Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Butir Pasir



Pernakah kita memandang sebutir pasir itu sebagai batu?

Mungkin kebanyakan manusia  malah memandang sebaliknya, mereka  malah memandang sebongkah batu sebagai pasir. Wajar jika mereka  berpandangan seperti itu. Sesuai logika, pasir adalah serpihan-serpihan batu. Ini karena mereka  berfikir sama seperti kebanyakan orang alias mainstream.

Al faqir dalam coretan ini hendak mengajak pribadi, dan kawan-kawan untuk berpandangan khoriju shunduq alias di luar dari yang orang biasa berpandangan. Berpandangan sebagaimana Kholid bin Walid memandang.

Alkisah pada perang Uhud dimana sebagian besar dari pasukan muslimin berpandangan bahwa pertempuran sudah dimenangkan oleh mereka. Pandangan yang sama terjadi pula pada pasukan musyrikin yang kala itu dipimpin oleh Kholid bin Walid. Disinilah pandangan anti mainstream dibutuhkan, dan Kholid Ibnil Walidlah sang pemilik pandangan ini.

Al-faqir berhusnuzan bahwa sebagai pemuda Islam sudah bukan rahasia lagi kisah kekalahan pasukan muslimin pada perang Uhud. Terlepas dari penyebab fatal kekalahan, yakni turunnya pasukan pemanah Muslimin dari bukit Uhud, ada sebab pendukung yang juga mengambil peran dalam kekalahan ini. Yaitu pandangan yang optimis oleh panglima perang pasukan musyrikin kala itu.

Melihat situasi kekalahan yang menimpa pasukan musyrikin di fase awal perang Uhud, Khalid bin Walid  justru menjadikan pelarian mereka dari medan pertempuran sebagai kekuatan untuk memukul balik pasukan lawan dengan memanfaatkan kelalain pemanah pasukan lawan. Hal ini tidak akan lahir kecuali dari mereka yang berpandangan luas dan anti mainsream. Akhirnya kekalahanpun berbalik arah mengampiri pasukan muslimin. lantas kemenangan merasa risih dengan hadirnya kekalahan, lalu memilih berbalik arah seratus delapan puluh derajat dan menghampiri pasukan musyrikin.

Masih dalam kisah yang sama, jika pemimpin pasukan musyrikin memiliki pandangan yang anti mainstream, di sana jauh sebelum perang berkecamuk, ada seorang yang berpandangan jauh melebihi pandangan manusia seisi bumi ini. Dialah Rasulullah -shallahu alaihi wa sallam- dengan keluasan pandangannya, beliau mewanti-wanti  pasukan pemanah agar tetap bertahan dan tidak turun dari bukit Uhud sebelum ada perintah dari Baginda Rasulullah apapun kondisinya, kalah atau menang hidup atau syahid. Dikarenakan Hubbud Dunya (cinta dunia) dan pandangan yang mainstream-lah pasukan ini lantas turun dari bukit Uhud guna mendapat harta rampasan perang yang berujung pada kekalahan pasukan muslimin.

Andai saja pasukan pemanah kaum Muslimin taat berpandangan sebagaimana  Rasulullah memandang mungkin Rasulullah  tidak sampai berdarah-darah pada perang tersebut, bahkan sempat beredar kabar bahwa beliau telah syahid kala itu.

Andai saja saat penaklukan Andalusia, pasukan Muslimin tidak menyisahkan sedikit saja pasukan kafir yang lari mengungsi ke pegunungan maka delapan abad peradaban Islam di Spanyol itu tidak akan runtuh.

Siapa  sangka tukang kayu kini berubah menjadi tukang jual aset Negara. “Kullu maalikin azdhim kaana thiflan baakian, wa kullu binaayatin azhimah kaana mujarradal hariithah.” " Semua pemimpin-pemimpin dunia, dulu adalah anak kecil yang hanya bisa merengek, dan seluruh bangunan-bangunan besar nan megah, dulu hanayalah sebuah gambar."

Sebagai pemuda pewaris peradaban, sudah seharusnya memiliki pandangan yang luas. Tidak seperti kebanyakan manusia, yang memandang batu adalah batu, dan pasir asalah pasir.


Oleh: Mahatir Ali Haniyah ( Staff Dept. Sosmas) 

WASPADA BERAMAL, BIJAKSANA MENILAI


Manusia di masa hidupnya tidak pernah tahu dimana tempatnya di akhirat kelak. Di sebaik baik tempatkah? Atau di seburuk-buruknya? Amalan dan perbuatan baiknya semasa hidupnya, belum tentu mengantarkannya ke surganya Allah swt kecuali jika ia memang mati dalam keadaan tersebut. Sebaliknya, amalan buruk seorang semasa hidupnya, tidak pasti membuat orang menuju neraka setelah kebangkitan kecuali ia memang mati dalam keadaan tersebut.

Satu peristiwa yang terjadi di perang Khaibar tahun 6 Hijriah membuktikan dua gambaran diatas.

Ibnu Ishaq menyebutkan kisah tersebut dalam sirohnya, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahwa ia berkata "Tatkala kami meninggalkan Khaibar bersama Rasulullah saw. Menuju Wadil Quro, kami singgah di sana sore hari menjelang terbenamnya matahari. Waktu itu Rasulullah saw ditemani seorang budaknya, yang dihadiahkan kepada beliau oleh Rifaah bin Zaid. Demi Allah, sesungguhnya budak itu tengah meletakkan barang bawaan Rasulullah saw ketika tiba-tiba melesat ke arahnya sebatang anak panah yang nyasar, lalu mengenainya sampai ia tewas. Kami pun berkata, 'Beruntunglah ia mendapat surga.'

Akan tetapi Rasulullah saw langsung membantah, 'Tidak, demi Allah Yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya selimutnya sekarang benar-benar sedang bernyala api atas dirinya. Selimut itu dia ambil secara curang dari harta fa’i yang diperoleh kaum muslim dari musuh di Perang Khaibar.’ Pernyataan Nabi saw. itu didengar oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw. lalu dia datangi mayat budak itu. Ia berkata ‘Ya Rasulullah saw, saya mendapatkan sepasang tali sandalku.’

Rasululllah saw. bersabda. ‘Kelak dalam neraka, akan dipotongkan untukmu yang serupa dengan sepasang tali sandalmu itu..’” Inilah gambaran pertama, yang menegaskan bahwa tidak selamanya seorang yang terlihat baik, ternyata mendapati dirinya dijanjikan dirinya masuk neraka oleh Rasulullah saw.

Di dalam riwayat yang lain, Ibnu Ishaq mengisahkan satu riwayat pembandingnya, yaitu tentang seorang budak lain bernama Al Aswad yang datang menghadap Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw, terangkanlah Islam kepadaku.” Rasulullah saw. pun menerangkan Islam padanya, lalu dia masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, dia berkata, “Ya Rasulullah saw, sesungguhnya saya ini seorang buruh yang bekerja pada pemilik (yahudi) kambing-kambing ini. Binatang-binatang ini merupakan amanat kepadaku. Apa yang harus saya lakukan terhadap mereka?” “Pukullah wajah binatang-binatang itu, sungguh mereka pasti akan pulang kepada pemiliknya.” Demikian jawab Rasulullah saw.

Mendengar saran Rasulullah saw, bangkitlah ia lalu mengambil batu kerikil sepenuh kedua telapak tangan dan dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu seraya berkata, “Pulanglah kamu kepada tuanmu. Demi Allah, aku tak sudi lagi menemanimu buat selama-lamanya.” Kambing-kambing itu pun pulang semuanya, seolah ada yang menggiring mereka hingga masuk ke dalam benteng.
Sesudah itu, majulah Al Aswad ini mendekati benteng Khaibar itu untuk ikut bertempur bersama kaum muslimin. Malang, dia tertimpa batu lalu gugur, padahal ia belum pernah shalat sama sekali. Jenazahnya lalu dibawa dan diletakkan di belakang Rasulullah saw. dengan ditutupi selimut yang dipakainya. Rasulullah saw berkenan melihatnya bersama beberapa orang sahabatnya. Tiba-tiba beliau berpaling dari mayat itu. Para sahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa anda berpaling darinya?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ia sekarang sedang ditunggui dua orang istrinya dari bidadari.”

Syaikh Munir al Ghadhban-rahimahullah­-mengomentari kisah ini dalam Manhaj Harakinya, bahwa inilah dua gambaran yang kontras dari dua orang budak yang ada dalam barisan bala tentara pasukan Islam. Keduanya sangat unik dan mengagumkan. Yang seorang adalah budak Rasulullah saw. sendiri yang terbunuh di hadapan beliau, yang menurut lahiriahnya patut mendapat ucapan selamat karena akan masuk surga. Yang lain ialah seorang budah Yahudi, yang sama sekali belum pernah melakukan shalat dan terbunuh di depan pintu benteng dari mana ia berasal.

Walau demikian, selimut yang diambil secara curang oleh budak Rasulullah saw. itu cukup menjamin dia bakal terbakar oleh selimut itu sendiri dalam neraka dan menyebabkan dia tidak mendapat surga. Bahkan, bakti dan khidmatnya kepada Rasulullah saw. maupun keberadaannya selama ini dalam barisan kaum muslimin tidak bisa memberinya syafaat.

Sementara itu, sifat amanat dari budak Yahudi itu telah berubah menjadi karamah baginya, berupa pelemparan batu kerikil sepenuh dua telapak tangan yang dia lemparkan ke muka kambing-kambing itu. Dia lalu masuk Islam, bersih dari ke-yahudian, dan dosa-dosanya selama ini menjadi musnah, berkat berpegang teguh pada amanat yang luhur tersebut. Semua itu tidak berlangsung lama, hanya sebentar. Budak Yahudi itu pun maju ke medan pertempuran dan langsung terbunuh. Datanglah kepadanya kedua istrinya dari bidadari dan dengan sikap yang genit digandengnya budak itu menuju surga.

Hai Para Pemuda Aktivis Da’wah Islam!

Hendaklah pelajaran tersebut senantiasa hidup dalam jiwa kita sekalian. Bahwa kesalahan sedikit apa pun bisa saja menjeremuskan ke dalam neraka walaupun hanya sehelai selimut yang diambil dari harta rampasan perang, yang tidak seberapa harganya sekalipun. Kesalahan yang sedikit itu bisa mengakibatkan tidak tertolongnya seorang oleh syafaat dari aktifitasnya dalam da’wah atau jerih payahnya dalam perjuangan maupun posisinya dalam struktur tandzhim.

Adapun istiqomah dalam menempuh manhaj Islam meski hanya sebentar dan sekalipun dilakukan oleh orang yang dulunya merupakan musuhmu yang paling gigih memusuhimu, itu sudah cukup menjamin bahwa orang itu mati syahid di jalan Allah, tanpa dihalangi oleh sikapnya yang dulu ketika dia memusuhi habis-habisan terhadap Islam, bahkan ia tidak perlu memiliki aset ketaatan ataupun ibadah. Niat yang jujur dan tekad yang kuat untuk istiqomah itu saja sudah cukup dalam timbangan Allah untuk menjamin dia masuk surga. Dalam hal ini, kita tidak perlu melihat fenomena lahiriah karena Allah Ta’ala tidak melihat rupa maupun amal, tetapi justru mempperhatikan hati kita.

Sekarang, sudah saatnya bagi pemimpin gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menilai pribadi-pribadi-khususnya para aktivis gerakan-dengan hanya melihat senioritas struktural sehingga prajurit ini dinaikkan ke tingkatan tertinggi tanpa mempedulikan tingkah laku moral maupun tarbiyahnya.
Sekarang, sudah saatnya juga bagi para pemuda gerakan Islam untuk tidak berlebihan dalam menolak memberikan kepercayaan kepada seseorang yang baru masuk ke dalam barisan. Misalnya dengan tidak mempercayainya sama sekali karena belum melewati jenjang struktural yang ada dalam jamaah. Hal ini karena bisa jadi seorang naqib (pemimpin) justru tergolong ahli neraka, sedangkan anggota baru, yang masik tampak bekas perlawanannya terhadap Islam itu, justru tergolong ahli surga.

Sekarang, sudah saatnya bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam beramal dan bijak dalam menilai!

oleh: M.Saihul Basyir (Ketum Kammi Lipia)

Krisis Identitas



Pada kesempatan kali ini, kesempatan yang pas untuk mengutarakan keluh kesah dan kerisauan hati tentang banyaknya problematika pada ummat ini dimana banyak keadaan yang  membuat lisan ini selalu ingin beristighfar dan berdoa, serta raga yang ingin selalu bertindak dalam kebaikan menumpas problematika yang menggerogoti ummat.

Apabila kita berkaca dan terus berkaca akan keadaan kita sekarang khususnya di zaman yang serba maju ini, kita akan dapatkan banyak hal yang mana hal ini menjadi pukulan telak bagi kita selaku ummat muslim, bahwasannya kita sebagai mayoritas di negeri ini sedang mengalami split personality ( pemecahan kepribadian ) khusus dalam menyikapi dan memahami akan sejarah.

Dimana banyak diantara kaum muslimin di negeri ini yang nilai pemahaman akan kebangsaannya lebih menonjol dari pemahaman terhadap agamanya itu sendiri (nasionalisme) sehingga mereka secara tidak sadar selalu dibayang- bayangi oleh split personality ( pecah kepribadian), ummat Islam di Indonesia saat ini lebih tahu akan sejarah nenek moyang mereka yang katanya seorang pelaut itu ketimbang sejarah bagaimana Islam masuk ke bumi Pertiwi ini dan apa kontribusi nya bagi Indonesia.

Mereka lebih ingat akan kisah penjajahan Belanda yang notabene adalah sejarah kelam bangsa ini dan tidak mencoba menggali peran Islam dan umat muslim tanah air itu sendiri yang secara terang-terangan melakukan perlawanan demi mempertahankan negara Indonesia.

Ummat Islam negeri ini lebih di sibukkan akan histori kelam mereka, memikul beban masa lalu bangsanya sendiri padahal di sisi lain kita sebagai ummat Islam mempunyai sejarah yang sangat luar biasa, yaitu sejarah sang revolusioner Nabi Muhammad SAW yang keagungan sejarahnya tidak dapat dipungkiri lagi. 

Allah SWT secara jelas berfirman dalam Al-Qur'an dalam surat Yusuf : 111 

لقد كان في قصصهم عبرة لأولى الألبٰب، ماكان حديثا يفترى ولكن تصديق الذى بين يديه وهدى ورحمة لقوم يؤمنونلة [يوسف : ١١١ 
Artinya: "Sesungguhnya pada kisah kisah Meraka itu terdapat pengajaran bagi Mereka yg mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yg di buat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yg beriman. " (Yusuf [12]: 111)

وكلا نقص عليك من ادأنبآء الرسل ما نثبت له فؤادي, وجآءك في هذه الحق موعظة ودكرى للمؤمنين [هود : ١٢٠]
"Dan semua kisah dsri rasul-rasul kami telah kami ceritakan kepadamu, ialah kisah yang dengannya kami teguhkan hati mu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran bagi orang-orang yang beriman" ( Hidup[11]: 120)

Dari dua Ayat di atas kita bisa tarik kesimpulan bahwasanya di dalam sejarah sejarah ummat Islam terdahulu terdapat kebenaran dan pengajaran yang ditinggalkan untuk generasi selanjutnya dan dengannya mantap lah hati kita untuk senantiasa berjalan dan berjuang dalam agama Islam ini. 

Ikhwah sekalian mari kita intropeksi diri kita lagi apakah kita termasuk kategori pribadi yang menyepelekan sejarah agama kita sendiri atau tidak, dan jika ada dalam diri kita maka bersegeralah untuk mendalami sejarah agama Islam, mendalami pelaku-pelaku sejarahnya dengan terus bersinergi dengan Al-Qur'an dan as-sunah, dan mari kita bangun bangsa ini dengan pondasi yang kuat, pondasi yang didasarkan Al-Qur'an dan As-Sunah  serta dihiasi 
dengan jiwa nasionalisme yang lurus berteladankan siroh nabawiyah dan para sahabatnya.

Oleh : Ikhwani22 (Staf Sosmas Kammi Lipia) 

SUARAKAN HATIMU UNTUK MENGGANDAKAN AMALMU





            Tahukah kamu? Jika suara hatimu jujur, kamu akan meraih apa yang kamu impikan. Mengapa hanya dengan suara hati saja, amalan kita akan dilipatgandakan? Suara hati seperti apa yang bisa melakukannya? Tentu jika kamu benar dan jujur dengan suara hatimu maka, kamu akan berusaha sebaik mungkin bukan? Suatu amalan yang biasa saja ditambahkan dengan suara hati yang tulus ikhlas akan menjadi amalan yang luar biasa. Lalu suara hati apakah itu? Itulah NIAT! Hanya niat! Amalan yang sudah biasa kita lakukan ditambah dengan banyak niat yang kita azamkan akan melipatgandakan pahala amalan kita. Mengapa saya menyebutnya suara hati? Karena niat merupakan perkara hati, terdapat dalam hati dan hanya Allah yang mengetahuinya.
Hadits pertama dalam Hadits Arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi adalah Amirul Mu’minin Abu Hafs Umar bin Khattab radiyallaahu‘anhu berkata, “aku mendengar Rasulullah shallaahu alaihi wasallam bersabda,” “semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul- Nya maja hijrahnya untuk Allah dan Rasul- Nya dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menurut Imam Ahmad dan Imam Syafi’i mencakup sepertiga ilmu, karena perbuatan manusia terkait dengan tiga hal; hati, lisan dan anggota badan. Sedangkan niat dalam hati merupakan salah satu dari tiga hal tersebut.
Ibnu Mas’ud berkata, “Diantara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak hingga ia hijrah ke Madinah. Maka laki-laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.” ketika itu para sahabat saling silang pendapat apakah hijrahnya diterima atau tidak. Akhirnya Rasulullah mensabdakan hadits tersebut, oleh karena itu, laki-laki tersebut diberi julukan Muhajir Ummu Qais.
Maka, niat sebelum amalan itu adalah sangat-sangat penting karena kita akan diganjar dengannya. Niat adalah pintu gerbang keikhlasan. Keikhlasan yang menurut seorang Tabi’in walaupun hanya satu jam namun bisa menjadi keselamatan seumur hidup. Seumur hidup?? Bayangkan betapa sulitnya untuk Ikhlas.
Sahl bin Sa’d pernah ditanya, “Apakah yang paling sulit bagi jiwa?” Ia menjawab, “Ikhlas”. Mengapa sulit? Karena ketika ikhlas, jiwa tidak memiliki bagian sedikit pun.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.” Artinya sesuatu yang paling berat untuk diobati adalah qalbu (hati), karena ia mudah berubah-ubah. Padahal Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal ibadah. Syarat lainnya ialah harus benar sesuai dengan sunnah Nabi shallaahu alaihi wasallam. Ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah semata, bukan yang lain. Melupakan pandangan manusia, tidak mengubrisnya dan hanya melihat pandangan Allah dan agar dilihat Allah saja.

“Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi- Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan padaku.” (Al- An’am : 162 - 163)

Gerbang pertama dalam keikhlasan adalah Niat. Niat dalam hal apa?

1. Niat Dalam Ketaatan
Shalat, zakat, puasa dan haji semua ada niatnya. Bahkan shalat tidak sah jika dikerjakan tanpa niat. Jangan sampai kita berbuat sesuatu tanpa didasari niat. Ikhlash memang sulit untuk diraih tapi niat bukankah sesuatu yang bisa kita ubah? Maksud saya, mulailah dengan hal yang terkecil sekalipun, mulailah dari ibadah seharian kita.
Mengapa Muslimah memakai hijab? Tanyalah pada diri sendiri dan jawablah. Apakah “karena ingin terlihat cantik”? Jika begitu, maka hanya itu saja yang kamu dapatkan. Jawablah “karena ini adalah perintah Allah, aku mengikutinya ingin agar Allah ridha kepadaku. Karena muslimah itu seorang yang terjaga kehormatannya. Karena dengan hijab maka seorang wanita tidak hanya dilihat dari bodinya saja, tapi perangai dan kecerdasannya, dengan hijab akan membuatku malu untuk berbuat jahat, aku menyeru kepada sekitarku bahwa hijab bukan penghalang kesuksesan dan hijab nyaman dipakai juga terlihat lebih cantik.” Apa yang kamu dapatkan kalau niatmu seperti ini? Pasti berlipat-lipat kan keuntungannya?
Pelajarilah dan biasakanlah, seperti saat kita tidak bisa makan dengan tangan kiri, karena fitrah kita terbiasa dengan tangan kanan. Dan kita akan diciptakan dalam keadaan ini. Kita tidak bisa melangkah satu langkah saja kecuali dengan niat. Berbahagialah jika kita mampu seperti itu.
Begitulah jalan menuju ikhlas, karena itu, ketika seorang sahabat Nabi meninggal, dikatakan kepada seorang tabi’in (generasi setelah sahabat), “Berjalanlah bersama kami mengikuti jenazah seorang sahabat,” ia menjawab, “tunggu sebentar.” Maka ia pun terdiam, lalu berkata, “Berjalanlah bersama kami.” Hingga laki-laki itu bertanya padanya, “apa yang menghentikanmu sebentar?” ia menjawab, “aku duduk mempersiapkan niatku.”
Ketika ketaatan berubah menjadi sekedar rutinitas kebiasaan, maka berkuranglah rasa ketaatan dalam ibadah tersebut. Oleh karena itu kita perlu memperbaharui niat, mengevaluasinya juga. Agar semangat dan keikhlasan di hati kita menjadi baru kembali. Sehingga keimanan kita tidak mengalami degradasi atau futur dan kelunturan.
Demikian juga para pemuda yang telah terbiasa melakukan shalat di masjid. Hendaknya mereka memperbaharui niat sebelum melakukan satu gerakan apapun, atau sebelum melakukan satu dari amal-amal ketaatan. Dengan demikian kita akan terus ikhlas dan mementingkan ketaatan kepada Allah.

2. Niat Dalam Adat Kebiasaan
Niat merubah amal kebiasaan menjadi ibadah. Di waktu kita sehari 24 jam ini apa yang paling banyak kita lakukan? Apakah shalat? Baca Al-Qur’an? Masak? Belajar? Bekerja? Jika kita seorang pelajar mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, pun dengan seorang pekerja akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya. Jadi, apakah waktu yang telah kita habiskan tersebut bukan untuk Allah? Waktu yang panjang itu? Apakah hidup kita yang bukan untuk Allah akan memberi manfaat?
Maka disinilah perannya niat. Niat mengubah kebiasaan menjadi ibadah. Ayo katakan, “Aku belajar karena orang shalih tak layak gagal, Sehingga aku tidak mencoreng muka orang mu’min nan shalih. Aku bekerja untuk menakhodai perekonomian dunia agar orang mukmin  tidak selalu bergantung dengan orang kafir dan orang fasik. Dan agar orang mu'min menjadi pemimpin dunia.”
Dengan niat yang seperti ini, Insya Allah setiap usaha, goresan pena, keringat dan langkah kaki kita mendapatkan pahala. Ikhlaskan hati kita hanya untuk Allah, karena tiada berguna jika menjadi kaya karena dunia, tapi akan sangat-sangat bermanfaat jika untuk fii sabiilillah.
Apa yang kita harapkan dari mempunyai anak? Apakah hanya untuk berbangga dengan keturunan? Hanya teman bersenda gurau? Dengan niat ini kita tidak akan mendapatkan pahala. Tapi jika kita niatkan, “Aku ingin mempunyai anak yang mentauhidkan Allah, aku ingin ia setangguh Muhammad Al Fatih yang meruntuhkan benteng Konstantinopel, secerdas Abdullah bin Mas’ud, segagah Umar bin Khattab, ingin ia menjadi syuhada di jalan Allah dan kelak membantu orang tuanya di akhirat.” Maka semua jernih payah kita selama mendidik dan mengasuh anak akan berbuah menjadi pahala, karena kita mendidiknya untuk menjadi hamba Allah. Demi Allah, sulit untuk sempurna dalam berikhlas, namun berniat dalam melakukan ibadah dalam adat kebiasaan kita sangat mungkin dilakukan.

3. Niat Dalam Perkara Yang Kita Tidak Mampu
Perkara apa yang kita tidak mampu untuk melakukannya? Misalnya pergi haji dan umrah. Maka katakanlah pada diri sendiri, “Ya Allah, jika engkau memberiku harta maka, aku akan melakukan umrah, mengunjungi masjid Rasulullah setiap tahun.” Percaya atau tidak, atas izinNya kita akan mendapatkan pahala umrah setiap tahun.
Ketika kembali dari perang Tabuk, jarak Tabuk ke Madinah hampir 1000 km, jarak yang jauh lagi panas. Konon, sahabat bergantian menaiki kendaraan yang terbatas, ketika itu Nabi bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada kaum yang tidak melewati jalan atau menerobos bukit kecuali mereka bersama kalian. Mereka bersama kalian dalam pahala, udzur telah menghalangi mereka.” (HR Bukhari Muslim). Dahsyatnya niat, mereka belum keluar karena udzur, tetapi mereka memperoleh pahala sempurna.
Jadi, sampai sini ingat niat kita, bagaimana kita harus meniatkannya. Nabi shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan qiyamullail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim)
Namun! Berusahalah sesuai niat kita, jika kita jujur meniatkannya maka kita akan memasang jam weker, atau memohon untuk dibangunkan oleh teman, atau minta dipercikkan air oleh ibu, jangan hanya niat tapi tidak berusaha! Apakah kita menyangka mendapatkan pahala qiyamullail meski kita tidak berusaha? Tidak! Maka jujurlah dengan niat kita dan berusahalah.
Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta kesyahidan di jalan Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas ranjangnya.” (HR Muslim, Abu Daud dan At-Turmudzi)
Apakah kita semua mau mati syahid yang jaminannya sudah pasti syurga? Jika kita meniatkannya dengan benar, dan mengusahakannya. 
Nabi bersabda, “Dunia diperuntukkan bagi empat golongan. Pertama, hamba yang dikaruniakan Allah kekayaan dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada Tuhannya, menyambung silaturahimnya, dan menyadari hak Allah di dalamnya. Ini adalah posisi yang paling utama. Kedua, hamba Allah yang dikaruniai ilmu oleh Allah tanpa karunia kekayaan, namun ia berniat tulus menyatakan, kalau saja aku memiliki kekayaan, tentu aku akan beramal seperti fulan,” Meski ia hanya berniat, sedangkan yang pertama telah berbuat, menurut Rasulullah, “Pahala keduanya sama sejajar.” (HR An-Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)
Sampai disini, saya katakan sekali lagi niatkanlah pada perkara yang tidak kita miliki! “Jika aku mempunyai mobil....”. Jika aku dikaruniai anak......”. “Jika aku diberi kekayaan....”. Niatlah karena Allah, lalu bayangkan pahala kita mendapatkan pahala mereka. Sudahkah kamu meniatkannya?

(Dikutip dari buku Hati Sebening Mata Air karya Amru Khalid, dengan banyak perubahan)
Oleh : Siti Nuril Fathimiyyah (Direksi IDETE)

INDONESIA MERDEKA TANPA ISLAM!?




Cukup panjang perjalanan keberadaan manusia atau kehidupan di Tanah Air ini.  Begitu pula aneka balada rasa yang tercipta dan dicicipi disini. Ketentraman, kebersamaan, penjajahan bahkan penindasan, semua ada disini.
Keberlimpahan alam menjadi magnet terkuat bagi para kolonial-kolonial yang tidak berprimanusiaan itu. Dataran luas yang terbentang bebas membuat lalu lalang para gujarat dari belahan negara lain kian bertambah. Dari yang berniaga semata ataupun membawa misi penyebaran ajaran agama. Hingga tumbuhlah kemajemukan suku, bahasa dan agama. Namun ada yang tidak beres disini.
Pendidikan. Tidak semua mendapatkan kesempatan itu karena ras dan pangkat. Begitu kental kesenjangan vertikal disini. Tapi yang dibawah pun nerimo, bahasa jawanya. Maka ketika ditindas, sangat sedikit yang bisa melawan.
Sungguh memilukan bukan? Dimana masa yang memiliki yang ditindas. Diperbudak dirumah sendiri. Rumah yang jauh dari filosofi rumah sesungguhnya. Dimana rumah semestinya memberi ketenangan, keamanan dan ketentraman. Sebuah yang dikatakan rumah, berarti didalamnya terdapat kepedulian atau saling menyemangati dalam kepedulian.
Segala puji bagi Rabb semesta alam, Allah SWT yang telah membimbing hambanya melalui risalah Nabi Muhammad yang di sampaikan langsung oleh malaikat agung Jibril, untuk mewujudkan kehidupan yang diliputi kedamaian, cinta kasih dan terang menuju jalan kebaikan. Dan inilah yang diterima dan direfleksikan oleh pejuang-pejuang muslim tanah air. Dengan kegagahan, keyakinan, dan kemurnian tauhid dan tersyi'arkan dengan akulturasi seni budaya, maka tersebarlah benih-benih kepedulian pada jiwa-jiwa patriot anak bangsa ini.
Sebagaimana makna Islam yang berarti keselamatan, kedamaian. Maka Islam membentuk karakter yang patuh, taat dan berserah diri kepada Allah dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan hadirlah figur-figur ulama pejuang dan pengubah sejarah dengan jiwa kesatrianya, mereka menghimpun kesatuan masyarakat demi bangkit dan menumbuhkan semangat kepedulian dalam rumah ini.
Pada tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah. Disusul pada tahun 1926 KH. Hasyim Asyari mendirikan Organisasi Nahdhatul Ulama, dimana beliau merupakan rujukan Bung Karno dalam revolusi jihadnya di Surabaya. Setelah fatwa jihad diberikan olehnya, barulah Bung Karno bersama pasukan lainnya berbegas.
Bahkan jauh dari hari kemerdekaan Indonesia 1945. Pejuang-pejuang muslim yang berkedudukan di Kerajaannya telah turut memberikan kontribusi akbar yang tak akan terlupakan sejarah.
Pada tahun 1825-1830,  adalah Raden Mas Antawirya yang lebih dikenal Pangeran Diponegoro yang menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir (Belanda) yang terus menindas, memecah belah dan mengeksploitasi sumber daya alam di negri ini.
Pada tahun 1803-1838 Kesatria Muhammad Shahab yang lahir di Bonjol. Dan diberi julukan Tuanku Imam Bonjol, seseorang yang tidak pernah sudi untuk menyerah kepada Belanda meski harus bertahan selama 13 tahun terus dalam kepungan Belanda. Hingga  beliau wafat  dalam jeruji pengasingan taktik busuk Belanda. beliau wafat karena menjaga harga diri Tanah Air.  
Ulama-ulama kesatria sudah memulai peran agung nya, dengan mempertahankan harga diri Tanah Air. Hingga mampu mengkader generasi-generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan dan mampu mewujudkan Kemerdekaan Indoneisa. Indonesia Merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
“Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid, sepintar-pintar siasat"  salah satu trilogi HOS Tjokroaminoto yang menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Lalu akankah kau masih bertanya, apakah Indonesia merdeka tanpa Islam?

Penulis: Atiqoh Mahdiah (Staff Depertemen Ekonomi)