Tampilkan postingan dengan label Kebebasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebebasan. Tampilkan semua postingan

Kemerdekaan yang Selalu Dicari

Peristiwa proklamasi adalah bukti sejarah keberhasilan para pahlawan nasional dalam merebut kejayaan bangsa yang diambil oleh para penjajah. Sejarah kemerdekaan identik dengan hal-hal yang pahit dan sulit. Karena tentunya dalam memperjuangkan suatu hal dibutuhkan adanya pengorbanan. Apalagi dalam memperjuangkan kemerdekaan suatu bangsa yang terjajah, pastinya pengorbanan yang diberikan jauh lebih besar. Jiwa, raga, dan harta menjadi taruhan. Hasil dan prestasi yang besar pada umumnya berawal dari pengorbanan yang besar.

Soekarno sudah lama memberikan pesan dengan slogan “Jas Merah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia tak lepas dari besarnya perjuangan para pahlawan nasional. Mereka yang tak pernah pamrih memperjuangkan kemerdekaan dengan harta, keringat, bahkan darah mereka yang bercucuran. Separuh bahkan seluruh hidupnya pun habis untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut. Proses menggapai sebuah kesuksesan besar memang butuh waktu yang panjang. Perjuangan para pahlawan nasional haruslah selalu dikenang dan menjadi bahan renungan di dalam jiwa setiap anak bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Dan sebaik-baik penghormatan bagi para pahlawan adalah dengan kembali menghidupkan semangat kepahlawanan di dalam tiap jiwa anak bangsa untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Ada satu asumsi bahwa pada perjalanannya, sejarah akan terus berulang (repetition of history). Kebenaran dan keburukan akan terus berhadapan. Dimulai dari abad ke-16 datangnya bangsa-bangsa penjajah dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang yang tak kurang dari 350 tahun lamanya mereka secara bergantian menguasai dan menjarah tanah air Indonesia. Lahirlah pahlawan-pahlawan bangsa yang tak terhitung jumlahnya, memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan segala kemampuannya. Dan pada akhirnya 17 Agustus 1945 menjadi saksi atas berakhirnya masa penjajahan, sehingga keringat dan tumpahan darah para pahlawan terbayarkan dengan teriakan bahagia masyarakat Indonesia. Air mata kesengsaraan berganti dengan air mata penuh kebahagiaan. Kemerdekaan Indonesia pun terwujud atas perjuangan dan kesatuan para pahlawan bangsa.

Setelah Indonesia mendapatkan gelar “merdeka”-nya, siklus sejarah pun kembali terulang. Masa pemerintahan orde lama dihiasi dengan berbagai macam krisis yang menggoyahkan bangsa Indonesia yang masih seumur jagung. Lagi-lagi bangsa Indonesia harus bertempur menghadapi dahsyatnya agresi militer Belanda untuk merebut kembali jajahannya. Para petinggi negara harus segera mempersiapkan kelengkapan alat negara dengan keterbatasan dana yang dimiliki, agar kelemahan ini tidak bisa dimanfaatkan oleh Belanda ataupun bangsa lain yang ingin menjajah kembali Indonesia. Presiden Soekarno dipusingkan dengan krisis ekonomi yang melanda masyarakat dikarenakan belum ada kesatuan mata uang. Masih banyak lagi krisis-krisis yang melanda Indonesia di usianya yang muda ini. Belum lagi dengan PKI dan peristiwanya yang terkenal dengan G30SPKI. Peristiwa G30SPKI menggiring opini publik kepada hal-hal yang berbau negatif terhadap PKI. Masyarakat resah dengan PKI dan memaksa Presiden Soekarno untuk segera memberantas PKI. Kerusuhan pun terjadi di mana-mana, loyalitas rakyat pun menurun terhadap sang presiden. Sehingga memaksa Presiden untuk mengeluarkan surat perintah sebelas Maret atau yang biasa dikenal dengan Supersemar kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto untuk mengembalikan stabilitas nasional dan memberantas PKI. Kemudian tampil Soeharto bak pahlawan memberantas PKI hingga keakar-akarnya dan mengembalikan kestabilan nasional.

Masalah PKI pun mampu diselesaikan oleh Soeharto dan bala tentaranya. Rakyat mengagung-agungkan Soeharto atas keberhasilannya. Presiden Soekarno dianggap lambat dalam menyelesaikan krisis tersebut. Akhirnya ia pun dilengserkan dan digantikan oleh Soeharto karena ia dianggap yang paling berhak atas jabatan presiden setelah berhasil memenuhi keinginan rakyat. Dengan dicopotnya Soekarno dari jabatan presiden maka berakhirlah masa orde lama. Sejenak aura kemerdekaan di tanah air terasa kembali setelah krisis yang terjadi pada masa kepemimpinan Soekarno, rakyat puas akan keberhasilan Soeharto memberantas PKI sehingga Soeharto pun akhirnya diangkat menjadi Presiden RI ke-2. Siklus sejarah pun kembali terulang dengan hadirnya masa kepemimpinan baru yang disebut dengan orde baru. Kembali datang krisis-krisis yang bahkan jauh lebih banyak macamnya dibanding masa sebelumnya.
Di masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter menimbulkan terjadinya berbagai kasus pembantaian yang melanggar hak asasi manusia. Diantaranya adalah pembantaian yang terjadi di Tanjung Priok dan Lampung. Media dibuat bungkam dan bersuara sesuai keinginan pemerintah. Pada saat itu terjadinya pembunuhan dan pembungkaman lawan politik termasuk para aktivis Islam dan aktivis kampus. Seoharto memperkaya keluarganya dengan harta negara. Pembangunan besar-besaran dimana-mana sehingga memaksa negara untuk meminjam uang dalam jumlah besar baik di dalam negeri maupun luar negeri. Akibatnya hutang luar negeri pun menumpuk miliaran dolar AS. Dan masih banyak lagi kegagalan-kegagalan sang Presiden dalam memimpin yang membuat rakyat muak dan memaksanya untuk menanggalkan jabatannya. Sehingga timbullah gerakan-gerakan masyarakat yang didominasi oleh mahasiswa untuk melengserkan sang Presiden. Dan pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto pun mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden dan memberikan jabatannya kepada wakil presiden kala itu B.J. Habibie.

Sejenak reformasi memberikan rakyat helaan nafas yang melegakan terlepas dari kediktatoran Presiden Soeharto. Aura kemerdekaan seakan terhirup kembali. Namun sebagaimana yang sudah-sudah bahwa sejarah akan terulang kembali. Nyatanya masalah, krisis, dan ujian akan selalu ada dalam suatu masa pemerintahan. Kita memang hidup di masa yang terasa aman nan tentram. Namun di balik kenyamanan tersebut masih ada segudang masalah yang melanda bangsa ini. Masalah korupsi yang tak pernah ada habisnya. Mereka yang egois hanya memikirkan dirinya dan keluarganya terus menggerogoti kekayaan negara yang semakin menipis. Narkoba dan jutaan anak bangsa yang hancur karenanya. Bisnis narkoba tak kunjung berhenti karena selalu ditopang oleh kebutuhan oknum lembaga swasta ataupun negara yang ingin mendapatkan bagian dari hasil keuntungannya. Belum lagi dengan maraknya pornografi. Anak-anak bangsa dihabiskan waktunya olehnya, sehingga mereka memiliki prestasi yang minim dan moral yang bobrok.

Generasi muda Indonesia haruslah berperan besar dalam menyelesaikan krisis-krisis yang terjadi sekarang ini. Proklamasi hadir karena ada campur tangan pemuda yang mendesak golongan tua untuk menyegerakan proklamasi. Bukan hanya itu namun sebelumnya sudah sangat banyak gerakan-gerakan pemuda yang menjadi asal mula terjadinya proklamasi di tanah air. Pemberantasan PKI salah satu faktornya adalah desakan masyarakat yang didominasi oleh pemuda kepada Presiden untuk segera menghapus PKI di Indonesia secara keseluruhan. Pada masa reformasi, sangat jelas peran pemuda dari kalangan mahasiswa yang memaksa seorang diktator rela mencopot jabatannya. Pemuda memiliki andil besar dalam merebut kembali kemerdekaan di Indonesia. Maka dari itu generasi muda haruslah mampu mengambil pelajaran dari berbagai macam krisis dan penanggulangannya yang terjadi di Indonesia. Mampu meneladani sifat-sifat kepahlawanan dari masa ke masa, karena itulah sebaik-baiknya penghormatan kepada pahlawan yang telah berjuang demi tanah air Indonesia. Dengan begitu jiwa kepahlawanan akan tumbuh dan besar di dalam jiwa generasi muda Indonesia sekarang ini sehingga kemerdekaan akan kembali tercapai.

Pada kenyataannya sejarah akan terus berulang. Masyarakat akan selalu mencari arti dari sebenar-benarnya merdeka. Merdeka bukanlah hanya sekedar terbebas dari penjajah, kesengsaraan ekonomi, otoriter penguasa, bersih dari narkoba, pendidikan dan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Namun pada hakikatnya kemedekaan yang sejati adalah merdeka menurut Al Quran, yaitu bagaimana mengantarkan warga bangsa yang menjadi kumpulan Muslim terbesar di dunia dapat masuk dalam syurga-Nya dan terhindar dari api neraka. Perjuangan menggapai kemerdekaan yang hakiki tak akan pernah berhenti sampai nafas terakhir dihembuskan. Inilah bukti loyalitas terhadap Allah. Jauh lebih besar dan bermakna dibandingkan dengan loyalitas terhadap negara ataupun kepentingan dunia yang lain.

Oleh : Muhammad Umair (Staff Kaderisasi KAMMI LIPIA)

Umat Islam Masih Menunggu Kemerdekaan


Umat islam di Indonesia adalah bagian terbesar dari bangsa bangsa Indonesia yang sudah menikmati kemerdekaan semenjak tahun 1945 hingga saat ini atau sekitar tujuh puluh tahun lamanya. Tujuh puluh tahun adalah usia yang sudah sangat lanjut bagi suatu bangsa. Bahkan negara Islam yang didirikan oleh Rasululah dahulu di kota Madinah, hanya membutuhkan sekitar dua dekade untuk menaklukan dua negara super power kala itu yaitu; Romawi dan Persia. Berarti sebetulnya umat islam Indonesia sudah sangat dewasa, sangat matang dan sangat tua menjadi bangsa yang merdeka di muka bumi ini. Namun apakah kemerdekaan itu benar-benar menjadi rahmat, nikmat dan ridho Allah atau sebaliknya kemerdekaan adalah jeratan berikutnya bagi umat Islam Indonesia? Kenyataannya hingga saat ini, umat islam di dunia termasuk di Indonesia, dalam keadaan terpuruk, terhina, lemah, dan tak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya.

Negara Palestina sudah empat puluh tahun lebih dijajah oleh kaum Zionis Israel. Meskipun Palestina berada di tengah-tengah negara-negara Muslim di Timur Tengah, akan tetapi sampai sekarang Palestina masih menderita, ditindas, dan dijajah oleh Israel. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tidak mampu banyak berbuat, hanya memberikan ucapan, statement, doa dan bantuan–bantuan materil ala kadarnya. Padahal yang diharapkan oleh saudara-saudara kita di Palestina adalah kemerdekaan yang sesungguhnya, merdeka dari penjajahan politik, ekonomi, ideologi, budaya, serta diakui keberadaannya di dunia internasional. Seperti yang terjadi di Palestina, terjadi pula di Mesir. Beberapa tahun lalu partai Islam menjadi pemenang Pemilu di Mesir. Partai tersebut mencita-citakan agar Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar hukum positif. Kemenangan partai Islam tersebut berbuah terpilihnya seorang Muhammad Mursi sebagai presiden. Akan ttetapi,tak berapa lama kemudian sang presiden dikudeta oleh militer yang didukung oleh sekumpulan negara yang membenci pertumbuhan dan perkembangan Islam di sana. Kudeta berdampak pada penistaan terhadap aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjadi basis pendukung partai pemenang Pemilu Mesir. Begitu pula di Yaman yang sebelumnya adalah negara Islam Sunni yang aman dan tenang, akan tetapi kemudian ketenangan itu diusik oleh Kelompok Syiah Houthi yang dibantu oleh Negara-negara Syiah seperti’ Iran. Kelompok Syiah Houthi memberontak dan melakukan kudeta terhadap presiden republik Yaman sehingga melanggengkan perseteruan antara komunitas Sunni dan Syiah. 

Berhubungan dengan aliran aqidah syiah, ketua Majelis Ulama Indonesia tahun 1983-1990 KH. Hasan Basri dalam sambutannya pada seminar nasional tentang syiah (21-9-1997 di aula Masjid Istiqlal) mengatakan “Saya berdialog dengan beliau (Bapak Ismail Shaleh, menteri kehakiman), saya katakan : Pak menteri, Ahmadiyah ini buat umat islam menjadi duri dalam daging.” dan beliau juga menyatakan “Kalau dari segi ajaran bahaya syiah melebihi ekstasi dan narkotik, sebab dia meracuni aqidah. Kalau ekstasi dan narkotik dia meracuni fisik, tetapi kalau aqidah diracuni, itu sangat berbahaya bagi manusia.” Maka dari itu Majelis Ulama Indonesia memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan bangsa Indonesia, khususnya umat islam, agar mewaspadai masuknya aliran Syiah. Saat ini beberapa tokoh Syiah sangat aktif berperan di beberapa lini kehidupan seperti; politik, ekonomi dan pendidikan. 

Masih ada lagi umat islam yang menderita yaitu bangsa Rohingnya. Rohingnya adalah suatu suku bangsa asli Myanmar. Meskipun penasehat negaranya adalah peraih nobel perdamaian, tetapi suku bangsa Rohingnya tetap tidak diakui keberadaannya. Satu lagi umat islam yang menderita yaitu di negara tetangga kita Filiphina. Mereka dipojokkan sampai ke selatan bahkan dituduh teroris, Abu Sayyaf dan lain sebagainya. Inilah sekian data dan fakta keterpurukkan umat islam di dunia internasional.

Bangsa Indonesia boleh berbangga dan bersenang hati bahwa Indonesia mayoritas muslim bahkan Indonesia adalah negara yang terbanyak penduduk muslimnya. Rakyatnya mudah naik haji sampai-sampai kuota sepuluh tahun baru bisa naik haji, jalan-jalan tol selalu ada rest area dan dimana ada rest area selalu ada masjidnya yang ketika waktu maghrib tiba jama’ah rela antri bersip-sip untuk bisa sholat berjamaah di masjid tersebut. Ibadah mahdoh seperti sholat, shoum, zakat, shodaqoh terus meningkat. Tetapi urusan ibadah ghoiru mahdoh seperti urusan politik dan ekonomi bukannya meningkat malah menurun sampai kepada titik-titik yang hampir kepada titik nadir (langka). 

Sekitar satu tahun yang lalu telah terjadi satu peristiwa yang harus diketahui dan dipahami oleh umat islam Indonesia. Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua. Tepatnya di salah satu masjid umat islam di sana. Ketika umat islam ingin melaksanakan sholat idul fitri 1436 H datanglah segerombolan massa yang dipimpin oleh satu jamaah gereja GIDI (Gereja Injili di Indonesia) menyerang dengan melempari batu dan anak panah kepada para jamaah. Bukan hanya itu tapi masjid dan toko-toko kaum muslimin yang ada di sekitar masjid pun dibakar habis. Kejadian ini terjadi di Indonesia bukan di Amerika, Eropa, Rusia ataupun di negara-negara yang anti islam, di Indonesia yang memiliki jumlah umat islam terbanyak di dunia. Lantas dimana persaudaraan umat islam yang banyak ini, ulama tidak banyak bicara, muballigh asik saja ceramah di tv, media menutup-nutupi info ini dan berusaha menggiring opini publik kepada yang mereka inginkan. Seolah negara absen dalam kejadian tersebut. 

Indonesia bukanlah Islamic State tetapi Indonesia adalah Moslem State, Moslem People karena mayoritas penduduknya adalah Muslim. Sungguh ironis ketika umat Islam dihadapkan pada kenyataan bahwa ibukota negara saat ini dipimpin oleh seorang non-Muslim. Semenjak ia menjabat telah ada dua masjid yang dibongkar, yaitu; Masjid Baitul Arif di Kampung Melayu dan satu lagi Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki yang janjinya dahulu akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak karena kedua masjid tersebut dibangun di atas tanah negara dan dengan berbagai macam alasannya namun sampai sekarang janji tersebut belum terealisasikan. Kemudian yang baru-baru ini terjadi tepatnya pada tanggal 4 Juni 2016, Gubenur yang Non-Muslim tersebut mengumpulkan sekitar 1700 kepala sekolah di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, padahal mayoritas kepala sekolah beragama islam namun mengapa harus dikumpulkan di tempat tersebut dan tidak di balai-balai pertemuan yang lain. Dalam pertemuan tersebut pak Gubernur menghimbau kepada seluruh kepala sekolah agar tidak mewajibkan siswi-siswinya untuk memakai jilbab. Dengan berbagai alasan yang ia buat-buat untuk menguatkan larangannya. Inilah sekian data dan fakta yang harus diketahui umat islam yang memiliki Gubernur yang Non-Muslim.

Setelah 71 tahun kita merdeka, umat islam di Indonesia belum menjadi subjek dan masih menjadi objek. Objek ekonomi, budaya, dan politik. Masih menjadi mainan oleh orang-orang yang berkuasa yang anti islam walaupun agama mereka islam. Umat islam Indonesia masih menjadi konsumen dan belum menjadi produsen. Di bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri umat islam ibadah, tapi orang lain yang kaya. Karena umat islam belanja di pasar untuk kebutuhan puasa dan idul fitri, tapi yang banyak menguasai toko dan ekonomi adalah mereka yang Non-Muslim. Umat islam Indonesia masih menjadi tamu di negeri sendiri dan belum menjadi tuan rumah sepenuhnya. Banyaknya pemilihan pemimpin di daerah-daerah namun umat islam belum bisa menjadi pemenang sepenuhnya. Kalimantan Barat dua periode Gubernur dan wakilnya Non-Muslim, padahal Kalimantan Barat tujuh puluh persen penduduknya beragama islam. Kalimantan Tengah Gubernur sebelumnya Non-Muslim meskipun wakilnya muslim namun secara politik Wakil Gubernur muslim dibawah Gubernur yang Non-Muslim adalah sedekah suara dari jamaah wakil gubernur untuk kemenangan Gubernur. Ia memimpin selama sepuluh tahun (2005-2015) padahal enam puluh persen penduduknya beragama islam. Begitu juga yang terjadi di Solo yang dipimpin oleh walikota yang Non-Muslim. Padahal disana terdapat gerakan-gerakan islam, laskar-laskar islam, ada pesantren-pesantren seperti Pesantren Ngruki, ada Dewan Dakwah, ada Nahdatul Ullama dan ada Muhammadiyah. Dan di depan mata kita DKI Jakarta, pintu gerbang Republik Indonesia dipimpin oleh Gubernur yang Non-Muslim.

Sebagai umat islam khususnya di Indonesia kita harus bisa menjawab mengapa keterpurukan ini bisa terjadi di negara yang mayoritas muslim. Tujuh puluh satu tahun merdeka tetapi kita belum bisa menikmati secara utuh sebagai warga negara Indonesia yang nomor satu. Tidak seperti di Malaysia yang warga melayunya menjadi warga kelas satu. Mereka dibantu dengan modal-modal untuk usaha, mudah mendapatkan pekerjaan dan posisi yang tinggi di perusahaan milik negara. Agama Islam adalah agama negara karena bangsa Melayu identik dengan islam bahkan orang melayu yang murtad dianggap bukan melayu. Bank-bank syariah dibiayai oleh negara sehingga kemajuan bank syariah jauh lebih besar daripada di Indonesia. Begitu juga dengan tetangga kita Brunei Darussalam. Negara kecil bahkan sangat kecil hanya sebagian kecil dari pulau Kalimantan. Namun di Brunei jarang sekali ditemukan adanya pengangguran dan orang miskin sehingga sebagian zakat masyarakatnya dikirimkan ke Indonesia. Pembantu rumah tangga dikirim dari Indonesia begitu juga sopir dan pekerjaan-pekerjaan rendahan lainnya sangat jarang sekali orang Brunei asli yang mengerjakannya. Guru-guru dan dosen-dosen terbaik dari Indonesia hijrah ke Brunei untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dan yang luar biasanya di tahun 2015 negara Brunei telah mengumumkan pada dunia bahwa ia telah melaksanakan syariat islam secara utuh. Begitu juga dengan negara kecil bekas jajahan Inggris di Afrika, yaitu Gambia yang telah mengumumkan pada dunia bahwa ia telah menjalankan syariat islam secara utuh. Dan satu negara lagi, yaitu Turki yang dahulu sempat dipimpin oleh pemerintah yang berideologi sekuler namun dengan rahmat Allah ia memberikan hidayah kepada para pemimpin Turki dan memenangkan umat islam. Sehingga sekarang jilbab sudah tidak dilarang lagi dan masih banyak lagi kebaikan yang Allah berikan kepada negara tersebut.

Dua hal yang harus dilakukan umat islam Indonesia agar bisa bangkit dari keterpurukkan ini adalah; Pertama adalah menyatukan seluruh umat islam di Indonesia. Ada sangat banyak ormas islam ataupun gerakan islam di Indonesia, namun kebanyakan dari mereka hanya memikirkan kepentingan golongannya masing-masing. Belum berani berfikir jauh ke depan untuk menyatukan seluruh umat islam khususnya yang ada di Indonesia. Itulah salah satu solusi secara jangka pendek kita wajib menyadarkan diri kita untuk mau duduk bersama, mau bergesekan bersama, mau bermusyawarah, bersatu dan kompak untuk menghadapi common enemy. Common enemy islam dan umat islam Indonesia secara Ideologis adalah sekularisme, ahmadiyah, syiah, dan aliran-aliran sesat lainnya. Islam juga memiliki common enemy secara politik dan ekonomi yaitu mereka yang menguasai aset-aset negara dan yang menguasai politik di Indonesia meskipun mereka muslim namun ideologinya tidak islam secara utuh. Umat islam harus ada dalam satu barisan yang kokoh dengan visi dan misi yang sama yaitu menegakkan hukum Al Quran di negara kita Indonesia ini. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Ash Shoff ayat 4 “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”.

Setelah umat islam berhasil bersatu dalam satu tujuan maka yang selanjutnya dilakukan adalah kembali kepada sunnah. Ada empat sunnah yang harus diamalkan oleh umat islam khususnya di Indonesia. Yang pertama adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah kepala negara. Beliau bukanlah hanya sebagai da’i yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan namun beliau juga sebagai pemimpin negara. Pemimpin haruslah orang yang sholih dan mushlih karena amanah kepemimpinan yang luar biasa beratnya tak akan mampu diemban tanpa didasari dengan iman yang kuat dan ditunjang dengan pemahaman agama yang baik. Kepimimpinan adalah senjata yang sangat ampuh dalam menyebarkan dakwah. Ketika Rasul SAW masih berada di Mekkah yang dikuasai oleh kafir musyrikin quraisy beliau tak mampu berdakwah secara leluasa sehingga pengikut-pengikutnya pun kebanyakan di awal hanya berasal dari kalangan budak. Namun ketika ia hijrah ke Madinah dan kekuasaan politik berada di tangan beliau, maka dengan cepat islam tersebar ke seluruh jazirah arab. 

Sunnah kedua adalah Madinah sebagai negara pemerintahan. Kita telah memiliki wilayah yang dibatasi dan diakui oleh dunia internasional sebagai milik Republik Indonesia. Artinya kita telah menjalani sunnah yakni memiliki tempat dan kedudukan di suatu wilayah untuk menajalani sitem pemerintahan sebagaimana Rasul SAW di Madinah. 

Adapun sunnah ketiga yakni Al Quran sebagai hukum tertinggi negara. Jika kita benar-benar meyakini Al Quran dan tidak ada hukum yang lebih tinggi di dunia ini melainkan hukum Allah yaitu Al Quran maka menjadikan Al Quran sebagai konstitusi negara adalah tujuan yang harus dimiliki oleh setiap muslim dan dengan tujuan ini pula mereka harus bisa bersatu dan merealisasikannya secara jamaah. 

Sunnah yang terakhir yang harus diamalkan oleh umat islam khususnya di Indonesia adalah jihad sebagai gerakan perjuangan. Sesuatu yang ditakutkan oleh musuh-musuh islam adalah ketika gelora dan semangat jihad berkobar dari dalam hati seorang muslim dengan ketulusan dalam mengembannya. Karena dengan kekuatan jihadlah islam dahulu pernah berjaya dan menguasai sebagian besar wilayah di muka bumi ini. Jihad tidaklah harus berkorban nyawa namun dengan mengorbankan harta, waktu, serta pemikiran dalam rangka menegakkan hukum Al Quran di Indonesia adalah bagian dari jihad.

Itulah sekian data dan fakta keterpurukan umat islam dan dua poin bagaimana mengembalikan kejayaan islam dahulu. Intinya setiap musllim harus masuk ke dalam islam secara kaffah atau totalitas. Tidak hanya memaksimalkan diri dalam ibadah yang bersifat hanya untuk dirinya namun juga memikirkan dan mengusahakan bagaimana islam dan hukum Al Quran bisa tegak di negri kita tercinta Indonesia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 208 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.


Oleh : Muhammad Umair (Staff Kaderisasi KAMMI Komisariat LIPIA)

Spirit Kebebasan ala Muslim Negarawan





"Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka,Tidak ada satu orangpun yang memaksa kami bertindak".

---------------

Kurang lebih 23 tahun lamanya sepenggal episode sejarah emas itu berjalan, mengarungi ganasnya tantangan zaman membalikan keadaan, dan berhasil membangun pionir-pionir peradaban. Bisa jadi apa yang dilakukan pembina terbaik sepanjang zaman tak berarti apapun, jika merunut pada kaca mata materialistis. Memang benar, dia -Purnama zaman- meninggal dalam keadaan papa dan baju perangnya pun tergadai. Memang benar Dia menghembuskan nafas terakhir sedang tidak ada bangunan megah duniawi yang dapat diwariskan. 

Meskipun demikian, kebersahajaannya tetap tak mampu tersaingi. Jiwa pendidik dan pembina tak akan lekang oleh zaman. Pribadi yang mampu membuat gemetar Raja Barat (Bizantium) dan Raja Timur (Sasan) . Sosok makhluk yang membuat rasa rindu yang sulit untuk dilukiskan seperti yang dialami oleh budak hitam pengumandang adzan yang mengigil rindu dan mengusik memori kenangannya. 

Intinya Sang Nabi adalah ikon pembangun manusia bukan pembangun istana megah yang mewah lagi tinggi mencolok. 

Jika melihat kondisi saat sekarang, sudah teramat nampak ketimpangan yang ada. pembagunan fasilitas umum nan megah, canggih dan menjamur yang diharapkan membuat manusia mudah melakukan aktivitas, bahkan berujung petaka. Naluri kerusakan yang berjalan beriringan, revolusi mental sudah gagal total; mungkin menyalahi fithrah atau metodenya terlalu berbelit tak berarah. Pembangunan fisik terlampau sering mencederai manusia sebagai sang subjek. 

Ramadhan hendak mengajarkan sebuah pelajaran berharga bahwa pembangunan material atau fisik tak akan berfungsi sebagaimana mestinya jika manusia-manusianya ditinggalkan. Bertepatan dengan momentum Ramadhan, spirit kebebasan yang merupakan naluriah penyokong manusia, yang terarah kepada kader-kader KAMMI sebagai penggerak utama digelitik jiwa-jiwanya. Ramadhan mengajarkan karakter daurah berjenjang yang berafiliasi kebebasan salah satunya. Kebebasan dalam bulan shiyam yang hendak dihadirkan adalah totalitas tanpa batas kepada Allah semata. Kuantitas takbir minimal dalam shalat fardhu kita masih gagal membuat manusia menuhankan Allah semata. Lantunan "Allahu Akbar" terkadang masih kalah pamor dengan kebesaran harta, jabatan, asmara, dan hal-hal sepele dalam kehidupan fana. Perkara inilah yang hendak diselesaikan Ramadhan, perkara totalitas tanpa batas hendak diarahkan hanya kepada Allah semata. Bahwa jangankan target materi yang tidak seseorang miliki, kebendaan halal yang ia kuasai pun menjadi haram saat berpuasa: makanan, minuman, dan pasangan. Ramadhan menegaskan bahwa makhluk-makhluk yang diciptakan Allah tidak dapat mengerogoti totalitas orang beriman kepada Allah. Bahwa manusia yang bertaqwa hanya boleh diperbudak oleh penciptanya yakni Allah Ta'ala. Bahwa perbudakan hakiki hanya oleh Allah, sehingga pecandu rokok dapat bertaubat. bahwa sikap pasrah dan berserah diri teruntuk Allah semata, maka segala jenis kecanduan terhadap barang haram apapun dapat dihentikan.

Salah satu hikmah shiyam Ramadhan inilah yang menggaris bawahi penggalan kredo perjuangan gerakan ini: "KAMMI adalah orang-orang yang berfikir dan bertindak merdeka, tidak ada satu orangpun yang memaksa kami bertindak."

Apa yang lebih indah dibanding simfoni kebebasan yang banyak diperjuangkan Nabi-Nabi dan pejuang? Mana yang lebih nyaman dibanding alunan totalitas yang banyak diajarkan Raja-raja sholeh penyokong zaman. Apa yang dikerjakan Kader KAMMI di daurah Ramadhan, adalah ikhtiar spirit seorang muslim negarawan.

wallahu a'lam


Oleh : Ahmad Amrin Nafis (Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA)