Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

INDONESIA MERDEKA TANPA ISLAM!?




Cukup panjang perjalanan keberadaan manusia atau kehidupan di Tanah Air ini.  Begitu pula aneka balada rasa yang tercipta dan dicicipi disini. Ketentraman, kebersamaan, penjajahan bahkan penindasan, semua ada disini.
Keberlimpahan alam menjadi magnet terkuat bagi para kolonial-kolonial yang tidak berprimanusiaan itu. Dataran luas yang terbentang bebas membuat lalu lalang para gujarat dari belahan negara lain kian bertambah. Dari yang berniaga semata ataupun membawa misi penyebaran ajaran agama. Hingga tumbuhlah kemajemukan suku, bahasa dan agama. Namun ada yang tidak beres disini.
Pendidikan. Tidak semua mendapatkan kesempatan itu karena ras dan pangkat. Begitu kental kesenjangan vertikal disini. Tapi yang dibawah pun nerimo, bahasa jawanya. Maka ketika ditindas, sangat sedikit yang bisa melawan.
Sungguh memilukan bukan? Dimana masa yang memiliki yang ditindas. Diperbudak dirumah sendiri. Rumah yang jauh dari filosofi rumah sesungguhnya. Dimana rumah semestinya memberi ketenangan, keamanan dan ketentraman. Sebuah yang dikatakan rumah, berarti didalamnya terdapat kepedulian atau saling menyemangati dalam kepedulian.
Segala puji bagi Rabb semesta alam, Allah SWT yang telah membimbing hambanya melalui risalah Nabi Muhammad yang di sampaikan langsung oleh malaikat agung Jibril, untuk mewujudkan kehidupan yang diliputi kedamaian, cinta kasih dan terang menuju jalan kebaikan. Dan inilah yang diterima dan direfleksikan oleh pejuang-pejuang muslim tanah air. Dengan kegagahan, keyakinan, dan kemurnian tauhid dan tersyi'arkan dengan akulturasi seni budaya, maka tersebarlah benih-benih kepedulian pada jiwa-jiwa patriot anak bangsa ini.
Sebagaimana makna Islam yang berarti keselamatan, kedamaian. Maka Islam membentuk karakter yang patuh, taat dan berserah diri kepada Allah dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan hadirlah figur-figur ulama pejuang dan pengubah sejarah dengan jiwa kesatrianya, mereka menghimpun kesatuan masyarakat demi bangkit dan menumbuhkan semangat kepedulian dalam rumah ini.
Pada tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah. Disusul pada tahun 1926 KH. Hasyim Asyari mendirikan Organisasi Nahdhatul Ulama, dimana beliau merupakan rujukan Bung Karno dalam revolusi jihadnya di Surabaya. Setelah fatwa jihad diberikan olehnya, barulah Bung Karno bersama pasukan lainnya berbegas.
Bahkan jauh dari hari kemerdekaan Indonesia 1945. Pejuang-pejuang muslim yang berkedudukan di Kerajaannya telah turut memberikan kontribusi akbar yang tak akan terlupakan sejarah.
Pada tahun 1825-1830,  adalah Raden Mas Antawirya yang lebih dikenal Pangeran Diponegoro yang menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir (Belanda) yang terus menindas, memecah belah dan mengeksploitasi sumber daya alam di negri ini.
Pada tahun 1803-1838 Kesatria Muhammad Shahab yang lahir di Bonjol. Dan diberi julukan Tuanku Imam Bonjol, seseorang yang tidak pernah sudi untuk menyerah kepada Belanda meski harus bertahan selama 13 tahun terus dalam kepungan Belanda. Hingga  beliau wafat  dalam jeruji pengasingan taktik busuk Belanda. beliau wafat karena menjaga harga diri Tanah Air.  
Ulama-ulama kesatria sudah memulai peran agung nya, dengan mempertahankan harga diri Tanah Air. Hingga mampu mengkader generasi-generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan dan mampu mewujudkan Kemerdekaan Indoneisa. Indonesia Merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
“Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid, sepintar-pintar siasat"  salah satu trilogi HOS Tjokroaminoto yang menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Lalu akankah kau masih bertanya, apakah Indonesia merdeka tanpa Islam?

Penulis: Atiqoh Mahdiah (Staff Depertemen Ekonomi)

Hari ini, Ribuan mahasiswa di 50 Kota Unjuk Rasa Tuntut Copot Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya


Jakarta – Hari ini (26/5) Ribuan mahasiswa dari 50 kota di seluruh Indonesia menggelar unjuk rasa menuntut pencopotan Kapolres Jakarta Pusat. Unjuk Rasa ini adalah buntut dari represifitas aparat saat membubarkan Aksi KAMMI di Depan Istana Merdeka Rabu (23/5) kemarin. Dalam siaran persnya, Ketua Umum PP KAMMI Kartika Nur Rakhman menyatakan bahwa unjuk rasa yang digelar di 50 kota adalah bentuk solidaritas mahasiswa atas Represifitas, kekerasan, dan penganiayaan yang dilakukan Aparat Kepolisian terhadap Aksi Unjuk Rasa KAMMI pada rabu (24/5) lalu.

Nur Rakhman menambahkan, Kepolisian harus menghentikan standar ganda dalam menghadapi aspirasi masyarakat. Mahasiswa dan masyarakat sudah sangat resah dengan standar ganda ýang sudah tidak bisa ditolerir lagi. “Reformasi di tubuh Kepolisian nampaknya telah gagal. Kepolisian kini menjelma menjadi Tirani baru dalam penegakan hukum Indonesia. KAMMI dan  mahasiswa Indonesia akan melawan tirani hukum yang dilakukan oleh aparat negara, baik eksekutif maupun yudikatif”, ujar nur rakhman.

Nur Rakhman melanjutkan, Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla harus serius membenahi etika dan kinerja Kepolisian Republik Indonesia. Dimulai dari memberikan Sanksi tegas yakni pencopotan Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya sebagai bentuk sanksi dan pelajaran agar tak ada lagi represifitas aparat dalam mengawal Demonstrasi Mahasiswa. “Bila Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya tidak segera dicopot, maka akan menjadi pembenaran bahwa Presiden Jokowi membenarkan dan terlibat dalam tindakan represif dan kekerasan aparat kepolisian”, tandas Riko.

Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI Riko Tanjung mengatakan bahwa kejadian seperti ini tidak perlu terjadi bila aparat kepolisian tidak diskriminatif dan represif dalam mengawal aksi demonstrasi mahasiswa. “Mahasiswa adalah penjaga stabilitas kondisi kebangsaan dan pengawal demokrasi. Ini adalah tugas sejarah yang akan dijalankan mahasiswa. Represifitas aparat kepolisian kepada mahasiswa adalah tindakan
anti demokrasi dan mengancam stabilitas kondisi kebangsaan. Ini harus dihentikan”, ujar Nur Rakhman.


“Bila ada aspirasi dan demonstrasi massif dari mahasiswa, ini menunjukkan ada yang salah dalam Negeri ini. KAMMI lahir dari keprihatinan bangsa atas krisis 1998. Tugas sejarah KAMMI adalah merawat dan menjaga Indonesia agar tidak ada lagi krisis serupa 1998 yang menyengsarakan rakyat, merusak tatanan demokrasi dan meruntuhkan keutuhan persatuan Indonesia. Ini semua dilakukan agar Cita-cita Kemerdekaan yang dirumuskan pendiri bangsa bisa diwujudkan tanpa ada yang mendestruksi’’, pungkas Riko.

Masjid Istiqlal (1961)

Gambir, Jakarta Pusat



Taman Wilhelmina di depan Lapangan Banteng, tahun 1950. Sepi, gelap, kotor dan tak terurus. Tembok-tembok bekas bangunan benteng di taman itu penuh dengan lumut dan tanaman perdu, dengan ilalang tinggi dimana-mana. Tahun 1960, di tempat yang sama, sekitar 50.000 orang, dari masyarakat biasa, pegawai negeri, alim ulama, sampai ABRI bekerja bakti membersihkan taman tak terurus di bekas benteng penjajah itu.

Setahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1961, seolah menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi kaum muslimin di Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk pertama kalinya, di bekas taman itu, kota Jakarta memiliki sebuah masjid besar. Sebuah masjid yang dimaksudkan menjadi simbol kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Yang kemudian sengaja dicari padanan katanya dalam bahasa Arab, dan disepakati diberi nama Istiqlal. Jadilah, Masjid Istiqlal namanya.

Tanggal yang bertepatan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW itu, dipilih sebagai momen pemancangan tiang pertama oleh Presiden I RI, Ir. Soekarno yang ketika itu langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik. Dan sejak itu, dengan beberapa kali pergantian kepanitiaan, terhitung hingga hampir 10 tahun lamanya Masjid Istiqlal baru rampung pembangunannya.

Adalah KH. Wahid Hasyim-Menteri Agama RI pertama sekaligus ayahanda Presiden Abdurrahman Wahid, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu. Tahun 1950 bersama-sama dengan H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqorrahman ide itu kemudian dilembagakan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Moseum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal yang dikukuhkan oleh notaris Elisa Pondang, 7 Desember 1954. Setahun sebelumnya, Ir. Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid. Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof.Ir. Rooseno, Ir.H. Djuanda, Prof.Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh dan Oemar Husein Amin akhirnya pada 5 Juli 1955 memutuskan desain atas nama Silaban dinyatakan sebagai model dari Masjid Istiqlal. 

Terbawa iklim politik dalam negeri yang cukup memanas, proyek ambisius itu (karena berbarengan dengan pembangunan monumen lain seperti Gelora Senayan, Monas,dsb) tersendat-sendat pembangunannya. Hingga pertengahan tahun '60-an proyek Masjid Istiqlal terganggu penyelesaiannya. Puncaknya ketika meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun '65 - '66, pembangunan Masjid Istiqlal bahkan terhenti sama sekali. 

Barulah ketika Himpunan Seniman Budayawan Islam memperingat miladnya yang ke-20, sejumlah tokoh, ulama dan pejabat negara tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal. Dipelopori oleh Menteri Agama KH. M. Dahlan upaya penggalangan dana mewujudkan fisik masjid digencarkan kembali. Presiden Soekarno, yang pamornya di mata masyarakat mulai luntur, kedudukannya dalam kepengurusan diganti oleh KH. Idham Chalied yang bertindak sebagai koordinator panitia nasional Masjid Istiqlal yang baru. 

Lewat kepengurusan yang baru, masjid dengan arsitektur bergaya modern itu selesai juga pembangunannya. Dilihat dari arsitekturnya, karena dimaksudkan sebagai masjid besar yang berdaya tampung banyak, Masjid Istiqlal menerapkan prinsip minimalis. Ruang-ruang terbuka/plaza di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang lebar diantaranya, mungkin dimaksudkan oleh perancangnya untuk memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami. 

Sekarang, masjid seluas 4 hektare ini semarak dengan aktivitas dan organisasi ke-Islaman di dalamnya; ada Dewan Masjid Asia dan Lautan Teduh, MUI, Dewan Masjid Indonesia, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia, LPTQ dan BP 4 Pusat. Bahkan diatas lahan seluas 9,5 hektare disekelilingnya, sebagian dipergunakan untuk kegiatan ekonomi-warung makan, souvenir, dsb. 

Untuk mencapai ke lokasi masjid berdaya tampung 100.000 orang ini cukup banyak alternatif transportasi yang bisa dipakai. Di sebelah utara masjid berjarak 500 meter, ada stasiun KA Jabotabek Juanda. Sedikit ke timur-sekitar 1 kilometer, pusat perbelanjaan Pasar Baru. Atau bisa juga turun di Gambir yang terletak di selatan masjid.

Oleh : Muhammad Irsyad

Sejarah Sebagai Alat Ideologisasi


Minimnya minat baca terhadap buku-buku sejarah dan kecilnya keingin tahuan masyarakat indonesia terhadap sejarahnya sendiri serta anggapan bahwa pengetahuan sejarah hanyalah apa-apa yang dipelajari dibangku sekolah saja, membuat masyarakat indonesia buta akan sejarah indonesia, bagaimana indonesia terbentuk, bagaimana indonesia tumbuh menjadi negara yang besar serta minimnya pengetahuan terhadap tokoh-tokoh yang memang benar-benar berjuang demi kemajuan indonesia dan kemakmuran rakyat indonesia.

Dengan minimnya kesadaran dari masyarakat indonesia akan betapa pentingnya pengetahun tentang sejarah membuat mereka begitu mudah dicekoki ataupun dirubah ideologi mereka tanpa mereka sadari melalui pelajaran-pelajaran sejarah yang dianggap hanya ada di bangku sekolah saja. Melalui sejarah yang terdapat pada pelajaran-pelajaran di:sekolah, para orientalis dan pihak-pihak yang memusuhi islam mampu mengubah ideologi para pemuda-pemuda islam yang nantinya akan menyambung estapet perjuangan dakwah para pendahulu-pendahulu mereka.

Sejarah merupakan alat ideologisasi yang sangat halus dalam memasukkan doktrin ideologi terhadap orang lain. Maka dari itu perlu sekiranya kita mengetahui ataupun memberi perhatian lebih dalam hal sejarah. Karena penyesatan- penyesatan ideologi salah satu cara yang dipakai oleh musuh-musuh islam dalam tujuan mereka untuk menghancurkan islam. Islam dalam kaitannya dengan sejarah agama ataupun budaya yang terdapat sebelum Indonesia menjadi negara kesatuan sering kali dibenturkan dengan agama ataupun budaya-budaya sebelum islam ada di nusantara ini. Dengan memunculkan suatu cara pandang yang melihat indonesia yang tidak ada kaitannya dengan unsur asing seperti islam, mereka hendak mengembalikan indonesia kepada budaya-budaya nenek moyang masyarakat indonesia, istilah ini sering disebut dengan nativisasi.

Dengan memunculkan kembali bahwa indonesia pernah jaya sebelum datangnya islam ke indonesia, merupakan cara yang sistematis yang dipakai oleh para orientalis untuk memudarkan cahaya islam di indonesia. T.ceyler young seorang orientalis membuat pengakuan, di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanah-tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban yang ada sebelum islam. Tujuan kami bukanlah mengembalikan umat islam kepada aqidah-aqidah sebelum islam, akan tetapi cukup untuk membuat mereka terombang-ambing memilih islam atau memilih peradaban-peradaban tersebut."
Seorang pahlawan nasional, Muhamad Natsir mengatakan bahwasannya upaya mengecilkan peran islam dalam sejarah indonesia merupakan sebuah bentuk nativisasi. Sejak usia dini, anak-anak muslim indonsia sudah dicekoki sejarah bahwasannya indonesia pernah jaya di masa kerjaan majapahit dan kemudian datang kerajaan yang bercorak islam yaitu demak, yang kemudian menghancurkan kerajaan-kerajaan hindu tersebut. Jadi kedatangan islam seolah-olah digambarkan sebagai biang kehancuran dimasa kejayaan, pemecah belah nusantara dan bukan pemersatu nusantara. Dan kemudian lahirlah anggapan bahwa nasantara pernah bersatu dimasa kerajaan hindu majapahit, padahal tidak ada bukti kalau indonesia pernah bersatu dibawah majapahit.

Pengaburan sejarah tokoh-tokoh islam yang pernah berjuang demi kebebasan indonesia dari penjajahan dengan membuat sejarah palsu tentang mereka yang kemudian menonjolkan tokoh-tokoh yang berfikiran komunis dan liberal, juga merupakan salah satu bentuk nativisasi. Sebagai contoh dengan membalikkan fakta sejarah tentang perjuangan pangeran Diponegoro yang dengan semangat jihad fisabilillahnya ingin menyatukan seluruh nusantara dengan agama yang satu yaitu islam dan kemudian difitnah dengan menggambarkan sosok Diponegoro merupakan seseorang yang haus akan kekuasaan. Dan juga sebagai contoh lainnya dengan memunculkan sosok Kartini sebagai pahlawan wanita dan menenggelamkan sosok seperti Rahma El yunisiah.

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwasannya sejarah merupakan cara yang paling halus dalam penanaman doktrin-doktrin sesat jika tidak benar-benar mempelajarinya dan mencari kebenaran sejarah tersebut. Begitu juga dengan musuh-musuh islam yang tak henti-hentinya membombardir pemahaman uamat islam dari berbagai arah. Wallahu alam .

Oleh : Septi Malian Hidayat (Staff Kebijakan Publik KAMMI LIPIA)


Komunitas Alpha Sejarah




Masyarakat Indonesia saat ini, terlebih yang muslim nampaknya tengah terserang demam komunitas alpha sejarah. Apa itu komunitas alpha sejarah? Komunitas alpha sejarah adalah sebuah kelompok atau elemen masyarakat yang tidak mempunyai sejarah, itu bahasa kasarnya. Kalau bahasa halusnya berarti masyarakat yang melupakan sejarahnya atau sengaja dibuat lupa oleh pihak luar.

Presiden pertama kita, Bung Karno, perna berpesan, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah," alias jas merah. Memang benar pesan Bung Karno tersebut. Yang menjadi masalah adalah, ketika sejarah otentik sulit untuk didapatkan, apa yang harus dilakukan?

Saat ini, harus kita akui bersama bahwa sejarah Indonesia dan Melayu telah raib digondol tuyul. Bukti-bukti yang berupa prasasti hanya sedikit, itupun dari zaman Hindu Budha. Apalagi bukti artefak yang sengaja dibom oleh Belanda agar masyarakat Indoensia, khususnya muslim tidak tahu akar sejarahnya.

Coba tanyakkan pada pemuda kita, apa itu kesultanan Aceh, Samudra Pasai, Perlak, Pelembang, Banten, Demak, Pajang, Mataram, Girinata, Tidore, Gua Talo, Buton, dan kesultanan-kesultanan lain, apakah mereka tahu? Atau jangan-jangan mereka hanya tahu Majapahit, Kediri, Singosari, Mataram Kuno, Sriwijaya, dan sejenisnya? 

Manusia yang a-Histori akan gila. Terombang-ambing. Begitulah masyarakat Indonesia. Mereka sibuk caplok sana caplok sini dalam mencari pedoman hidup. Padahal, mereka telah memiliki sejarah dalam sosial, sejarah dalam politik, sejarah dalam ekomoni. Namun sekali lagi, masyarakat kita terlahir dari komunitas alpha sejarah.

Mari kita bandingkan dengan Eropa Timur. Dalam sejarah Eropa Timur, kita mengenal Emperium Ottoman. Sebuah kesultanan islam yang selama enam abad mengenggam peradaban dunia. 

Pada tahun 1942, Ottoman runtuh dan digantikan oleh sistem sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kamal, seorang Yahudi. Setelah lama berjalan, kurang lebih 80 tahunan, ternyata sistem sekuler kamalistik malah membuat Negara Turki terpuruk. Moralnya, ekonominya, politiknya, demokrasinya, semuanya terpuruk. Hingga akhirnya muncul sosok presiden yang saat ini ingin mengembalikan sejarah keemasan Turki masa lalu. 

Dan ternyata benar saja, ditangannya Turki menjadi negara terkuat peringkat 16 dunia. Luar bisa. Mengapa demikian? Karena dalam kamus orang Turki, negara mereka pernah maju dengan sistem islam, dan hancur karena sistem sekuler.

Rakyat Turki benar-benar paham sejarah mereka. dan mereka tidak bisa ditipu. Terbukti jutaan rakyatnya turun untuk membela sang Presiden yang hendak dikudeta dan dibunuh militer 15 juli yang lalu. Kalau bukan karena paham sejarah, melek sejarah, saya yakin rakyat Turki tidak akan bangun dari tidur malamnya untuk membantu sang Presiden.

Sekarang kita lihat Negara kita. Sejarah kita telah diperkosa, dilecehkan, dilenyapkan dan dibunuh. Sejarah kita telah hancur oleh Snouck. Dalam sejarah kita, hanya dikisahkan bahwa Nusantara dan Melayu ini hanya pernah berjaya ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa. Namun tidak pernah dikisahkan bahwa kesultanan Islam Nusantara jauh melebihi keberhasilan Majapahit dan Sriwijaya.

Peradaban Islam kalah itu pun gemilang. Terbukti dengan ribuan karya Ulama Nusantara yang tersimpan rapi di Perpustakaan Orxford University. Dan nahasnya yang ditinggalkan kepada kita hanya kisah-kisah klenik Walisongo tanpa bisa merasakan karya-karya tulis para Ulama kita. 

Apa maksud mereka? Mereka paham, sejarah bisa menjadi racun peradaban jika diselewengkan dan menjadi obat jika terjaga kemurniannya.

Dan orang-orang luar tersebut berhasil menjadikan sejarah kita sebagai racun untuk membunuh kita. Sekarang apakah kita berani untuk merubah racun tersebut menjadi obat ?

Oleh : Hilal AP (Kadept Kebijakan Publik KAMMI LIPIA)

Umat Islam Masih Menunggu Kemerdekaan


Umat islam di Indonesia adalah bagian terbesar dari bangsa bangsa Indonesia yang sudah menikmati kemerdekaan semenjak tahun 1945 hingga saat ini atau sekitar tujuh puluh tahun lamanya. Tujuh puluh tahun adalah usia yang sudah sangat lanjut bagi suatu bangsa. Bahkan negara Islam yang didirikan oleh Rasululah dahulu di kota Madinah, hanya membutuhkan sekitar dua dekade untuk menaklukan dua negara super power kala itu yaitu; Romawi dan Persia. Berarti sebetulnya umat islam Indonesia sudah sangat dewasa, sangat matang dan sangat tua menjadi bangsa yang merdeka di muka bumi ini. Namun apakah kemerdekaan itu benar-benar menjadi rahmat, nikmat dan ridho Allah atau sebaliknya kemerdekaan adalah jeratan berikutnya bagi umat Islam Indonesia? Kenyataannya hingga saat ini, umat islam di dunia termasuk di Indonesia, dalam keadaan terpuruk, terhina, lemah, dan tak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya.

Negara Palestina sudah empat puluh tahun lebih dijajah oleh kaum Zionis Israel. Meskipun Palestina berada di tengah-tengah negara-negara Muslim di Timur Tengah, akan tetapi sampai sekarang Palestina masih menderita, ditindas, dan dijajah oleh Israel. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tidak mampu banyak berbuat, hanya memberikan ucapan, statement, doa dan bantuan–bantuan materil ala kadarnya. Padahal yang diharapkan oleh saudara-saudara kita di Palestina adalah kemerdekaan yang sesungguhnya, merdeka dari penjajahan politik, ekonomi, ideologi, budaya, serta diakui keberadaannya di dunia internasional. Seperti yang terjadi di Palestina, terjadi pula di Mesir. Beberapa tahun lalu partai Islam menjadi pemenang Pemilu di Mesir. Partai tersebut mencita-citakan agar Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar hukum positif. Kemenangan partai Islam tersebut berbuah terpilihnya seorang Muhammad Mursi sebagai presiden. Akan ttetapi,tak berapa lama kemudian sang presiden dikudeta oleh militer yang didukung oleh sekumpulan negara yang membenci pertumbuhan dan perkembangan Islam di sana. Kudeta berdampak pada penistaan terhadap aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjadi basis pendukung partai pemenang Pemilu Mesir. Begitu pula di Yaman yang sebelumnya adalah negara Islam Sunni yang aman dan tenang, akan tetapi kemudian ketenangan itu diusik oleh Kelompok Syiah Houthi yang dibantu oleh Negara-negara Syiah seperti’ Iran. Kelompok Syiah Houthi memberontak dan melakukan kudeta terhadap presiden republik Yaman sehingga melanggengkan perseteruan antara komunitas Sunni dan Syiah. 

Berhubungan dengan aliran aqidah syiah, ketua Majelis Ulama Indonesia tahun 1983-1990 KH. Hasan Basri dalam sambutannya pada seminar nasional tentang syiah (21-9-1997 di aula Masjid Istiqlal) mengatakan “Saya berdialog dengan beliau (Bapak Ismail Shaleh, menteri kehakiman), saya katakan : Pak menteri, Ahmadiyah ini buat umat islam menjadi duri dalam daging.” dan beliau juga menyatakan “Kalau dari segi ajaran bahaya syiah melebihi ekstasi dan narkotik, sebab dia meracuni aqidah. Kalau ekstasi dan narkotik dia meracuni fisik, tetapi kalau aqidah diracuni, itu sangat berbahaya bagi manusia.” Maka dari itu Majelis Ulama Indonesia memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan bangsa Indonesia, khususnya umat islam, agar mewaspadai masuknya aliran Syiah. Saat ini beberapa tokoh Syiah sangat aktif berperan di beberapa lini kehidupan seperti; politik, ekonomi dan pendidikan. 

Masih ada lagi umat islam yang menderita yaitu bangsa Rohingnya. Rohingnya adalah suatu suku bangsa asli Myanmar. Meskipun penasehat negaranya adalah peraih nobel perdamaian, tetapi suku bangsa Rohingnya tetap tidak diakui keberadaannya. Satu lagi umat islam yang menderita yaitu di negara tetangga kita Filiphina. Mereka dipojokkan sampai ke selatan bahkan dituduh teroris, Abu Sayyaf dan lain sebagainya. Inilah sekian data dan fakta keterpurukkan umat islam di dunia internasional.

Bangsa Indonesia boleh berbangga dan bersenang hati bahwa Indonesia mayoritas muslim bahkan Indonesia adalah negara yang terbanyak penduduk muslimnya. Rakyatnya mudah naik haji sampai-sampai kuota sepuluh tahun baru bisa naik haji, jalan-jalan tol selalu ada rest area dan dimana ada rest area selalu ada masjidnya yang ketika waktu maghrib tiba jama’ah rela antri bersip-sip untuk bisa sholat berjamaah di masjid tersebut. Ibadah mahdoh seperti sholat, shoum, zakat, shodaqoh terus meningkat. Tetapi urusan ibadah ghoiru mahdoh seperti urusan politik dan ekonomi bukannya meningkat malah menurun sampai kepada titik-titik yang hampir kepada titik nadir (langka). 

Sekitar satu tahun yang lalu telah terjadi satu peristiwa yang harus diketahui dan dipahami oleh umat islam Indonesia. Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua. Tepatnya di salah satu masjid umat islam di sana. Ketika umat islam ingin melaksanakan sholat idul fitri 1436 H datanglah segerombolan massa yang dipimpin oleh satu jamaah gereja GIDI (Gereja Injili di Indonesia) menyerang dengan melempari batu dan anak panah kepada para jamaah. Bukan hanya itu tapi masjid dan toko-toko kaum muslimin yang ada di sekitar masjid pun dibakar habis. Kejadian ini terjadi di Indonesia bukan di Amerika, Eropa, Rusia ataupun di negara-negara yang anti islam, di Indonesia yang memiliki jumlah umat islam terbanyak di dunia. Lantas dimana persaudaraan umat islam yang banyak ini, ulama tidak banyak bicara, muballigh asik saja ceramah di tv, media menutup-nutupi info ini dan berusaha menggiring opini publik kepada yang mereka inginkan. Seolah negara absen dalam kejadian tersebut. 

Indonesia bukanlah Islamic State tetapi Indonesia adalah Moslem State, Moslem People karena mayoritas penduduknya adalah Muslim. Sungguh ironis ketika umat Islam dihadapkan pada kenyataan bahwa ibukota negara saat ini dipimpin oleh seorang non-Muslim. Semenjak ia menjabat telah ada dua masjid yang dibongkar, yaitu; Masjid Baitul Arif di Kampung Melayu dan satu lagi Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki yang janjinya dahulu akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak karena kedua masjid tersebut dibangun di atas tanah negara dan dengan berbagai macam alasannya namun sampai sekarang janji tersebut belum terealisasikan. Kemudian yang baru-baru ini terjadi tepatnya pada tanggal 4 Juni 2016, Gubenur yang Non-Muslim tersebut mengumpulkan sekitar 1700 kepala sekolah di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, padahal mayoritas kepala sekolah beragama islam namun mengapa harus dikumpulkan di tempat tersebut dan tidak di balai-balai pertemuan yang lain. Dalam pertemuan tersebut pak Gubernur menghimbau kepada seluruh kepala sekolah agar tidak mewajibkan siswi-siswinya untuk memakai jilbab. Dengan berbagai alasan yang ia buat-buat untuk menguatkan larangannya. Inilah sekian data dan fakta yang harus diketahui umat islam yang memiliki Gubernur yang Non-Muslim.

Setelah 71 tahun kita merdeka, umat islam di Indonesia belum menjadi subjek dan masih menjadi objek. Objek ekonomi, budaya, dan politik. Masih menjadi mainan oleh orang-orang yang berkuasa yang anti islam walaupun agama mereka islam. Umat islam Indonesia masih menjadi konsumen dan belum menjadi produsen. Di bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri umat islam ibadah, tapi orang lain yang kaya. Karena umat islam belanja di pasar untuk kebutuhan puasa dan idul fitri, tapi yang banyak menguasai toko dan ekonomi adalah mereka yang Non-Muslim. Umat islam Indonesia masih menjadi tamu di negeri sendiri dan belum menjadi tuan rumah sepenuhnya. Banyaknya pemilihan pemimpin di daerah-daerah namun umat islam belum bisa menjadi pemenang sepenuhnya. Kalimantan Barat dua periode Gubernur dan wakilnya Non-Muslim, padahal Kalimantan Barat tujuh puluh persen penduduknya beragama islam. Kalimantan Tengah Gubernur sebelumnya Non-Muslim meskipun wakilnya muslim namun secara politik Wakil Gubernur muslim dibawah Gubernur yang Non-Muslim adalah sedekah suara dari jamaah wakil gubernur untuk kemenangan Gubernur. Ia memimpin selama sepuluh tahun (2005-2015) padahal enam puluh persen penduduknya beragama islam. Begitu juga yang terjadi di Solo yang dipimpin oleh walikota yang Non-Muslim. Padahal disana terdapat gerakan-gerakan islam, laskar-laskar islam, ada pesantren-pesantren seperti Pesantren Ngruki, ada Dewan Dakwah, ada Nahdatul Ullama dan ada Muhammadiyah. Dan di depan mata kita DKI Jakarta, pintu gerbang Republik Indonesia dipimpin oleh Gubernur yang Non-Muslim.

Sebagai umat islam khususnya di Indonesia kita harus bisa menjawab mengapa keterpurukan ini bisa terjadi di negara yang mayoritas muslim. Tujuh puluh satu tahun merdeka tetapi kita belum bisa menikmati secara utuh sebagai warga negara Indonesia yang nomor satu. Tidak seperti di Malaysia yang warga melayunya menjadi warga kelas satu. Mereka dibantu dengan modal-modal untuk usaha, mudah mendapatkan pekerjaan dan posisi yang tinggi di perusahaan milik negara. Agama Islam adalah agama negara karena bangsa Melayu identik dengan islam bahkan orang melayu yang murtad dianggap bukan melayu. Bank-bank syariah dibiayai oleh negara sehingga kemajuan bank syariah jauh lebih besar daripada di Indonesia. Begitu juga dengan tetangga kita Brunei Darussalam. Negara kecil bahkan sangat kecil hanya sebagian kecil dari pulau Kalimantan. Namun di Brunei jarang sekali ditemukan adanya pengangguran dan orang miskin sehingga sebagian zakat masyarakatnya dikirimkan ke Indonesia. Pembantu rumah tangga dikirim dari Indonesia begitu juga sopir dan pekerjaan-pekerjaan rendahan lainnya sangat jarang sekali orang Brunei asli yang mengerjakannya. Guru-guru dan dosen-dosen terbaik dari Indonesia hijrah ke Brunei untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dan yang luar biasanya di tahun 2015 negara Brunei telah mengumumkan pada dunia bahwa ia telah melaksanakan syariat islam secara utuh. Begitu juga dengan negara kecil bekas jajahan Inggris di Afrika, yaitu Gambia yang telah mengumumkan pada dunia bahwa ia telah menjalankan syariat islam secara utuh. Dan satu negara lagi, yaitu Turki yang dahulu sempat dipimpin oleh pemerintah yang berideologi sekuler namun dengan rahmat Allah ia memberikan hidayah kepada para pemimpin Turki dan memenangkan umat islam. Sehingga sekarang jilbab sudah tidak dilarang lagi dan masih banyak lagi kebaikan yang Allah berikan kepada negara tersebut.

Dua hal yang harus dilakukan umat islam Indonesia agar bisa bangkit dari keterpurukkan ini adalah; Pertama adalah menyatukan seluruh umat islam di Indonesia. Ada sangat banyak ormas islam ataupun gerakan islam di Indonesia, namun kebanyakan dari mereka hanya memikirkan kepentingan golongannya masing-masing. Belum berani berfikir jauh ke depan untuk menyatukan seluruh umat islam khususnya yang ada di Indonesia. Itulah salah satu solusi secara jangka pendek kita wajib menyadarkan diri kita untuk mau duduk bersama, mau bergesekan bersama, mau bermusyawarah, bersatu dan kompak untuk menghadapi common enemy. Common enemy islam dan umat islam Indonesia secara Ideologis adalah sekularisme, ahmadiyah, syiah, dan aliran-aliran sesat lainnya. Islam juga memiliki common enemy secara politik dan ekonomi yaitu mereka yang menguasai aset-aset negara dan yang menguasai politik di Indonesia meskipun mereka muslim namun ideologinya tidak islam secara utuh. Umat islam harus ada dalam satu barisan yang kokoh dengan visi dan misi yang sama yaitu menegakkan hukum Al Quran di negara kita Indonesia ini. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Ash Shoff ayat 4 “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”.

Setelah umat islam berhasil bersatu dalam satu tujuan maka yang selanjutnya dilakukan adalah kembali kepada sunnah. Ada empat sunnah yang harus diamalkan oleh umat islam khususnya di Indonesia. Yang pertama adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah kepala negara. Beliau bukanlah hanya sebagai da’i yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan namun beliau juga sebagai pemimpin negara. Pemimpin haruslah orang yang sholih dan mushlih karena amanah kepemimpinan yang luar biasa beratnya tak akan mampu diemban tanpa didasari dengan iman yang kuat dan ditunjang dengan pemahaman agama yang baik. Kepimimpinan adalah senjata yang sangat ampuh dalam menyebarkan dakwah. Ketika Rasul SAW masih berada di Mekkah yang dikuasai oleh kafir musyrikin quraisy beliau tak mampu berdakwah secara leluasa sehingga pengikut-pengikutnya pun kebanyakan di awal hanya berasal dari kalangan budak. Namun ketika ia hijrah ke Madinah dan kekuasaan politik berada di tangan beliau, maka dengan cepat islam tersebar ke seluruh jazirah arab. 

Sunnah kedua adalah Madinah sebagai negara pemerintahan. Kita telah memiliki wilayah yang dibatasi dan diakui oleh dunia internasional sebagai milik Republik Indonesia. Artinya kita telah menjalani sunnah yakni memiliki tempat dan kedudukan di suatu wilayah untuk menajalani sitem pemerintahan sebagaimana Rasul SAW di Madinah. 

Adapun sunnah ketiga yakni Al Quran sebagai hukum tertinggi negara. Jika kita benar-benar meyakini Al Quran dan tidak ada hukum yang lebih tinggi di dunia ini melainkan hukum Allah yaitu Al Quran maka menjadikan Al Quran sebagai konstitusi negara adalah tujuan yang harus dimiliki oleh setiap muslim dan dengan tujuan ini pula mereka harus bisa bersatu dan merealisasikannya secara jamaah. 

Sunnah yang terakhir yang harus diamalkan oleh umat islam khususnya di Indonesia adalah jihad sebagai gerakan perjuangan. Sesuatu yang ditakutkan oleh musuh-musuh islam adalah ketika gelora dan semangat jihad berkobar dari dalam hati seorang muslim dengan ketulusan dalam mengembannya. Karena dengan kekuatan jihadlah islam dahulu pernah berjaya dan menguasai sebagian besar wilayah di muka bumi ini. Jihad tidaklah harus berkorban nyawa namun dengan mengorbankan harta, waktu, serta pemikiran dalam rangka menegakkan hukum Al Quran di Indonesia adalah bagian dari jihad.

Itulah sekian data dan fakta keterpurukan umat islam dan dua poin bagaimana mengembalikan kejayaan islam dahulu. Intinya setiap musllim harus masuk ke dalam islam secara kaffah atau totalitas. Tidak hanya memaksimalkan diri dalam ibadah yang bersifat hanya untuk dirinya namun juga memikirkan dan mengusahakan bagaimana islam dan hukum Al Quran bisa tegak di negri kita tercinta Indonesia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 208 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.


Oleh : Muhammad Umair (Staff Kaderisasi KAMMI Komisariat LIPIA)

Evolusi Pendidikan Islam di Indonesia













Pendidikan Islam atau pengajaran ajaran Islam di Nusantara sudah terjadi semenjak orang-orang Arab datang ke Nusantara untuk menyebarkan Islam pada abad pertama Hijriyah atau tujuh Masehi. Seiring dengan berjalannya waktu, maka dirasa perlu sebuah tempat khusus yang digunakan untuk menampung masyarakat yang ingin atau sedang belajar Islam. berawal dari situlah maka didirikan sebuah tempat yang dinamakan pesantren.

Menurut Manfred Ziemik dalam bukunya Pesantren dalam Perubahan Sosial, mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang lahir dan tumbuh berbarengan dengan datangnya Islam ke Tanah Jawa. Dengan demikian, pesantren merupakan lembaga pendidika tertua dan asli (indegenous) di masyarakat Indonesia. [Manfred Ziemik, Pesantren dalam Perubahan Sosial terj. Butche B Soendjoyo ( Jakarta: P3M, 1986), hlm.100].

Dengan demikian, pesantren merupakan produk original dari Islam dan bukan budaya Hindu-Budha sebagaimana desas-desus selama ini. Jika memang pesantren merupakan budaya atau metode yang digunakan Hindu-Budha tentu saat ini kita akan menjumpai banyak pesantren di Provinsi Bali, namun pada kenyataannya tidak ditemukan di Bali satu pun pesantren yang mengajarkan ajaran Hindu.

Selanjutnya, jika pesantren adalah produk dari pemikiran intelektual para da’i, siapakah yang pertama kali mencetuskan berdirinya pesantren di Nusantara? Dalam hal ini, Mahmud Yunus menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim (Syaikh Maghribi) adalah ulama yang pertama kali mendirikan pesantren di Jawa. Sedangkan menurut Muhammad Said dan Juniar Affan menyebutkan bahwa Sunan Ampel adalah pendiri pesantren pertama kali di tanah Jawa. [Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam diIndonesia (Jakarta: Hidaya Karya Agung, 1985), hlm. 231].

Pada masa awal berdirinya pesantren, pelajaran-pelajaran yang menjadi fokus para santrinya adalah pelajaran agama yang meliputi berbagai macam cabang ilmu seperti; Tafsir, Hadits, Fiqih, dan lain-lainnya. Dengan demikian pada masa awal pesantren hanya memiliki lima unsur yang tidak bisa dilepaskan, yaitu; 1) Kiyai, 2) Santri, 3) Kitab-kitab klasik/kuning, 4) Masjid dan 5) Asrama. [Nur Kholis Masjid, Bilik-Bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta, LP3ES, 1994, hlm. 5].

Dengan demikian maka fokus para santri dalam pesantren hanya berkutat pada hal yang berbauh pelajaran agama. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan tuntutan, maka pesantren juga diharuskan untuk mengevolusi struktur dan sistem pembelajarannya. Hal ini dimaksudkan supaya pesantren tidak ketinggalan zaman dan terkesan kampungan dan norak. Pemodernisasian pesantren menjadi sangat penting apalagi di era yang serba modern seperti zaman sekarang ini, hal ini sangat berguna untuk meningkatkan daya juang para santrinya sehingga mempunyai wawasan dan cara pandang yang lebih luas dari sebelumnya.

Awal mula tuntutan pemodernisasian sistem pendidikan di pesantren berawal ketika penjajah Belanda mendirikan sekolah-sekolah (HIS –Holland Inlandsche School-, Mulo, dan sejenisnya) yang hendak menggeser pola pikir masyarakat Indonesia dari pendidikan agama menuju pendidikan umum yang terkesan sekuler. Maka akan sangat bahaya jika pesantren stagnan pada historisnya sebagai tempat yang hanya mengajarkan ilmu agama tanpa memandang cabang-cabang ilmu lainnya. Berangkat dari sosio-historis yang baru, maka pada tahun 1915 Syeikh Abdullah Ahmad dari Padang Panjang mendirikan sebuah sekolah yang memadukan antara ilmu agama dan ilmu umum. Sekolah tersebut, beliau namakan sekolah Adabiyah. Untuk mendukung pembaharuan sistem pesantren, beliau merekrut empat guru yang berlatar belakang pendidikan dan berkebangsaan Belanda. [Azyumardi Azra, “Surau di Tengah Krisis: Pesantren dalam Perspektif Masyarakat” dalam M. Dawam Rahardjo, (ed), Pergulatan Dunia Pesantren : Membangun Dari Bawah (Jakarta: P3M, 1985), hlm. 169.]

Selanjutnya, ada juga sosok KH. Ahmad Dahlan di Kauman yang mengadopsi sistem pembelajaran Belanda dengan menggunakan media-media pembelajaran Modern seperti bangku, meja, dan pengkelasan atau pengelompokan sesuai dengan tingkatan murid. Sementara itu di Ponorogo Jawa Timur, ada tiga bersaudara yang mendirikan pesantren Modern yang kemudian diberi nama Pesantren Modern Gontor. Beliau bertiga, Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainuddin Fanani dan Kiai Zarkasyi, berusaha untuk mengintegralkan pendidikan bukan hanya pada pemahaman bahasa Arab saja, melainkan juga mengajarkan bahasa Inggris.

Pemodernisasian pendidikan di pesantren ini sebenarnya bukan hanya tuntutan atau politik penyeimbangan yang digunakan oleh para ulama untuk melawan politik sekulerisasi kolonial belanda, melainkan juga sebuah tuntutan dari ajaran Islam itu sendiri. Sebab pada hakikatnya, Islam adalah agama yang lengkap. Semua cabang ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu sosial dan sains semuanya sudah terdapat patokan-patokan dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun cabang-cabang ilmu modern dan penemuan-penemuan modern hanya sebagai akibat dari penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengindikasikan sebuah cabang ilmu modern tersebut (nash yang bersifat umum dan multi tafsir).

Selain sesuai dengan tabi’at Islam yang lengkap yang mencakup semua lini ilmu, pemodernisasian pesantren juga bertujuan untuk menjadikan pesantren lebih banyak lagi peminatnya. Seperti kita ketahui pada saat ini banyak sekali orang tua yang enggan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren akibat persepsi yang mengatakan bahwa pesantren merupakan tempat terpencil yang membuat anak terkungkung dan tidak bisa maju. Orang tua zaman sekarang juga banyak yang beranggapan bahwa dengan belajar di pesantren bisa merusak masa depan sang anak karena yang diajarkan hanyalah pelajaran-pelajaran agama

Untuk menjawab keraguan dan ketakutan orang tua tersebut, maka pesantren sebagai benteng ajaran Islam di Indonesia harus memulai untuk merombak sistem pembelajarannya dengan syarat tradisi keIslaman tersebut tetap ada dan tanpa tergeser satu senti pun dari tempatnya. Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, di Lamongan Jawa Timur. Saat ini Pesantren Sunan Drajat bisa dijadikan sebagai model percontohan yang ideal. Pondok itu disamping sangat intensif mengajarkan agama Islam, juga tidak ketinggalan memberikan bekal ilmu umum yang sangat berguna bagi masa depan para santrinya. Sekarang Pondok pesantren yang diasuh oleh KH. Dr. Abdul Gofur ini memiliki stasiun Radio, Televisi dan juga mempunyai berbagai bentuk pembelajaran umum lainnya.

Hal ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah lewat undang-undang pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989 yang mewajibkan sekolah-sekolah agama (Madrasah dan pesantren) untuk memberikan 50 persen untuk pelajaran Agama dan 50 persen untuk pelajaran umum. Namun jika kita menyamakan porsi keduannya tentunya akan ditakutkan pelajaran agama akan sedikit terbengkalai. Karena pondok pesantren mengharuskan santrinya tinggal di asrama maka pendidikan di siang hari bisa diintensifkan untuk umum dan pada malam hari bisa untuk pendidikan agama. Dengan cara ini, diharapakan tidak terjadi ketimpangan kemampuan santri. Sehingga para santri atau siswa keluaran pondok pesantren tidak kalah saing dengan sekolah-sekolah umum bahkan memiliki kelebihan yakni dalam bidang agama.

Begitulah pendidikan islam. Islam tidak pernah mengenal adanya dikotomi antara wahyu dan akal. Pelajaran agama dan pelajaran umum. Tradisional dan modern. Dunia dan akhirat. Namun islam adalah agama yang lengkap, selalu cocok untuk setiap masa dan tidak akan pernah bertentangan dengan spirit modernisasi yang semakin maju dan berkembang sehingga pesantren tidak hanya berkutat pada kiyai, santri, kitab kuning, masjid dan asrama melainkan juga berkutat pada laboratorium, lapangan penelitian, internet, dan seabrek fasilitas modern lainnya. Dengan spirit tradisi keilmuan islam yang syamil tersebut, diharapakan para orang tua kembali memilih pesantren sebagai rujukan utama untuk pendidikan anak-anaknya sebab pesantren modern tidak hanya mengajari santrinya membaca kitab gundul namun juga mengajari mambaca peluang usaha. Tidak hanya mengajari santrinya cara beribadah (Mahdhoh) tapi juga mengajarinya berwirausaha. Sehingga, sekali lagi, pesantren mampu menghadirkan dokter, insinyur, direktur, tentara, dan profesi lainnya yang memiliki pemahaman agama yang mumpuni. Wallahu A’lam...


Penulis : Hilal Ardiansyah Putra (kadept KP KAMMI komsat LIPIA)