Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

الوقت في حياة المسلم





هل شربتم عصيرا ؟ وهل صنعتموه ؟

حينما نعصر الفواكه  ، سنحصل على قدر قليل من الماء مقابل الفواكه الكثيرة أو الكبيرة ، وهذا العصير القليل نشربه ونتلذذ به وننتفع منه . أما باقية من الفواكه نرميها لعدم نفعها . فاعلم إن مثل الوقت في حياة الإنسان كذلك . ما من فوات الأعوام إلا وهي ذاهبة بلا جدوى كأنها أقشار الفواكه التي رميناها ... ومدة قليلة منها نستغلها للعبادة والعمل والإنتاج والابتكار. ألا وهي مدة قصيرة نديرة من الأعوام الطويلة !

قال الشاعر :
والوقت أنفس ما عنيت بحفظه                               وأراه أسهل ما عليك يضيع
وقال أحمد شوقي :
دقات قلب المرء قائلة له                                     إن الحياة دقائق وثواني

إن الوقت ينفذ كالسهم . غادر الغافل عن حياته . ولا يحسه إلا بعد مماته . ويوم يقوم التغابن ويبعث من مرقده ، ليدرك التحسر عن تفريط حياته .. كأنه يوم يراه لم يلبث إلا عشية أو ضحاها ...
فصدق الله الذي قال في إحدى سوره :
وَالْعَصْرِ (١)  إِنَّ الْإِنسٰنَ لَفِى خُسْرٍ (٢)

نعم ، إن الإنسان لفي خسارة . غرق في اللهو واللعب . وتعدى في الكسل والأسى . وفرط أموره . لايعرف قيمة الوقت فيفعل ما يشاء ويريده . ولكن ، هل يقصد أن الإنسان كله في خسارة ؟

أجاب الرحمن بالآية التي تليها :
إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِالصَّبْرِ (٣)

إن المؤمنين الحقيقيين يخافون الله فاطر السموات والأرض . فيمتثلون أوامره ويجتنبون نواهيه . وينظمون أوقاتهم  ولا يؤجلون أعمالهم ؛ لأنهم يدرون أن موارد الموت ليس لها مصادر ، وأنهم سوف يسألون عن أوقاتهم فيما أفنوها. فالمؤمنون يدومون الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر . ويقومون بالتواصي بالحق والصبر في الطاعة .

فيبقى سؤال ينبغي على أنفسنا .هل فعلنا مثل ما يلزم على المؤمنين الحقيقيين كما في سورة العصر كي لا نكون من الخاسرين ؟

نتمنى ذلك .

_ابنة الحليم_
Oleh : Nur Mawaddah  (Direksi IDETE)

Dear Myself...


Teruntuk diriku... Dapatkan kau bersikap layaknya seorang muslim dimanapun kau berada? Di dunia nyata kau tampak begitu mulia. Gerakmu, langkahmu menunjukkan azzam yang begitu kuat. Aku selalu kagum melihatmu. Izzah-mu sungguh tak bisa diragukan lagi. Aku akan semakin kagum denganmu jika begitu pula yang kau tunjukan di dunia maya. Kenapa sering sekali kutemukan engkau yang begitu mengumbar sikap? Bersikap seperti orang lain yang tak terlalu mengenal islam pada umumnya. Tidakkah kau ingat tarbiyahmu selama ini? mungkin sudah bertahun-tahun lamanya? Tapi, ah.. kenapa masih saja sikapmu tidak mencerminkan semua itu!? Aku tahu dunia maya terkadang memang membuat lalai. Untukmu diriku... kurangi interaksimu di dunia maya yang tidak jelas manfaatnya, bukankah seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya?

Teruntuk diriku... Terkadang dirimu sulit untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi azzam-mu dalam bergaul, kau boleh menyesuaikan gaya pergaulanmu, namun janganlah gaya pergaulanmu itu menyimpang dari nilai-nilai keislaman yang telah digasriskan. Setidaknya tunjukkkanlah sikap seorang muslim. Sikap yang diajarkan Rasullullah, walaupun awalnya mereka akan berfikir engkau sombong, eksklusif dan lain sebagainya yang pasti menjatuhkan diri-mu. Lambat laun mereka akan mengerti beginilah sikap seorang muslim seharusnya. Degan begitu engkau akan tetap mulia dimata Allah. Bukankah yang selama ini engkau harapkan adalah Mulia dimata Allah?? Jika engkau masih berharap mulia dimata manusia, maka perbaikilah niat itu. Sama halnya di dunia maya, kenapa demi ukhuwah katamu, demi solidaritas, demi persahabatan atau apalah yang kau agung-agungkan, kau mau mengumbar-umbar sikap pada orang lain yang jelas kau hanya mengenalnya dari dunia maya. Bukan bermaksud su'uzon, tapi tidakkah terlalu berlebihan jika akhirnya orang itu menjadi tempat curhatmu, menyimpan aibmu.Ya, jika kau curhat dengan sesama jenismu mungkin tidak ada masalah, tapi jika sudah dengan lawan jenis? 

Teruntuk diriku... Kau itu aktifis dakwah atau hanya seseorang yang mengaku-ngaku sebagai aktivis dakwah? mungkin selama ini yang kau tulis di catatan-mu, di blog-mu, di sosmed-mu yang berhubungan dengan harokah dakwah. Apakah syiar islam hanya tameng yang menutupi dirimu yang sebenarnya? Ataukah semua tulisan-tulisan itu hanya agar engkau punya nama dihadapan para manusia sebagai aktifis dakwah? Dimana dirimu yang sebenarnya? Wahai diriku... Engkau tidak perlu menjadi orang lain, jadilah diri sendiri dengan segala kekuranganmu. Walaupun kau dibilang kaku, tidak supel dan lain sebagainya, tapi yakinlah engkau yang terbaik selama engkau mengikuti tuntunan yang telah digariskan oleh Allah.

Teruntuk diriku... Katanya kau manusia pilihan. Kemana materi tarbiyahmu selama ini? kau berusaha mencair dengan beberapa teman sepergaulanmu, tapi engkau justru kehilangan jati dirimu yang sesungguhnya. Jika mereka ingin berteman, maka terimalah apa adanya, ingat bukan dirimu yang terwarnai tapi jadikan dirimu yang mewarnai. Bukan engkau yang ikut arus, tapi engkau yang membawa mereka ke arus yang sama. Terkadang memang dunia maya terlalu banyak godaan. Jika dunia maya saja tidak  mampu ditaklukkan bagaimana mungkin engkau mampu bertahan di dunia nyata? perangmu, senjatamu, dan kekuatanmu yang sebenarnya ada di dunia nyata. . 

Online berjam-jam untuk hal yang tidak ada manfaatnya, apakah itu cerminan seorang muslim? Mengakhirkan sholat lima waktu berjamaah atau bahkan melalaikan apakah itu cerminan seorang aktifis dakwah? Tidur lewat dari jam normal, sehingga ketiduran dan terlewatkan untuk Qiyamul Lail  Karena sudah terlalu lelah, sehingga saat sepertiga malam yang seharusnya terbangaun justru kita masih asyik terbuai mimpi apakah itu cerminan dari seorang yang biasa dipanggil ustadz?. 

Kau begitu terbaui, asik dengan hari-hari mu yang tak jelas. Padahal diluar sana, saudara-mu tengah menangis. Dianiaya orang-orang yang tak berhati. Engkau masih sibuk menyenangkan diri sendiri. Membuai diri sendiri dalam balutan yang kau sebut kesenangan dunia yang pada dasarnya hanya sementara. 

Wahai diriku, aku selalu ingat kata-kata ini "Dakwah akan terus berjalan, walaupun kau tinggalkan jalan dakwah ini, bukan dakwah yang butuh kita, tapi kitalah yang butuh dakwah ini", Setiap jiwa adalah seorang Da'i. Mulai dari diri sendiri, keluarga, sahabat dan orang lain. Semoga engkau termasuk orang-orang yang beruntung, yang senantiasa memperbaiki diri , berusaha mengejar ridho Allah. Bukan hanya kesenangan dunia. 

Kali ini, kutanyakan "Engkaukah seorang muslim? Engkaukah seorang aktifis dakwah? Atau Engkaukah seorang Da'i?" Tolong, jagalah dirimu, jangan sampai orang lain, beranggapan buruk karena tingkahmu yang tidak sesuai, beranggapan bahwa seperti itulah seorang muslim, seperti itulah seorang aktifis dakwah, seperti itulah seorang Da'i.

Jika kita melempar bola ke dinding, pasti lemparannya akan memantul ke si pelempar dengan lebih kuat. Ya, akan kembali ke si pelempar,  kepada diriku sendiri. Bismillah, mari belajar untuk menjadi lebih baik, biarlah Allah  dan orang-orang beriman yang menilai setiap langkah engkau dan aku.

Wallahu'alam.


Penulis : Salman Al-Farisi Basyir (Ketua Dept Mekominfo KAMMI LIPIA)

Kunci-Kunci Istiqomah


Kehidupan di dunia hanyalah sementara. Kematian adalah awal dari hidup yang sebenar-benarnya. Hanya ada dua pilihan bagi setiap manusia. Menjadi bagian dari orang-orang yang Allah ridhoi dan ditempatkan di surga-Nya atau sebaliknya terjerumus ke dalam panasnya api neraka. 

Menggapai ridho Allah bukanlah hal yang mudah, murah dibeli ataupun bisa diwariskan dari para leluhur. Satu-satunya jalan agar bisa mendapatkan ridho-Nya adalah dengan menghadirkan keimanan dan ketaqwaan yang sempurna. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ini adalah bentuk ibadah seorang hamba bagi Robbnya. Ibadah ini tak akan bermakna besar apabila tanpa dibarengi dengan adanya istiqomah dalam melaksanakannya. Nyatanya tiada seorang-pun di dunia ini yang tau kapan ajal akan menjemputnya. Dari sini manusia dituntut agar selalu siap kapanpun ia diambil nyawanya. Tak ada yang tau apakah nantinya ia akan mati dalam keadaan baik sehingga ia menggapai derajat husnul khotimah, atau bahkan sebaliknya ia mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah sehingga ia menjadi manusia yang sangat merugi, karena pada akhir hayatnya ia melupakan Allah, sehingga Allah pun melupakannya nanti di akhirat kelak. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran:102)

Ada dua kunci dalam meraih keistiqomahan. Pertama, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’I, “Siapa yang selalu menemukan dalam dirinya ada kelemahan dan kekurangan, maka dia akan meraih keistiqomahan, maka temukan selalu di dalam dirimu ada kelemahan atau kekurangan maka engkau akan istiqomah.” Dari perkataan ini beliau menjelaskan bahwa orang yang istiqomah adalah justru orang yang merasa kurang. Namun bukan kurang akan uang ataupun harta lainnya, melainkan kurang akan ibadah kepada Allah untuk meraih ridho Allah. Sehingga berdasar dari ini ia menjadikannya sebagai motivasi dan dorongan untuk selalu terus beribadah dan beramal soleh sampai ia mendapatkan ridho-Nya. 

Kedua, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Amal yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” Dalam sabda Rasul ini beliau menjelaskan bahwa amal soleh yang dilakukan secara terus-menerus meskipun dengan kuantitas yang tidak banyak adalah yang lebih dicintai Allah dibandingkan dengan amal yang tidak dilakukan secara rutin. Demikian karena dengan melakukan amal yang bersifat kontinyu ini maka Allah pun juga men-tarbiyah ataupun mendidik hamba-Nya menjadi hamba yang mukhlasin, yaitu hamba yang dikuatkan oleh Allah untuk menjadi seorang yang ikhlas. Demikian pula dengan amal yang sedikit namun terus-menerus ini menjadikan hamba-Nya dengan izin-Nya wafat dalam keadaan melaksanakan amalan tersebut.

Setelah amal-amal yang fardhu terjaga hendaknya seorang hamba memiliki satu amalan rutin yang ia jaga terus-menerus dan bahkan amalan tersebut ia rahasiakan sehingga tidak ada yang tau kecuali ia dan Allah SWT. Dan pada hakikatnya tidak ada orang yang istiqomah selama ia hidup, karena gelar istiqomah hanyalah didapat bagi orang yang sudah mati dan semasa hidupnya ia menjaga amal-amal solehnya kemudian ia mati dalam keadaan mempertahankan iman dan taqwanya. 

Oleh : Muhammad Umair (Staff  Kaderisasi KAMMI LIPIA)

Sajak, Kapan Nyaman?


Sajak ini kutulis untuk saudara-saudariku yang mencari kenyamanan dalam berdakwah, 

Bukan, bukan untuk menghakimi, tapi untuk menasihati. Bukan, bukan untuk menggurui, tapi murni panggilan nurani.

Karena, 
Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah  Adam as yang sudah bahagia di Surga bersama Siti Hawa ditakdirkan Allah turun ke muka bumi kemudian bersusah payah memulai peradaban awal manusia, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Nuh as diperintah Allah untuk mengajak kepada Tauhid dan membangun bahtera di daratan sahara nan kemarau panas terik tanpa tahu apa tujuannya, yang karenanya ia dicaci kaumnya, ditinggal istri dan anaknya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Ibrahim as diperintah untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembah kering tak berpenghuni, setelah bersusah payah menunggu waktu lama melahirkannya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Ismail yang baru mulai tumbuh dewasa diperintah Allah untuk disembelih oleh Ayahandanya, Nabiyullah Ibrahim as setelah bertahun-tahun ditinggalnya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Khalilullah Ibrahim as bersikeras mengajak kaumnya bertauhid, tidak takut dirajam oleh Ayahnya Azar, bahkan mendoakannya agar selamat, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Abul Anbiyaa Ibrahim as tergerak menghancurkan patung-patung sesembahan kaumnya tak takut resiko kematian tepat di depannya berupa dilempar dengan manjaniq ke dalam kobaran api, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Yusuf as lebih memilih penjara sebagai tempat peraduannya dibanding Istana megah kerajaan Mesir berikut kecantikan wanita-wanita di dalamnya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Yunus as tidak bersabar mengajak kaum Ninawa bertauhid hingga Ia ditelan dalam kegelapan berlipat kegelapan di dalam perut ikan paus, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Kaliimullah Musa as diutus untuk membebaskan Bani Israil dari tirani dan kezaliman penguasa? Mengapa ia diperintah Allah untuk mengajak Firaun yang mengaku dirinya Tuhan kepada Tauhid? Mengapa ia diperintah untuk berlelah payah lari dulu dari kejaran Firaun baru dibelah lautan untuknya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Daud as ikut turun berjihad menjadi tentara Tahlut ketika memerangi Jalut hingga ia muncul menjadi pahlawan kemenangan, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Sulaiman as rela menyembelih kuda gagah kesayangannya agar ia dapat fokus beribadah mengingat Tuhannya hingga dibalas dengan kerajaan di dunia yang tiada tandingannya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Yahya dan Nabiyullah Zakariya tidak takut ancaman tirani ketika menyampaikan ajakan Tauhidnya hingga mereka berakhir dibawah tajamnya gergaji dan syahid tubuh terbelah menjadi dua, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Maryam diperintah agar menggoyangkan batang kurma yang dikenal sangat kokoh padahal kondisinya saat itu sangatlah payah hampir-hampir sekarat tersebab melahirkan Isa, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah Isa as harus bersusah payah melarikan diri dari kejaran para pemburunya hingga ia harus diangkat ke langit, padahal ia dimampukan untuk meniupkan ruh hidup pada bongkahan tanah thin berbentuk burung dan hiduplah ia. Padahal ia dimampukan untuk menyembuhkan penderita penyakit kusta dan buta, padahal ia dimampukan untuk mengembalikan hidup orang yang sudah mati dikuburkan, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Habib An Najjar rela berlari dari ujung kota ke tengahnya hanya untuk mengatakan kepada kaumnya Ikutilah para utusan itu, ikutilah mereka yang tidak meminta upah lagi mendapat petunjuk itu kemudian ia mati diinjak-injak oleh kaumnya karena ucapannya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa tujuh pemuda gua berjuluk Ashabul Kahfi harus berlari dan bersembunyi dari kejaran Raja Musyrik nan Zhalim setelah ketauhidan mereka tidak takluk oleh kekuasaan Raja tersebut ke dalam gua, jika pada akhirnya setelah 309 tahun tertidurnya mereka di dalam gua tersebut mereka terbangun, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah wa Rasuluhu Muhammad saw giat mengajak kaumnya meninggalkan kesyirikan padahal karenanya ia dilempari batu dan kotoran, padahal karenanya ia diboikot selama 3 tahun, padahal karenanya ia berkali-kali mengalami usaha pembunuhan, padahal karenanya para sahabatnya mengalami siksaan maha dahsyat dan tekanan super represif selama 13  tahun lamanya di Makkah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Mushab bin Umair saw rela meninggalkan tanah kelahirannya yang darinya ia membangun keluarga, kedudukan, perniagaan, harta, untuk kemudian diutus ke Madinah sebagai muballigh dan muassis tauhid disana, untuk mempersiapkan ladang amal seluruh masyarakat muhajirin lainnya yang mengorbankan hal yang sama demi peradaban baru disana, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Nabiyullah wa Rasuluhu Muhammad saw berjalan kaki ketika menempuh hijrah dari Makkah ke Madinah padahal ia mampu di Isra dan di Miroj-kan dalam semalam ke Baitul Maqdis bahkan menuju langit ketujuh Sidratul Muntaha lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Rasulullah saw ikut turun memecah batu pada perang Ahzab padahal ia melilit perutnya dengan kerikil karena menahan dahsyatnya rasa lapar, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Rasulullah saw bersama para sahabatnya tetap keluar menuju Tabuk padahal panasnya cuaca pada hari itu sangatlah dahsyatnya hingga membuat orang-orang munafik terduduk tidak mau berperang, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Rasulullah saw dalam setiap peperangannya selalu memiliki jumlah pasukan yang lebih sedikit berkali lipat dibanding pasukan musuh, Badar: 313 berbanding 1000, Uhud: 1000 berbanding 3000, Khandaq: 5000 berbanding 10.000, Mu'tah: 3000 berbanding 100.000!, Hunain: 12.000 berbanding 40.000, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Abdullah ibn Rawahah tidak ingin meminta bantuan pasukan tambahan dari Madinah pada perang Mu'tah tatkala ia mengetahui jumlah pasukan musuh berpuluh kali lipat banyaknya, bahkan mengatakan  Kita memerangi mereka bukan dengan jumlah banyak ataupun kekuatan besar, tapi kita memerangi mereka dengan agama ini, yang dengannya kita menjadi mulia! Maka majulah, pilihannya hanya dua, kemenangan atau kesyahidan!, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Hanzholah Ghosiilul Malaikah langsung terbangkitkan dari ranjang malam pertamanya dan meninggalkan istrinya yang baru semalam ia nikmati tatkala seruan jihad datang hingga ia belum sempat mandi janabah ketika ia syahid, sampai-sampai malaikat turun memandikannya, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa Abu Bakar As Shiddiq ra menginfakkan seluruh hartanya, Umar bin Khoththob setengahnya, Utsman bin Affan 300 unta bersama pelana dan 1000 kuda beserta peralatan perangnya pada peristiwa Tabuk, hingga mereka sisakan Allah dan Rasul-Nya saja untuk keluarga mereka, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Jika menunggu nyaman, mengapa para sahabat Nabi Muhammad saw sedikit sekali yang dimakamkan di dua tanah haram; Makkah dan Madinah padahal dua tanah tersebut ialah semulia-mulia wilayah yang ada di atas muka bumi, lalu kalau bukan untuk dakwah?

Dan kisah-kisah heroik para pejuang Islam lainnya yang tidak menunggu nyaman barulah mereka bergerak. Yang lewat tangan-tangan mereka semua lah Allah Azza wa Jalla menyampaikan fitrah agama ini ke seluruh penjuru muka bumi hingga tiap sudut yang ada di atasnya, hingga merasuk di tiap relung-relung hati kita. 

(Bagi mereka) surga '´Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu" (QS. Fathir: 33-35).
Wallahu Waliyuul Mu'minin.

Oleh: M. Saihul Basyir (Kadept Kaderisasi Kammi Lipia)

SANG TUMBAL JALAN





Kemarin, 19 November 2015 sekitar pukul 15.00 WIB, goresan "sejarah kecil" berbisik perih. Memang,  hanya sepotong tragedi kemanusiaan yang tak begitu penting diperhatikan. Tidak ada efek bombastis pengusik jiwa,  tidak ada ketukan rasa di tengah nuansa ibukota.


Darahmu menetes deras,  tumpah ke jalanan, tubuh mungilmu juga terseret dan terhempas keras. Noda hemoglobinmu mungkin saat ini sudah tak berbekas dan dirimu yang hanya seonggok daging juga telah jauh terhapus dari memori nahas. 


Jika di izinkan mengumpat, kami ingin mengutukmu:"Kamu perempuan bercadar yang ENGGAN MEMPERHATIKAN jalan yang kau sebrang,  tak kira sibiru yang beroda menerjang, mengambil taqdirmu dengan kencang. dia hanya susunan benda mati,  dan kau bukan. kau bisa salah, sedang dia tidak. keratan benda mati bernama busway itu tak BERDOSA sedikitpun padamu.  Jikalau berdosa,  pengampunan sudah "laik" diberikan, karena telah berkenan membuang waktu dan uangnya untuk mengangkutmu ke ICU."



Selesai, dosanya telah DIAMPUNKAN, pemaafan segera diberikan. Tak seperti kampus tempat engkau bernaung dahulu, yang merasakan dosanya hingga pilu membiru.



Seperti Induk yang Kehilangan anaknya,-Andai kau tau- Orang kampusmu memberi bundelan recehan ke keluargamu,  mencuci uangnya dengan membangunkan mushola kecil atas namamu. Juga dikatakan kepada adik-adikmu kelak,  akan diberi kemudahan jika menimba ilmu, persis didepan tempat yang dulu jasadmu pernah tergeletak kaku.



Bagi kami,  dosa Kampus tak terampunkan.! Seakan tidak sungguh-sungguh menunaikan "cita-cita" sederhana karena menolak "sesajen segepok uang" untuk sang "penguasa jalan" sebagai syarat pengerjaan jembatan.!!!.



Hingga kini timangan muqoror ditangan kami,  tak pernah membuat tenang kala melintasi jalan tempatmu merangkai tragedi itu. Ah, ini dosa kampus yang jauh membuat kami menggigil,  khawatir kami akan latah ikut-ikutan menyusulmu dan jadi bahan berita seperti zamanmu.



 Setidaknya kami memahami ideologi syirik yang dianut fragmen beberapa masyarakat, tumbal cukup sekali setahun. Dan dirimu belum lama menjadi tumbal jalanan.



Paling tidak dosa pemilik jalan toh sudah kami abaikan,  karena janji manisnya memancangkan JPO ditahun ini kelak dikerjakan. Manis memang,  karena teman-temanmu yang tak banyak faham aturan jalan,  tak perlu buru-buru juga menyusulmu ke syurga atau haribaan Tuhan.



Paling tidak sumpah manis penguasa jalan kami nantikan, sembari mengelap habis memoar pengorbananmu yang telah gagah kau tunaikan.



#Mengenang Perginya Bidadari Tak bersayap,  Annisa Solehah.



Hurriyah Huwaida (KASTRAT KAMMI LIPIA)