Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Aksi TPPJ KAMMI :Tolak Poilitik Uang





Sejumlah mahasiswi yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar aksi aksi wujudkan pilkada damai di lokasi pelaksanaan hari bebas kendaraaan bermotor (HBKB) di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/4). Aksi yang digelar oleh Tim Pengawal Pilkada Jakarta (TPPJ) KAMMI itu menyuarakan supaya Pilkada DKI Jakarta terbebas dari praktik money politik yang dapat menghancurkan demokrasi bangsa. 

Ketua Pengurus Wilayah KAMMI Jakarta, Najmu Fuadi, mengatakan setidaknya ada tiga bentuk kecurangan yang patut diwaspadai.

"Pertama kecurangan money politik atau serangan fajar. Kedua adanya pemilih siluman. Dan ketiga, kecurangan dalam perhitungan dan rekapitulasi suara," katanya di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Selain itu, pihaknya dari Tim Pengawal Pilkada Jakarta (TPPJ KAMMI) juga mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya mahasiswa untuk terlibat langsung dalam mengawal suksesnya Pilkada Jakarta agar terhindar dari praktek-praktek kecurangan: seperti money politic, manipulasi Suara, dan pemilih gelap.

"TPPJ mengundang seluruh mahasiswa dan pemuda yang peduli tegaknya kedaulatan rakyat dalam Pilgub DKI," katanya.

Najmu berharap agar gelaran Pilgub DKI putaran kedua yang akan datang bisa berjalan dengan lancar, tertib, damai, dan tanpa kecurangan. Sehingga, produk kepemimpinan yang dihasilkan benar-benar berasal dari suara rakyat, bukan hasil dari kecurangan.



Aksi KAMMI se-Jawa Barat, Jabodetabek dan Banten: Tangkap Begal Negara


Bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS), ratusan masa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) se-Jawa Barat, Jabodetabek dan Banten melakukan aksi demo menuntut penangkapan tiga begal negara; pemerintah busuk, pengusaha hitam, dan pemimpin korup. Aksi yang rencana digelar di depan istana terpaksa dipindahkan ke depan gedung Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan, karena mendapat halangan dari boder kawanan polisi. (Jumat, 21/05/2016)
Rangkaian Aksi kali ini dimulai dengan longmarch dari patung kuda pada pukul 13.00 sampai dengan tempat tujuan. Setelah sebelumnya dibuka dengan doa bersama dan pekikan takbir, sebagai simbol sebuah gerakan islam yang masih teguh menggenggam kokoh idealismenya, bukan sekedar pragmatisme semata. Walaupun sempat diwarnai kericuhan dan aksi baku hantam dengan petugas, ketika mereka menyita mobil sound dan peralatan aksi dari kerumunan masa. Bahkan salah satu dari demonstran sempat mengalami pendarahan di kepalanya. Namun dapat segera direlai setelah ada mediasi dari kedua belah pihak. Ketua PP KAMMI, Kartika Nur Rahman mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya selalu melakukan aksi dengan damai, tertib dan taat aturan, namun justru selalu ada propokasi dan tindakan melanggar hukum yang dilakukan aparat. "Aksi yang KAMMI lakukan ini aksi damai. KAMMI tidak anarkis. KAMMI tertib dalam menyuarakan aspirasi. Mengapa teman kami dipukul hingga terluka? Ini bukti kebobrokan pemerintah. Padahal polisi adalah kawan kami, rakyat seperti kami. Kita sama-sama berjuang membela rakyat dan negara," ungkapnya.  Salah satu dari kordinator aksi lainnya berujar bahwa ia mendatangkan massa yang lebih banyak, jika dalam beberapa bulan ke depan tuntutan merkeka tidak dipenuhi. "KAMMI akan turun dengan massa yang lebih banyak kawan-kawan, dengan massa yang lebih kuat,”teriak Indi, Ketua Bidang Perempuan PP KAMMI. Sebelum bubar meninggalkan tempat aksi, para demonstran bersama-sama membacakan delapan Manifesto Reformasi dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP KAMMI Kartika Nur Rahman, kemudian diakhiri dengan menyanyikan lagu perjuangan dan do'a bersama. Rep: Nafiah / Red: Kasyaf


Demonstran Ikhwan

Demonstran Akhwat
Topeng Ganyang 3 Begal

Pasukan Brimob


Pasukan dari KAMMI LIPIA
Tameng Polisi Mengepung Demonstran

Menyambut Kehadiran MEA

 
     Telah tercatat dalam sejarah bagaimana sepak terjang per- juangan para Ulama dan Santri da- lam mengusung Indonesia untuk men- jadi negara merdeka. Saat inipun Indonesia masih berstatus 'merdeka' dan terus berusaha untuk berkem- bang menjadi Negara Maju. Disisi lain Negara-Negara tetangga tam- pak terus berkembang menjadi negara maju, namun kita dapati In- donesia terkesan hanya bergerak maju dan kadang pula mundur.
 
     Sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai bangsa Indonesia, harus bangkit dan terus berusaha untuk memajukan Indonesia dalam segala aspek, dilihat begitu banyak potensi yang dimiliki bangsa ini yang sangat mendukung untuk menjadi bangsa yang berperadaban dan terdepan dari bangsa-bangsa yang lain. Terlebih asepek-aspek yang selama ini dipandang remeh bangsa lain, seperti ekonomi, pendidikan, yang tentung dengan berlandaskan dengan nilai Agama. Apalagi saat ini telah diberlakukan sebuah sis- tem pasar bebas di negara-negara ASEAN yang disebut dengan MEA.
 
     Apa itu MEA ? MEA Atau "Masyarakat Ekonomi Asean" meru- pakan Sebuah istilah baru yang sebenarnya di hadirkan untuk menggantikan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang berdiri sejak ta- hun 2003. Inisiatif pembentukan MEA berawal pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN di Kuala Lumpur tahun 1997, yang me- rencanakan intregitas kawasan ASEAN pada tahun 2020. Namun KTT di Bali tahun 2003, memutuskan untuk mempercepat intregasi kawa- san ASEAN dengan mendeklarasi- kan MEA pada tahun 2015.
    Dan akhirnya, siap ataupun tidak ditahun 2016 ini, sistem pasar bebas itu mulai ber- jalan. Bagaimana setiap negara yang ter- gabung dalam ASEAN diberi kebebasan seluas- luasnya untuk mengembangkan perekonominya masing-masing. Seluruh pihak diberi kesempatan yang sama untuk bersaing, tidak ada lagi bata- san dalam jual-beli barang, jasa, investasi, atau- pun modal antar negara. Semuanya bebas tanpa tarif antar negara.
 
    Muncul berbagai pertanyaan; apakah MEA lebih banyak berdampak baik ataukah buruk ? Terkhusus untuk bansa Indonesia, Apakah Indonesia yang merupakan salah satu Negara terbesar dengan jumlah penduduk yang begitu padat dari negara-negara lain yang tergabung dalam ASEAN telah siap menghadapi per- saingan ekonomi nantinya ?
 
    Seperti telah disebutkan sebelumnya, bangsa Indonesia dengan segala potensi dan SDA yang melimpah ruah, sebenarnya itu semua bisa menjadi potensi besar bagi bangsa Indone- sia untuk bisa menjadi yang terdepan dalam pereekonomian. Namun sayangnya kenyataan yang saat ini kita dapati, kepemilikan SDA In- donesia hanya sekedar kepemilikan saja tanpa kepenguasaan sebenarnya, pengolahan pun demikian, sebagian besar SDA masih dikelola oleh pihak-pihak asing yang tentuk tidak ber- pihak dengan kemaslahatan bangsa Indonesia. Maka apakah Indonesia masih punya harapan ?
 
    Walaupun tujuan awal dari MEA tampak begitu baik, yaitu untuk meningkatkan pem- bangunan ekonomi dan kesejahteraan bersama dalam kawasan ASEAN. Tapi, kita tidak tahu apakah MEA akan berjalan sesusai tujuan atau tidak, atau justru akan berjalan atas tujuan lain. Dan Kita juga tidak tahu apakah Indonesia akan semakin terpuruk dan terjajah dengan MEA, ataukah semakin bangkit dan berkembang.
 
    Bagaimanapun MEA memiliki 2 wajah bagi bangsa Indonesia, Ia bisa menjadi pompa bagi perekonomian Indonesia, namun bisa juga menjadi penyedot ekonomi Indonesia.
 
    Kekhawatiran mulai muncul dari berbagai pihak terkait dampak MEA bagi Indonesia. Apalagi sampai saat ini, kita belum melihat langkah nyata dari pemerintah dalam menghadapi MEA. Bagaima- na kita harus menyikapinya?
 
    Kembali lagi, siap ataupun tidak siap, mau ataupun tidak mau, saat ini MEA telah dimulai. Kita, bangsa Indonesia, harus menghadapinya.Bukan wak- tunya lagi kita pertanyakan 'Apakah MEA ini baik atau tidak? Apakah MEA akan dijalankan? Apakah dampak dari MEA?'
 
    Sebagai tonggak bangsa, para pemuda dan mahasiswa harus bangkit dan bergerak. Bergerak untuk siapkan diri hadapi MEA. Kita desak pemerintah agar menyusun strategi yang matang dalam menghadapi MEA. Lalu, kita dukung pemerintah untuk melaksanakannya. Kita juga harus bangun bersama pendidikan dan ekonomi masyara- kat Indonesia. Kita tanamkan pada diri bangsa Indo- nesia ini untuk semangat berkarya dan membangun negeri. Indonesia harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin SDM dan SDA yang dimiliki untuk bersaing dalam pasar bebas ini.
 
   Tidak terkecuali kita yang sebagai Maha- siswa LIPIA, dengan kafaah syari'ahnya yang begitu kental tidak selayaknya hanya sebagai penonton saja dan bersifat pasif tidak peduli, semua harus mengabil sikap, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi MEA. Selaku seorang pemuda Muslim sekaligus da'i, Mahasiswa LIPIA dituntut untuk mam- pu memotar otak dan menyusun strategi jitu, bagaim- ba kondisi saat ini bisa dimanfaatkan untuk kema- juan dakwah Islamiyah. Selayaknya sebagai pe- juang islam, sudah sepatutnya untuk kita berusaha menghadapi persaingan dengan para pengusaha asing. Jangan sampai kita biarkan orang lain menja- jah negeri kita secara perlahan. Jangan biarkan pa- ra kafir dan musyrik menguasi kita. Tapi justru baliknya, kitalah seharusnya yang menguasai mereka.
 
"Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnakan orang-orang mukmin." (Q.S. An Nisa': 141)
 
    Jadi dengan adanya MEA ini, Selain kita dapat ikut bersaing dalam pasar bebas, kita selaku pejuang dakwah juga memiliki kesempatan untuk menyebarkan islam, bagaimana caranya tinggal bagaimana kreatifitas masing-masing, en- tah itu dengan mengirimkan da'i-da'i dan ustadz- ustadz ke negeri tetangga untuk berdakwah atau- pun yang lainnya. Dengan begitu, InsyaAllah dengan izin-Nya dan usaha para da'i islam dapat berjaya kembali.
 
    Ingatlah... saat ini, kita semua; para muslim, para pemuda, para pelajar, para negarawan, dan seluruh masyarakat bangsa Indonesia, kini kita semua tengah berada dalam sebuah lapangan pertandingan. Pertandingan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menguasainya. Pertand- ingan untuk menjaga stabilitas negara. Dan juga pertandingan menegakkan agama. MEA sudah da- tang menghadang di depan mata. Maka, dari sekarang juga mari kita bergerak dengan men- gahrap Ridho Allah untuk menghadapi MEA. Kita yakin Allah, dengan rahmat dan kuasaNya, Ia akan membantu para pejuang Islam dalam per- tandingan MEA ini.
 
Selamat berjuang dan bertanding dalam MEA !!!
Oleh : Iffa Abidah (Staff Dept. MEKOMINFO)
Di publikasikan juga pada buletin As Shohwah edisi Februari, download selengkapnya disini

Ahmad Z : Muslim Indonesia Belum Mempunyai Kesadaran Penuh dalam Berpolitik





Kajian umum yang diadakan oleh KAMMI komisariat LIPIA di aula masjid Al-Ikhlas Jati Padang-Pasar Minggu, sabtu (28/11/2015) malam. Yang dihadiri oleh sekitar lima puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta, khususnya mahasiswa LIPIA itu sendiri.
Kajian yang bertemakan “Muslim Indonesia dan Masyarakat Dunia Masa Depan” dengan narasumber Ust. Ahmad Zainuddin lc, salah satu anggota DPR RI. Di awal beliau mencoba memaparkan data tentang jumlah muslim di Indonesia dari tahun ke tahun berdasarkan sensus penduduk.
“Muslim di Indonesia adalah mayoritas, dari data statistik jumlahnya ialah 82% pada tahun 2010, sepuluh tahun sebelumnya jumlah penduduk muslim indonesia ialah 85% dan sepuluh tahun ke belakng sebelum itu ialah 95%, saya kira ini hal yang memprihatinkan, berarti terjadi pengurangan jumlah muslim indonesia dari tahun ke tahun, dan ini harsus jadi bahan perhatian kita bersama sebagai kader dakwah,” terang Ahmad Z.
Kualitas keislaman di Indonesia hari ini sebenarnya jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dilihat dari banyaknya kajian-kajian islam dan kesadaran masyarakat dalam islam sosial seperti berzakat, infaq dan lain-lain juga semakin meningkat.
Kesadaran keberislaman di Indonesia dari aspek keilmuan dan soisal cukup menjanjikan, terbukti dengan banyaknya kajian-kajian islam, kesadaran masyarakat dalam berzakat juga semakin baik, lembaga-lembaga charity semakin banyak. Dulu umat islam Indonesia banyak mengandalkan dana chartiy dari negara-negara timur tengah, tetapi sekarang justru banyak lembaga charity di timur tengah yang tengah dipersulit operasionalnya semenjak tragedi 9/11. Bahkan ada berita terbaru, WAMY di Saudi sudah ditutup beberapa hari yang lalu,” Jelas Ahmad Z yang mengurusi bagian hunbungan internasional di DPR RI.
Dengan bekembangnya Islam di Indonesia secara keilmuan, beribadah dan aspek sosial tentu ini hal yang menggemberikan tetapi hal tersebut tidak berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat dalam berpolitik.
Dalam kehidupan berpolitik masyarakat Indonesia dinilai belum mempunyai kesadaran yang penuh untuk melakukan hal itu bahkan acuh, pada pemilu tahun kemarin saja, hanya sekitar 23% umat Islam Indonesia yang memilih partai bercorak Islam, selebihnya memilih partai nasionalis atau bahkan tidak peduli dengan apa yang mereka pilih,” papar Ahmad Z yang juga merupakan alumni LIPIA.
Kajian yang menarik dan membuat diri kita tergerak untuk membuat perubahan di Indonesia, ya, tentunya dengan dimulai dari diri kita sendiri, terutama dalam hal adab dan bernegara sehingga selanjutnya akan membawa Islam Indonesia terpandang di mata dunia,” ujar Lukman, salah satu peserta kajian tadi malam.(kasyaf/kas)

Penyerahan Bingkisan oleh Sekjen
Peserta Kajian Ikhwan

Peserta Kajian Akhwat