketum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Ketum. Tampilkan semua postingan

Arkaanul Istibdaad : Rukun-Rukun Kehancuran


Al Quran Al Karim turun kepada Rasulullah saw untuk disampaikan isinya kepada seluruh alam semesta, seluruh manusia. Agar seluruh manusia mengambil pelajaran darinya, karena ia merupakan kitab petunjuk hidup. Life Guidance, petunjuk hidup di dunia dan akhirat, petunjuk agar kita selamat dari fitnah di dunia dan dari azab di akhirat.

Termasuk dari petunjuk yang ada di dalam Al Quran adalah adanya kisah-kisah para Nabi dan Rasul yang nyata terjadi dalam lembaran sejarah kehidupan manusia. Kisah-kisah kepahlawanan yang terkisah dalam Al Quran bukanlah dongeng, ia memang kisah nyata yang terjadi, sehingga nilai-nilai kepahlawanannya pun juga nyata, ia nyata terjadi dan nyata untuk diamalkan. Inilah yang kemudian menjadikan bahwa Al Quran bukanlah buku sejarah, walau di dalamnya ayat-ayat yang berbicara tentang sejarah lebih banyak dari ayat-ayat Ahkam (hukum-hukum). Karena tujuan penyebutan sejarah tersebut dalam Al Quran adalah untuk dijadikan pelajaran.

Dan dari banyaknya kisah tersebut ada sebuah kisah agung yang terulang banyak dalam Al Quran, yakni kisah Musa dan Firaun. Kisah yang terulang di banyak surat dalam Al Quran yang menurut para ulama tafsir menjadi kisah yang paling banyak terulang melebihi kisah-kisah kenabian lainnya. Bahkan Al Quran secara terus terang menyebut bahwa Al Quran ini adalah kisah tentang Bani Israil (kaumnya Nabi Musa as) kepada mereka sendiri.

Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An Naml: 76)

Maka seharusnya tiap muslim yang membaca Al Quran mentadabburi apa yang mereka baca ketika mereka melewati ayat-ayat yang berkisah tentang Musa dengan kaumnya. Mentadabburi maknanya dan mengambil pelajaran apa yang sesuai dengan yang terjadi di masa sekarang.

Asy Syaikh Muhammad Hasan Waladid Didu Asy Syinqithi –hafizahullah- seorang ulama kontemporer asal Mauritania ketika menafsirkan surat Al Qashash yang didalamnya menjelaskan kisah Nabi Musa as. dengan Firaun memberikan tadabbur yang indah, bahwa ternyata kisah Nabi Musa dan Firaun yang banyak terulang dalam Al Quran sesungguhnya menjelaskan kepada kita bahwa sebuah sistem kekuasaan tertentu tidak akan dihancurkan oleh Allah swt. sebelum terpenuhi di dalam kehidupan mereka lima rukun, yang disebut oleh beliau dengan Arkaanul Istibdad (rukun-rukun kehancuran).

Dimana rukun-rukun ini jika terpenuhi pada satu sebuah sistem kekuasaan atau peradaban tertentu maka bisa dipastikan sistem kekuasaaan tersebut akan hancur lebur. Dan contoh terbaik yang pernah ada yang mengisahkan tentang hal ini adalah kisah Musa dengan Firaun.

Jika kita perhatikan kisah tersebut seksama di banyak surat Al Quran (Al Baqarah, Yunus, Ibrahim, Thahaa, Asy-Syuaara, Al Qashsash, Ghafir, An Naziaat, dsb.) kita akan menemukan bahwa kehancuran (istibdad) firaun dan kaumnya terjadi ketika terpenuhi kelima rukun tersebut.

Pertama, Raja yang sombong dan berkuasa, yang memiliki tanah kekuasaan beserta semua yang hidup diatasnya dan semua yang ada di dalamnya, dan rukun pertama ini ada pada diri Firaun. Sebagaimana kita baca dalam setiap tafsir, bahwa Firaun mengelola tempat dimana ia berkuasa dengan semena-mena, ia memperbudak rakyat Mesir, dalam hal ini bangsa Israil dan menguras sumber daya mereka dengan cara otoriter dan zhalim. Ia menindas mereka dengan siksaan yang pedih, menyembelih setiap anak-anak lelaki yang lahir dari rakyatnya sendiri dan kemudian mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan Yang Paling Tinggi.

Kedua, Menteri atau pembantu Sang Raja yang munafik dan penjilat, yang berusaha mewujudkan semua keinginan si Raja dan menjanjikan padanya bahwa ia mampu mewujudkan semua keinginan tersebut padahal faktanya tidak bisa, dan rukun kedua ini dilakoni oleh Haman. Haman si Menteri Firaun yang dalam surat Ghafir ayat 36-37 diceritakan bahwa ia diminta oleh Firaun untuk membangunkan untuknya menara yang tinggi lagi besar agar ia bisa naik ke langit dan membuka pintu-pintu langit, dan kemudian menantang Tuhannya Musa as. Haman pun menuruti perintah tuannya, membangunkan untuknya menara yang tinggi untuk dinaiki oleh Firaun, yang pada akhirnya, usaha tersebut berujung pada kehancuran Firaun dan menaranya “..dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (Ghafir: 37)

Ketiga, Konglomerat kaya yang memiliki banyak lahan usaha dan harta yang kemudian hasil dari pengelolaan hartanya digunakan untuk memperkuat kekuatan dan kezaliman sang penguasa, dimana rukun ketiga ini di masa tersebut terlakoni dalam diri Qorun. Di dalam surat Al Qashash ayat 76, dikisahkan bahwa kekayaan Qarun begitu banyak sehingga kunci perbendaharaannya saja harus dipikul oleh puluhan budak lelaki. Hal ini mengisyaratkan bahwa harta kekayaannya digunakan untuk memakmurkan perbudakan dan kezaliman yang terjadi di masa tersebut.

Keempat, Sekelompok ahli agama yang menggunakan ilmu agamanya untuk melegitimasi aturan-aturan penguasa yang zhalim dan menindas rakyat, dan legitimasi yang mereka lakukan tidak ada ada yang mengingkarinya, rukun keempat ini ada pada diri para tukang sihir sebelum mereka beriman. Para penyihir ini sebagaimana dikisahkan dalam rentetan ayat 37-47 surat Asy-Syuaara, bahwa mereka menantang Musa berduel di arena terbuka untuk mengadu “ilmu sihir” siapa diantara mereka yang lebih kuat. Semua golongan rakyat dari para pembesar sampai para budak diundang untuk menyaksikan duel terbuka tersebut. Dan di akhir, para tukang sihir ini kalah dan mereka masuk Islam. “..kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. Maka tersungkurlah para penyihir itu, bersujud.” (Asy-Syu’aara: 46-47)

Dan kelima, Sekelompok orang yang bekerja secara beramai-ramai untuk menyebarkan informasi secara luas setiap kejadian yang terjadi menguntungkan penguasa yang zalim. Dan rukun kelima ini ada pada kelompok yang dalam banyak tafsir disebut dengan kelompok Hasyidun (gerombolan manusia). Mereka inilah yang dalam Asy-Syuaara ayat 39-40 berkata “..berkumpulah kalian semua, agar kita mengikuti para penyihir itu jika mereka yang menang”. Mereka akan menyebarkan informasi ke seluruh penjuru negeri hanya jika para penyihir menang. Jika mereka kalah, maka mereka tidak menyebarkannya.

Itulah kelima rukun kehancuran yang diceritakan dalam Al Quran dalam banyak potongan kisah Nabi Musa as dengan Firaun. Yang jika kelima rukun tersebut terjadi pada sebuah masyarakat dimanapun tempatnya dan kapanpun terjadinya, maka kehancuran pasti akan terjadi pada mereka. sebagaimana  kehancuran yang terjadi pada firaun dan bala tentaranya.

Oleh karenanya Allah swt. berfirman dalam surat Al Qashsash ayat 5 “Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi ini, dan kami jadikan mereka orang-orang yang mewarisi”. Dalam redaksi ayat ini, Allah swt tidak menggunakan kalimat “kaum Bani Israil”, akan tetapi Allah swt. menggunakan redaksi yang lain, yakni “orang-orang yang tertindas di muka bumi”. Ini mengisyaratkan bahwa kehancuran yang terjadi pada kaum Firaun juga bisa terjadi pada setiap kaum di manapun di muka bumi ini. Selama mereka sama dalam satu hal, yakni menindas orang-orang lemah dengan menggunakan seluruh perangkat sistem kekuasaan, mereka akan hancur.
Maka pada hari ini, jika kelima rukun tersebut kita konfersi maka rukun pertama adalah para penguasa otoriter yang menindas rakyatnya, yang memberlakukan kebijakan yang tidak pro rakyat dan semena-mena, tetapi sebaliknya kebijakan yang mereka berlakukan hanya menguntungkan kelompok mereka. Rukun kedua adalah para menteri dan pembantu para penguasa yang bertugas menjalankan kebijakan penguasa dan membantunya menipu rakyat. Rukun ketiga adalah konglomerat dan pengusaha yang menjadi penyokong penguasa zalim, yang hari ini mereka menjelma menjadi cukong-cukong kaya yang memodali para politisi buruk untuk maju melenggang menempati kursi-kursi kekuasaan.

Rukun keempat adalah para ulama suu’, atau orang-orang yang memiliki ilmu namun mereka menggunakan ilmu mereka untuk menempel pada penguasa, fatwa-fatwa mereka mengikuti kemauan penguasa, sekalipun penguasa tersebut zalim dan fatwa yang keluar bertentangan dengan risalah asli kenabian-tauhid dan maqashid syariah. Dan rukun kelima, adalah media massa yang setiap hari memproduksi berita-berita hoaks dan memfitnah kelompok kebenaran. Yang dengan berita-berita yang mereka produksi penguasa yang zalim pun diuntungkan. Atau dalam bentuk yang lebih buruk, media massa ini memang sudah “dibayar dan dibeli” oleh pemerintah.

Dua kelompok terakhir-ulama dan media massa-seharusnya adalah kelompok yang memiliki independensi dalam melakukan aktifitas mereka, karena kedua posisi ini erat kaitannya dengan  pandangan publik. Mata masyarakat dan telinga publik setiap saat menunggu dan mengawasi apa yang kedua kelompok ini lakukan.

Maka pertanyaan selanjutnya, apakah kelima rukun istibdaad ini sudah ada di tubuh bangsa ini? Marilah kita melihat lebih jernih apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada masyarakat kita, yang disebut dalam terminoogi ulama sebagai ayat-ayat kauniyyah dan kemudian kita integrasikan dengan ayat-ayat qauliyah yang ada dalam Al Quran Al Karim.

Sehingga umat Islam yang mayoritas di negeri ini mampu mengambil pelajaran darinya dan terhindar dari kehancuran yang Allah swt. janjikan dalam Sunnatullah-Nya. Dan dalam kasus ini, mari kita sama-sama berdoa dan berharap bahwa suatu saat dari tempat atau pelosok negeri ini muncul Musa-Musa yang baru, yang dengan izin Allah swt. akan menyalamatkan orang-orang yang istiqomah dengan ajaran kitab suci mereka. Amin.

“dan (juga) Qarun, Fir´aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Ankabut: 39-40).


Oleh : M. Saihul Basyir (Ketum Kammi Lipia ) 

Serial Keteladanan Ibrahim as. Menyembah Dengan Akal (II)


“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk (Rusyd), dan Kami telah mengetahui dia.” (Al Anbiya: 51)

Berikut episode kedua dari serial keteladanan dari seagung manusia. Panutan dan ayah para nabi. Darinya mengalir manhaj dakwah risalah yang kokoh, dikarenakan kuatnya rasionalitas yang Allah swt. anugerahkan padanya mampu dipadu padankan dengan kesucian dan keagungan wahyu Allah swt. Yang akhirnya melahirkan hujjah peruntuh akidah materialisme & paganisme.

Jika pada episode pertama Allah swt. mengisahkan bagaimana ia menggunakan ‘penglihatan’ sebagai wasilah penyadaran kaumnya yang menyembah berhala. Ketika ia berkata kepada mereka: “Apakah kalian melihat nenek moyang kalian menyembah berhala?”

Maka pada potongan ayat kedua ini, Allah swt. kembali menceritakan bagaimana strategi dakwah beliau ditambah kekuatan dan ketepatan hujjah (argumen) yang dimiliki Nabiyullah Ibrahim as. sekali lagi berhasil meruntuhkan akidah paganisme tatkala mereka saling berhadapan.

Mari baca firman Allah swt. ini dengan seksama:
“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”

Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”. Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. 

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”.

Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al Anbiyaa’: 52-70)

Jika kita mencermati dengan seksama potongan kisah dakwah Ibrahim as. kepada kaumnya, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang seharusnya bisa diambil dan ditiru kembali oleh para pendakwah risalah di akhir zaman. Di zaman di mana akal dan rasionalitas begitu dijunjung tinggi oleh penduduk bumi. Sesiapa yang mampu menawarkan solusi dengan tingkat rasionalitas paling tinggi, maka itulah yang akan diterima oleh mereka.

Seandainya mereka tahu bahwa Ibrahim as. lah, manusia pertama yang menggunakan akal dan rasio yang murni dalam mencari kebenaran hakiki di atas muka bumi ini, pastilah mereka akan mengikuti jejak beliau. Namun sayangnya, mereka lebih menuruti hawa nafsu mereka sendiri. Maka mereka pun tidak menemukan kebenaran itu, kebenaran yang bersumber dari Yang Maha Benar. Mereka-para pendakwah Islam mauoun masyarakat yang didakwahi-tidak menemukannya, dan berakhir tunduk di bawah hawa nafsu.

Setidaknya ada tiga ‘Ibroh yang bisa diambil dari potongan kisah dakwah Nabi Ibrahim as. diatas, yang semuanya dilakukan dengan strategi matang hasil olah pemikirannya ; Pertama: berani dan lantang menyerukan kebenaran. lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim as. bertanya dengan lantang kepada kaumnya, bahkan ayahnya sendiri tentang hakikat sesembahan mereka selama ini. Pertanyaan yang serupa juga Allah swt. kisahkan di surat-surat lain.

Sikap berani dan lantang dalam mengkritisi kemungkaran seperti diatas haruslah dimiliki oleh tiap pendakwah. dalam hal ini, hadits tentang menghilangkan kemungkaran dari atas muka bumi dari Rasulullah saw. yang berisi tiga tahap penghapusan kemungkaran;, tangan, lisan & hati teraplikasikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. dimana beliau menumbangkan kemungkaran lewat lisannya terlebih dahulu lewat pertanyaan ini.

Nabi Ibrahim as. melakukan hal tersebut karena tahu dan faham betul akan kondisi manusia yang ia dakwah, dimana mereka semua adalah kerabat dan kaumnya sendiri. Maka tidak mungkin beliau langsung menggunakan tangannya untuk menghancurkan kemungkaran tersebut, karena dikhawatirkan akan muncul kerusakan yang lebih besar. Begitu pula yang dicontohkan oleh seluruh nabi dan rasul, bisa kita dapati dalam kisah-kisah mereka.

Walau pada akhirnya cara tersebut tidaklah berhasil juga. Bahkan merekalah yang akhirnya disiksa, dibunuhi, dikejar dan disalib. Termasuk Nabi Ibrahim as. sendiri akhirnya pun dibakar, setelah bersilat lidah panjang dan mereka kalah dengan hujjah yang disampaikan olehnya, sebagaimana terkisahkan di atas. Sejatinya, mereka semua syahid di jalan Allah swt., mereka tahu bahwa kemenangan adalah milik Allah swt. dan tugas mereka adalah bekerja menunaikan tugasnya saja.

Kedua: ketelatenan dan kesabaran dalam menyeru. Sikap ini begitu nampak pada diri Nabi Ibrahim as. ia tidak patah arang tatkala seruannya tidak diterima oleh kaumnya. Bahkan berkat kesabaran beliau, Allah swt. anugerahkan ketajaman lidah. Jika pada episode pertama, ‘kemampuan penglihatan’ lah yang jadi wasilah penyadar kaumnya, maka pada episode kedua ini, ‘kemampuan berbicara’ lah yang menjadi wasilah tersebut.

Ia dengan cerdas menjawab pertanyaan kepada kaumnya ketika ia diadili di hadapan mereka,“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. dan terhenyak lah mereka semua dengan jawaban cerdas ini. mereka terdiam seribu bahasa tidak mampu menjawabnya lagi. Karena mereka sadar betul bahwa patung-patung mereka tidaklah mampu berbicara! Maka dengan logika yang sama, bagaimana mungkin Tuhan yang tidak mampu berbicara juga mampu memberikan manfaat!.

Runtuhlah seketika kemungkaran kaumnya. Kebatilan yang mereka bangun selama berabad-abad mampu dihancurkan seketika oleh pemuda bernama Ibrahim as. Itu semua bisa terjadi karena ketelatenan dan kesabaran beliau dalam berdakwah. Telaten dalam mencari cara berdakwah paling tepat, atau dengan istilah lain, banyak akal.

Ketiga; kekuatan & kecerdikan dalam mengaplikasikan metode dakwah. Tatkala Ibrahim as. berfikir dengan akal & rasio yang murni, ia menemukan cara jitu untuk meruntuhkan kebatilan kaumnya. Yakni, dengan menghancurkan semua berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan yang paling besar. Dengan melakukan hal tersebut, ia akan melakukan sebuah rekayasa sosial pada kaumnya.

Tentu, hal tersebut tidak bisa ia lakukan kecuali dengan kekuatan yang efektif, maka dengan cerdik, ia memisahkan diri dari kaumnya ketika mereka sedang melakukan acara besar. Dan di waktu yang singkat, ia ambil palu besar dan menuju ruangan tempat dimana semua berhala kaumnya di berdirikan, dan dihancurkanlah semuanya, kecuali yang paling besar.

Jika kita cermati, seandainya ia menghancurkan semua patungnya, maka tidak akan terjadi percakapan panjang dan cerdas tersebut. Percakapan bernas yang meruntuhkan tuduhan yang diajukan pada dirinya. Walau memang benar bahwa dirinya lah yang menghancurkan semua berhala kaumnya.

Ia tidak mengelak lari, karena itulah yang ia tunggu. Berhadapan langsung dengan kaumnya dan meruntuhkan makna kebatilan dari hati mereka dengan lidahnya yang tajam. Dan di akhir, ia pun berhasil mendapatkan dua hasil sekaligus; runtuhnya fisik kemungkaran berupa berhala dan runtuhnya makna kemungkaran di hati mereka berupa syirik.

Itulah sekelumit pelajaran yang seharusnya bisa diambil oleh tiap da’i dalam menyerukan kebenaran. Akal yang bersih, hati yang murni, pikiran yang matang, dan kuatnya argumentasi ketika berhadapan dengan kemungkaran dibalut dengan keberanian, ketelatenan dan kecerdikan akan menghasilkan terangkatnya derajat kebenaran yang ia bawa dan terjatuhnya derajat kebatilan yang dibawa oleh musuh-musuh dakwah. Tentu dengan tidak lupa untuk tunduk pada tuntunan wahyu yang benar.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari kisah panjang dakwah Nabi Ibrahim as. semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran tersebut. Karena kita ingin menyembah Allah swt. dan meng-esakan-Nya dengan kesadaran penuh dan akal yang murni sebagaimana Nabi Ibrahim as. menyembah Tuhannya dengan akal yang juga murni. Tidak dengan buta hati dan lemah akal, sebagaimana yang tergambar pada kaum Nabi Ibrahim as.

Wallahu A’lam.


Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA)

Serial Keteladanan Ibrahim: Menghamba Dengan Akal (I)


Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui(QS. Al An’aam, 6:83)

Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam.. siapa tak kenal sosok satu ini, sosok bergelar Abul Anbiyaa’, ayahnya para Nabi. Yang lewat jalur darahnya, lahir para nabi dan rasul perwakilan Tuhan yang membawa risalah ketauhidan dan keesaan Allah swt. Yang lewat jalur jejak kakinya pula, Allah swt gariskan tiap jengkal bekas tanah yang dijejakinya menjadi lintasan jalur yang juga dilewati para keturunannya. Ia juga yang membangun ulang bangunan paling tua di atas muka bumi Ka’bah, bersama anaknya Ismail as. Ia juga yang rela mengorbankan jiwa dan seluruh raganya untuk mentaati aturan main Tuhannya.

Keteladanannya tidak hanya dikenal bagi umat islam, namun juga bagi umat yahudi dan  nasrani. Karena dari dirinyalah DNA ketiga umat ini berasal, dari keturunan dan ajarannya. Maka pantaslah gelar Abul Anbiyaa’ tersebut beliau sandang, dan tidak akan ada lagi lelaki yang hidup di kemudian hari yang bisa menandingi keteladanannya. Ketundukan dan kepasrahan total untuk mejalankan perintah Tuhan ditambah rasionalitas akal yang murni menjadi sumber keteledanannya, diabadikan dalam Al Quran dalam bentuk kisah-kisah.

Mari kita tengok, satu potongan kisah yang jika kita maknai dengan seksama akan kita dapati satu pelajaran berharga untuk kehidupan kita, sebagai hamba Allah yang berakal. Potongan kisah tersebut Allah swt. sampaikan dalam Al Qur’an surat Asy – Syu’aara ayat 69-77:

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam”. (QS. Asy-Syu’araa, 26:69-77)

Dalam potongan kisah percakapan antara Nabiyullah Ibrahim as. dengan kaumnya ini, Allah swt. mengabadikan bagaimana cara Nabi Ibrahim berdakwah di tengah-tengah kaumnya, ketika ia mengajak kaumnya untuk menyembah Allah swt. dengan menggunakan dialog sederhana namun memiliki nas yang mendalam.

Jika kita memperhatikan potongan ayat diatas, setidaknya ada dua bagian penting yang bisa kita renungi untuk jadi bahan pelajaran berharga, pertama; bagian dimana Nabi Ibrahim as. bertanya dengan kritis tentang hakikat berhala yang kaumnya sembah dan jawaban kaumnya. Kedua; bagian dimana Ia meruntuhkan argumentasi kaumnya dengan jawaban yang sangat cerdas.

Untuk bagian pertama; yakni dari ayat 69-71 Allah swt menunjukan kelugasan Nabi Ibrahim as ketika bertanya kepada kaumnya, "Apakah yang kamu sembah?”. Ia bertanya kepada kaumnya tentang bentuk sesembahan mereka tentu bukan karena ia tidak melihatnya. Ia melihat bentuk sesembahan mereka, dan tahu apa itu, yaitu patung dan berhala. Ia bertanya kepada kaumnya tentang bentuk sesembahan mereka karena ingin membangun percakapannya dengan argumentasi yang lengkap. Ia tidak ingin langsung menyimpulkan hanya dari apa yang ia lihat, ia ingin benar-benar memastikan bahwa apa yang ia lihat dari perilaku kaumnya menyembah berhala adalah perilaku mereka yang didasari dengan kesadaran penuh.

Dan jawaban kaumnya pun membenarkan apa yang ia lihat, bahkan lebih dari sekedar menjawab "Kami menyembah berhala-berhala”, mereka menambahkan “dan kami senantiasa tekun menyembahnya" seakan mereka ingin menunjukkan keyakinan dan kebanggaan penuh atas kebenaran yang mereka sembah, padahal hakikatnya adalah sebaliknya. Ditambah keteguhan mereka akan menyembah berhala-berhala tersebut, orang biasa yang tidak memiliki keimanan kepada yang gaib, pasti akan percaya dan membenarkan jawaban tersebut.

Berbeda dengan reaksi berikutnya dari Nabi Ibrahim as. atas jawaban kaumnya, yang Allah swt. kisahkan di bagian  kedua; ayat 72-79, dimana ia menolak jawaban kaumnya tersebut dengan memberikan pertanyaan susulan "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?”

Ia tahu bahwa berhala ini tidaklah mampu mendengar dan menjawab doa-doa kaumnya, apalagi memberi mereka manfaat dan menghindarkan mereka dari marabahaya. Ia bertanya dengan nash seperti ini ia ingin memberi isyarat akan kedangkalan logika berfikir kaumnya, dengan menafikan kemampuan ketuhanan yang dipercaya dimiliki oleh berhala-berhala tersebut, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan utama kaumnya berupa didengarnya dan dipenuhinya doa mereka dengan diberikannya kepada mereka sebuah manfaat atau dihindarkannya mereka dari marabahaya dalam pertanyaannya ini.

Dan seharusnya, jika kaumnya menalar pertanyaan berikutnya dengan akal yang jernih dan hati yang bersih, pastilah mereka akan langsung meninggalkan berhala-berhala tersebut, dan kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa. Karena mereka tahu jawaban dari pertanyaan Ibrahim adalah tidak. Mereka tahu bahwa berhala-berhala tersebut tidak bisa mendengar dan menjawab doa mereka. Mereka tahu patung-patung itu tidak mampu memberikan manfaat apalagi madharat.

Namun, karena kesombongan dan taklid buta telah menguasai hati mereka, sehingga jawaban mereka adalah “sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Mereka berusaha melemparkannya kepada nenek moyang mereka yang sudah meninggal, padahal hakikatnya mereka memojokkan diri mereka sendiri ketika melontarkan jawaban ini. Mereka membuka celah pada diri mereka sendiri, mereka tidak tahu bahwa mereka berhadapan dengan lelaki yang memiliki akal dan hujjah paling rasional saat itu. Mereka meruntuhkan dalil menyembahnya mereka kepada berhala mereka sendiri tanpa mereka sadari.

Mereka tidak akan bisa mengelak lagi setelah jawaban ini. Ya, karena ketajaman lidah Nabi Ibrahim as. yang berikutnya kembali bertanya. "Maka apakah kamu telah memperhatikan (melihat) apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” atau dalam bahasa yang lebih sederhana, “Memangnya kalian melihat bagaimana nenek moyang kalian beribadah?”.

Dengan pertanyaan pamungkas ini, runtuhlah seluruh argumen kaum penyembah berhala ini. Mereka tidak mampu membalas balik argumen Nabi Ibrahim as. karena mereka memang tidak pernah melihat secara langsung bagaimana sebenarnya ritual peribadatan orang-orang yang hidup sebelum mereka. Mereka diam seribu bahasa dan takluk di hadapan kuatnya hujjah Nabi Ibrahim as. Selama ini mereka hanya mengandalkan keyakinanan mereka dari apa yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka tanpa pernah mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya. Mereka bukannya tidak bisa untuk mencari tahu hal tesebut, mereka hanya memang tidak berkemauan untuk mencari tahu dan merasa cukup dengan apa yang mereka yakini berasal  dari nenek moyang mereka.

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al Maidah, 5:104)

Itulah sedikit potongan dari episode perjuangan dakwah Nabiyullah Ibrahim as. kepada kaumnya. Yang menunjukkan kepada kita betapa kuatnya hujjah yang ada pada ucapan Nabi Ibrahim as. Argumentasi yang ia pakai dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran tidak melukai perasaan orang yang didakwahi (Mad’uw), sebaliknya ia memilih kata dan diksi yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran.

Maka selayaknya orang-orang beriman mengambil pelajaran berharga dari kisah ini dan meneladaninya, karena jika bukan dari para nabi dan rasul kita mengambil teladan, kepada siapa lagi kita mengambilnya? Dan itulah sebaik-baik cara kita meyakini kebenaran firman Allah swt.

Wallahu A’lamu Bis Showaab.


Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI LIPIA)

Ramadhan Bulan Perjuangan


Ramadhan, satu bulan dari dua belas bulan hijriah yang kehadirannya selalu ditunggu oleh seluruh umat Islam. Kehadirannya selalu dinanti oleh umat Islam, karena keagungan, kesucian, dan kebaikan yang dibawa olehnya. Seluruh sendi kehidupan umat Islam di bulan ini menjadi berharga karena janji dari Rasulullah saw. amalan wajib berkali lipat pahalanya, amalan sunnah menjadi seperti wajib pahalanya.

Dzikrullah membumbung tinggi tiap waktu mengiringi shaum, ayat-ayat suci al Qur’an menjadi bacaan harian yang didambakan. Umat Islam berbondong-bondong mendatangi rumah Allah tiap malam untuk berdiri, ruku’, sujud, menyempurnakan salam-salam taraawih.

Begitu banyak variabel kebaikan dan rasaa’ilut tarbiyyah yang seharusnya bisa menjadikan seorang mukmin keluar dari madrasah rabbaniyyah ini sebagai mu’min haqqan, karena ia merealisasikan ibadah ramadahan sebagai momentum perubahan kepada ketakwaan yang lebih tinggi dan terpuji.
Namun dari sekian banyak pesan tarbiyah (bentuk pendidikan) yang Allah berikan untuk umat Islam, ada satu pesan tarbiyah yang Allah tekankan ada pada tiap ibadah umat dalam bulan ini. Yaitu pesan perjuangan.

Pesan agar umat islam berjuang di jalan Allah swt. bahwa sejak Allah syari’atkan puasa untuk umat ini di tahun kedua hijriah, Allah swt. takdirkan umat islam untuk terus melakukan perjuangan. Perjuangan dalam banyak artian, diantanya perjuangan dalam artian menaklukkan apa yang lebih besar dari diri sendiri, pesan ini nampak dalam pesan shaum, dimana seorang mukmin ketika berpuasa hakikatnya ia sedang berjuang menaklukkan hawa nafsu yang mengajaknya pada maksiat dan kufur nikmat.

Juga perjuangan dalam artian, menaklukkan musuh Allah dalam peperangan dan membebaskan kaum muslimin dari cengkeraman mereka. Ya, sejarah mencatat bahwa peperangan terbesar pertama milik umat islam terjadi pada bulan Ramadhan.

Perang Badar Al Kubro yang terjadi pada tahun 2 Hijriah menjadi bukti nyata perjuangan umat Islam menghadapi kaum musyrikin Makkah. Perjuangan yang seendainya tidak dimenangkan kaum muslimin, maka keberadaan kita sebagai seorang muslim barang kali patut dipertanyakan.

Perjuangan dalam artian berjihad membebaskan tanah umat islam dari penjajahan kaum imprealis juga pernah kita lakukan, ya kita bangsa Indonesia, yang memproklamirkan kemerdekaan negara kita pada bulan Ramadhan, hari ke sembilan tahun 1346 Hijriah. Cita-cita besar yang akhirnya terwujud setelah tumpahnya darah jutaan jiwa, bahkan sebelum bapak proklamator kita, Bung Karno lahir. Darah pasukan Pengeran Diponegoro saat Perang Jawa begejolak, darah para mujahid Perang Sabil di Aceh, darah para Sultan Islam, dan prajuritnya dari mulai Banten, Mataram, Ternate, Tidore, hingga Makassar.

Dan jikalau perjuangan memproklamasikan Indonesia di waktu tersebut tidak berhasil, maka mungkin pula keberadaan kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia saat ini patut pula dipertanyakan. Karenanya, selain bersyukur kepada Allah swt. atas limpahan rahmat-Nya menjadikan kita umat islam yang hidup di Indonesia dengan lisan, seyogyanya bagi kita juga menyusukuri nikmat tersebut dengan sepenuh jiwa raga kita.

Dengan menghidupkan kembali api perjuangan dalam dada kita, sebagaimana para pendahulu kita menyalakan api tersebut dalam dada mereka. Apalagi jika kita intropeksi diri kita lebih dalam, dan menemukan jati diri kita lebih dari sekedar seorang muslim, tapi jati diri kita sebagai seorang aktifis gerakan mahasiswa islam. Yang seharusnya lebih membuat api perjuangan itu lebih membara dan bertahan lama.

Perjuangan melawan rezim pemerintahan yang kian hari kian represif terhadap umat islam. Rezim yang semena-mena menawan kebebasan para ulama dengan meng-kriminalisasi mereka. Rezim yang seakan lupa dan diam membiarkan keadilan sosial terampas dari rakyat, dan memonopolinya untuk kepentingan asing dan aseng. Rezim yang perlahan mematikan nawacita reformasi, dengan mempertontontkan kebatilan tiap hari di hadapan rakyat. Rezim yang kini sudah bertranfrormasi menjadi tirani hukum, dengan menangkapi aktifis-aktifis islam dan membiarkan aktifis selainnya yang sama-sama berdemonstrasi menuntut didengar suaranya.

Maka kita sampaikan dengan lantang, kami tidaklah takut akan kebatilan! Karena ia akan selalu menjadi musuh kami. Dan bahwa menyatakan kalimatul haq di depan pemimpin zhalim adalah sebaik-baik jihad!. Tidak ada satupun rekayasa manusia yang mampu membuat kami mundur dari baris terdepan memperjuangkan kepentingan agama Allah ini, karena kami yakin di bulan agung ini, Allah swt. akan melipatgandakan ganjaran dari perjuangan ini lebih banyak dan lebih besar lagi.


Karena pula, perjuangan kita selalu diliputi kewaspadaan akan tidak bisanya generasi yang hidup setelah kita merasakan nikmatnya berislam dan beriman dengan leluasa. Sebagaimana para generasi badar di zaman Rasulullah saw. khawatir bahwa islam tidak dapat lagi terwariskan para generasi anak cucu mereka dengan baik. Perjuangan kita juga diliputi kecemasan akan hilangnya nurani yang berkeadilan dari bumi pertiwi ini, sebagaimana para founding fathers kita dahulu cemas anak cucu yang hidup di generasi setelah mereka kehilangan rasa keadilan bagi seluruh rakyat negeri ini.


Berjuang dan lawan tirani !




Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI LIPIA)

Muskom XVII KAMMI Lipia, Saihul Basyir Terpilih Sebagai Ketua Umum



Depok-06/05/2017 Sekolah alam Depok, Jawa Barat  menjadi saksi akan sejarah baru yang telah dicatat oleh KAMMI LIPIA. Hari yang telah direncanakan pun tiba. Tak terasa, setahun kepengurusan telah berlalu. Acara MUSKOM KAMMI LIPIA XVII pun terlaksana hari ini dengan tema “Regenerasi Kader Unggulan Sebagai Representasi Komisariat Berbasis Ulama Negarawan”.

Pagi itu sekitar pukul 03.00 WIB agenda muskom (musyawarah komisariat) KAMMI LIPIA resmi dibuka dan digelar. Pembukaan muskom diwaktu tahajjud ini memberikan keberkahan dan semangat para peserta serta antusias menghadiri kegiatan ini, dimana secercah pintu harapan yang mereka bawa pada raut wajahnya tidak mampu lagi untuk disembunyikan.

Acara pembukaan Muskom sukses dibuka, tidak lain atas peranan penting dari saudara Ali Mahfuzh sebagai MC. Kegiatan yang dimulai dengan pembacaan kalam ilahi oleh Nu’man Abdul Muiz adalah sebagai cerminan kita dalam mensyukuri atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan tidak ada habisnya. Kemudian acara dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne KAMMI yang dipimpin oleh sang dirijen 3 periode Ahmad Rifa’i, serta dilengkapi dengan sambutan dari ketua pelaksana, Muhammad Rizki dan sambutan dari ketua umum KAMMI LIPIA 2016/2017 Ahmad Amrin Nafis.

Selesai acara pembukaan seluruh peserta digiring untuk menyambut persidangan yang pertama yaitu sidang pleno 1 yang mencakup : Penetapan agenda musyawarah, pembahasan dan penetapan tata tertib, serta pemilihan dan penetapan presidium sidang tetap. Sidang pleno I ini sendiri dipimpin oleh presidium tahun lalu yaitu  Muhammad Umair (Presidium 1), Muhammad Amru Al Fikri (Presidium 2) dan Septi Malian Hidayat (Presidium 3).

Terdapat perbedaan argumen kala sidang menuju pada poin pemilihan presidium sidang, namun hasil musyawarah telah menetapkan Yusuf Ishlahuddin Kholid sebagai presidium 1, Ali Mahfuzh sebagai presidium 2, dan Mahatir sebagai presidium 3. Maka tidak lama sekitar 1 jam lebih sidang pleno I pun ditutup dengan diketuknya palu sidang dan bacaan hamdalah.

Pukul 09.00 acara muskom dilanjutkan kembali setelah sebelumnya beberapa acara telah dilalui. Ruangan yang cukup luas kembali menjadi lautan manusia yang terlanjur terlahir sebagai makhluk daerah. Dengan semangat yang menggelora beberapa peserta begitu antusias menanti sidang pleno II yang akan segera dimulai. Dimana tidak lain pembahasan yang dibawa pada sidang ini adalah laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan KAMMI LIPIA periode 2016/2017, pandangan umum, dan pengesahan LPJ.

Sidang pleno II sendiri dikawal langsung oleh presidium sidang 1 Yusuf Ishlahuddin, dengan gaya memimpin yang tegas dan sesekali menebarkan senyum adalah salah satu senjata terampuh baginya dalam memimpin sidang tersebut. Persidangan pun berjalan dengan kondusif dan lancar.

Sementara itu para pemimpin di setiap departemen pun telah menempati tempat duduk masing masing dan tengah menyiapkan diri untuk segera mempresentasikan laporan pertanggungjawaban, dan begitu teramat jelas jika mereka telah siap untuk dikritik pun dimintai pertanggungjawaban. Kemudian satu persatu laporan dipaparkan, tak sedikit peserta sidang melototi sembari menyiapkan pertanyaan pertanyaan atas beberapa kejanggalan yang terdapat pada laporan tersebut. Beberapa peserta kerap sekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan saat sesi tanya jawab disuguhkan.

Setelah pemaparan dan sesi tanya jawab dikira cukup mampu diselesaikan, kembali dilanjutkan dengan pengesahan LPJ. Namun kala itu waktu telah menunjukkan pukul 11. 50, maka sidang pun diskorsing selama 30 menit untuk melaksanan kewajiban solat zuhur dilanjutkan makan siang.

Usai pengesahan LPJ acara berlanjut pada sidang komisi. Komisi A membahas tentang Kerangka umum proses pemilihan ketua umum dan koordinator perempuan, sedang komisi B membahas tentang PKK (Panduan Kerja Komisariat). Sidang ini tentu untuk meneliti kembali draf rancangan sidang, baik dari segi isi maupun redaksi. Dan alhamdulillah sidang komisi telah terselesaikan dengan baik.

Setelah pengesahan draft rancangan sidang, tak terasa senja sudah menampakkan dirinya. Sidang pun diskorsing kembali untuk menunaikan solat maghrib dan makan malam. Mencharger kembali energi dan semangat yang telah hilang. Dan menyusun kembali wajah  -wajah yang sempat lesu. Agar setelahnya acara dapat berlanjut dengan lebih seksama.

Setelah menunaikan solat isya, ruangan sidang kembali dipenuhi sosok - sosok tangguh nan berwibawa, yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan dalam organisasi ini. Inilah sidang pleno ke V. Puncak dari rangkaian acara ini. Sang ketua umum KAMMI Komisariat LIPIA pun memeperkenalkan satu persatu kandidat ketua umum KAMMI LIPIA.

Pertama kali diperkenalkan adalah Muhammad Saihul basyir ka. Dept kaderisasi. Dilanjutkan oleh Fahmi Amrillah yang saat ini menjabat sebagai kadept sosmas. Lalu Nur Fajrin Aslam ka. Dept Mekominfo, Rejoyo Santoso sang direktur idete dan Syaifuddin Kepsek al Fath.                                                                              Dari akhwat yaitu saudari Iffa Abida staff mekominfo, Atika Tazkiyah BP, Zaimmatu Rosyidah staff kaderisasi, Nur Halimah staff ekonomi dan Nur Mawaddah sebagai staff KP.

Setelah memperkenalkan kandidat kandidat ketua umum dan koordinator akhwat, ketua umum KAMMI komisariat LIPIA mohon undur diri beserta para kandidat untuk musyawarah mufakat di ruangan yang berbeda.

Dengan durasi musyawarah mufakat yang cukup lama, para peserta pun berinisiatif untuk mengisi kekosongan dengan menonton film, dan video dokumenter KAMMI LIPIA. Sejenak untuk merefresh otak dan otot - otot agar rileks kembali.

Tepat pukul 23.30 musyawarah mufakat selesai. Sang ketua umum KAMMI LIPIA 2016/2017 Ahmad Amrin Nafis pun maju ke podium untuk menyampaikan hasil musyawarah mufakat yang dilaksankan kurang lebih 3 jam. Dan alhamdulillah, sosok yang telah dinantikan untuk memimpin perjuangan ini telah ditetapkan. Beliau adalah sosok muda yang cerdas, tegas dan mempunyai visi misi yang kuat untuk memajukan KAMMI komisariat LIPIA. Muhammad Saihul Basyir terpilih sebagai Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA periode 2017/2018. Dilanjut dengan pengumuman koordinator akhwat periode 2017/2018 adalah saudari Iffa Abida. Barakallah.

Ketua umum terpilih pun menyampaikan sedikit orasinya di depan para anggota KAMMI LIPIA yang hadir diruangan itu. “Pastikan keberadaan antum di KAMMI LIPIA ke depan adalah karena ingin bergerak secara berjamaah, bukan bergerak sendiri dan menghasilkan amalan fardi. Karna sebaik baik amalan ibadah adalah yang berjamaah” ujar sang ketua umum dengan semangat baru mengemban amanah baru. Barakallah wa innalillah. Semoga menjadi pemimpin yang yang amanah dan adil dalam perjalanan kedepannya. Dan kepada ketua umum juga koordinator akhwat semoga bisa mengemban amanah dengan bahagia, ikhlas dan ketjeh selalu, dan semoga setahun memimpin KAMMI LIPIA Allah balas dengan pahala dan keberkahan. Semoga Allah selalu memberkahi jalan dakwah ini. ALLAHU AKBAR !!!      

Dan acara muskom XVII KAMMI LIPIA ini pun diakhiri dengan acara penutupan, salam salaman, dan kesan pesan dari kader - kader KAMMI LIPIA. Salah satu testimoni ‘’saya merasa kekeluargaan yang begitu erat dikepengurusan tahun ini’’ ujar Saudari Idzni Fitri koordinator akhwat 2016/2017.                                                             
Untuk Indonesia, kami siap, jayakan! (jargon keren muskom XVII). KAMMI LIPIA!! SEMANGAT BARU!! ALLAHU AKBAR!!!

Rep: Afifah/ Red: NFA