Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan

Serial Keteladanan Ibrahim as. Menyembah Dengan Akal (II)


“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk (Rusyd), dan Kami telah mengetahui dia.” (Al Anbiya: 51)

Berikut episode kedua dari serial keteladanan dari seagung manusia. Panutan dan ayah para nabi. Darinya mengalir manhaj dakwah risalah yang kokoh, dikarenakan kuatnya rasionalitas yang Allah swt. anugerahkan padanya mampu dipadu padankan dengan kesucian dan keagungan wahyu Allah swt. Yang akhirnya melahirkan hujjah peruntuh akidah materialisme & paganisme.

Jika pada episode pertama Allah swt. mengisahkan bagaimana ia menggunakan ‘penglihatan’ sebagai wasilah penyadaran kaumnya yang menyembah berhala. Ketika ia berkata kepada mereka: “Apakah kalian melihat nenek moyang kalian menyembah berhala?”

Maka pada potongan ayat kedua ini, Allah swt. kembali menceritakan bagaimana strategi dakwah beliau ditambah kekuatan dan ketepatan hujjah (argumen) yang dimiliki Nabiyullah Ibrahim as. sekali lagi berhasil meruntuhkan akidah paganisme tatkala mereka saling berhadapan.

Mari baca firman Allah swt. ini dengan seksama:
“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”

Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”. Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. 

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”.

Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al Anbiyaa’: 52-70)

Jika kita mencermati dengan seksama potongan kisah dakwah Ibrahim as. kepada kaumnya, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang seharusnya bisa diambil dan ditiru kembali oleh para pendakwah risalah di akhir zaman. Di zaman di mana akal dan rasionalitas begitu dijunjung tinggi oleh penduduk bumi. Sesiapa yang mampu menawarkan solusi dengan tingkat rasionalitas paling tinggi, maka itulah yang akan diterima oleh mereka.

Seandainya mereka tahu bahwa Ibrahim as. lah, manusia pertama yang menggunakan akal dan rasio yang murni dalam mencari kebenaran hakiki di atas muka bumi ini, pastilah mereka akan mengikuti jejak beliau. Namun sayangnya, mereka lebih menuruti hawa nafsu mereka sendiri. Maka mereka pun tidak menemukan kebenaran itu, kebenaran yang bersumber dari Yang Maha Benar. Mereka-para pendakwah Islam mauoun masyarakat yang didakwahi-tidak menemukannya, dan berakhir tunduk di bawah hawa nafsu.

Setidaknya ada tiga ‘Ibroh yang bisa diambil dari potongan kisah dakwah Nabi Ibrahim as. diatas, yang semuanya dilakukan dengan strategi matang hasil olah pemikirannya ; Pertama: berani dan lantang menyerukan kebenaran. lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim as. bertanya dengan lantang kepada kaumnya, bahkan ayahnya sendiri tentang hakikat sesembahan mereka selama ini. Pertanyaan yang serupa juga Allah swt. kisahkan di surat-surat lain.

Sikap berani dan lantang dalam mengkritisi kemungkaran seperti diatas haruslah dimiliki oleh tiap pendakwah. dalam hal ini, hadits tentang menghilangkan kemungkaran dari atas muka bumi dari Rasulullah saw. yang berisi tiga tahap penghapusan kemungkaran;, tangan, lisan & hati teraplikasikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. dimana beliau menumbangkan kemungkaran lewat lisannya terlebih dahulu lewat pertanyaan ini.

Nabi Ibrahim as. melakukan hal tersebut karena tahu dan faham betul akan kondisi manusia yang ia dakwah, dimana mereka semua adalah kerabat dan kaumnya sendiri. Maka tidak mungkin beliau langsung menggunakan tangannya untuk menghancurkan kemungkaran tersebut, karena dikhawatirkan akan muncul kerusakan yang lebih besar. Begitu pula yang dicontohkan oleh seluruh nabi dan rasul, bisa kita dapati dalam kisah-kisah mereka.

Walau pada akhirnya cara tersebut tidaklah berhasil juga. Bahkan merekalah yang akhirnya disiksa, dibunuhi, dikejar dan disalib. Termasuk Nabi Ibrahim as. sendiri akhirnya pun dibakar, setelah bersilat lidah panjang dan mereka kalah dengan hujjah yang disampaikan olehnya, sebagaimana terkisahkan di atas. Sejatinya, mereka semua syahid di jalan Allah swt., mereka tahu bahwa kemenangan adalah milik Allah swt. dan tugas mereka adalah bekerja menunaikan tugasnya saja.

Kedua: ketelatenan dan kesabaran dalam menyeru. Sikap ini begitu nampak pada diri Nabi Ibrahim as. ia tidak patah arang tatkala seruannya tidak diterima oleh kaumnya. Bahkan berkat kesabaran beliau, Allah swt. anugerahkan ketajaman lidah. Jika pada episode pertama, ‘kemampuan penglihatan’ lah yang jadi wasilah penyadar kaumnya, maka pada episode kedua ini, ‘kemampuan berbicara’ lah yang menjadi wasilah tersebut.

Ia dengan cerdas menjawab pertanyaan kepada kaumnya ketika ia diadili di hadapan mereka,“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. dan terhenyak lah mereka semua dengan jawaban cerdas ini. mereka terdiam seribu bahasa tidak mampu menjawabnya lagi. Karena mereka sadar betul bahwa patung-patung mereka tidaklah mampu berbicara! Maka dengan logika yang sama, bagaimana mungkin Tuhan yang tidak mampu berbicara juga mampu memberikan manfaat!.

Runtuhlah seketika kemungkaran kaumnya. Kebatilan yang mereka bangun selama berabad-abad mampu dihancurkan seketika oleh pemuda bernama Ibrahim as. Itu semua bisa terjadi karena ketelatenan dan kesabaran beliau dalam berdakwah. Telaten dalam mencari cara berdakwah paling tepat, atau dengan istilah lain, banyak akal.

Ketiga; kekuatan & kecerdikan dalam mengaplikasikan metode dakwah. Tatkala Ibrahim as. berfikir dengan akal & rasio yang murni, ia menemukan cara jitu untuk meruntuhkan kebatilan kaumnya. Yakni, dengan menghancurkan semua berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan yang paling besar. Dengan melakukan hal tersebut, ia akan melakukan sebuah rekayasa sosial pada kaumnya.

Tentu, hal tersebut tidak bisa ia lakukan kecuali dengan kekuatan yang efektif, maka dengan cerdik, ia memisahkan diri dari kaumnya ketika mereka sedang melakukan acara besar. Dan di waktu yang singkat, ia ambil palu besar dan menuju ruangan tempat dimana semua berhala kaumnya di berdirikan, dan dihancurkanlah semuanya, kecuali yang paling besar.

Jika kita cermati, seandainya ia menghancurkan semua patungnya, maka tidak akan terjadi percakapan panjang dan cerdas tersebut. Percakapan bernas yang meruntuhkan tuduhan yang diajukan pada dirinya. Walau memang benar bahwa dirinya lah yang menghancurkan semua berhala kaumnya.

Ia tidak mengelak lari, karena itulah yang ia tunggu. Berhadapan langsung dengan kaumnya dan meruntuhkan makna kebatilan dari hati mereka dengan lidahnya yang tajam. Dan di akhir, ia pun berhasil mendapatkan dua hasil sekaligus; runtuhnya fisik kemungkaran berupa berhala dan runtuhnya makna kemungkaran di hati mereka berupa syirik.

Itulah sekelumit pelajaran yang seharusnya bisa diambil oleh tiap da’i dalam menyerukan kebenaran. Akal yang bersih, hati yang murni, pikiran yang matang, dan kuatnya argumentasi ketika berhadapan dengan kemungkaran dibalut dengan keberanian, ketelatenan dan kecerdikan akan menghasilkan terangkatnya derajat kebenaran yang ia bawa dan terjatuhnya derajat kebatilan yang dibawa oleh musuh-musuh dakwah. Tentu dengan tidak lupa untuk tunduk pada tuntunan wahyu yang benar.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari kisah panjang dakwah Nabi Ibrahim as. semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran tersebut. Karena kita ingin menyembah Allah swt. dan meng-esakan-Nya dengan kesadaran penuh dan akal yang murni sebagaimana Nabi Ibrahim as. menyembah Tuhannya dengan akal yang juga murni. Tidak dengan buta hati dan lemah akal, sebagaimana yang tergambar pada kaum Nabi Ibrahim as.

Wallahu A’lam.


Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI Komisariat LIPIA)

SUARAKAN HATIMU UNTUK MENGGANDAKAN AMALMU





            Tahukah kamu? Jika suara hatimu jujur, kamu akan meraih apa yang kamu impikan. Mengapa hanya dengan suara hati saja, amalan kita akan dilipatgandakan? Suara hati seperti apa yang bisa melakukannya? Tentu jika kamu benar dan jujur dengan suara hatimu maka, kamu akan berusaha sebaik mungkin bukan? Suatu amalan yang biasa saja ditambahkan dengan suara hati yang tulus ikhlas akan menjadi amalan yang luar biasa. Lalu suara hati apakah itu? Itulah NIAT! Hanya niat! Amalan yang sudah biasa kita lakukan ditambah dengan banyak niat yang kita azamkan akan melipatgandakan pahala amalan kita. Mengapa saya menyebutnya suara hati? Karena niat merupakan perkara hati, terdapat dalam hati dan hanya Allah yang mengetahuinya.
Hadits pertama dalam Hadits Arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi adalah Amirul Mu’minin Abu Hafs Umar bin Khattab radiyallaahu‘anhu berkata, “aku mendengar Rasulullah shallaahu alaihi wasallam bersabda,” “semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul- Nya maja hijrahnya untuk Allah dan Rasul- Nya dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menurut Imam Ahmad dan Imam Syafi’i mencakup sepertiga ilmu, karena perbuatan manusia terkait dengan tiga hal; hati, lisan dan anggota badan. Sedangkan niat dalam hati merupakan salah satu dari tiga hal tersebut.
Ibnu Mas’ud berkata, “Diantara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak hingga ia hijrah ke Madinah. Maka laki-laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.” ketika itu para sahabat saling silang pendapat apakah hijrahnya diterima atau tidak. Akhirnya Rasulullah mensabdakan hadits tersebut, oleh karena itu, laki-laki tersebut diberi julukan Muhajir Ummu Qais.
Maka, niat sebelum amalan itu adalah sangat-sangat penting karena kita akan diganjar dengannya. Niat adalah pintu gerbang keikhlasan. Keikhlasan yang menurut seorang Tabi’in walaupun hanya satu jam namun bisa menjadi keselamatan seumur hidup. Seumur hidup?? Bayangkan betapa sulitnya untuk Ikhlas.
Sahl bin Sa’d pernah ditanya, “Apakah yang paling sulit bagi jiwa?” Ia menjawab, “Ikhlas”. Mengapa sulit? Karena ketika ikhlas, jiwa tidak memiliki bagian sedikit pun.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.” Artinya sesuatu yang paling berat untuk diobati adalah qalbu (hati), karena ia mudah berubah-ubah. Padahal Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal ibadah. Syarat lainnya ialah harus benar sesuai dengan sunnah Nabi shallaahu alaihi wasallam. Ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah semata, bukan yang lain. Melupakan pandangan manusia, tidak mengubrisnya dan hanya melihat pandangan Allah dan agar dilihat Allah saja.

“Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi- Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan padaku.” (Al- An’am : 162 - 163)

Gerbang pertama dalam keikhlasan adalah Niat. Niat dalam hal apa?

1. Niat Dalam Ketaatan
Shalat, zakat, puasa dan haji semua ada niatnya. Bahkan shalat tidak sah jika dikerjakan tanpa niat. Jangan sampai kita berbuat sesuatu tanpa didasari niat. Ikhlash memang sulit untuk diraih tapi niat bukankah sesuatu yang bisa kita ubah? Maksud saya, mulailah dengan hal yang terkecil sekalipun, mulailah dari ibadah seharian kita.
Mengapa Muslimah memakai hijab? Tanyalah pada diri sendiri dan jawablah. Apakah “karena ingin terlihat cantik”? Jika begitu, maka hanya itu saja yang kamu dapatkan. Jawablah “karena ini adalah perintah Allah, aku mengikutinya ingin agar Allah ridha kepadaku. Karena muslimah itu seorang yang terjaga kehormatannya. Karena dengan hijab maka seorang wanita tidak hanya dilihat dari bodinya saja, tapi perangai dan kecerdasannya, dengan hijab akan membuatku malu untuk berbuat jahat, aku menyeru kepada sekitarku bahwa hijab bukan penghalang kesuksesan dan hijab nyaman dipakai juga terlihat lebih cantik.” Apa yang kamu dapatkan kalau niatmu seperti ini? Pasti berlipat-lipat kan keuntungannya?
Pelajarilah dan biasakanlah, seperti saat kita tidak bisa makan dengan tangan kiri, karena fitrah kita terbiasa dengan tangan kanan. Dan kita akan diciptakan dalam keadaan ini. Kita tidak bisa melangkah satu langkah saja kecuali dengan niat. Berbahagialah jika kita mampu seperti itu.
Begitulah jalan menuju ikhlas, karena itu, ketika seorang sahabat Nabi meninggal, dikatakan kepada seorang tabi’in (generasi setelah sahabat), “Berjalanlah bersama kami mengikuti jenazah seorang sahabat,” ia menjawab, “tunggu sebentar.” Maka ia pun terdiam, lalu berkata, “Berjalanlah bersama kami.” Hingga laki-laki itu bertanya padanya, “apa yang menghentikanmu sebentar?” ia menjawab, “aku duduk mempersiapkan niatku.”
Ketika ketaatan berubah menjadi sekedar rutinitas kebiasaan, maka berkuranglah rasa ketaatan dalam ibadah tersebut. Oleh karena itu kita perlu memperbaharui niat, mengevaluasinya juga. Agar semangat dan keikhlasan di hati kita menjadi baru kembali. Sehingga keimanan kita tidak mengalami degradasi atau futur dan kelunturan.
Demikian juga para pemuda yang telah terbiasa melakukan shalat di masjid. Hendaknya mereka memperbaharui niat sebelum melakukan satu gerakan apapun, atau sebelum melakukan satu dari amal-amal ketaatan. Dengan demikian kita akan terus ikhlas dan mementingkan ketaatan kepada Allah.

2. Niat Dalam Adat Kebiasaan
Niat merubah amal kebiasaan menjadi ibadah. Di waktu kita sehari 24 jam ini apa yang paling banyak kita lakukan? Apakah shalat? Baca Al-Qur’an? Masak? Belajar? Bekerja? Jika kita seorang pelajar mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, pun dengan seorang pekerja akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya. Jadi, apakah waktu yang telah kita habiskan tersebut bukan untuk Allah? Waktu yang panjang itu? Apakah hidup kita yang bukan untuk Allah akan memberi manfaat?
Maka disinilah perannya niat. Niat mengubah kebiasaan menjadi ibadah. Ayo katakan, “Aku belajar karena orang shalih tak layak gagal, Sehingga aku tidak mencoreng muka orang mu’min nan shalih. Aku bekerja untuk menakhodai perekonomian dunia agar orang mukmin  tidak selalu bergantung dengan orang kafir dan orang fasik. Dan agar orang mu'min menjadi pemimpin dunia.”
Dengan niat yang seperti ini, Insya Allah setiap usaha, goresan pena, keringat dan langkah kaki kita mendapatkan pahala. Ikhlaskan hati kita hanya untuk Allah, karena tiada berguna jika menjadi kaya karena dunia, tapi akan sangat-sangat bermanfaat jika untuk fii sabiilillah.
Apa yang kita harapkan dari mempunyai anak? Apakah hanya untuk berbangga dengan keturunan? Hanya teman bersenda gurau? Dengan niat ini kita tidak akan mendapatkan pahala. Tapi jika kita niatkan, “Aku ingin mempunyai anak yang mentauhidkan Allah, aku ingin ia setangguh Muhammad Al Fatih yang meruntuhkan benteng Konstantinopel, secerdas Abdullah bin Mas’ud, segagah Umar bin Khattab, ingin ia menjadi syuhada di jalan Allah dan kelak membantu orang tuanya di akhirat.” Maka semua jernih payah kita selama mendidik dan mengasuh anak akan berbuah menjadi pahala, karena kita mendidiknya untuk menjadi hamba Allah. Demi Allah, sulit untuk sempurna dalam berikhlas, namun berniat dalam melakukan ibadah dalam adat kebiasaan kita sangat mungkin dilakukan.

3. Niat Dalam Perkara Yang Kita Tidak Mampu
Perkara apa yang kita tidak mampu untuk melakukannya? Misalnya pergi haji dan umrah. Maka katakanlah pada diri sendiri, “Ya Allah, jika engkau memberiku harta maka, aku akan melakukan umrah, mengunjungi masjid Rasulullah setiap tahun.” Percaya atau tidak, atas izinNya kita akan mendapatkan pahala umrah setiap tahun.
Ketika kembali dari perang Tabuk, jarak Tabuk ke Madinah hampir 1000 km, jarak yang jauh lagi panas. Konon, sahabat bergantian menaiki kendaraan yang terbatas, ketika itu Nabi bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada kaum yang tidak melewati jalan atau menerobos bukit kecuali mereka bersama kalian. Mereka bersama kalian dalam pahala, udzur telah menghalangi mereka.” (HR Bukhari Muslim). Dahsyatnya niat, mereka belum keluar karena udzur, tetapi mereka memperoleh pahala sempurna.
Jadi, sampai sini ingat niat kita, bagaimana kita harus meniatkannya. Nabi shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mendatangi ranjangnya sambil berniat melakukan qiyamullail, tetapi ia terserang kantuk sampai pagi, ia akan mendapatkan pahala sesuai yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim)
Namun! Berusahalah sesuai niat kita, jika kita jujur meniatkannya maka kita akan memasang jam weker, atau memohon untuk dibangunkan oleh teman, atau minta dipercikkan air oleh ibu, jangan hanya niat tapi tidak berusaha! Apakah kita menyangka mendapatkan pahala qiyamullail meski kita tidak berusaha? Tidak! Maka jujurlah dengan niat kita dan berusahalah.
Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta kesyahidan di jalan Allah dengan benar, Allah akan menyampaikannya pada kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas ranjangnya.” (HR Muslim, Abu Daud dan At-Turmudzi)
Apakah kita semua mau mati syahid yang jaminannya sudah pasti syurga? Jika kita meniatkannya dengan benar, dan mengusahakannya. 
Nabi bersabda, “Dunia diperuntukkan bagi empat golongan. Pertama, hamba yang dikaruniakan Allah kekayaan dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada Tuhannya, menyambung silaturahimnya, dan menyadari hak Allah di dalamnya. Ini adalah posisi yang paling utama. Kedua, hamba Allah yang dikaruniai ilmu oleh Allah tanpa karunia kekayaan, namun ia berniat tulus menyatakan, kalau saja aku memiliki kekayaan, tentu aku akan beramal seperti fulan,” Meski ia hanya berniat, sedangkan yang pertama telah berbuat, menurut Rasulullah, “Pahala keduanya sama sejajar.” (HR An-Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)
Sampai disini, saya katakan sekali lagi niatkanlah pada perkara yang tidak kita miliki! “Jika aku mempunyai mobil....”. Jika aku dikaruniai anak......”. “Jika aku diberi kekayaan....”. Niatlah karena Allah, lalu bayangkan pahala kita mendapatkan pahala mereka. Sudahkah kamu meniatkannya?

(Dikutip dari buku Hati Sebening Mata Air karya Amru Khalid, dengan banyak perubahan)
Oleh : Siti Nuril Fathimiyyah (Direksi IDETE)

Ramadhan Bulan Perjuangan


Ramadhan, satu bulan dari dua belas bulan hijriah yang kehadirannya selalu ditunggu oleh seluruh umat Islam. Kehadirannya selalu dinanti oleh umat Islam, karena keagungan, kesucian, dan kebaikan yang dibawa olehnya. Seluruh sendi kehidupan umat Islam di bulan ini menjadi berharga karena janji dari Rasulullah saw. amalan wajib berkali lipat pahalanya, amalan sunnah menjadi seperti wajib pahalanya.

Dzikrullah membumbung tinggi tiap waktu mengiringi shaum, ayat-ayat suci al Qur’an menjadi bacaan harian yang didambakan. Umat Islam berbondong-bondong mendatangi rumah Allah tiap malam untuk berdiri, ruku’, sujud, menyempurnakan salam-salam taraawih.

Begitu banyak variabel kebaikan dan rasaa’ilut tarbiyyah yang seharusnya bisa menjadikan seorang mukmin keluar dari madrasah rabbaniyyah ini sebagai mu’min haqqan, karena ia merealisasikan ibadah ramadahan sebagai momentum perubahan kepada ketakwaan yang lebih tinggi dan terpuji.
Namun dari sekian banyak pesan tarbiyah (bentuk pendidikan) yang Allah berikan untuk umat Islam, ada satu pesan tarbiyah yang Allah tekankan ada pada tiap ibadah umat dalam bulan ini. Yaitu pesan perjuangan.

Pesan agar umat islam berjuang di jalan Allah swt. bahwa sejak Allah syari’atkan puasa untuk umat ini di tahun kedua hijriah, Allah swt. takdirkan umat islam untuk terus melakukan perjuangan. Perjuangan dalam banyak artian, diantanya perjuangan dalam artian menaklukkan apa yang lebih besar dari diri sendiri, pesan ini nampak dalam pesan shaum, dimana seorang mukmin ketika berpuasa hakikatnya ia sedang berjuang menaklukkan hawa nafsu yang mengajaknya pada maksiat dan kufur nikmat.

Juga perjuangan dalam artian, menaklukkan musuh Allah dalam peperangan dan membebaskan kaum muslimin dari cengkeraman mereka. Ya, sejarah mencatat bahwa peperangan terbesar pertama milik umat islam terjadi pada bulan Ramadhan.

Perang Badar Al Kubro yang terjadi pada tahun 2 Hijriah menjadi bukti nyata perjuangan umat Islam menghadapi kaum musyrikin Makkah. Perjuangan yang seendainya tidak dimenangkan kaum muslimin, maka keberadaan kita sebagai seorang muslim barang kali patut dipertanyakan.

Perjuangan dalam artian berjihad membebaskan tanah umat islam dari penjajahan kaum imprealis juga pernah kita lakukan, ya kita bangsa Indonesia, yang memproklamirkan kemerdekaan negara kita pada bulan Ramadhan, hari ke sembilan tahun 1346 Hijriah. Cita-cita besar yang akhirnya terwujud setelah tumpahnya darah jutaan jiwa, bahkan sebelum bapak proklamator kita, Bung Karno lahir. Darah pasukan Pengeran Diponegoro saat Perang Jawa begejolak, darah para mujahid Perang Sabil di Aceh, darah para Sultan Islam, dan prajuritnya dari mulai Banten, Mataram, Ternate, Tidore, hingga Makassar.

Dan jikalau perjuangan memproklamasikan Indonesia di waktu tersebut tidak berhasil, maka mungkin pula keberadaan kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia saat ini patut pula dipertanyakan. Karenanya, selain bersyukur kepada Allah swt. atas limpahan rahmat-Nya menjadikan kita umat islam yang hidup di Indonesia dengan lisan, seyogyanya bagi kita juga menyusukuri nikmat tersebut dengan sepenuh jiwa raga kita.

Dengan menghidupkan kembali api perjuangan dalam dada kita, sebagaimana para pendahulu kita menyalakan api tersebut dalam dada mereka. Apalagi jika kita intropeksi diri kita lebih dalam, dan menemukan jati diri kita lebih dari sekedar seorang muslim, tapi jati diri kita sebagai seorang aktifis gerakan mahasiswa islam. Yang seharusnya lebih membuat api perjuangan itu lebih membara dan bertahan lama.

Perjuangan melawan rezim pemerintahan yang kian hari kian represif terhadap umat islam. Rezim yang semena-mena menawan kebebasan para ulama dengan meng-kriminalisasi mereka. Rezim yang seakan lupa dan diam membiarkan keadilan sosial terampas dari rakyat, dan memonopolinya untuk kepentingan asing dan aseng. Rezim yang perlahan mematikan nawacita reformasi, dengan mempertontontkan kebatilan tiap hari di hadapan rakyat. Rezim yang kini sudah bertranfrormasi menjadi tirani hukum, dengan menangkapi aktifis-aktifis islam dan membiarkan aktifis selainnya yang sama-sama berdemonstrasi menuntut didengar suaranya.

Maka kita sampaikan dengan lantang, kami tidaklah takut akan kebatilan! Karena ia akan selalu menjadi musuh kami. Dan bahwa menyatakan kalimatul haq di depan pemimpin zhalim adalah sebaik-baik jihad!. Tidak ada satupun rekayasa manusia yang mampu membuat kami mundur dari baris terdepan memperjuangkan kepentingan agama Allah ini, karena kami yakin di bulan agung ini, Allah swt. akan melipatgandakan ganjaran dari perjuangan ini lebih banyak dan lebih besar lagi.


Karena pula, perjuangan kita selalu diliputi kewaspadaan akan tidak bisanya generasi yang hidup setelah kita merasakan nikmatnya berislam dan beriman dengan leluasa. Sebagaimana para generasi badar di zaman Rasulullah saw. khawatir bahwa islam tidak dapat lagi terwariskan para generasi anak cucu mereka dengan baik. Perjuangan kita juga diliputi kecemasan akan hilangnya nurani yang berkeadilan dari bumi pertiwi ini, sebagaimana para founding fathers kita dahulu cemas anak cucu yang hidup di generasi setelah mereka kehilangan rasa keadilan bagi seluruh rakyat negeri ini.


Berjuang dan lawan tirani !




Penulis : Muhammad Saihul Basyir (Ketua Umum KAMMI LIPIA)

Bencilah Kesalahannya Saja


Adakalanya, dalam kehidupan ini kita menyaksikan beberapa orang melakukan kesalahan tepat di depan kita. Tak jarang pula, mereka yang melakukan kesalahan adalah orang terdekat kita. Terkadang, saat mereka melakukan kesalahan akan timbul rasa benci dari dalam diri kita. Terutama, jika yang kesalahan yang mereka lakukan berhubungan dengan diri kita.

Setiap orang, pasti pernah melakukan kesalahan. Tak ada yang bisa terbebas dari tindakan salah. Melakukan kesalahan, adalah salah satu tabiat manusia. Karena, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Jadi, memanglah begitu keadaan kita sebagai manusia. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau mengakui kesalahannya kemudian bertaubat darinya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Kullu banii Adam khotthooun, wa khoiru khotthooinna attawwabuun. Setiap Bani Adam pasti bersalah. Dan sebaik-baik orang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”

Akan tetapi, seringkali kita tak mau tahu dengan kesalahan yang orang lain lakukan. Sekali dia melakukan kesalahan pada diri kita, maka saat itulah kita akan mulai benci padanya dan tidak mempercayainya. Itulah yang sering terjadi.

Seharusnya, kita tidaklah membenci orang yang melakukan kesalahan. Namun, bencilah perbuatannya. Nasihatilah ia untuk tidak melakukan kesalahan itu tadi. Bukan malah kita menjauhinya dan merasa aneh jika berada di dekatnya.

Setidaknya, begitulah yang telah diajarkan oleh salah seorang Sahabat Rasulullah yang hidup di generasi terbaik umat ini.

Abu Qalabah bercerita, “Suatu hari, Abu Darda’ melewati seorang laki-laki yang telah melakukan satu kesalahan, lalu dimaki-maki oleh banyak orang. Abu Darda’ mencegahnya seraya berkata, ‘Jika kalian mendapatinya terperosok dalam satu lubang, apakah kalian akan mengeluarkannya? 

Mereka menjawab, 'Ya.’ 

Ia berkata, 'Kalau begitu, janganlah kalian mencelanya. Bersyukurlah kepada Allah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa dan kesalahan.’ 

Mereka bertanya, 'Apakah engkau tidak membencinya?’ 

Ia menjawab, 'Yang kubenci adalah perbuatannya. Jika dia meninggalkan kesalahannya, maka dia saudaraku.’"

Itulah mengapa, islam begitu indah. Tak ada rasa benci pada sesama muslim meskipun mereka melakukan kesalahan. Selama dia mau mengakui kesalahannya seraya bertaubat dari perbuatan itu, maka dia masih saudara kita dalam Islam.

Maka, bencilah kesalahannya jangan membenci orangnya. 

Oleh: Putri Andina Afisyah

Lemparan Batu Kecil

Pernahkah membaca buku "Setengah Isi Setengah kosong (Half Full-Half Empty) karangan Parlindungan Marpaung? Ini adalah buku motivasi yang cukup memikat bagi saya. Bahasanya yang ringan dan mudah dipahami memberikan nilai tambah pada buku ini. Di sini saya tidak akan me-review semua isi bukunya, tapi hanya ingin berbagi satu cerita yang saya anggap sangat menarik untuk di-share.

Dalam cerita itu dikisahkan, suatu kali kota Pensylvenia di Amerika serikat dilanda gempa dahsyat sehingga memporak-porandakan kota. Oleh sebab itu, pemerintah setempat merencanakan untuk memulihkan kota tersebut. Suatu saat, mandor bangunan yang memimpin renovasi berjalan-jalan sambil melakukan pengawasan terhadap para pekerja. Saking asyiknya berjalan, sang mandor tidak melihat bahwa beberapa langkah di depannya terbentang kabel listrik bertegangan tinggi yang siap merenggut nyawanya.

Pekerja yang berada beberapa meter di belakangnya melihat bahaya yang mengancam mandornya. Ia berusaha memberi peringatan padanya dengan berteriak. Namun, teriakannya nyaris tak terdengar ditelan suara-suara bising pembangunan. Langkah mandor semakin dekat dengan kabel. Akhirnya pekerja mengambil batu kecil dan melemparkannya pas mengenai kepala sang mandor. 

Sang mandorpun marah dan melihat ke belakang untuk mencari pelaku pelemparan. Ketika melihat ke belakang, pekerja yang melempar batupun angkat tangan dan mengarahkan tangannya ke kabel listrik tersebut. Sontak sang mandorpun syok dan kaget luar biasa. Bagaimana tidak, dua langkah kedepan kakinya akan menginjak kabel listrik bertegangan tinggi yang siap merenggut nyawanya. Allah mengirimkan pekerja itu untuk menolongnya, walaupun kepalanya harus terkena lemparan batu. Alhamdulillah.

* * *

Apa ibroh yang bisa kita ambil dari cerita diatas?

Mari kita telisik bersama-sama!
Seperti yang kita pahami, Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik rupa.
لقد خلقنا الإ نسان في أحسن تقويم (التين)
Dan Allah pun membekali manusia dengan potensi-potensi yang luar biasa. Tugas kita adalah Memaksimalkan seluruh potensi yang ada dan mengarahkannya pada hal-hal positif dan bermanfaat untuk diri sendiri maupun lingkungan. ada banyak hal yang menunggu di seberang sana. Kawan, lawan, peringatan, ketidaksanggupan, perpecahan dan masih banyak hal lain yang mengikuti perjalan kita. Bahkan terkadang, banyak bisikan-bisikan yang mencoba untuk menjerumuskan kita ke jurang kehancuran. Popularitas, ambisi, kesombongan dan kekayaan mulai membutakan mata kita dan menumpulkan ketajaman pendengaran kita terhadap suara-suara peringatan. 

Ada kalanya seorang harus "dilempar batu" agar tidak semakin melenceng lebih jauh. Seorang senior harus berurusan dengan kepolisian lantaran rumah yang di belinya bermasalah. Seorang teman harus kehilangan ayahnya ketika malam idul fitri. Seorang adek harus merasakan perpisahan dengan orang tuanya ditambah dengan penyakit yang mulai menggerogoti kesehatannya.

Lemparan batu tersebut ternyata memberikan efek yang luar biasa. Menjadi bahan intropeksi diri untuk melejitkan kesuksesannya dan meningkatkan kualitas diri. Namun, tidak sedikit manusia yang memaknai "lemparan batu" itu dengan sebuah kegagalan, kehancuran dan kejatuhan kemudian membuatnya tak mampu bangkit lagi. Bukan "lemparan batunya", tapi yang terpenting ialah bagaimana menentukan sikap dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi. Kesuksesan dalam melewatinya atau kegagalan. Semua itu adalah pilihan. Life is choice, kata seorang filsuf. Hidup kita ingin berakhir happy ending atau sad ending. Dalam berorganisasipun kita akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Menjadi pemimpin yang melayani atau dilayani. Aktifis teladan atau aktifis kabur-kaburan. Selalu datang terlambat atau selalu tepat waktu dalam jadwal pertemuan. Menjadi manusia yang penuh manfaat atau hanya menjadi sampah masyarakat. Semua adalah pilihan. Namun, setiap pilihan pasti mempunyai konsekuensi. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita ketam. Semua pilihan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Siap atau tidak dengan semua pilihan, roller coaster akan segera meluncur. Hidup akan terus bergulir. Pilihan-pilihan akan tetap berdatangan. Jika kita ragu atau bingung, maka lakukanlah sholat 2 rakaat sunnah seperti yang diajarkan Rasulullah. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam menentukan pilihan.

Dan apabila hari ini kita mendengar suara-suara peringatan atau merasakan "lemparan batu" yang sungguh sangat menyakitkan, akankah dimaknai sebagai dinamika hidup atau momok menakutkan yang harus dihindari? Silahkan jawab sendiri! Itu adalah pilihan.

Oleh : Atika Tazkiyah (Badan Perempuan KAMMI LIPIA)