Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Butir Pasir



Pernakah kita memandang sebutir pasir itu sebagai batu?

Mungkin kebanyakan manusia  malah memandang sebaliknya, mereka  malah memandang sebongkah batu sebagai pasir. Wajar jika mereka  berpandangan seperti itu. Sesuai logika, pasir adalah serpihan-serpihan batu. Ini karena mereka  berfikir sama seperti kebanyakan orang alias mainstream.

Al faqir dalam coretan ini hendak mengajak pribadi, dan kawan-kawan untuk berpandangan khoriju shunduq alias di luar dari yang orang biasa berpandangan. Berpandangan sebagaimana Kholid bin Walid memandang.

Alkisah pada perang Uhud dimana sebagian besar dari pasukan muslimin berpandangan bahwa pertempuran sudah dimenangkan oleh mereka. Pandangan yang sama terjadi pula pada pasukan musyrikin yang kala itu dipimpin oleh Kholid bin Walid. Disinilah pandangan anti mainstream dibutuhkan, dan Kholid Ibnil Walidlah sang pemilik pandangan ini.

Al-faqir berhusnuzan bahwa sebagai pemuda Islam sudah bukan rahasia lagi kisah kekalahan pasukan muslimin pada perang Uhud. Terlepas dari penyebab fatal kekalahan, yakni turunnya pasukan pemanah Muslimin dari bukit Uhud, ada sebab pendukung yang juga mengambil peran dalam kekalahan ini. Yaitu pandangan yang optimis oleh panglima perang pasukan musyrikin kala itu.

Melihat situasi kekalahan yang menimpa pasukan musyrikin di fase awal perang Uhud, Khalid bin Walid  justru menjadikan pelarian mereka dari medan pertempuran sebagai kekuatan untuk memukul balik pasukan lawan dengan memanfaatkan kelalain pemanah pasukan lawan. Hal ini tidak akan lahir kecuali dari mereka yang berpandangan luas dan anti mainsream. Akhirnya kekalahanpun berbalik arah mengampiri pasukan muslimin. lantas kemenangan merasa risih dengan hadirnya kekalahan, lalu memilih berbalik arah seratus delapan puluh derajat dan menghampiri pasukan musyrikin.

Masih dalam kisah yang sama, jika pemimpin pasukan musyrikin memiliki pandangan yang anti mainstream, di sana jauh sebelum perang berkecamuk, ada seorang yang berpandangan jauh melebihi pandangan manusia seisi bumi ini. Dialah Rasulullah -shallahu alaihi wa sallam- dengan keluasan pandangannya, beliau mewanti-wanti  pasukan pemanah agar tetap bertahan dan tidak turun dari bukit Uhud sebelum ada perintah dari Baginda Rasulullah apapun kondisinya, kalah atau menang hidup atau syahid. Dikarenakan Hubbud Dunya (cinta dunia) dan pandangan yang mainstream-lah pasukan ini lantas turun dari bukit Uhud guna mendapat harta rampasan perang yang berujung pada kekalahan pasukan muslimin.

Andai saja pasukan pemanah kaum Muslimin taat berpandangan sebagaimana  Rasulullah memandang mungkin Rasulullah  tidak sampai berdarah-darah pada perang tersebut, bahkan sempat beredar kabar bahwa beliau telah syahid kala itu.

Andai saja saat penaklukan Andalusia, pasukan Muslimin tidak menyisahkan sedikit saja pasukan kafir yang lari mengungsi ke pegunungan maka delapan abad peradaban Islam di Spanyol itu tidak akan runtuh.

Siapa  sangka tukang kayu kini berubah menjadi tukang jual aset Negara. “Kullu maalikin azdhim kaana thiflan baakian, wa kullu binaayatin azhimah kaana mujarradal hariithah.” " Semua pemimpin-pemimpin dunia, dulu adalah anak kecil yang hanya bisa merengek, dan seluruh bangunan-bangunan besar nan megah, dulu hanayalah sebuah gambar."

Sebagai pemuda pewaris peradaban, sudah seharusnya memiliki pandangan yang luas. Tidak seperti kebanyakan manusia, yang memandang batu adalah batu, dan pasir asalah pasir.


Oleh: Mahatir Ali Haniyah ( Staff Dept. Sosmas) 

WASPADA BERAMAL, BIJAKSANA MENILAI


Manusia di masa hidupnya tidak pernah tahu dimana tempatnya di akhirat kelak. Di sebaik baik tempatkah? Atau di seburuk-buruknya? Amalan dan perbuatan baiknya semasa hidupnya, belum tentu mengantarkannya ke surganya Allah swt kecuali jika ia memang mati dalam keadaan tersebut. Sebaliknya, amalan buruk seorang semasa hidupnya, tidak pasti membuat orang menuju neraka setelah kebangkitan kecuali ia memang mati dalam keadaan tersebut.

Satu peristiwa yang terjadi di perang Khaibar tahun 6 Hijriah membuktikan dua gambaran diatas.

Ibnu Ishaq menyebutkan kisah tersebut dalam sirohnya, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahwa ia berkata "Tatkala kami meninggalkan Khaibar bersama Rasulullah saw. Menuju Wadil Quro, kami singgah di sana sore hari menjelang terbenamnya matahari. Waktu itu Rasulullah saw ditemani seorang budaknya, yang dihadiahkan kepada beliau oleh Rifaah bin Zaid. Demi Allah, sesungguhnya budak itu tengah meletakkan barang bawaan Rasulullah saw ketika tiba-tiba melesat ke arahnya sebatang anak panah yang nyasar, lalu mengenainya sampai ia tewas. Kami pun berkata, 'Beruntunglah ia mendapat surga.'

Akan tetapi Rasulullah saw langsung membantah, 'Tidak, demi Allah Yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya selimutnya sekarang benar-benar sedang bernyala api atas dirinya. Selimut itu dia ambil secara curang dari harta fa’i yang diperoleh kaum muslim dari musuh di Perang Khaibar.’ Pernyataan Nabi saw. itu didengar oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw. lalu dia datangi mayat budak itu. Ia berkata ‘Ya Rasulullah saw, saya mendapatkan sepasang tali sandalku.’

Rasululllah saw. bersabda. ‘Kelak dalam neraka, akan dipotongkan untukmu yang serupa dengan sepasang tali sandalmu itu..’” Inilah gambaran pertama, yang menegaskan bahwa tidak selamanya seorang yang terlihat baik, ternyata mendapati dirinya dijanjikan dirinya masuk neraka oleh Rasulullah saw.

Di dalam riwayat yang lain, Ibnu Ishaq mengisahkan satu riwayat pembandingnya, yaitu tentang seorang budak lain bernama Al Aswad yang datang menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw, terangkanlah Islam kepadaku.” Rasulullah saw. pun menerangkan Islam padanya, lalu dia masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, dia berkata, “Ya Rasulullah saw, sesungguhnya saya ini seorang buruh yang bekerja pada pemilik (yahudi) kambing-kambing ini. Binatang-binatang ini merupakan amanat kepadaku. Apa yang harus saya lakukan terhadap mereka?” “Pukullah wajah binatang-binatang itu, sungguh mereka pasti akan pulang kepada pemiliknya.” Demikian jawab Rasulullah saw.

Mendengar saran Rasulullah saw, bangkitlah ia lalu mengambil batu kerikil sepenuh kedua telapak tangan dan dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu seraya berkata, “Pulanglah kamu kepada tuanmu. Demi Allah, aku tak sudi lagi menemanimu buat selama-lamanya.” Kambing-kambing itu pun pulang semuanya, seolah ada yang menggiring mereka hingga masuk ke dalam benteng.
Sesudah itu, majulah Al Aswad ini mendekati benteng Khaibar itu untuk ikut bertempur bersama kaum muslimin. Malang, dia tertimpa batu lalu gugur, padahal ia belum pernah shalat sama sekali. Jenazahnya lalu dibawa dan diletakkan di belakang Rasulullah saw. dengan ditutupi selimut yang dipakainya. Rasulullah saw berkenan melihatnya bersama beberapa orang sahabatnya. Tiba-tiba beliau berpaling dari mayat itu. Para sahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa anda berpaling darinya?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia sekarang sedang ditunggui dua orang istrinya dari bidadari.”

Syaikh Munir al Ghadhban-rahimahullah­-mengomentari kisah ini dalam Manhaj Harakinya, bahwa inilah dua gambaran yang kontras dari dua orang budak yang ada dalam barisan bala tentara pasukan Islam. Keduanya sangat unik dan mengagumkan. Yang seorang adalah budak Rasulullah saw. sendiri yang terbunuh di hadapan beliau, yang menurut lahiriahnya patut mendapat ucapan selamat karena akan masuk surga. Yang lain ialah seorang budah Yahudi, yang sama sekali belum pernah melakukan shalat dan terbunuh di depan pintu benteng dari mana ia berasal.

Walau demikian, selimut yang diambil secara curang oleh budak Rasulullah saw. itu cukup menjamin dia bakal terbakar oleh selimut itu sendiri dalam neraka dan menyebabkan dia tidak mendapat surga. Bahkan, bakti dan khidmatnya kepada Rasulullah saw. maupun keberadaannya selama ini dalam barisan kaum muslimin tidak bisa memberinya syafaat.

Sementara itu, sifat amanat dari budak Yahudi itu telah berubah menjadi karamah baginya, berupa pelemparan batu kerikil sepenuh dua telapak tangan yang dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu. Dia lalu masuk Islam, bersih dari ke-yahudian, dan dosa-dosanya selama ini menjadi musnah, berkat berpegang teguh pada amanat yang luhur tersebut. Semua itu tidak berlangsung lama, hanya sebentar. Budak Yahudi itu pun maju ke medan pertempuran dan langsung terbunuh. Datanglah kepadanya kedua istrinya dari bidadari dan dengan sikap yang genit digandengnya budak itu menuju surga.

Hai Para Pemuda Aktivis Da’wah Islam!

Hendaklah pelajaran tersebut senantiasa hidup dalam jiwa kita sekalian. Bahwa kesalahan sedikit apa pun bisa saja menjeremuskan ke dalam neraka walaupun hanya sehelai selimut yang diambil dari harta rampasan perang, yang tidak seberapa harganya sekalipun. Kesalahan yang sedikit itu bisa mengakibatkan tidak tertolongnya seorang oleh syafaat dari aktifitasnya dalam da’wah atau jerih payahnya dalam perjuangan maupun posisinya dalam struktur tandzhim.

Adapun istiqomah dalam menempuh manhaj Islam meski hanya sebentar dan sekalipun dilakukan oleh orang yang dulunya merupakan musuhmu yang paling gigih memusuhimu, itu sudah cukup menjamin bahwa orang itu mati syahid di jalan Allah, tanpa dihalangi oleh sikapnya yang dulu ketika dia memusuhi habis-habisan terhadap Islam, bahkan ia tidak perlu memiliki aset ketaatan ataupun ibadah. Niat yang jujur dan tekad yang kuat untuk istiqomah itu saja sudah cukup dalam timbangan Allah untuk menjamin dia masuk surga. Dalam hal ini, kita tidak perlu melihat fenomena lahiriah karena Allah Ta’ala tidak melihat rupa maupun amal, tetapi justru mempperhatikan hati kita.

Sekarang, sudah saatnya bagi pemimpin gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menilai pribadi-pribadi-khususnya para aktivis gerakan-dengan hanya melihat senioritas struktural sehingga prajurit ini dinaikkan ke tingkatan tertinggi tanpa mempedulikan tingkah laku moral maupun tarbiyahnya.
Sekarang, sudah saatnya juga bagi para pemuda gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menolak memberikan kepercayaan kepada seseorang yang baru masuk ke dalam barisan. Misalnya dengan tidak mempercayainya sama sekali karena belum melewati jenjang struktural yang ada dalam jamaah. Hal ini karena bisa jadi seorang naqib (pemimpin) justru tergolong ahli neraka, sedangkan anggota baru, yang masik tampak bekas perlawanannya terhadap Islam itu, justru tergolong ahli surga.

Sekarang, sudah saatnya bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam beramal dan bijak dalam menilai!

oleh: M.Saihul Basyir (Ketum Kammi Lipia)

Krisis Identitas



Pada kesempatan kali ini, kesempatan yang pas untuk mengutarakan keluh kesah dan kerisauan hati tentang banyaknya problematika pada ummat ini dimana banyak keadaan yang  membuat lisan ini selalu ingin beristighfar dan berdoa, serta raga yang ingin selalu bertindak dalam kebaikan menumpas problematika yang menggerogoti ummat.

Apabila kita berkaca dan terus berkaca akan keadaan kita sekarang khususnya di zaman yang serba maju ini, kita akan dapatkan banyak hal yang mana hal ini menjadi pukulan telak bagi kita selaku ummat muslim, bahwasannya kita sebagai mayoritas di negeri ini sedang mengalami split personality ( pemecahan kepribadian ) khusus dalam menyikapi dan memahami akan sejarah.

Dimana banyak diantara kaum muslimin di negeri ini yang nilai pemahaman akan kebangsaannya lebih menonjol dari pemahaman terhadap agamanya itu sendiri (nasionalisme) sehingga mereka secara tidak sadar selalu dibayang- bayangi oleh split personality ( pecah kepribadian), ummat Islam di Indonesia saat ini lebih tahu akan sejarah nenek moyang mereka yang katanya seorang pelaut itu ketimbang sejarah bagaimana Islam masuk ke bumi Pertiwi ini dan apa kontribusi nya bagi Indonesia.

Mereka lebih ingat akan kisah penjajahan Belanda yang notabene adalah sejarah kelam bangsa ini dan tidak mencoba menggali peran Islam dan umat muslim tanah air itu sendiri yang secara terang-terangan melakukan perlawanan demi mempertahankan negara Indonesia.

Ummat Islam negeri ini lebih di sibukkan akan histori kelam mereka, memikul beban masa lalu bangsanya sendiri padahal di sisi lain kita sebagai ummat Islam mempunyai sejarah yang sangat luar biasa, yaitu sejarah sang revolusioner Nabi Muhammad SAW yang keagungan sejarahnya tidak dapat dipungkiri lagi. 

Allah SWT secara jelas berfirman dalam Al-Qur'an dalam surat Yusuf : 111 

لقد كان في قصصهم عبرة لأولى الألبٰب، ماكان حديثا يفترى ولكن تصديق الذى بين يديه وهدى ورحمة لقوم يؤمنونلة [يوسف : ١١١ 
Artinya: "Sesungguhnya pada kisah kisah Meraka itu terdapat pengajaran bagi Mereka yg mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yg di buat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yg beriman. " (Yusuf [12]: 111)

وكلا نقص عليك من ادأنبآء الرسل ما نثبت له فؤادي, وجآءك في هذه الحق موعظة ودكرى للمؤمنين [هود : ١٢٠]
"Dan semua kisah dsri rasul-rasul kami telah kami ceritakan kepadamu, ialah kisah yang dengannya kami teguhkan hati mu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran bagi orang-orang yang beriman" ( Hidup[11]: 120)

Dari dua Ayat di atas kita bisa tarik kesimpulan bahwasanya di dalam sejarah sejarah ummat Islam terdahulu terdapat kebenaran dan pengajaran yang ditinggalkan untuk generasi selanjutnya dan dengannya mantap lah hati kita untuk senantiasa berjalan dan berjuang dalam agama Islam ini. 

Ikhwah sekalian mari kita intropeksi diri kita lagi apakah kita termasuk kategori pribadi yang menyepelekan sejarah agama kita sendiri atau tidak, dan jika ada dalam diri kita maka bersegeralah untuk mendalami sejarah agama Islam, mendalami pelaku-pelaku sejarahnya dengan terus bersinergi dengan Al-Qur'an dan as-sunah, dan mari kita bangun bangsa ini dengan pondasi yang kuat, pondasi yang didasarkan Al-Qur'an dan As-Sunah  serta dihiasi 
dengan jiwa nasionalisme yang lurus berteladankan siroh nabawiyah dan para sahabatnya.

Oleh : Ikhwani22 (Staf Sosmas Kammi Lipia) 

Kemuliaan perEMPUan



Islam memandang perempuan memiliki banyak keistimewaan. Bahkan, al-Quran telah banyak mengungkap kepada kita tentang kedudukan seorang perempuan. Rasulullah SAW ketika ditanya siapa orang yang paling berhak dihormati, beliau menjawab, "Ibumu! Ibumu! Ibumu! Kemudian ayahmu." Subhanallah, begitu mulianya seorang perempuan dalam Islam.

Perempuan yang mulia, bukan mereka yang hidup serba ada, bukan mereka yang selalu dipuja, bukan pula mereka yang mampu menaklukan banyak pria.

Julukan perempuan sejati adalah untuk mereka yang mampu menjaga kehormatannya, menghias diri dengan iman dan taqwa, dan mampu menjaga akidahnya.

Perempuan sejati adalah mereka yang berupaya mencerdaskan diri untuk perkara dunia dan akhiratnya.

Perempuan sejati adalah mereka yang mampu berfikir 2 kali. Berfikir untuk dirinya juga untuk keluarganya.

Dan hanya mereka perempuan sejatilah yang dapat disebut butir-butir berlian. Karena mereka mampu menjaga diri kapanpun dan dimanapun.

Begitulah banyak keistimewaan yang dimiliki perempuan sejati. Itulah mengapa mereka disebut perEMPUan. Artinya, mereka telah dipercaya memiliki berbagai keahlian. Pun seorang EMPU haruslah dihormati, dimuliakan, dibimbing dan disayangi.

Perempuan adalah perhiasan dunia, pun ia adalah tiang negara.

Maka dari itu, untuk kalian para perempuan. Jangan ragu untuk menyerukan aksi, karena kalian adalah pembentuk generasi. Jangan takut untuk menjadi berbeda, asal kalian bermanfaat untuk sesama.

Sungguh, kalian lebih dari itu perepuan sholihah.


Penulis : Anggun Sukma Faradila ( Sekretaris al-Fath)

Kekuatan Terdahsyat


Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tarmizi dan Ahmad, bahwa Allah SWT menciptakan bumi, planet kita bergetar, lalu menciptakan gunung dengan kekuatan yang diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat akhirnya kagum akan penciptaan gunung tersebut.

Malaikat bertanya, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?" Allah menjawab, "ada, yaitu besi."

Malaikat bertanya lagi, "Ya Allah adakah yang lebih kuat dari besi ?" Allah menjawab, "ada, yaitu api, besi dapat meleleh kalau dipanaskan."

Para malaikat bertanya lagi, "Adakah yang lebih kuat daripada api?" Allah menjawab, "ada, yaitu air, api akan padam kalau disiram air."

Malaikat bertanya lagi, "Ya Allah adakah penciptaan engkau yang lebih hebat daripada air?" Allah menjawab, "ada, yaitu angin, angin dapat membawa awam dalam perjalanan yang amat jauh, bahkan badai juga dapat menyebabkan ombak besar yang mampu merobohkan rumah-rumah di pantai."

Para malaikat bertanya lagi, "Ya Allah adakah yang lebih kuat dari semua ini?" Allah menjawab, "ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah, tangan kanannya memberi sedangkan tangan kirinya tidak mengetahui."

Ikhlas dalam bersedekah tanpa pamer dan dipuji ternyata lebih dahsyat daripada gunung, besi, air dan angin. Empat komponen itu sangat vital (penting) bagi bumi. Sebuah tatanan masyarakat akan kokoh dan maju jika setiap elemen masyarakat mempunyai rasa ikhlas yang kuatnya melebihi keempat elemen di atas.

Walau seseorang berbuat amal kebajikan hingga seluruh tenaga dan pikirannya terkuras, namun kalau tidak diiringi dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas, maka perbuatannya akan sia-sia belaka di mata Allah.

Ibadah yang tidak ikhlas akan membawa pelakunya ke jurang neraka, karena didasarkan rasa riya (pamrih) atau alasan selain karena Allah. Orang yang ikhlas dengan sendirinya akan bermanfat bagi lingkungannya. Ia selalu memberi tanpa meminta balasan. Ia mengulurkan bantuan tanpa diminta. Bahkan, perbuatan tidak menyenangkan hatinya pun ia balas dengan senyuman dan sapaan mulia.

Sikap ikhlas inilah yang memacu dan memicu lahirnya generasi unggulan yang siap bersaing di tatanan dunia global. Karena hanya pribadi yang ikhlaslah yang sebenarnya paling berhak untuk mendapatkan tanda jasa dan penghargaan dari masyarakat, tanpa dia meminta atau mengharapkan. 

Wallahu a'lam. 

Penulis : Afifah Nabila ( Staff Dept. Mekominfo KAMMI Lipia)

       




Berharap Kejayaan pada Pemuda Instan


“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”( Ir. Soekarno )

Pemuda adalah harapan setiap peradaban. Mereka adalah agen perubahan ( agent of change ) saat masyarakat kerkungkung oleh tirani kedzaliman dan kebodohan.  Mereka  juga merupakan motor penggerak jika masyarakat melakukan perubahan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Muhammad Al-fatih adalah salah satu contoh pemuda harapan pada masanya. Dengan iman, kecerdasan, dan semangat mudanyalah benteng Konstantinopel yang kokoh dapat di tembusnya. Ia adalah sebaik-baik pemuda, sebaik-baik pemimpin. Begitupun saat turki Utsmani runtuh. Ketika umat islam kehilangan pemimpin mereka, ketika umat islam terombang-ambing kehilangan pegangan, muncul tokoh-tokoh muda yang mencoba mengembalikan kejayaan umat islam. Sebut saja Hasan Al-Banna, salah satu tokoh yang menggaungkan kebangkitan umat melalui gerakannya yang biasa disebut Ikhwanul Muslimin. Saat mendirikan organisasi ini, ia masih berumur 20 tahunan.

Kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pun tidak luput dari peran pemuda. Jika bukan karena semangat dan kegigihan pemuda yang meminta Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI, tentu Indonesia semakin lama menjadi jajahan Jepang.

Gebrakan-gebrakan terus dilakukan para pemuda indonesia. Mulai dari peralihan orde lama ke orde baru, orde baru ke masa reformasi pada tahun 1998 hingga saat ini, pemuda memberikan andil yang sangat luar biasa. Bukan hanya berkorban waktu namun juga harta bahkan jiwa mereka. Teringat dengan 4 pemuda Trilogi yang gugur saat demonstrasi 1998. Mereka  adalah bukti nyata kepahlawanan seorang pemuda.

Meman secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. 
Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar pemuda memiliki potensi yang sangat besar dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Pemikiran kritisnya sangat didambakan masyarakat. Mereka memiliki karakter yang idealis dan energik. Idealis maksudnya para pemuda belum terkontaminasi oleh kepentingan pribadi dan juga tidak terbebani oleh berat sejarah ataupun beban posisi.

Namun, masihkah kita dapat mengandalkan pemuda hari ini ?

Melihat  semua kenyataan yang terjadi pada pemuda zaman serba instan ini saya mulai ragu.

Kenyataan pemuda sekarang jauh berbeda dengan pemuda zaman Soeharto dulu. Banyak pemuda sekarang yang terserang virus instan. Mereka ingin melakukan semuanya secara cepat, membuat segala sesuatu dengan sinngkat, dan untuk meraih segala sesuatu sesegera mungkin. Be fast. More fast and more fast.

Beberapa contoh rilnya adalah pemuda instan adalah mereka yang duduk di bagnku sekolah ataupun kuliah yang hanya mengejar nilai atau ijazah sering berlaku curang. Mencontek keetika ujian, menyuap pihak sekolah, membuat skripsi dengan cara membeli atau menyuruh orang lain membuatnya, kuliah fiktif plagiat makalah atau lain sebagainya. Mereka ingin berhasil namun malas berusaha, malas menikmati proses, malas berlelah-lelah belajar.

Contoh lain dari kepribadian instan terlihat saat pelatihan-pelatihan organisasi. Sebagai seoranag peserta sudah seharusnya membaca SOP ( Standard Operating Procedure ) yang merupakan kumpulan peraturan yanng dibuat untuk mempermudah pekerjaannya. Tapi tidak sedikit dari mereka yang bertanya dari A sampai Z yang sebenarnya tercantum di dalam SOP. ketika di slidiki ternyata banyak dari mereka yang tidak membacanya dengan alasan mau yang instan.

Dari segi makananpun mereka memilih makanan- makanan instan. Mie instan, kornet ataupun bumbu-bumbu instan untuk memudahkan mereka memasak yanng sesungguhnya itu adalah makan yang tidak sehat.

Belum lagi saat ini pemuda sangat dimanjakan dengan jasa-jasa online yang membuat mereka semakin malas dan ingin semuanya serba instan.

Mungkin karena mudah dan menghemat waktu dan biaya, bangsa kita terbiasa dengan pola-pola instan seperti itu. Para pemuda semakin pelit menggunnakan nalarnya untuk berfikir, dan tidak sedikit dari mereka yanng kikir dalam mengugunakan energinya untuk membaca, menulis, berdikusi ataupun menganalisis.

Bagaimana nasib bangsa ini nantinya ? Akankan kita masih bisa berharap para pemuda- pemuda instan ini ? Akankah Indonesia jaya melalui tangan-tangan mereka ?

Jawabannya tentu saja tidak. Jika pemuda hari ini masih belum dapat disembuhkan dari virus instan. Meraka harus bersabar dengan proses yang haarus dilalui dan menikmatinya. Karena tidak ada kejayaan yang instan. Seperti kata pepatah “Rome wasn’t built in a day”

Semoga kita bukan golongan pemuda instan. Karena sadar atau tidak mau atau tidak mau, nasib bangsa tergantung oleh kita, para pemuda.


Penulis : Atika Tazkiyah (Staff Dept Kaderisasi KAMMI LIPIA)

Serial Keteladanan Ibrahim: Menghamba Dengan Akal (I)


Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui(QS. Al An’aam, 6:83)

Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam.. siapa tak kenal sosok satu ini, sosok bergelar Abul Anbiyaa’, ayahnya para Nabi. Yang lewat jalur darahnya, lahir para nabi dan rasul perwakilan Tuhan yang membawa risalah ketauhidan dan keesaan Allah swt. Yang lewat jalur jejak kakinya pula, Allah swt gariskan tiap jengkal bekas tanah yang dijejakinya menjadi lintasan jalur yang juga dilewati para keturunannya. Ia juga yang membangun ulang bangunan paling tua di atas muka bumi Ka’bah, bersama anaknya Ismail as. Ia juga yang rela mengorbankan jiwa dan seluruh raganya untuk mentaati aturan main Tuhannya.

Keteladanannya tidak hanya dikenal bagi umat islam, namun juga bagi umat yahudi dan  nasrani. Karena dari dirinyalah DNA ketiga umat ini berasal, dari keturunan dan ajarannya. Maka pantaslah gelar Abul Anbiyaa’ tersebut beliau sandang, dan tidak akan ada lagi lelaki yang hidup di kemudian hari yang bisa menandingi keteladanannya. Ketundukan dan kepasrahan total untuk mejalankan perintah Tuhan ditambah rasionalitas akal yang murni menjadi sumber keteledanannya, diabadikan dalam Al Quran dalam bentuk kisah-kisah.

Mari kita tengok, satu potongan kisah yang jika kita maknai dengan seksama akan kita dapati satu pelajaran berharga untuk kehidupan kita, sebagai hamba Allah yang berakal. Potongan kisah tersebut Allah swt. sampaikan dalam Al Qur’an surat Asy – Syu’aara ayat 69-77:

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam”. (QS. Asy-Syu’araa, 26:69-77)

Dalam potongan kisah percakapan antara Nabiyullah Ibrahim as. dengan kaumnya ini, Allah swt. mengabadikan bagaimana cara Nabi Ibrahim berdakwah di tengah-tengah kaumnya, ketika ia mengajak kaumnya untuk menyembah Allah swt. dengan menggunakan dialog sederhana namun memiliki nas yang mendalam.

Jika kita memperhatikan potongan ayat diatas, setidaknya ada dua bagian penting yang bisa kita renungi untuk jadi bahan pelajaran berharga, pertama; bagian dimana Nabi Ibrahim as. bertanya dengan kritis tentang hakikat berhala yang kaumnya sembah dan jawaban kaumnya. Kedua; bagian dimana Ia meruntuhkan argumentasi kaumnya dengan jawaban yang sangat cerdas.

Untuk bagian pertama; yakni dari ayat 69-71 Allah swt menunjukan kelugasan Nabi Ibrahim as ketika bertanya kepada kaumnya, "Apakah yang kamu sembah?”. Ia bertanya kepada kaumnya tentang bentuk sesembahan mereka tentu bukan karena ia tidak melihatnya. Ia melihat bentuk sesembahan mereka, dan tahu apa itu, yaitu patung dan berhala. Ia bertanya kepada kaumnya tentang bentuk sesembahan mereka karena ingin membangun percakapannya dengan argumentasi yang lengkap. Ia tidak ingin langsung menyimpulkan hanya dari apa yang ia lihat, ia ingin benar-benar memastikan bahwa apa yang ia lihat dari perilaku kaumnya menyembah berhala adalah perilaku mereka yang didasari dengan kesadaran penuh.

Dan jawaban kaumnya pun membenarkan apa yang ia lihat, bahkan lebih dari sekedar menjawab "Kami menyembah berhala-berhala”, mereka menambahkan “dan kami senantiasa tekun menyembahnya" seakan mereka ingin menunjukkan keyakinan dan kebanggaan penuh atas kebenaran yang mereka sembah, padahal hakikatnya adalah sebaliknya. Ditambah keteguhan mereka akan menyembah berhala-berhala tersebut, orang biasa yang tidak memiliki keimanan kepada yang gaib, pasti akan percaya dan membenarkan jawaban tersebut.

Berbeda dengan reaksi berikutnya dari Nabi Ibrahim as. atas jawaban kaumnya, yang Allah swt. kisahkan di bagian  kedua; ayat 72-79, dimana ia menolak jawaban kaumnya tersebut dengan memberikan pertanyaan susulan "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?”

Ia tahu bahwa berhala ini tidaklah mampu mendengar dan menjawab doa-doa kaumnya, apalagi memberi mereka manfaat dan menghindarkan mereka dari marabahaya. Ia bertanya dengan nash seperti ini ia ingin memberi isyarat akan kedangkalan logika berfikir kaumnya, dengan menafikan kemampuan ketuhanan yang dipercaya dimiliki oleh berhala-berhala tersebut, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan utama kaumnya berupa didengarnya dan dipenuhinya doa mereka dengan diberikannya kepada mereka sebuah manfaat atau dihindarkannya mereka dari marabahaya dalam pertanyaannya ini.

Dan seharusnya, jika kaumnya menalar pertanyaan berikutnya dengan akal yang jernih dan hati yang bersih, pastilah mereka akan langsung meninggalkan berhala-berhala tersebut, dan kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa. Karena mereka tahu jawaban dari pertanyaan Ibrahim adalah tidak. Mereka tahu bahwa berhala-berhala tersebut tidak bisa mendengar dan menjawab doa mereka. Mereka tahu patung-patung itu tidak mampu memberikan manfaat apalagi madharat.

Namun, karena kesombongan dan taklid buta telah menguasai hati mereka, sehingga jawaban mereka adalah “sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Mereka berusaha melemparkannya kepada nenek moyang mereka yang sudah meninggal, padahal hakikatnya mereka memojokkan diri mereka sendiri ketika melontarkan jawaban ini. Mereka membuka celah pada diri mereka sendiri, mereka tidak tahu bahwa mereka berhadapan dengan lelaki yang memiliki akal dan hujjah paling rasional saat itu. Mereka meruntuhkan dalil menyembahnya mereka kepada berhala mereka sendiri tanpa mereka sadari.

Mereka tidak akan bisa mengelak lagi setelah jawaban ini. Ya, karena ketajaman lidah Nabi Ibrahim as. yang berikutnya kembali bertanya. "Maka apakah kamu telah memperhatikan (melihat) apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” atau dalam bahasa yang lebih sederhana, “Memangnya kalian melihat bagaimana nenek moyang kalian beribadah?”.

Dengan pertanyaan pamungkas ini, runtuhlah seluruh argumen kaum penyembah berhala ini. Mereka tidak mampu membalas balik argumen Nabi Ibrahim as. karena mereka memang tidak pernah melihat secara langsung bagaimana sebenarnya ritual peribadatan orang-orang yang hidup sebelum mereka. Mereka diam seribu bahasa dan takluk di hadapan kuatnya hujjah Nabi Ibrahim as. Selama ini mereka hanya mengandalkan keyakinanan mereka dari apa yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka tanpa pernah mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya. Mereka bukannya tidak bisa untuk mencari tahu hal tesebut, mereka hanya memang tidak berkemauan untuk mencari tahu dan merasa cukup dengan apa yang mereka yakini berasal  dari nenek moyang mereka.

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al Maidah, 5:104)

Itulah sedikit potongan dari episode perjuangan dakwah Nabiyullah Ibrahim as. kepada kaumnya. Yang menunjukkan kepada kita betapa kuatnya hujjah yang ada pada ucapan Nabi Ibrahim as. Argumentasi yang ia pakai dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran tidak melukai perasaan orang yang didakwahi (Mad’uw), sebaliknya ia memilih kata dan diksi yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran.

Maka selayaknya orang-orang beriman mengambil pelajaran berharga dari kisah ini dan meneladaninya, karena jika bukan dari para nabi dan rasul kita mengambil teladan, kepada siapa lagi kita mengambilnya? Dan itulah sebaik-baik cara kita meyakini kebenaran firman Allah swt.

Wallahu A’lamu Bis Showaab.


Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI LIPIA)

Deretan Tokoh Ikhwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Deretan Tokoh Ihkwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Pendahuluan

Deretan nama ini merupakan sekelumit informasi yang coba penulis sajikan dengan seringkas-ringkasnya. Hal ini karena memang tujuan utamanya adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca terkait tokoh ikhwan yang memiliki andil dalam gerakan modernisasi pendidikan di Arab saudi.

Untuk sumber sendiri, penulis ambil dari beberapa situs berbahasa arab. Oleh karena itu ada sebagian yang penulis terjemehkan dari bahasa aslinya, dan ada pula yang penulis tambahi berdasarkan informasi yang penulis ketahui tentang tokoh terkait.

Berikut deretan tokoh ikhwan dalam dunia pendidikan arab saudi:

Al-Ikhwani Abdul Hamis Kasyk

Dari sentuhan dakwahnya, banyak kaum muslimin dunia yang mengecap pendidikan ala ikhwan, lebih khusus muslimin negara teluk. Pengaruhnya juga tersebar hampir disemua sektor pendidikan Arab Saudi.








Al-Ikhwani Husain kamaluddin bin Ahmad al Husaini (1913-1987)

Beliau adalah anggota biro khusus ikhwan. Sekaligus kandidat mursyid ‘am keempat al-Ikhwan al-Muslimun setelah Umar at-Tilmitsani. Namun Hamid Abu Nasr yang keluar sebagai mursyid ‘am keempat.

Husain Kamaluddin beberapa kali di penjara pada masa Raja Faruq dan Jamaludin Abdun Nasr. Pasca keluar dari penjara, beliau ke Arab Saudi dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah. Beliau terpilih sebagai anggota pada proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Kemudian dipilih menjadi pengajar sekaligus musyrif pada pusat studi ilmu falak. Beliau tetap pada posisinya hingga dua tahun menjelang wafatnya.


Al-Ikhwani Dr. Abdurrahman al-Bar

Abdurrahman al-Bar diperbantukan sebagai pembantu pengajar di kuliyah syariah dan ushuluddin pada Universitas Ibnu Su’ud cabang Abha sejak tahun 1996 sampai 2002. Beliau merupakan pembimbing beberapa tesis dan desertasi, sekaligus penguji di Universitas Ibnu Su’ud.





Al- Ikhwani Muhammad Hilal

Muhammad Hilal perna menjabat sebagai mursyid setelah wafatnya Ma’mun al-Hudhaibi hingga Muhammad Mahdi akif menjabatnya. Muhammad Hilal diajukan ke pengadilan pada tahun 1965.

Pasca keluar dari penjara pada tahun 1970, ia lantas pergi menuju Saudi dan bekerja sebagai dewan penasihat hukum di Universitas Muhammad bin Su’ud, Riyadh selama dua tahun.





 Al-Ikhwani Lasyin Abu Syanab

Lasyin Abu Syanab merupakan anggota maktab al-Irsyad Jama’atul Ikhwan. Ia dipenjara setelah tahun 1948.  Pada tahun 1960, ia menuju Kuwait dan bekerja di sana selama tiga tahun. Dari Kuwait ia kemudian menuju Su’udiyah dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud selama empat tahun.

Abu Syanab berkata, “Untuk Su’udiyah, bahwasanya kepergianku ke Kuwait, Su’udiyah, Emirat, Qatar dan Yaman merupakan tugas dari Jama’ah. Aku telah mengunjungi Kuwait sebelum ia berkembang seperti saat ini.  Mayarakatnya merupakan masyarakat yang menghormati para tamu, apalagi sesama saudara seagama. Oleh karena itu dakwah disana merupakan dakwah yang elegan, banyak diterima, sehingga banyak dari para petinggi Kuwait dan penduduknya yang bergabung dengan organisasi yang penuh berkah ini.”

Al-Ikhwani Fathi Ahmad Hasan al-Khuliy

Pada awalnya, Fathi al-Khuli merupakan pengajar pada Ma’had Mu’alimin di Riyadh. Ia kemudian bertolak ke Makkah setelah kementerian pendidikan Arab Saudi memintanya untuk mengajar pada Kuliyah Tarbiyah dan Syariah di Makkah al-Mukarramah pada tahun 1383 Hijriyah.
Ia kemudian dipilih sebagai kepala penerangan urusan keislaman di Jaddah sekaligus pengawas pada beberapa tempat tahfid Al-Qur'an di sana. Ia sekaligus direktur pertama pada Sekolah Mu’alimin Jeddah.

Setelah pensiun al-Khulli lantas mengkonsentrasikan dirinya untuk mengkontrol Madaris at-Taisir yang ia dirikan pada tahun 1988. Ia juga tercatat ebagai orang pertama yang mendirikan madrasah khusus di Jaddah setelah empat puluh tahun. Madrasah ini telah mengeluarkan ratusan alumni dari pemuda-pemuda Saudi dan Arab.

Al-Ikhwani Muhammad Muhammad ar-Râwi

Ar-Râwi merupakan putra dari saudara perempuan Muhammad Farahgli, seorang qiyadah di Jama’atul Ikhwan. ia pindah ke Saudi setelah Universitas Muhammad bin Su’ud memintanya untuk membantu pengajaran di sana. Ia mengajar di Universitas tersebut selama dua puluh lima tahun.  Beliau merupakan direktur qismu at-tafsir pada Universitas Muhammad bin Su’ud di Ryadl.


Al-Ikhwani Muhammad Mahmud as-Shawwaf (1915-1992)

As-Shawaf menetap di Makkah sejak tahun 1962 sebagai pengajar pada kuliyat Syari’ah, kemudian menjadi dewan syuro pada kementerian pendidikan Arab Saudi.









 Al-Ikhwani Abdullah Nashih ‘Ulwan

Abdullah ‘Ulwan merupakan salah satu orang penting dalam penyebaran dakwah Ikhwan di Tanah Hijaz. Ia meninggalkan Suria dan menuju Makkah setelah ujian berat yang dihadapi Jama’ah Ikwan di sana. Ia berhasil keluar dari Halb dan tinggal di Urdun beberapa bulan belum akhirnya menuju Saudi Arabiyah.

Ia berdakwah dan bergabung dalam berbagai seminar dan perkemahan pelajar. Ia juga seorang penulis produktif di berbagai majalah keislaman dan pendidikan. Ia juga aktif dalam penyiaran Al-Qur'an di Arab Saudi. Di samping itu, Abdullah Ulwan juga seorang pengajar pada Qism Dirasat Islamiyah di Universitas Abdul Aziz di Jeddah. Ia mengaram sebuah buku monumental berjudul Tarbiyatul Aulad.

Al-Ikhwani Muhammad Amin al-Misri (1914-1977)
Muhammad Amin merupakan lulusan dari kuliyah Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo. Selama menjadi mahasiswa al-Azhar, ia sangat aktif dalam menghadiri ceramah-ceramah serta muhadarah yang disampaikan oleh Hasan al-Banna.

Ia lantas menuju Saudi dan turut aktif dalam mendirikan Kuliah Pascasarjana pada kuliah Syariah di Makkah al-Mukarramah. Ia juga aktif berdakwah lewat radio dan televisi Saudi. Beliau juga salah satu pendiri pascasarjana di Universitas Malik Abdul Aziz.
Sebelum wafatnya, ia diminta untuk menjadi direktur pascasarjana Universitas Islam Madinah serta sangat berpengaruh dalam penentuan manhajnya.

Al-Ikhwani Said Hawa (1935-1989)

Said Hawa menempuh pendidikan di Ma’hadul Ilmi di Ahsa’ selama dua tahun. setelah itu ia melanjutkan studinya di Madinah an-Nabawiyah selama 3 tahun. Ia merupakan kepanjangan tangan Jama’atul ikhwan di Saudi untuk memperluas dakwah Ikhwan di sana.

Ia merupakan tokoh ikhwan yang ahli dalam tasawuf. Mengarang beberapa kitab. Ia juga perna dipenjara selama lima tahun di Suriah.





Al-Ikhwani Abdullah Azzam

Abdullah Azzam adalah tokoh sentral Jihad Afghan. Selama menjadi mahasiswa di Al-Azhar, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca kitab-kitab dakwah terkhusus buku-buku Hasan al-Banna, Abdul Qadir Audah, Sayid Qutb dan Muhammad Qutb.

Ia berangkat ke Saudi pada tahun 1981 dan menjadi pengajar di universitas Malik Abdul Aziz di Jaddah. Ia Syahid di Afganistan setelah mobil yang dikendarainya usai shalat subuh dibom oleh Soviet.




Al-Ikhwani Muhammad Abdul Hamid Ahmad (1911-1992)

Ia dipenjara pada tahun 1960-1965 oleh rezim Mesir saat itu. Setelah lima tahun mendekam di penjara, ia kemudian berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah ibadah haji, Abdul Hamid tidak lantas kembali ke Mesir dan memilih untuk tinggal di Saudi dan bekerja sebagai muwajih pada ta’lim lil banat di Makkah al-Mukarramah.

Setelah dua tahun, ia dipindah tugaskan ke kementerian pendidikan ditunjuk sebagai direktur pada madaris manarat di Jeddah sekaligus sebagai pengajar di sana selama dua tahun. setelah itu ia dipindah tugaskan ke kementerian urusan haji. Di sini ia juga mendapat tugas untuk mengurusi majalah Islam yang diterbitkan oleh kementerian urusan haji Arab Saudi.

Kemudian ia bekerja sebagai pengajar di Universitas Malik Abdul Aziz pada qism dakwah yang dipimpin oleh As-Syeikh Muhammad al-Ghozali pada kuliyat Syariah. Setelah itu ia menjadi pengajar di Universitas Ummul Qura’, Makkah al-Mukarramah hingga penghujung 1985.
Abdul Aqil berkata tentangnya: “Sungguh telah terbina dari sentuhan tangannya generasi muda di Iraq, Mesir, Urdun, dan Saudi Arabiyah. Generasi tersebut merupakan kilatan cahaya kebangkitan Islam yang penuh berkah di kawasan tersebut.”

Muhammad Abdul Hamid berkata tentang dirinya sendiri: “ Memoarku bersama Asy-Syahid al-Imam Hasan al-Banna –semoga Allah merahmatinya- sungguh semerbak. Beliau merupkan tanda dari tanda-tanda Allah.... aku telah membaiatnya agar aku berkerja hanya untuk Islam, sebagai da’i kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitabillah dan sunnah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di Mesir, Iraq, Urdun, dan Su’udiyah...”

Al-Ikhwani Muhammad al-Ghozali as-Saqa

Ia merupakan intelektual Mesir yang monumental. Keluar masuk penjara tiga kali pada tahun 1369, 1385, dan 1391 Hijriyah.

Al-Ghozali diminta oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menjadi penajar di Universitas Ummul Qura, Makkah. Dari sentuhan lembutnya, keluar benih-benih aktivis Ikhwan dengan jumlah yang sangat besar di Tanah Hijaz dan sekitarnya.Ia sangat produktif dalam menulis dan telah mengaram banyak karya.




Al-Ikhwani Abdul Fatah Abu Godah (1917-1997)

Abdul Fatah menempuh pendidikan di Kuliyatul Syariah pada Universitas Muhammad bin Saud, ia lantas melanjutkan pendidikannya di Universitas Malik Su’ud, Arab Saudi.

Ia merupakan peletak metode pembelajaran pada sekolah tinggi kehakiman di Riyad, Universitas Muhammad bin Su’ud, dan juga pada program pascasarjana Universitas Malik Su’ud.

Beliau merupakan orang yang disejajarkan dengan Asy-Syeikh Manna’ al-Qathan sebagai pembesar dakwah sekaligus intelektual pergerakan dan keilmuaan di Riyad, Arab Saudi.

Al-Ikhwani Sayid Sabiq

Sayid Sabiq selain sebagai ulama, merupakan mujahid dalam barisan Ikhwan melawan penjajah dan Isreal. Sama seperti ulama Ikhwan lainnya, ia pun perna mendekam dalam penjara. Meski demikian, semangatnya yang tinggi dalam menyeberkan Islam tidak surut.

Di penjara ia membuka kajian Fikih Sunnah, kitab yang ia karang, dari mulai awal bab sampai akhir tanpa melihat kitab tersebut kerena memang beliau sedang dalam penjarah.

Pada akhir hidupnya, beliau pindah ke Makkah dan mengajar di Universitas Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah.


 Al-Ikhwani Manna’ Al-Qathan

Manna’ bin Khalil al-Qathan meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1953. Ia bertolak menuju Kerajaan Arab Saudi. Tujuannya kesana adalah untuk mengajar di beberapa sekolah tinggi sampai tahun 1908.

Ia dikontrak sebagai pengajar di fakultas Syariah di Riyadl, kemudian pada fakultas Bahasa Arab. Ia ditunjuk sebagai direktur sekolah tinggi kehakiman, kemudian direktur pascasarjana di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah.

Beliau juga bertindak sebagai pengawas pada dewan penguji thesis dan dan disertasi di beberapa universitas semisal universitas Muhammad bin Su’ud, Universitas Ummul Qura, dan juga pada Universitas Islam Madinah.

Kemampuannya tersebut, membuatnya menjadi salah satu intelektual terbesar yang dimiliki oleh Jama’atul Ikhwan di Arab Saudi.


Al-Ikhwani Muhammad Qutb

Muhammad Qutb merupakan adik kandung dari Sayid Qutb, pengarang Tafsir dengan genre yang belum ada sebelumnya; tafsir pergerakan.

Ia bekerja di Universitas Ummul Qura’ dan telah membimbing banyak tesis dan disertasi. Beberapa tesis dan disertasi yang perna dibimbingnya antara lain; Sekulerisme; pertumbuhan, perkembangan, serta dampaknya pada kehidupan islami kontempore. Tesis yang ditulis oleh Abdurrahman al-Khuwali;  Dhohiratul irjâ; fi al-fikr al-islamy juga ditulis oleh Abdurraman al-Khuwali sebagai disertasi; al-Wala’ wa al-bara’ fil al-Islam yang ditulis oleh Muhammad Sa’id al-Qahtanil; ahammiyatu al-jihad fi nasyri ad-da’wah al-islamiyah wa ar-raddu ‘ala ath-thowa’ifi ad-dhallah fihi adalah sebuah disertasi oleh Ali bin Nafik al-‘Ulyani; al-Inkhirafaat al-‘aqdiya wa al-ilmiyah fi al-qarnaini ast-tsalis asyar wa ar-rabi’ asyar al-hijriyaini wa atsaruha fi hayati al-ummat oleh Ali bin Bukhait bin Abdullah az-Zahrani sebagai thesis S2-nya.

Penutup

Di samping deretan nama tersebut, masih banyak sekali nama-nama yang belum penulis sebutkan karena banyak hal. Di antaranya adalah keterbatasan sumber dan kurangnya referensi. Oleh karena itu, penulis menunggu saran dari para pembaca untuk melengkapi informasi ini ataupun untuk membetulkan jikalau ada keselahan penyampaian.



Oleh: Hilal Ardiansyah Putra