Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

10 Nasihat Ibrahim bin Adham


Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?”

Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.

Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak-Nya. 

Kedua, kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya. 

Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya. 

Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya. 

Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga. 

Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka. 

Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.

Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri. 

Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya. 

Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.”

Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis.

Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya. Ibrahim menjawab, “Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia.”

Oleh : Aalaa Amaliyah (Staff Sosmas KAMMI LIPIA)

Sang Kehampaan




Apa yang akan kau lakukan jika kehampaan datang menghampirimu? Menemanimu ketika hawa nafsu menjatuhkanmu kedalam lubang hitam pekat yang disebut kegelapan. Lalu kehampaan mengusik jiwa-jiwa yang tenang, sehingga partikel-partikel kegelisahan berkumpul menjadi satu dan merusak sistem hati yang tertanam pada jasad setiap manusia.

Sudah 5 tahun berlalu sejak kehampaan datang menghampiri, menemani kehidupanku yang penuh dengan sisi gelap. Aku yang kala itu tidak memiliki tujuan hidup dan tersesat di dalam labirin kemaksiatan. Hampir kehilangan segalanya, teman, sahabat, bahkan keluarga. Aku Yang hanya dapat membatin didalam hati, karena sang kehampaan sudah menguasai seluruh indra perasaku.

Andai waktu bisa terulang, tentu aku ingin kembali ke masa dimana masih dikelilingi oleh tawa dan senyum orang-orang yang dicintai. Mereka kini telah tiada. Saat itu mereka semua meninggalkanku sendiri bersama mahluk tak berwujud yang bernama kehampaan. Mereka pergi ke suatu tempat yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. Aku saat itu masih terlalu bodoh dan tak mengerti tentang takdir yang telah Allah tetapkan, sehingga hawa nafsu menguasai diri dengan mudahnya.

Kehilangan keluarga tentu sesuatu yang berat bagiku yang kala itu masih memasuki angka 18 dalam hitungan kehadiranku di dunia ini. Kala itu aku merasa sangat konyol, mengapa kecelakaan maut itu bisa merenggut semua keluargaku dan hanya menyisahkan aku seorang? Bukankah ini tidak adil? Mengapa aku tidak boleh ikut bersama mereka? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di pikiran, hingga aku mulai kehilangan akal sehat dan hidup sebagai sebatang kara.

Ayahku 3 bersaudara dan seluruh keluarganya tinggal di kampung halaman, hanya ayah yang merantau dari sulawesi ke Jakarta, sementara ibu hanyalah seorang anak tunggal. Akupun memulai kehidupan yang sebatang kara di Jakarta. Aku yang saat itu sedang terpuruk di hibur oleh salah satu teman SMA yang bernama Romy, iya selalu ada di sampingku seakan tahu segala rasa sakit dan keterpurukanku kala itu.

Bermula dari temanku Romy yang mengajak untuk menginap di kosannya, awlanya hanya makan malam dan berbincang-bincang dengannya, sambil menyaksikan tayangan di televisi. Namun segala kenormalan tersebut berubah ketika malam mulai larut kemudian aku melihat 2 sosok pria bertubuh besar masuk kedalam kosan Romy, tanpa basa-basi Romy langsung membiarkan mereka masuk dan langsung menyergap, aku yang disergap dua pria bertubuh besar tidak bisa berbuat banyak, gerakanku sudah benar-benar terkunci. Beberapa saat kemudian Romy mengeluarkan barang berbentuk suntikan dari sakunya. “Tenang aja bro, ini gak akan sakit,” ujar Romy. Seketika dia langsung menusukkan jarum suntikan itu ketanganku, rasanya sakit namun beberapa saat kemudian aku langsung merasakan kenikmatan dan ketenangan, lalu pengelihatanku mulai kabur dan membuat tak sadarkan diri.

Ketika terbangun, aku berada disebuah lapangan rumput. Aku berusaha mengingat kejadian apa yang melandaku sebelum tak sadarkan diri. Ya… Romy. Si penghianat itu telah menyuntikkan sesuatu yang kuyakin suntikan itu jelas bukan suntikan biasa, mungkin telah dipakai oleh beberapa orang yang memiliki penyakit di dalam tubuhnya. Aku harus membalas apa yang telah ia lakukan, seseorang yang kupercayai kini malah menghianati dan membuat kehidupanku semakin terpuruk. Aku bersumpah pada diriku sendiri untuk menemui Romy dan menuntut apa yang telah dia lakukan.

Keesokan harinya aku langsung menuju ke kosan Romy, aku yang sedang dikendalikan emosi sudah mengantungkan sebuah pisau di saku celana sebagai senjata. Sialnya saat sampai, ternyata kosannya telah kosong dan Ibu kos bilang dia sudah pergi dan tidak tinggal di situ lagi. Cepat juga geraknya, aku yakin bahwa dia sudah merencanakan segala sesuatunya dengan rapih.

Akhirnya aku mulai memasuki dunia para berandal, sudah jelas tujuanku adalah untuk mencari Romy. Menjadikan para berandal itu sebagai teman dan link untuk mencapai tujuan, sudah jelas mereka meminta suplai materi. Setiap uang yang dikirimkam oleh paman, kuhabiskan untuk balas dendam dan menemukan sosoknya. Dengan para berandal, aku yakin menemukan Romy bukanlah hal yang sulit karena aku yakin Romy juga pasti pernah berkomunikasi dengan mereka.

Aku yang bersahabat dengan para berandal, mulai terbawa pergaulan mereka. Mulai menjadi pencandu narkotika. Ganja, kokain, dan opium bagaikan cemilan sehari-hari. Orang-orang di sekitarku mulai menjauh, temanku hanyalah mereka yang sama terjerumusnya kedalam dunia hitam. Aku merasa tak bisa lepas lagi dari kegelapan yang menyelimuti saat itu, setiap ganja yang kuhisap menjadi rasa nikmat tersendiri, namun aku menyadari, masih ada sebuah makhluk di dalam diriku, membuat diri sering membatin dalam hati, yang dulu juga sesekali datang dikala aku sedang menjauh dari jalan kebenaran. dia adalah sang kehampaan.

Akhirnya aku dapat menemukan keberadaan Romy, dia tinggal di sebuah kos kecil yang berada di daerah Bogor. Aku tepat berada di depan pintu kosannya, aku mengetuk pintu. Sebentar!!! Ujarnya dari balik pintu. Ia mebuka pintu dan tersentak ketika melihat sosokkulah yang berada di balik pintu itu.

“Hai… lama tak jumpa Romy”. Ujarku

Secara spontan aku langsung mencekik leharnya dan memojokkannya ke arah dinding.

“gue kecewa banget sama lu rom, selama ini gua percaya sama lu, tapi lu malah menjebak gue!!!” ujarku yang emosinya sudah tak terbendung

“iya gue tau lu pasti sangat kecewa” ujar Romy dengan wajah datar

“Bisa-bisanya lu ngomong sesantai itu!!! apa yang udah lu suntikin ke gue? Gue gak akan segan-segan merobek leher lu kalau lu udah berbuat yang macem-macem sama gue!!!” ujarku yang emosinya semakin meluap.


“itu suntikan Morfin, bekas gue, dan juga bekas preman-preman yang dulu nyergap lu…”

Aku terdiam, entah mengapa hawa nafsuku yang sudah mengambil alih dengan sempurna kini tiba-tiba mereda, inilah kenyataannya, hawa nafsu dan kemaksiatan telah merusak masa depan 2 anak muda yang sedang berdiri di sini. Amarah didalam diriku belum padam, namun semua itu seakan tersamarkan oleh penyesalan. Aku benar-benar merasa bodoh, merasa kosong, dan merasa hampa. Aku beranjak meninggalkan Romy tanpa melakukan apapun kepadanya, dia pun tersungkur di pojok dinding masih terdiam dengan tatapan kosong.

Aku berdiri di sebuah ruangan kosong, lalu aku melihat sosok bertudung yang agak samar berdiri tak jauh dari hadapanku. Kau siapa? Tanyaku. Dia berjalan mendekat kearahku lalu tersenyum. Aku sosok yang selama ini bersemayan di dalam hatimu. Apa yang kau inginkan dariku? Tanyaku kembali. Tiba-tiba iya memelukku dengan begitu erat, aku hanyut dalam dekapan perasaan yang begitu dalam pada kehampaan, membuatku tersadar bahwa dialah sang kehampaan yang selama ini tertanam di dalam hati. Namun pelukan eratnya benar-benar menghangatkan. Beberapa saat kemudian kehampaan melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan ruangan. Jadilah lelaki yang kuat, setelah pertemuan ini carilah aku kembali jika kau ingin tahu jawabannya.

Aku terbangun, pertemuan tadi ternyata hanyalah sebuah mimpi. Namun mimpi itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Sejak pertemuan dengan Romy, entah mengapa setiap ganja yang ku hisap menjadi penyesalan bagiku, namun apa daya, aku yang kala itu sudah mengalami candu hanya bisa menyesal Ketika barang haram tersebut habis terhisap olehku. Dan ditambah sekarang ini, pertemuanku dengan sang kehampaan semakin menimbulkan tanda tanya besar bagiku.

Beberapa hari kemudian aku mulai jarang berkumpul dengan teman-teman sepecanduku, aku benar-benar merasakan kehampaan dari setiap perbuatan yang kulakukan bersama mereka, mereka mulai sering melakukan hal-hal keji, mungkin itu dampak dari apa yang mereka konsumsi, aku yang tak ingin seperti mereka mulai menemukan kembali akal sehatku yang sudah lama terkubur, membuatku berpikir bahwa hal yang kulakukan ini adalah sia-sia dan tak ada gunanya.

Semua terasa makin jelas ketika menyaksikan temanku yang sedang menggunakan barang adiktif itu tewas dihadapanku. Sejak pemakamannya aku sudah tidak pernah berkumpul dengan teman-teman pecanduku. Penyesalan selalu datang di akhir, kehampaan sudah mulai merasuki seluruh sendi kehidupan. Aku berpikir untuk menyerahkan diriku ke tempat rehabilitasi terdekat.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku menyerahkan diri ke tempat rehabilitasi, aku mengingat bahwa dulu ayah pernah berkata bahwa pintu taubat Allah selalu terbuka sebelum ruh meninggalkan jasad. Aku yakin ini adalah kesempatan untuk berhijrah, mengembalikan lagi kehidupan yang sempat terenggut oleh oleh hawa nafsu dan kemaksiatan.

Kini aku bersyukur, setidaknya sudah kembali menemukan kehidupanku, uang yang dikirimkan paman setiap bulannya tidak lagi dibelikan untuk barang-baranhg haram, aku mulai menabung dan mencari rizki yang halal, shalat 5 waktu yang dulu ditinggalkan mulai kulaksanakan kembali, di usiaku yg masih cukup muda tentunya masih mempunyai keinginan melanjutkan kembali studi ke jenjang yang lebih tinggi. Aku sadar bahwa cobaan yang kualami 5 tahun bukanlah akhir dari kehidupan, tapi adalah sarana manusia untuk bermetamorfosis. Namun di sisi lain aku merasa mulai kehilangan sosok yang dulu sering menemaniku ketika masih bergelut dalam kegelapan. Sang kehampaan.. dimanakah engkau?

Aku masih teringat mimpiku 5 tahun yang lalu, aku mulai sadar apa jawaban dari kedatangannya saat itu. Kebanyakan orang mungkin mendefinisikan kehampaan adalah ketika mereka tidak memiliki pasangan hidup, atau dikala mereka kesepian, atau mungkin dikala mereka tidak memiliki boyfriend atau girlfriend di kesehariannya. Namun dari caranya datang, aku sadar bahwa sesekali dia akan datang, mengingatkanku akan tujuan dan kebenaran, dikala futur melanda dia akan datang kembali, bagai penanda bahwasanya aku sudah mulai jauh dari jalan Allah. Ketika kau mulai merasuki kehidupan, secara tak langsung kau mengingatkanku untuk mengingat Allah.

Ya..itulah tujuan kedatanganmu… Terimakasih sang Kehampaan..



Oleh: Salman Al- Farisi (Staff MEKOMINFO KAMMI LIPIA)

Tak Selamanya Bidadari Cantik untuk Pangeran Tampan


Pendek, jelek, hitam, miskin. Julaibi namanya. Namun dia adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat mulia. Ada perasaan malu dan juga minder ketika suatu hari Rasulullah menawarinya untuk menikah. Karena dia tahu diri. Namun Rasulullah menenangkannya.

Hingga suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabatnya. "Aku ingin meminang putrimu", kata Rasulullah.

Sahabat itupun sangat bahagia, bagaimana tidak bahagia ketika anaknya menjadi istri nabi. "Baiklah ya Rasulullah, ini merupakan sebuah penghormatan bagi kami", jawab sahabat itu dengan sangat antusias.

"Bukan untukku, tapi untuk Julaibib", kata Nabi.

"Julaibib?! Julaibib?!" Tanyanya sangat terkejut. Dan keceriaan yang tadi tiba-tiba hilang begitu saja. "Namun aku harus bermusyawarah dulu dengan ibunya", lanjutnya.

"Julaibib?! Julaibib?!" Sekali lagi pertanyaan terkejut keluar dari pasangan dua suami istri sahabat ini. Terbayang dengan jelas dalam benak wanita itu sosok lelaki yang pendek jelek hitam tidak berharta. Dia yang akan menjadi menantunya nanti. Apa kata orang-orang, pikirnya.

Dan ternyata putri mereka menyimak perkataan ayah ibunya dari balik kamar dan segera keluar. "Ayah, ibu, bagaimana mungkin engkau menolak pilihan Rasulullah? Bukankah Allah berfirman 'dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak pula bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka", jelas gadis itu. "Ayah, ibu, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan Rasulullah", lanjutnya tegas.

Merekapun menikah. Hingga suatu pagi datang seruan berjihad di medan Uhud melawan kaum musyrikin. Julaibib mendengar seruan itu dan iapun segera memenuhi panggilan Rasulullah untuk berjihad.

Selesai perang Uhud, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. "Kalian kehilangan siapa saat ini?", tanya Rasulullah. Ada yang menjawab Hamzah, ada yang Mus'ab, dan ada yang Yaman, dan adapula yang menjawab 'Amr bin Jamuh.

"Namun, aku kehilangan Julaibib! Carilah Julaibib sekarang!", kata Rasulullah. Para sahabat mencari Julaibib. Hingga akhirnya dia ditemukan syahid dan disekililingnya tujuh orang musyrikin. Para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah bahwa Julaibib meninggal diantara tujuh orang musyrikin. Dia teleh membunuh tujuh orang musyrikin, kemudian dirinya terbunuh dan syahid.




"Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku dan aku bagian darinya!", kata Rasulullah menganggapi kabar kematian Julaibib.

Lihatlah! Begitu indahnya kisah cinta para sahabat Nabi. Tidak disangka tidak diduga, nabi meminangkan untuk Julaibib seorang bidadari cantik kaya dan berkelas. Dan yang lebih asyik adalah bagaimana wanita tersebut menerimanya tanpa berat hati. Padahal dia sangat tahu bagaimana calon pendamping hidupnya. Julaibib. Ya, hanya Julaibib!. Beginilah hebatnya Rasulullah menanamkan ke imanan kepada seluruh sahabatnya.

Memang benar, tampang boleh pas-pasan tapi kualitas boleh diadu. Kualitas agama Julaibib tak sesederhana penampilannya. Terbaca dari percakapan Rasulullah dengannya ketika menawarkan untuk menikah "Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak laku". Namun Rasulullah segera menjawab "Tapi kamu disisi Allah laku".

Disinilah keistimewaan Julaibib, ketika dihadapkan kepada dua pilihan antara bersenang-senang dengan wanita yang telah lama didambakan atau berperang bertaruh nyawa. Tarikan duniawi sangat kuat, tapi orientasi akhirat lebih kuat maka Julaibib lebih mengutamakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

"Sungguh orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian" (QS. Al-Hujurat: 13)

Agama memang harus menjadi barometer utama. Boleh kita menetapkan kriteria yang banyak sekalipun, tapi tetap agama rujukannya. Jangan terpedaya hanya dengan tampilan, karena itu bukan jaminan. Tampilan adalah takdir, dan ketakwaan adalah sesuatu yang didapatkan dengan usaha, dan tidak semua orang mampu memperolehnya.

Dari Abu Hirairah ra berkata, sungguh Rasulullah telah bersabda, "boleh jadi orang yang tidak menarik dan selalu ditolak (tidak laku), namun sekali berdoa Allah langsung mengabulkannya" (HR. Muslim)

Tidak heran jika kemudian Allah mengaruniakan bidadari kepada Julaibib. Dan ternyata tidaklah suatu yang harus, "bidadari cantik untuk pangeran tampan". Karena tidak ada kaidah "pemuda tampan pasti untuk wanita cantik".


Oleh : As sahirul Wasim - Direktur Institut Dakwah Tauhid (IDT) KAMMI Komisariat LIPIA

SANG TUMBAL JALAN





Kemarin, 19 November 2015 sekitar pukul 15.00 WIB, goresan "sejarah kecil" berbisik perih. Memang,  hanya sepotong tragedi kemanusiaan yang tak begitu penting diperhatikan. Tidak ada efek bombastis pengusik jiwa,  tidak ada ketukan rasa di tengah nuansa ibukota.


Darahmu menetes deras,  tumpah ke jalanan, tubuh mungilmu juga terseret dan terhempas keras. Noda hemoglobinmu mungkin saat ini sudah tak berbekas dan dirimu yang hanya seonggok daging juga telah jauh terhapus dari memori nahas. 


Jika di izinkan mengumpat, kami ingin mengutukmu:"Kamu perempuan bercadar yang ENGGAN MEMPERHATIKAN jalan yang kau sebrang,  tak kira sibiru yang beroda menerjang, mengambil taqdirmu dengan kencang. dia hanya susunan benda mati,  dan kau bukan. kau bisa salah, sedang dia tidak. keratan benda mati bernama busway itu tak BERDOSA sedikitpun padamu.  Jikalau berdosa,  pengampunan sudah "laik" diberikan, karena telah berkenan membuang waktu dan uangnya untuk mengangkutmu ke ICU."



Selesai, dosanya telah DIAMPUNKAN, pemaafan segera diberikan. Tak seperti kampus tempat engkau bernaung dahulu, yang merasakan dosanya hingga pilu membiru.



Seperti Induk yang Kehilangan anaknya,-Andai kau tau- Orang kampusmu memberi bundelan recehan ke keluargamu,  mencuci uangnya dengan membangunkan mushola kecil atas namamu. Juga dikatakan kepada adik-adikmu kelak,  akan diberi kemudahan jika menimba ilmu, persis didepan tempat yang dulu jasadmu pernah tergeletak kaku.



Bagi kami,  dosa Kampus tak terampunkan.! Seakan tidak sungguh-sungguh menunaikan "cita-cita" sederhana karena menolak "sesajen segepok uang" untuk sang "penguasa jalan" sebagai syarat pengerjaan jembatan.!!!.



Hingga kini timangan muqoror ditangan kami,  tak pernah membuat tenang kala melintasi jalan tempatmu merangkai tragedi itu. Ah, ini dosa kampus yang jauh membuat kami menggigil,  khawatir kami akan latah ikut-ikutan menyusulmu dan jadi bahan berita seperti zamanmu.



 Setidaknya kami memahami ideologi syirik yang dianut fragmen beberapa masyarakat, tumbal cukup sekali setahun. Dan dirimu belum lama menjadi tumbal jalanan.



Paling tidak dosa pemilik jalan toh sudah kami abaikan,  karena janji manisnya memancangkan JPO ditahun ini kelak dikerjakan. Manis memang,  karena teman-temanmu yang tak banyak faham aturan jalan,  tak perlu buru-buru juga menyusulmu ke syurga atau haribaan Tuhan.



Paling tidak sumpah manis penguasa jalan kami nantikan, sembari mengelap habis memoar pengorbananmu yang telah gagah kau tunaikan.



#Mengenang Perginya Bidadari Tak bersayap,  Annisa Solehah.



Hurriyah Huwaida (KASTRAT KAMMI LIPIA)

Hewan Aja Peka, Kok Kita nggak…?

 Pernah dengar kan dengan kata peka…? Ya tentu saja, kalau kamu telah melewati masa SD, tentu kamu tahu arti tentang makna kata itu. Karena di pelajaran IPA kalian pasti akan menemukan sebuah judul tumbuhan-tumbuhan yang peka rangsangan, diantaranya adalah tumbuhan putri malu yang jika kamu sentuh akan menyiutkan semua daunnya. Begitu juga dengan hewan, adakah kamu melihat semut yang berlintasan dengan temannya yang mebawa beban berat?.. lalu apakah yang ia lakukan ketika melihat peristiwa itu…? Dengan spontan pasti ia akan langsung membantunya. Nah itulah gambaran dari kepekaan hewan, lantas bagaimana dengan kita sebagai makhluk sosial yang tidak akan bisa hidup sendiri di bumi ini…? Tentu sifat peka itu sangat di butuhkan. 

   Seyogyanya kita dalam kehidupan sehari-hari harus menggunakan nalar kepekaan kita untuk melihat keadaan sekitar kita, agar kita bisa membantu orang-orang di sekeliling kita dalam menyelesaikan masalah mereka, baik itu berupa tenaga, dana atau bahkan dengan berupa gagasan. Karena Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita adalah orang yang paling peka terhadap keadaan di sekelilingnya, sebagaimana yang terkisah dalam riwayat Abu Huroirah r.a :” Demi Allah, terkadang aku menekan perut ke tanah karena rasa lapar dan terkadang aku mennganjal perutku dengan batu. Pada suatu hari aku duduk di pinggir jalan yang biasanya di lalui oleh para sahabat, tiba-tiba Abu Bakar r.a lewat, maka aku bertanya mengenai salah satu ayat Al-Qur’an, padahal aku tidak semata-mata bertanya melainkan dengan harapan supaya ia mengajakku ke rumahnya, tapi ia meniinggalkanku. Kemudian Umar lewat di tempatku, lalu aku bertanya tentang Al-Qur’an dengan harapan ia mengajakku ke rumahnya, tapi ia tidak mengajakku juga. Lalu lewatlah Rasulullah SAW, ketika beliau melihat raut mukaku beliau memahami apa yang ada dalam hatiku, maka beliau berkata :” Wahai Abu Hurairah, kemarilah” aku menjawab:” labbaik ya Rasulallah” Nabi berkata : “ ikutlah denganku”. Ketika sampai di rumah beliau aku meminta izin untuk masuk, beliau mengizinkan. Di dalam rumah aku melihat ada semangkok susu. Singkat cerita, lalu rasulullah meminta Abu Hurairah memanggil Ahlussuffah dan membagikan susu itu sampai mereka kenyang.

    Dalam cerita di atas Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar pandai melihat keadaan di sekitar kita, sehingga kita bisa bertindak untuk membantu menyelesaikannya. Jika sifat peka dalam diri manusia itu di optimalkan, maka tradisi saling membantu, saling menutupi kebutuhan antar masyarakat akan tecipta. Dan hidup kita akan terasa lebih bermanfaat bagi orang lain, sehingga kita menjadi manusia terbaik ,Sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah riwayat “ manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya”.

Oleh : Ahmad Saefuddin ( Kadept. SOSMAS KAMMI LIPIA)