Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Deretan Tokoh Ikhwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Deretan Tokoh Ihkwan dalam Dunia Pendidikan Arab Saudi


Pendahuluan

Deretan nama ini merupakan sekelumit informasi yang coba penulis sajikan dengan seringkas-ringkasnya. Hal ini karena memang tujuan utamanya adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca terkait tokoh ikhwan yang memiliki andil dalam gerakan modernisasi pendidikan di Arab saudi.

Untuk sumber sendiri, penulis ambil dari beberapa situs berbahasa arab. Oleh karena itu ada sebagian yang penulis terjemehkan dari bahasa aslinya, dan ada pula yang penulis tambahi berdasarkan informasi yang penulis ketahui tentang tokoh terkait.

Berikut deretan tokoh ikhwan dalam dunia pendidikan arab saudi:

Al-Ikhwani Abdul Hamis Kasyk

Dari sentuhan dakwahnya, banyak kaum muslimin dunia yang mengecap pendidikan ala ikhwan, lebih khusus muslimin negara teluk. Pengaruhnya juga tersebar hampir disemua sektor pendidikan Arab Saudi.








Al-Ikhwani Husain kamaluddin bin Ahmad al Husaini (1913-1987)

Beliau adalah anggota biro khusus ikhwan. Sekaligus kandidat mursyid ‘am keempat al-Ikhwan al-Muslimun setelah Umar at-Tilmitsani. Namun Hamid Abu Nasr yang keluar sebagai mursyid ‘am keempat.

Husain Kamaluddin beberapa kali di penjara pada masa Raja Faruq dan Jamaludin Abdun Nasr. Pasca keluar dari penjara, beliau ke Arab Saudi dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah. Beliau terpilih sebagai anggota pada proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Kemudian dipilih menjadi pengajar sekaligus musyrif pada pusat studi ilmu falak. Beliau tetap pada posisinya hingga dua tahun menjelang wafatnya.


Al-Ikhwani Dr. Abdurrahman al-Bar

Abdurrahman al-Bar diperbantukan sebagai pembantu pengajar di kuliyah syariah dan ushuluddin pada Universitas Ibnu Su’ud cabang Abha sejak tahun 1996 sampai 2002. Beliau merupakan pembimbing beberapa tesis dan desertasi, sekaligus penguji di Universitas Ibnu Su’ud.





Al- Ikhwani Muhammad Hilal

Muhammad Hilal perna menjabat sebagai mursyid setelah wafatnya Ma’mun al-Hudhaibi hingga Muhammad Mahdi akif menjabatnya. Muhammad Hilal diajukan ke pengadilan pada tahun 1965.

Pasca keluar dari penjara pada tahun 1970, ia lantas pergi menuju Saudi dan bekerja sebagai dewan penasihat hukum di Universitas Muhammad bin Su’ud, Riyadh selama dua tahun.





 Al-Ikhwani Lasyin Abu Syanab

Lasyin Abu Syanab merupakan anggota maktab al-Irsyad Jama’atul Ikhwan. Ia dipenjara setelah tahun 1948.  Pada tahun 1960, ia menuju Kuwait dan bekerja di sana selama tiga tahun. Dari Kuwait ia kemudian menuju Su’udiyah dan bekerja di Universitas Muhammad bin Su’ud selama empat tahun.

Abu Syanab berkata, “Untuk Su’udiyah, bahwasanya kepergianku ke Kuwait, Su’udiyah, Emirat, Qatar dan Yaman merupakan tugas dari Jama’ah. Aku telah mengunjungi Kuwait sebelum ia berkembang seperti saat ini.  Mayarakatnya merupakan masyarakat yang menghormati para tamu, apalagi sesama saudara seagama. Oleh karena itu dakwah disana merupakan dakwah yang elegan, banyak diterima, sehingga banyak dari para petinggi Kuwait dan penduduknya yang bergabung dengan organisasi yang penuh berkah ini.”

Al-Ikhwani Fathi Ahmad Hasan al-Khuliy

Pada awalnya, Fathi al-Khuli merupakan pengajar pada Ma’had Mu’alimin di Riyadh. Ia kemudian bertolak ke Makkah setelah kementerian pendidikan Arab Saudi memintanya untuk mengajar pada Kuliyah Tarbiyah dan Syariah di Makkah al-Mukarramah pada tahun 1383 Hijriyah.
Ia kemudian dipilih sebagai kepala penerangan urusan keislaman di Jaddah sekaligus pengawas pada beberapa tempat tahfid Al-Qur'an di sana. Ia sekaligus direktur pertama pada Sekolah Mu’alimin Jeddah.

Setelah pensiun al-Khulli lantas mengkonsentrasikan dirinya untuk mengkontrol Madaris at-Taisir yang ia dirikan pada tahun 1988. Ia juga tercatat ebagai orang pertama yang mendirikan madrasah khusus di Jaddah setelah empat puluh tahun. Madrasah ini telah mengeluarkan ratusan alumni dari pemuda-pemuda Saudi dan Arab.

Al-Ikhwani Muhammad Muhammad ar-Râwi

Ar-Râwi merupakan putra dari saudara perempuan Muhammad Farahgli, seorang qiyadah di Jama’atul Ikhwan. ia pindah ke Saudi setelah Universitas Muhammad bin Su’ud memintanya untuk membantu pengajaran di sana. Ia mengajar di Universitas tersebut selama dua puluh lima tahun.  Beliau merupakan direktur qismu at-tafsir pada Universitas Muhammad bin Su’ud di Ryadl.


Al-Ikhwani Muhammad Mahmud as-Shawwaf (1915-1992)

As-Shawaf menetap di Makkah sejak tahun 1962 sebagai pengajar pada kuliyat Syari’ah, kemudian menjadi dewan syuro pada kementerian pendidikan Arab Saudi.









 Al-Ikhwani Abdullah Nashih ‘Ulwan

Abdullah ‘Ulwan merupakan salah satu orang penting dalam penyebaran dakwah Ikhwan di Tanah Hijaz. Ia meninggalkan Suria dan menuju Makkah setelah ujian berat yang dihadapi Jama’ah Ikwan di sana. Ia berhasil keluar dari Halb dan tinggal di Urdun beberapa bulan belum akhirnya menuju Saudi Arabiyah.

Ia berdakwah dan bergabung dalam berbagai seminar dan perkemahan pelajar. Ia juga seorang penulis produktif di berbagai majalah keislaman dan pendidikan. Ia juga aktif dalam penyiaran Al-Qur'an di Arab Saudi. Di samping itu, Abdullah Ulwan juga seorang pengajar pada Qism Dirasat Islamiyah di Universitas Abdul Aziz di Jeddah. Ia mengaram sebuah buku monumental berjudul Tarbiyatul Aulad.

Al-Ikhwani Muhammad Amin al-Misri (1914-1977)
Muhammad Amin merupakan lulusan dari kuliyah Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo. Selama menjadi mahasiswa al-Azhar, ia sangat aktif dalam menghadiri ceramah-ceramah serta muhadarah yang disampaikan oleh Hasan al-Banna.

Ia lantas menuju Saudi dan turut aktif dalam mendirikan Kuliah Pascasarjana pada kuliah Syariah di Makkah al-Mukarramah. Ia juga aktif berdakwah lewat radio dan televisi Saudi. Beliau juga salah satu pendiri pascasarjana di Universitas Malik Abdul Aziz.
Sebelum wafatnya, ia diminta untuk menjadi direktur pascasarjana Universitas Islam Madinah serta sangat berpengaruh dalam penentuan manhajnya.

Al-Ikhwani Said Hawa (1935-1989)

Said Hawa menempuh pendidikan di Ma’hadul Ilmi di Ahsa’ selama dua tahun. setelah itu ia melanjutkan studinya di Madinah an-Nabawiyah selama 3 tahun. Ia merupakan kepanjangan tangan Jama’atul ikhwan di Saudi untuk memperluas dakwah Ikhwan di sana.

Ia merupakan tokoh ikhwan yang ahli dalam tasawuf. Mengarang beberapa kitab. Ia juga perna dipenjara selama lima tahun di Suriah.





Al-Ikhwani Abdullah Azzam

Abdullah Azzam adalah tokoh sentral Jihad Afghan. Selama menjadi mahasiswa di Al-Azhar, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca kitab-kitab dakwah terkhusus buku-buku Hasan al-Banna, Abdul Qadir Audah, Sayid Qutb dan Muhammad Qutb.

Ia berangkat ke Saudi pada tahun 1981 dan menjadi pengajar di universitas Malik Abdul Aziz di Jaddah. Ia Syahid di Afganistan setelah mobil yang dikendarainya usai shalat subuh dibom oleh Soviet.




Al-Ikhwani Muhammad Abdul Hamid Ahmad (1911-1992)

Ia dipenjara pada tahun 1960-1965 oleh rezim Mesir saat itu. Setelah lima tahun mendekam di penjara, ia kemudian berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah ibadah haji, Abdul Hamid tidak lantas kembali ke Mesir dan memilih untuk tinggal di Saudi dan bekerja sebagai muwajih pada ta’lim lil banat di Makkah al-Mukarramah.

Setelah dua tahun, ia dipindah tugaskan ke kementerian pendidikan ditunjuk sebagai direktur pada madaris manarat di Jeddah sekaligus sebagai pengajar di sana selama dua tahun. setelah itu ia dipindah tugaskan ke kementerian urusan haji. Di sini ia juga mendapat tugas untuk mengurusi majalah Islam yang diterbitkan oleh kementerian urusan haji Arab Saudi.

Kemudian ia bekerja sebagai pengajar di Universitas Malik Abdul Aziz pada qism dakwah yang dipimpin oleh As-Syeikh Muhammad al-Ghozali pada kuliyat Syariah. Setelah itu ia menjadi pengajar di Universitas Ummul Qura’, Makkah al-Mukarramah hingga penghujung 1985.
Abdul Aqil berkata tentangnya: “Sungguh telah terbina dari sentuhan tangannya generasi muda di Iraq, Mesir, Urdun, dan Saudi Arabiyah. Generasi tersebut merupakan kilatan cahaya kebangkitan Islam yang penuh berkah di kawasan tersebut.”

Muhammad Abdul Hamid berkata tentang dirinya sendiri: “ Memoarku bersama Asy-Syahid al-Imam Hasan al-Banna –semoga Allah merahmatinya- sungguh semerbak. Beliau merupkan tanda dari tanda-tanda Allah.... aku telah membaiatnya agar aku berkerja hanya untuk Islam, sebagai da’i kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitabillah dan sunnah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di Mesir, Iraq, Urdun, dan Su’udiyah...”

Al-Ikhwani Muhammad al-Ghozali as-Saqa

Ia merupakan intelektual Mesir yang monumental. Keluar masuk penjara tiga kali pada tahun 1369, 1385, dan 1391 Hijriyah.

Al-Ghozali diminta oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menjadi penajar di Universitas Ummul Qura, Makkah. Dari sentuhan lembutnya, keluar benih-benih aktivis Ikhwan dengan jumlah yang sangat besar di Tanah Hijaz dan sekitarnya.Ia sangat produktif dalam menulis dan telah mengaram banyak karya.




Al-Ikhwani Abdul Fatah Abu Godah (1917-1997)

Abdul Fatah menempuh pendidikan di Kuliyatul Syariah pada Universitas Muhammad bin Saud, ia lantas melanjutkan pendidikannya di Universitas Malik Su’ud, Arab Saudi.

Ia merupakan peletak metode pembelajaran pada sekolah tinggi kehakiman di Riyad, Universitas Muhammad bin Su’ud, dan juga pada program pascasarjana Universitas Malik Su’ud.

Beliau merupakan orang yang disejajarkan dengan Asy-Syeikh Manna’ al-Qathan sebagai pembesar dakwah sekaligus intelektual pergerakan dan keilmuaan di Riyad, Arab Saudi.

Al-Ikhwani Sayid Sabiq

Sayid Sabiq selain sebagai ulama, merupakan mujahid dalam barisan Ikhwan melawan penjajah dan Isreal. Sama seperti ulama Ikhwan lainnya, ia pun perna mendekam dalam penjara. Meski demikian, semangatnya yang tinggi dalam menyeberkan Islam tidak surut.

Di penjara ia membuka kajian Fikih Sunnah, kitab yang ia karang, dari mulai awal bab sampai akhir tanpa melihat kitab tersebut kerena memang beliau sedang dalam penjarah.

Pada akhir hidupnya, beliau pindah ke Makkah dan mengajar di Universitas Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah.


 Al-Ikhwani Manna’ Al-Qathan

Manna’ bin Khalil al-Qathan meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1953. Ia bertolak menuju Kerajaan Arab Saudi. Tujuannya kesana adalah untuk mengajar di beberapa sekolah tinggi sampai tahun 1908.

Ia dikontrak sebagai pengajar di fakultas Syariah di Riyadl, kemudian pada fakultas Bahasa Arab. Ia ditunjuk sebagai direktur sekolah tinggi kehakiman, kemudian direktur pascasarjana di Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah.

Beliau juga bertindak sebagai pengawas pada dewan penguji thesis dan dan disertasi di beberapa universitas semisal universitas Muhammad bin Su’ud, Universitas Ummul Qura, dan juga pada Universitas Islam Madinah.

Kemampuannya tersebut, membuatnya menjadi salah satu intelektual terbesar yang dimiliki oleh Jama’atul Ikhwan di Arab Saudi.


Al-Ikhwani Muhammad Qutb

Muhammad Qutb merupakan adik kandung dari Sayid Qutb, pengarang Tafsir dengan genre yang belum ada sebelumnya; tafsir pergerakan.

Ia bekerja di Universitas Ummul Qura’ dan telah membimbing banyak tesis dan disertasi. Beberapa tesis dan disertasi yang perna dibimbingnya antara lain; Sekulerisme; pertumbuhan, perkembangan, serta dampaknya pada kehidupan islami kontempore. Tesis yang ditulis oleh Abdurrahman al-Khuwali;  Dhohiratul irjâ; fi al-fikr al-islamy juga ditulis oleh Abdurraman al-Khuwali sebagai disertasi; al-Wala’ wa al-bara’ fil al-Islam yang ditulis oleh Muhammad Sa’id al-Qahtanil; ahammiyatu al-jihad fi nasyri ad-da’wah al-islamiyah wa ar-raddu ‘ala ath-thowa’ifi ad-dhallah fihi adalah sebuah disertasi oleh Ali bin Nafik al-‘Ulyani; al-Inkhirafaat al-‘aqdiya wa al-ilmiyah fi al-qarnaini ast-tsalis asyar wa ar-rabi’ asyar al-hijriyaini wa atsaruha fi hayati al-ummat oleh Ali bin Bukhait bin Abdullah az-Zahrani sebagai thesis S2-nya.

Penutup

Di samping deretan nama tersebut, masih banyak sekali nama-nama yang belum penulis sebutkan karena banyak hal. Di antaranya adalah keterbatasan sumber dan kurangnya referensi. Oleh karena itu, penulis menunggu saran dari para pembaca untuk melengkapi informasi ini ataupun untuk membetulkan jikalau ada keselahan penyampaian.



Oleh: Hilal Ardiansyah Putra 

Alatas : Ada Saatnya Suatu Peradaban Tergantikan


Kajian dua bulanan kebijakan publik (KP) kembali digelar (21/4). Kajian yang bertempat di Masjid As-salam Jl. Damarsari, Jatipadang, Jakarta Selatan, mendapat respon yang bagus dari khalayak umum terutama dari kalangan mahasiswa, terlihat dengan banyaknya peserta yang di dominasi oleh kalangan mahasiswa dari berbagai almamater.

Kajian yang diselenggarakan salah satu departemen Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat LIPIA itu, mengangkat judul yang bertemakan sejarah yaitu, Sejarah untuk Masa depan, Problematika Ummat dalam Tinjauan. 

"Judul ini di ambil berdasarkan tesis Francis Fukuyama yang mengatakan bahwasanya peradaban itu telah berhenti dibawah peradaban barat, dan tidak ada lagi peradaban setelah peradaban barat", ungkap Lian kepala divisi Kebijakan Publik. 

Berbeda dengan pernyataan Fukuyama, kandidat doctor sejarah Alwi Alatas mengatakan bahwa suatu peradaban akan tergantikan dengan peradaban lainnya.

"Suatu peradaban tidak akan selamanya mengalami kejayaan pasti akan ada pada saatnya peradaban tersebut mengalami masa dekadensi dan pada akhirnya tergantikan oleh peradaban baru", ujarnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa penyebab kemunduran peradaban umat islam saat ini dikarenakan kurangnya perbaikan dalam tubuh umat islam sendiri.

"Kemunduran yang terjadi saat ini di tubuh ummat islam dikarenakan, kurangnya perbaikan dalam diri ummat islam sendiri, karena kekuatan itu muncul jika ada perbaikan dalam diri tersebut", ungkapnya.

Kemudian Alatas memberi motivasi para peserta dengan mengutip perkataan Bennabi, "Ubahlah dirimu pasti engkau bisa mengubah sejarah."
(rep : septi/ red : iffa)


Antara Indonesia, Pemuda dan AEC

“ Give me just one generation of youth, and I’ll transform the whole world” (Vladimir Lenin) Indonesia adalah tanah surga dengan segala keindahan dan kekayaan yang dimilikinya. Potensi kekayaan alamnya sangat luar biasa, baik sumber daya alam hayati maupun non hayati. Seperti tambang emas dan batu bara, gas alam, hasil perkebunan dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya masyarakat pribumi belum bisa menikmati kekayaan Indonesia itu sendiri, karena dominasi asing lebih kuat. Oleh karena itu, pemuda dengan segala potensi yang dimilikinya menjadi salah satu harapan Indonesia ke depan. 

Akhir 2015 merupakan langkah awal penentuan Indonesia dalam persaingan global, terkhusus dalam bidang perekonomian. Tahun dimana mulai berlakunya Asean Economic Community (AEC). Melalui AEC atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) terjadi pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara yang dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020. Di mana negara-negara tersebut akan mulai menghilangkan tarif dalam kegiatan ekspor impor barang, investasi, tenaga ahli dan jasa. Ini bagai dua sisi mata uang bagi Indonesia. Satu sisi ia menjadi kesempatan Indonesia untuk menunjukan kuantitas serta kualitas produk dan juga SDM. Namun pada sisi yang lain bisa menjadi bumerang jika tidak mampu memanfaatkan kesempatan dengan baik. Indonesia hanya akan menjadi pangsa pasar bagi produk-produk asing. Baik barang maupun jasa.
Kesempatan pembebasan tarif pada AEC hanyalah mencakup tenaga kerja terampil. Ironisnya tenaga kerja terampil yang dimiliki Indonesia masih sangat sedikit. Indonesia tergolong lamban dalam merespon AEC dibandingkan negara-negara ASEAN yang lain, seperti Thailand yang telah mepelajari bahasa Indonesia sejak 8 tahun yang lalu. 
Akan tetapi, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Inilah yang harus ditanamkan kepada diri pemuda saat ini. Pemuda Indonesia harus bangkit, karena merekalah tulang punggung Indonesia di masa mendatang. Para pemuda harus membuka mindset untuk menjadi produsen bukan sekedar konsumen. Pemuda dituntut lebih kreatif dalam usaha agar dapat bersaing di pasar ASEAN. Pun pemuda juga harus meningkatkan kapabilitasnya dalam bidang keilmuan masing-masing. Pengalaman dan kualitas diri juga sangat diperlukan. Dan yang tak kalah penting adalah penguasaan bahasa internasional untuk memudahkan komunikasi.
Indonesia, pemuda dan AEC adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Indonesia membutuhkan pemuda-pemuda tangguh yang siap menghadapi AEC yang telah diberlakukan sejak akhir 2015 kemarin. Pertanyaannya adalah, “Seberapa siap dirimu menghadapi AEC?”.
Oleh : Tazkiya (staf kastrat KAMMI komisariat LIPIA)








Muhammad al Zaghal, Raja Yang Menjadi Pengemis

  Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn sa'd, bergelar al Zaghal yang artinya "pemberani pilih tanding". Dia merupakan seorang paman dari Raja Granada  bernama Muhamad XI ibn Ali Ibn Sa'd yang bergelar as shoghir yang artinya "kecil", ia memperoleh posisi seorang Raja setelah melengserkan Ayahnya sendiri dari kursi kerajaan pada tahun 887 H /1482 M, namun pada salah satu peperangannya dengan pasukan Kristen ia kalah dan kemudian ditawan. Dan pada saat ia ditawan itulah kemudian sang paman Muhammad al Zaghal menggantikan posisinya sebagai Raja Granada.

     Dua tahun berlalu al Zaghal memimpin Granada, ternyata pada tahun 890 H/ 1485 M. Raja as Shoghir dibebaskan oleh Ferdinan Raja Kerajaan kristen Kastilia, yang kemudian kembali ke Granada. Namun sang paman menolak untuk menyambutnya dan berkata, " Akulah Raja !" Perpecahan pun terjadi yang akhirnya menjadikan kerajaan Granada tebelah menjadi dua, satu di Rajai al Zaghal yang beribu kota di Baza dan satu dirajai As shoghir beribu kota di Granada.

    Perpecahan yang terjadi di kubu kerajaan muslim ini dimanfaatkan dengan baik oleh Raja Ferdinan, ia mengirimkan beberapa kali batalion pasukan untuk merebut benteng-benteng kerajaan Granada, dan wal hasil bebrapa benteng pun jatuh ketangan Frendinan, diantaranya benteng Loja 891 H / 1486 M. Dan benteng Velez 892 H / 1487 M. Posisi umat Islam saat itu semakin terjepit, karena dikala itu Granada telah menjadi satu-satunya wilayah diAndalusia yang masih berada dibawah kekuasaan umat Muslim, setelah semuanya runtuh ditangan kerajaan Kristen Kastilia.


     Perselisihan tetap terjadi antara pihak As shogir dan al Zaghal, keduanya sama-sama ingin membinsakan satu sama lain, yang tidak lain justru menjadikan tubuh umat Islam semakin lemah dan mudah di hancurkan. Hingga sampai pada tahun 895 H/ 1490 M. Ibu kota kerajaan al Zaghal  di serang oleh kerajaan Ferdinan. Al Zaghal yang bermental kerdil melarikan diri karena takut di tawan dan membiarkan kotanya diserang. Hingga akhirnya penyerangan berakhir dengan runtuhnya kerajaan al Zaghal, Separuh Granada pun akhirnya runtuh.


       Setelah Baza runtuh, tidak ada lagi yang di al Zaghal selain sejumlah benteng dan perkampungan disekitar kota Guadix. Ia pun berniat menjual sisa kekuasaannya itu kepada Raja Kristen Ferdinan, dan benar sisa kekuasaannya itu di jual dengan tiga Juta dinar. Begitulah manusia apabila dirinya telah dikuasai ketamakan atas dunia. Konon setelah kekuadaannya di jual, al Zaghal masih diberi wewenang memimpin Guadix, akan tetapi dibawah otoritas dan kekuasaan langsung kastilia.


    Suatu ketika, sosok nista ini merasa geram ketika melihat kenyataan bahwa Kerajaan keponakannya masih tetap bisa bertahan sedangkan kerajaannya harus runtuh, ia pun berfikir keras bagaimna caranya agar kekuasaan keponakannya bisa bernasip sama dengan dirinya, hingga akhirnya ia memuntuskan untuk melakukan penghianatan yang keji yaitu beraliansi dengan Ferdinan guna membuat makar untuk memerangi kaum Muslimin. Begitulah jiwa-jiwa nista yang mengaku-ngaku Islam, Padahal mereka sama sekali tidak layak disebut muslim.


       Kaum Muslim tidak mengetahui aliansi ini. Suatu kali, sebanyak 150 pasukan kaveleri "muslim" terlihat kabur menyelamatkan diri setelah dipukul mundur pasukan Kastilia. Mereka meminta perlindungan ke benteng Hudmah milik kaum muslim. Kaum muslim di dalam benteng percaya. Pintu-pintu pun di buka. Tapi setelah masuk, mereka langsung merebut kontrol atas pintu-pintu itu, lalu mempersilahkan pasukan kristen masuk untuk menduduki benteng. Sungguh ironis ketika orang  muslim itu justru turut menyengsarakan kaum muslim yang lain.  Akibat perbuatannya itu al Zaghal semakin dibenci oleh Orang-orang Muslim Andalusia.


      Sebenarnya al Zaghal masih menyimpan ambisi untuk bisa merebut kembali kemuasaan negeri, tapi ia sadar bahwa ia bukanlah orang yang disukai oleh penduduk Andalusia. Akhirnya di tahun 896 H. ia meminta izin Raja Ferdinan untuk keluar dari Andaluaia dan pergi ke Magribi ( wilayah maroko sekarang). Permintaannya dikabulkan, ia pergi ke Magribi dengan membawa semua harta yang ia punya beserta pelayan-pelayannya, yang akhirnya ia sampai di kota Fes dan tinggal.disana. Namun setelah penguasa Fes kala itu mendengan kebetadaannya di negrinya, ia langsung di tangkap dan dicungkil kedua matanya kemudiaan dijebloskan kedalam penjara dan semua hartanya disita. Begitulah ganjaran bagi mereka yang menyengsarakan umat muslim, Allah pun menyegerakan adzab baginya di dunia.


     Setelah sekian waktu berlalu, sejumlah tokoh penting kota Fes mencoba berbicara dengan penguasa kota dan menceritakan sosok al Zaghal. Al Zaghal akhirnya kemudiam di bebaskan, namun hartanya sepeserpun tidak ada yang di kembalikan. Setelah itu ia sempat menumpang tinggl dirumah seorang pengikutnya, sebelum akhirnya ia hidup menggelandang, meminta sedekah dan mengemis. Pakaiannya lusut dan penuh tambalan, di salahsatu tambalan itu ia menuliskan " Ini penguasa Andalusia yang bernasib tragis. Sungguh, sejarah itu mengandung pelajaran". Tapi sangat sedikit dari mereka yang mau mengambil pelajaran.


Oleh : Thoyibul Ihsan

Kajian Lintas Komisariat

Kajian Lintas Komisariat

Kajian Lintas Komisariat


Selasa, 21 Oktober 2014
KAMMI Komisariat LIPIA mengadakan KAJIAN UMUM sekaligus KAJIAN LINTAS KOMISARIAT. Acara ini menghadirkan Ustadz Arya Sandhiyudha, ketua PPI Turki, yang juga kandidat Doktor Bidang Hubungan Internasional Fatih University Istanbul Turkey.

Tema yang di angkat dalam Kajian kali ini adalah "Dinamika Dunia Islam dan Dampaknya bagi Indonesia Baru".

"Di angkatnya tema ini dalam kesempatan ini adalah karena kami melihat dinamika dunia islam beberapa kurun waktu terakhir. Asa kita sempat di bangkitkan oleh Arabic Spring yang begitu dahsyat, yang seolah-olah dapat membentuk hegemoni kekuatan islam dunia, menandingi hegemoni kekuatan barat, meskipun selanjutnya asa itu seolah sirna kala mesir runtuh dengan kudeta militer.

Namun di sini kami melihat beberapa negara dapat terus stabil meskipun di bombardir baik dari domestik maupun asing. Lihatlah Turki, bisa di katakan saat ini Turki merupakan negara islam dengan tingkat stabilitas ekonomi dan politik yang tertinggi di dunia, di sana islam dapat menjadi suatu entitas yang kokoh dan mengakar, seolah-olah tidak bisa digoyahkan oleh kekuatan domestik maupun asing. Inilah yang menjadi asa baru bagi kami, dari dinamika inilah dapat diambil pelajaran yang kemudian dapat dikorelasikan dengan Indonesia yang baru bergolak transisi kepemimpinannya. Harapan kami kedepan Indonesia mempunyai peran lebih di kancah internasional, peran sebagai aktor dan penggiat, bukan peran penonton maupun pengamat."

Papar Abdullah Mas'ud selaku ketua pelaksana sekaligus moderator dalam acara tersebut.
Kajian ini juga dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus. Al Hikmah, BSI, Dzunnurrain, UNJ dan juga mahasiswa Lipia Jakarta.