Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Deretan Tokoh Ikhwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Deretan Tokoh Ihkwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Pendahuluan

Deretan nama ini merupakan sekelumit informasi yang coba penulis sajikan dengan seringkas-ringkasnya. Hal ini karena memang tujuan utamanya adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca terkait tokoh ikhwan yang memiliki andil dalam gerakan modernisasi pendidikan di Arab saudi.

Untuk sumber sendiri, penulis ambil dari beberapa situs berbahasa arab. Oleh karena itu ada sebagian yang penulis terjemehkan dari bahasa aslinya, dan ada pula yang penulis tambahi berdasarkan informasi yang penulis ketahui tentang tokoh terkait.

Berikut deretan tokoh ikhwan dalam dunia pendidikan arab saudi:

Al-Ikhwani Abdul Hamis Kasyk

Dari sentuhan dakwahnya, banyak kaum muslimin dunia yang mengecap pendidikan ala ikhwan, lebih khusus muslimin negara teluk. Pengaruhnya juga tersebar hampir disemua sektor pendidikan Arab Saudi.








Al-Ikhwani Husain kamaluddin bin Ahmad al Husaini (1913-1987)

Beliau adalah anggota biro khusus ikhwan. Sekaligus kandidat mursyid ‘am keempat al-Ikhwan al-Muslimun setelah Umar at-Tilmitsani. Namun Hamid Abu Nasr yang keluar sebagai mursyid ‘am keempat.

Husain Kamaluddin beberapa kali di penjara pada masa Raja Faruq dan Jamaludin Abdun Nasr. Pasca keluar dari penjara, beliau ke Arab Saudi dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah. Beliau terpilih sebagai anggota pada proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Kemudian dipilih menjadi pengajar sekaligus musyrif pada pusat studi ilmu falak. Beliau tetap pada posisinya hingga dua tahun menjelang wafatnya.


Al-Ikhwani Dr. Abdurrahman al-Bar

Abdurrahman al-Bar diperbantukan sebagai pembantu pengajar di kuliyah syariah dan ushuluddin pada Universitas Ibnu Su’ud cabang Abha sejak tahun 1996 sampai 2002. Beliau merupakan pembimbing beberapa tesis dan desertasi, sekaligus penguji di Universitas Ibnu Su’ud.





Al- Ikhwani Muhammad Hilal

Muhammad Hilal perna menjabat sebagai mursyid setelah wafatnya Ma’mun al-Hudhaibi hingga Muhammad Mahdi akif menjabatnya. Muhammad Hilal diajukan ke pengadilan pada tahun 1965.

Pasca keluar dari penjara pada tahun 1970, ia lantas pergi menuju Saudi dan bekerja sebagai dewan penasihat hukum di Universitas Muhammad bin Su’ud, Riyadh selama dua tahun.





 Al-Ikhwani Lasyin Abu Syanab

Lasyin Abu Syanab merupakan anggota maktab al-Irsyad Jama’atul Ikhwan. Ia dipenjara setelah tahun 1948.  Pada tahun 1960, ia menuju Kuwait dan bekerja di sana selama tiga tahun. Dari Kuwait ia kemudian menuju Su’udiyah dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud selama empat tahun.

Abu Syanab berkata, “Untuk Su’udiyah, bahwasanya kepergianku ke Kuwait, Su’udiyah, Emirat, Qatar dan Yaman merupakan tugas dari Jama’ah. Aku telah mengunjungi Kuwait sebelum ia berkembang seperti saat ini.  Mayarakatnya merupakan masyarakat yang menghormati para tamu, apalagi sesama saudara seagama. Oleh karena itu dakwah disana merupakan dakwah yang elegan, banyak diterima, sehingga banyak dari para petinggi Kuwait dan penduduknya yang bergabung dengan organisasi yang penuh berkah ini.”

Al-Ikhwani Fathi Ahmad Hasan al-Khuliy

Pada awalnya, Fathi al-Khuli merupakan pengajar pada Ma’had Mu’alimin di Riyadh. Ia kemudian bertolak ke Makkah setelah kementerian pendidikan Arab Saudi memintanya untuk mengajar pada Kuliyah Tarbiyah dan Syariah di Makkah al-Mukarramah pada tahun 1383 Hijriyah.
Ia kemudian dipilih sebagai kepala penerangan urusan keislaman di Jaddah sekaligus pengawas pada beberapa tempat tahfid Al-Qur'an di sana. Ia sekaligus direktur pertama pada Sekolah Mu’alimin Jeddah.

Setelah pensiun al-Khulli lantas mengkonsentrasikan dirinya untuk mengkontrol Madaris at-Taisir yang ia dirikan pada tahun 1988. Ia juga tercatat ebagai orang pertama yang mendirikan madrasah khusus di Jaddah setelah empat puluh tahun. Madrasah ini telah mengeluarkan ratusan alumni dari pemuda-pemuda Saudi dan Arab.

Al-Ikhwani Muhammad Muhammad ar-Râwi

Ar-Râwi merupakan putra dari saudara perempuan Muhammad Farahgli, seorang qiyadah di Jama’atul Ikhwan. ia pindah ke Saudi setelah Universitas Muhammad bin Su’ud memintanya untuk membantu pengajaran di sana. Ia mengajar di Universitas tersebut selama dua puluh lima tahun.  Beliau merupakan direktur qismu at-tafsir pada Universitas Muhammad bin Su’ud di Ryadl.


Al-Ikhwani Muhammad Mahmud as-Shawwaf (1915-1992)

As-Shawaf menetap di Makkah sejak tahun 1962 sebagai pengajar pada kuliyat Syari’ah, kemudian menjadi dewan syuro pada kementerian pendidikan Arab Saudi.









 Al-Ikhwani Abdullah Nashih ‘Ulwan

Abdullah ‘Ulwan merupakan salah satu orang penting dalam penyebaran dakwah Ikhwan di Tanah Hijaz. Ia meninggalkan Suria dan menuju Makkah setelah ujian berat yang dihadapi Jama’ah Ikwan di sana. Ia berhasil keluar dari Halb dan tinggal di Urdun beberapa bulan belum akhirnya menuju Saudi Arabiyah.

Ia berdakwah dan bergabung dalam berbagai seminar dan perkemahan pelajar. Ia juga seorang penulis produktif di berbagai majalah keislaman dan pendidikan. Ia juga aktif dalam penyiaran Al-Qur'an di Arab Saudi. Di samping itu, Abdullah Ulwan juga seorang pengajar pada Qism Dirasat Islamiyah di Universitas Abdul Aziz di Jeddah. Ia mengaram sebuah buku monumental berjudul Tarbiyatul Aulad.

Al-Ikhwani Muhammad Amin al-Misri (1914-1977)
Muhammad Amin merupakan lulusan dari kuliyah Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo. Selama menjadi mahasiswa al-Azhar, ia sangat aktif dalam menghadiri ceramah-ceramah serta muhadarah yang disampaikan oleh Hasan al-Banna.

Ia lantas menuju Saudi dan turut aktif dalam mendirikan Kuliah Pascasarjana pada kuliah Syariah di Makkah al-Mukarramah. Ia juga aktif berdakwah lewat radio dan televisi Saudi. Beliau juga salah satu pendiri pascasarjana di Universitas Malik Abdul Aziz.
Sebelum wafatnya, ia diminta untuk menjadi direktur pascasarjana Universitas Islam Madinah serta sangat berpengaruh dalam penentuan manhajnya.

Al-Ikhwani Said Hawa (1935-1989)

Said Hawa menempuh pendidikan di Ma’hadul Ilmi di Ahsa’ selama dua tahun. setelah itu ia melanjutkan studinya di Madinah an-Nabawiyah selama 3 tahun. Ia merupakan kepanjangan tangan Jama’atul ikhwan di Saudi untuk memperluas dakwah Ikhwan di sana.

Ia merupakan tokoh ikhwan yang ahli dalam tasawuf. Mengarang beberapa kitab. Ia juga perna dipenjara selama lima tahun di Suriah.





Al-Ikhwani Abdullah Azzam

Abdullah Azzam adalah tokoh sentral Jihad Afghan. Selama menjadi mahasiswa di Al-Azhar, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca kitab-kitab dakwah terkhusus buku-buku Hasan al-Banna, Abdul Qadir Audah, Sayid Qutb dan Muhammad Qutb.

Ia berangkat ke Saudi pada tahun 1981 dan menjadi pengajar di universitas Malik Abdul Aziz di Jaddah. Ia Syahid di Afganistan setelah mobil yang dikendarainya usai shalat subuh dibom oleh Soviet.




Al-Ikhwani Muhammad Abdul Hamid Ahmad (1911-1992)

Ia dipenjara pada tahun 1960-1965 oleh rezim Mesir saat itu. Setelah lima tahun mendekam di penjara, ia kemudian berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah ibadah haji, Abdul Hamid tidak lantas kembali ke Mesir dan memilih untuk tinggal di Saudi dan bekerja sebagai muwajih pada ta’lim lil banat di Makkah al-Mukarramah.

Setelah dua tahun, ia dipindah tugaskan ke kementerian pendidikan ditunjuk sebagai direktur pada madaris manarat di Jeddah sekaligus sebagai pengajar di sana selama dua tahun. setelah itu ia dipindah tugaskan ke kementerian urusan haji. Di sini ia juga mendapat tugas untuk mengurusi majalah Islam yang diterbitkan oleh kementerian urusan haji Arab Saudi.

Kemudian ia bekerja sebagai pengajar di Universitas Malik Abdul Aziz pada qism dakwah yang dipimpin oleh As-Syeikh Muhammad al-Ghozali pada kuliyat Syariah. Setelah itu ia menjadi pengajar di Universitas Ummul Qura’, Makkah al-Mukarramah hingga penghujung 1985.
Abdul Aqil berkata tentangnya: “Sungguh telah terbina dari sentuhan tangannya generasi muda di Iraq, Mesir, Urdun, dan Saudi Arabiyah. Generasi tersebut merupakan kilatan cahaya kebangkitan Islam yang penuh berkah di kawasan tersebut.”

Muhammad Abdul Hamid berkata tentang dirinya sendiri: “ Memoarku bersama Asy-Syahid al-Imam Hasan al-Banna –semoga Allah merahmatinya- sungguh semerbak. Beliau merupkan tanda dari tanda-tanda Allah.... aku telah membaiatnya agar aku berkerja hanya untuk Islam, sebagai da’i kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitabillah dan sunnah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di Mesir, Iraq, Urdun, dan Su’udiyah...”

Al-Ikhwani Muhammad al-Ghozali as-Saqa

Ia merupakan intelektual Mesir yang monumental. Keluar masuk penjara tiga kali pada tahun 1369, 1385, dan 1391 Hijriyah.

Al-Ghozali diminta oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menjadi penajar di Universitas Ummul Qura, Makkah. Dari sentuhan lembutnya, keluar benih-benih aktivis Ikhwan dengan jumlah yang sangat besar di Tanah Hijaz dan sekitarnya.Ia sangat produktif dalam menulis dan telah mengaram banyak karya.




Al-Ikhwani Abdul Fatah Abu Godah (1917-1997)

Abdul Fatah menempuh pendidikan di Kuliyatul Syariah pada Universitas Muhammad bin Saud, ia lantas melanjutkan pendidikannya di Universitas Malik Su’ud, Arab Saudi.

Ia merupakan peletak metode pembelajaran pada sekolah tinggi kehakiman di Riyad, Universitas Muhammad bin Su’ud, dan juga pada program pascasarjana Universitas Malik Su’ud.

Beliau merupakan orang yang disejajarkan dengan Asy-Syeikh Manna’ al-Qathan sebagai pembesar dakwah sekaligus intelektual pergerakan dan keilmuaan di Riyad, Arab Saudi.

Al-Ikhwani Sayid Sabiq

Sayid Sabiq selain sebagai ulama, merupakan mujahid dalam barisan Ikhwan melawan penjajah dan Isreal. Sama seperti ulama Ikhwan lainnya, ia pun perna mendekam dalam penjara. Meski demikian, semangatnya yang tinggi dalam menyeberkan Islam tidak surut.

Di penjara ia membuka kajian Fikih Sunnah, kitab yang ia karang, dari mulai awal bab sampai akhir tanpa melihat kitab tersebut kerena memang beliau sedang dalam penjarah.

Pada akhir hidupnya, beliau pindah ke Makkah dan mengajar di Universitas Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah.


 Al-Ikhwani Manna’ Al-Qathan

Manna’ bin Khalil al-Qathan meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1953. Ia bertolak menuju Kerajaan Arab Saudi. Tujuannya kesana adalah untuk mengajar di beberapa sekolah tinggi sampai tahun 1908.

Ia dikontrak sebagai pengajar di fakultas Syariah di Riyadl, kemudian pada fakultas Bahasa Arab. Ia ditunjuk sebagai direktur sekolah tinggi kehakiman, kemudian direktur pascasarjana di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah.

Beliau juga bertindak sebagai pengawas pada dewan penguji thesis dan dan disertasi di beberapa universitas semisal universitas Muhammad bin Su’ud, Universitas Ummul Qura, dan juga pada Universitas Islam Madinah.

Kemampuannya tersebut, membuatnya menjadi salah satu intelektual terbesar yang dimiliki oleh Jama’atul Ikhwan di Arab Saudi.


Al-Ikhwani Muhammad Qutb

Muhammad Qutb merupakan adik kandung dari Sayid Qutb, pengarang Tafsir dengan genre yang belum ada sebelumnya; tafsir pergerakan.

Ia bekerja di Universitas Ummul Qura’ dan telah membimbing banyak tesis dan disertasi. Beberapa tesis dan disertasi yang perna dibimbingnya antara lain; Sekulerisme; pertumbuhan, perkembangan, serta dampaknya pada kehidupan islami kontempore. Tesis yang ditulis oleh Abdurrahman al-Khuwali;  Dhohiratul irjâ; fi al-fikr al-islamy juga ditulis oleh Abdurraman al-Khuwali sebagai disertasi; al-Wala’ wa al-bara’ fil al-Islam yang ditulis oleh Muhammad Sa’id al-Qahtanil; ahammiyatu al-jihad fi nasyri ad-da’wah al-islamiyah wa ar-raddu ‘ala ath-thowa’ifi ad-dhallah fihi adalah sebuah disertasi oleh Ali bin Nafik al-‘Ulyani; al-Inkhirafaat al-‘aqdiya wa al-ilmiyah fi al-qarnaini ast-tsalis asyar wa ar-rabi’ asyar al-hijriyaini wa atsaruha fi hayati al-ummat oleh Ali bin Bukhait bin Abdullah az-Zahrani sebagai thesis S2-nya.

Penutup

Di samping deretan nama tersebut, masih banyak sekali nama-nama yang belum penulis sebutkan karena banyak hal. Di antaranya adalah keterbatasan sumber dan kurangnya referensi. Oleh karena itu, penulis menunggu saran dari para pembaca untuk melengkapi informasi ini ataupun untuk membetulkan jikalau ada keselahan penyampaian.



Oleh: Hilal Ardiansyah Putra 

Muskom XVII KAMMI Lipia, Saihul Basyir Terpilih Sebagai Ketua Umum



Depok-06/05/2017 Sekolah alam Depok, Jawa Barat  menjadi saksi akan sejarah baru yang telah dicatat oleh KAMMI LIPIA. Hari yang telah direncanakan pun tiba. Tak terasa, setahun kepengurusan telah berlalu. Acara MUSKOM KAMMI LIPIA XVII pun terlaksana hari ini dengan tema “Regenerasi Kader Unggulan Sebagai Representasi Komisariat Berbasis Ulama Negarawan”.

Pagi itu sekitar pukul 03.00 WIB agenda muskom (musyawarah komisariat) KAMMI LIPIA resmi dibuka dan digelar. Pembukaan muskom diwaktu tahajjud ini memberikan keberkahan dan semangat para peserta serta antusias menghadiri kegiatan ini, dimana secercah pintu harapan yang mereka bawa pada raut wajahnya tidak mampu lagi untuk disembunyikan.

Acara pembukaan Muskom sukses dibuka, tidak lain atas peranan penting dari saudara Ali Mahfuzh sebagai MC. Kegiatan yang dimulai dengan pembacaan kalam ilahi oleh Nu’man Abdul Muiz adalah sebagai cerminan kita dalam mensyukuri atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan tidak ada habisnya. Kemudian acara dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne KAMMI yang dipimpin oleh sang dirijen 3 periode Ahmad Rifa’i, serta dilengkapi dengan sambutan dari ketua pelaksana, Muhammad Rizki dan sambutan dari ketua umum KAMMI LIPIA 2016/2017 Ahmad Amrin Nafis.

Selesai acara pembukaan seluruh peserta digiring untuk menyambut persidangan yang pertama yaitu sidang pleno 1 yang mencakup : Penetapan agenda musyawarah, pembahasan dan penetapan tata tertib, serta pemilihan dan penetapan presidium sidang tetap. Sidang pleno I ini sendiri dipimpin oleh presidium tahun lalu yaitu  Muhammad Umair (Presidium 1), Muhammad Amru Al Fikri (Presidium 2) dan Septi Malian Hidayat (Presidium 3).

Terdapat perbedaan argumen kala sidang menuju pada poin pemilihan presidium sidang, namun hasil musyawarah telah menetapkan Yusuf Ishlahuddin Kholid sebagai presidium 1, Ali Mahfuzh sebagai presidium 2, dan Mahatir sebagai presidium 3. Maka tidak lama sekitar 1 jam lebih sidang pleno I pun ditutup dengan diketuknya palu sidang dan bacaan hamdalah.

Pukul 09.00 acara muskom dilanjutkan kembali setelah sebelumnya beberapa acara telah dilalui. Ruangan yang cukup luas kembali menjadi lautan manusia yang terlanjur terlahir sebagai makhluk daerah. Dengan semangat yang menggelora beberapa peserta begitu antusias menanti sidang pleno II yang akan segera dimulai. Dimana tidak lain pembahasan yang dibawa pada sidang ini adalah laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan KAMMI LIPIA periode 2016/2017, pandangan umum, dan pengesahan LPJ.

Sidang pleno II sendiri dikawal langsung oleh presidium sidang 1 Yusuf Ishlahuddin, dengan gaya memimpin yang tegas dan sesekali menebarkan senyum adalah salah satu senjata terampuh baginya dalam memimpin sidang tersebut. Persidangan pun berjalan dengan kondusif dan lancar.

Sementara itu para pemimpin di setiap departemen pun telah menempati tempat duduk masing masing dan tengah menyiapkan diri untuk segera mempresentasikan laporan pertanggungjawaban, dan begitu teramat jelas jika mereka telah siap untuk dikritik pun dimintai pertanggungjawaban. Kemudian satu persatu laporan dipaparkan, tak sedikit peserta sidang melototi sembari menyiapkan pertanyaan pertanyaan atas beberapa kejanggalan yang terdapat pada laporan tersebut. Beberapa peserta kerap sekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan saat sesi tanya jawab disuguhkan.

Setelah pemaparan dan sesi tanya jawab dikira cukup mampu diselesaikan, kembali dilanjutkan dengan pengesahan LPJ. Namun kala itu waktu telah menunjukkan pukul 11. 50, maka sidang pun diskorsing selama 30 menit untuk melaksanan kewajiban solat zuhur dilanjutkan makan siang.

Usai pengesahan LPJ acara berlanjut pada sidang komisi. Komisi A membahas tentang Kerangka umum proses pemilihan ketua umum dan koordinator perempuan, sedang komisi B membahas tentang PKK (Panduan Kerja Komisariat). Sidang ini tentu untuk meneliti kembali draf rancangan sidang, baik dari segi isi maupun redaksi. Dan alhamdulillah sidang komisi telah terselesaikan dengan baik.

Setelah pengesahan draft rancangan sidang, tak terasa senja sudah menampakkan dirinya. Sidang pun diskorsing kembali untuk menunaikan solat maghrib dan makan malam. Mencharger kembali energi dan semangat yang telah hilang. Dan menyusun kembali wajah  -wajah yang sempat lesu. Agar setelahnya acara dapat berlanjut dengan lebih seksama.

Setelah menunaikan solat isya, ruangan sidang kembali dipenuhi sosok - sosok tangguh nan berwibawa, yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan dalam organisasi ini. Inilah sidang pleno ke V. Puncak dari rangkaian acara ini. Sang ketua umum KAMMI Komisariat LIPIA pun memeperkenalkan satu persatu kandidat ketua umum KAMMI LIPIA.

Pertama kali diperkenalkan adalah Muhammad Saihul basyir ka. Dept kaderisasi. Dilanjutkan oleh Fahmi Amrillah yang saat ini menjabat sebagai kadept sosmas. Lalu Nur Fajrin Aslam ka. Dept Mekominfo, Rejoyo Santoso sang direktur idete dan Syaifuddin Kepsek al Fath.                                                                              Dari akhwat yaitu saudari Iffa Abida staff mekominfo, Atika Tazkiyah BP, Zaimmatu Rosyidah staff kaderisasi, Nur Halimah staff ekonomi dan Nur Mawaddah sebagai staff KP.

Setelah memperkenalkan kandidat kandidat ketua umum dan koordinator akhwat, ketua umum KAMMI komisariat LIPIA mohon undur diri beserta para kandidat untuk musyawarah mufakat di ruangan yang berbeda.

Dengan durasi musyawarah mufakat yang cukup lama, para peserta pun berinisiatif untuk mengisi kekosongan dengan menonton film, dan video dokumenter KAMMI LIPIA. Sejenak untuk merefresh otak dan otot - otot agar rileks kembali.

Tepat pukul 23.30 musyawarah mufakat selesai. Sang ketua umum KAMMI LIPIA 2016/2017 Ahmad Amrin Nafis pun maju ke podium untuk menyampaikan hasil musyawarah mufakat yang dilaksankan kurang lebih 3 jam. Dan alhamdulillah, sosok yang telah dinantikan untuk memimpin perjuangan ini telah ditetapkan. Beliau adalah sosok muda yang cerdas, tegas dan mempunyai visi misi yang kuat untuk memajukan KAMMI komisariat LIPIA. Muhammad Saihul Basyir terpilih sebagai Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA periode 2017/2018. Dilanjut dengan pengumuman koordinator akhwat periode 2017/2018 adalah saudari Iffa Abida. Barakallah.

Ketua umum terpilih pun menyampaikan sedikit orasinya di depan para anggota KAMMI LIPIA yang hadir diruangan itu. “Pastikan keberadaan antum di KAMMI LIPIA ke depan adalah karena ingin bergerak secara berjamaah, bukan bergerak sendiri dan menghasilkan amalan fardi. Karna sebaik baik amalan ibadah adalah yang berjamaah” ujar sang ketua umum dengan semangat baru mengemban amanah baru. Barakallah wa innalillah. Semoga menjadi pemimpin yang yang amanah dan adil dalam perjalanan kedepannya. Dan kepada ketua umum juga koordinator akhwat semoga bisa mengemban amanah dengan bahagia, ikhlas dan ketjeh selalu, dan semoga setahun memimpin KAMMI LIPIA Allah balas dengan pahala dan keberkahan. Semoga Allah selalu memberkahi jalan dakwah ini. ALLAHU AKBAR !!!      

Dan acara muskom XVII KAMMI LIPIA ini pun diakhiri dengan acara penutupan, salam salaman, dan kesan pesan dari kader - kader KAMMI LIPIA. Salah satu testimoni ‘’saya merasa kekeluargaan yang begitu erat dikepengurusan tahun ini’’ ujar Saudari Idzni Fitri koordinator akhwat 2016/2017.                                                             
Untuk Indonesia, kami siap, jayakan! (jargon keren muskom XVII). KAMMI LIPIA!! SEMANGAT BARU!! ALLAHU AKBAR!!!

Rep: Afifah/ Red: NFA

Debat Kandidat Caketum KAMMI LIPIA 2017-2018



Jakarta – 4 dari 5 calon ketua umum KAMMI LIPIA melakukan debat, Sabtu ( 29 / 04 / 2017), jelang acara musyawarah komisariat (MUSKOM) luar biasa pada 5-7 Mei mendatang. Keempat caketum itu juga memaparkan visi dan misi mereka.

Keempat calon ketua umum itu adalah Muhammad Saihul Basyir, Muhammad Fahmi Amrillah, Rejoyo Santoso, dan Syaifuddin. Satu kandidat yang absen adalah Nur Fajrin Aslam. Ia tidak bisa hadir di acara debat kandidat caketum ini dikarenakan sakit.

Acara debat di pandu oleh Ahmad Saefuddin (Sekum Komsat). Panitia juga mendatangkan 3 panelis, Ust. Rifqi Firmansyah (Kaderisasi PD Jaksel dan Ketum KAMMI LIPIA 2014/2015), Ust. Arif (Ka. Dept Pekom PD Jaksel dan Ketum KAMMI LIPIA 2015/2016), dan Ust. Abdullah Masud AlAkhyari ( Ketum PD Jaksel). Dalam acara itu, hadir juga dalam kegiatan ini Ketua Umum PW Jakarta Ust Najmu Fuadi dan Ka. Dept Humas PD Jaksel Ust Imam Rama Hermawan. 

Dalam acara yang di selenggarakan oleh KAMMI LIPIA itu, setiap kandidat diminta untuk menjabarkan visi dan misi nya selama lima menit. Kemudian setiap panelis memberikan satu pertanyaan kepada kandidat.

Muhammad Saihul Basyir menjadi caketum pertama yang memaparkan visi dan misinya. Basyir mengaku ingin mewujudkan KAMMI LIPIA yang berkarakter, humanis, dan solutif.

Selain itu Basyir mengatakan, ingin memperluas dan menguatkan hubungan lintas gerakan, meng-konkritkan karya dari dan untuk kader, umat dan masyarakat serta menjadi problem solver sebagaimana mestinya dengan artian kader yang berkapasitas ‘ilm syar’i.

Sementar itu, Muhammad Fahmi Amrillah justru menitikberatkan agar KAMMI LIPIA bisa menjadi komisariat terideal. Dan menariknya, Fahmi juga ingin menri’ayahkan kader KAMMI LIPIA menjadi kader militan, mencerdaskan kader melalui kajian kajian ber inovatif dan profetik serta mengoptimalisasi media dalam memperkenalkan KAMMI LIPIA kepada masyarakat.

Caketum lain, Rejoyo Santoso mengusung program yang cukup menarik, yaitu ingin menjadikan KAMMI komisariat LIPIA sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia yang melahirkan pemimpin berkafaah syariah, intelek dan profesional. Visi yang dimaksud adalah ingin meningkatkan tata kelola organisasi administratif, mandiri dan profesional dan juga mengimplementasikan manhaj pengkaderan KAMMI serta menjadi pioneer dalam membangun jaringan organisasi dan gerakan.

Sementara itu, Syaifuddin menegaskan dirinya ingin membangun karakter pada kader kader KAMMI dan ingin menjadikan KAMMI LIPIA yang bermanfaat. 
"Saya ingin menjadikan kader KAMMI itu memiliki karakter gabungan antara Sayyid Quthb dan Ibnu Taimiyyah” ujarnya.
(rep : Afifah Nabila)

Alatas : Ada Saatnya Suatu Peradaban Tergantikan


Kajian dua bulanan kebijakan publik (KP) kembali digelar (21/4). Kajian yang bertempat di Masjid As-salam Jl. Damarsari, Jatipadang, Jakarta Selatan, mendapat respon yang bagus dari khalayak umum terutama dari kalangan mahasiswa, terlihat dengan banyaknya peserta yang di dominasi oleh kalangan mahasiswa dari berbagai almamater.

Kajian yang diselenggarakan salah satu departemen Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat LIPIA itu, mengangkat judul yang bertemakan sejarah yaitu, Sejarah untuk Masa depan, Problematika Ummat dalam Tinjauan. 

"Judul ini di ambil berdasarkan tesis Francis Fukuyama yang mengatakan bahwasanya peradaban itu telah berhenti dibawah peradaban barat, dan tidak ada lagi peradaban setelah peradaban barat", ungkap Lian kepala divisi Kebijakan Publik. 

Berbeda dengan pernyataan Fukuyama, kandidat doctor sejarah Alwi Alatas mengatakan bahwa suatu peradaban akan tergantikan dengan peradaban lainnya.

"Suatu peradaban tidak akan selamanya mengalami kejayaan pasti akan ada pada saatnya peradaban tersebut mengalami masa dekadensi dan pada akhirnya tergantikan oleh peradaban baru", ujarnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa penyebab kemunduran peradaban umat islam saat ini dikarenakan kurangnya perbaikan dalam tubuh umat islam sendiri.

"Kemunduran yang terjadi saat ini di tubuh ummat islam dikarenakan, kurangnya perbaikan dalam diri ummat islam sendiri, karena kekuatan itu muncul jika ada perbaikan dalam diri tersebut", ungkapnya.

Kemudian Alatas memberi motivasi para peserta dengan mengutip perkataan Bennabi, "Ubahlah dirimu pasti engkau bisa mengubah sejarah."
(rep : septi/ red : iffa)


Aksi TPPJ KAMMI :Tolak Poilitik Uang





Sejumlah mahasiswi yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar aksi aksi wujudkan pilkada damai di lokasi pelaksanaan hari bebas kendaraaan bermotor (HBKB) di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/4). Aksi yang digelar oleh Tim Pengawal Pilkada Jakarta (TPPJ) KAMMI itu menyuarakan supaya Pilkada DKI Jakarta terbebas dari praktik money politik yang dapat menghancurkan demokrasi bangsa. 

Ketua Pengurus Wilayah KAMMI Jakarta, Najmu Fuadi, mengatakan setidaknya ada tiga bentuk kecurangan yang patut diwaspadai.

"Pertama kecurangan money politik atau serangan fajar. Kedua adanya pemilih siluman. Dan ketiga, kecurangan dalam perhitungan dan rekapitulasi suara," katanya di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Selain itu, pihaknya dari Tim Pengawal Pilkada Jakarta (TPPJ KAMMI) juga mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya mahasiswa untuk terlibat langsung dalam mengawal suksesnya Pilkada Jakarta agar terhindar dari praktek-praktek kecurangan: seperti money politic, manipulasi Suara, dan pemilih gelap.

"TPPJ mengundang seluruh mahasiswa dan pemuda yang peduli tegaknya kedaulatan rakyat dalam Pilgub DKI," katanya.

Najmu berharap agar gelaran Pilgub DKI putaran kedua yang akan datang bisa berjalan dengan lancar, tertib, damai, dan tanpa kecurangan. Sehingga, produk kepemimpinan yang dihasilkan benar-benar berasal dari suara rakyat, bukan hasil dari kecurangan.