Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sang Kehampaan




Apa yang akan kau lakukan jika kehampaan datang menghampirimu? Menemanimu ketika hawa nafsu menjatuhkanmu kedalam lubang hitam pekat yang disebut kegelapan. Lalu kehampaan mengusik jiwa-jiwa yang tenang, sehingga partikel-partikel kegelisahan berkumpul menjadi satu dan merusak sistem hati yang tertanam pada jasad setiap manusia.

Sudah 5 tahun berlalu sejak kehampaan datang menghampiri, menemani kehidupanku yang penuh dengan sisi gelap. Aku yang kala itu tidak memiliki tujuan hidup dan tersesat di dalam labirin kemaksiatan. Hampir kehilangan segalanya, teman, sahabat, bahkan keluarga. Aku Yang hanya dapat membatin didalam hati, karena sang kehampaan sudah menguasai seluruh indra perasaku.

Andai waktu bisa terulang, tentu aku ingin kembali ke masa dimana masih dikelilingi oleh tawa dan senyum orang-orang yang dicintai. Mereka kini telah tiada. Saat itu mereka semua meninggalkanku sendiri bersama mahluk tak berwujud yang bernama kehampaan. Mereka pergi ke suatu tempat yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. Aku saat itu masih terlalu bodoh dan tak mengerti tentang takdir yang telah Allah tetapkan, sehingga hawa nafsu menguasai diri dengan mudahnya.

Kehilangan keluarga tentu sesuatu yang berat bagiku yang kala itu masih memasuki angka 18 dalam hitungan kehadiranku di dunia ini. Kala itu aku merasa sangat konyol, mengapa kecelakaan maut itu bisa merenggut semua keluargaku dan hanya menyisahkan aku seorang? Bukankah ini tidak adil? Mengapa aku tidak boleh ikut bersama mereka? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di pikiran, hingga aku mulai kehilangan akal sehat dan hidup sebagai sebatang kara.

Ayahku 3 bersaudara dan seluruh keluarganya tinggal di kampung halaman, hanya ayah yang merantau dari sulawesi ke Jakarta, sementara ibu hanyalah seorang anak tunggal. Akupun memulai kehidupan yang sebatang kara di Jakarta. Aku yang saat itu sedang terpuruk di hibur oleh salah satu teman SMA yang bernama Romy, iya selalu ada di sampingku seakan tahu segala rasa sakit dan keterpurukanku kala itu.

Bermula dari temanku Romy yang mengajak untuk menginap di kosannya, awlanya hanya makan malam dan berbincang-bincang dengannya, sambil menyaksikan tayangan di televisi. Namun segala kenormalan tersebut berubah ketika malam mulai larut kemudian aku melihat 2 sosok pria bertubuh besar masuk kedalam kosan Romy, tanpa basa-basi Romy langsung membiarkan mereka masuk dan langsung menyergap, aku yang disergap dua pria bertubuh besar tidak bisa berbuat banyak, gerakanku sudah benar-benar terkunci. Beberapa saat kemudian Romy mengeluarkan barang berbentuk suntikan dari sakunya. “Tenang aja bro, ini gak akan sakit,” ujar Romy. Seketika dia langsung menusukkan jarum suntikan itu ketanganku, rasanya sakit namun beberapa saat kemudian aku langsung merasakan kenikmatan dan ketenangan, lalu pengelihatanku mulai kabur dan membuat tak sadarkan diri.

Ketika terbangun, aku berada disebuah lapangan rumput. Aku berusaha mengingat kejadian apa yang melandaku sebelum tak sadarkan diri. Ya… Romy. Si penghianat itu telah menyuntikkan sesuatu yang kuyakin suntikan itu jelas bukan suntikan biasa, mungkin telah dipakai oleh beberapa orang yang memiliki penyakit di dalam tubuhnya. Aku harus membalas apa yang telah ia lakukan, seseorang yang kupercayai kini malah menghianati dan membuat kehidupanku semakin terpuruk. Aku bersumpah pada diriku sendiri untuk menemui Romy dan menuntut apa yang telah dia lakukan.

Keesokan harinya aku langsung menuju ke kosan Romy, aku yang sedang dikendalikan emosi sudah mengantungkan sebuah pisau di saku celana sebagai senjata. Sialnya saat sampai, ternyata kosannya telah kosong dan Ibu kos bilang dia sudah pergi dan tidak tinggal di situ lagi. Cepat juga geraknya, aku yakin bahwa dia sudah merencanakan segala sesuatunya dengan rapih.

Akhirnya aku mulai memasuki dunia para berandal, sudah jelas tujuanku adalah untuk mencari Romy. Menjadikan para berandal itu sebagai teman dan link untuk mencapai tujuan, sudah jelas mereka meminta suplai materi. Setiap uang yang dikirimkam oleh paman, kuhabiskan untuk balas dendam dan menemukan sosoknya. Dengan para berandal, aku yakin menemukan Romy bukanlah hal yang sulit karena aku yakin Romy juga pasti pernah berkomunikasi dengan mereka.

Aku yang bersahabat dengan para berandal, mulai terbawa pergaulan mereka. Mulai menjadi pencandu narkotika. Ganja, kokain, dan opium bagaikan cemilan sehari-hari. Orang-orang di sekitarku mulai menjauh, temanku hanyalah mereka yang sama terjerumusnya kedalam dunia hitam. Aku merasa tak bisa lepas lagi dari kegelapan yang menyelimuti saat itu, setiap ganja yang kuhisap menjadi rasa nikmat tersendiri, namun aku menyadari, masih ada sebuah makhluk di dalam diriku, membuat diri sering membatin dalam hati, yang dulu juga sesekali datang dikala aku sedang menjauh dari jalan kebenaran. dia adalah sang kehampaan.

Akhirnya aku dapat menemukan keberadaan Romy, dia tinggal di sebuah kos kecil yang berada di daerah Bogor. Aku tepat berada di depan pintu kosannya, aku mengetuk pintu. Sebentar!!! Ujarnya dari balik pintu. Ia mebuka pintu dan tersentak ketika melihat sosokkulah yang berada di balik pintu itu.

“Hai… lama tak jumpa Romy”. Ujarku

Secara spontan aku langsung mencekik leharnya dan memojokkannya ke arah dinding.

“gue kecewa banget sama lu rom, selama ini gua percaya sama lu, tapi lu malah menjebak gue!!!” ujarku yang emosinya sudah tak terbendung

“iya gue tau lu pasti sangat kecewa” ujar Romy dengan wajah datar

“Bisa-bisanya lu ngomong sesantai itu!!! apa yang udah lu suntikin ke gue? Gue gak akan segan-segan merobek leher lu kalau lu udah berbuat yang macem-macem sama gue!!!” ujarku yang emosinya semakin meluap.


“itu suntikan Morfin, bekas gue, dan juga bekas preman-preman yang dulu nyergap lu…”

Aku terdiam, entah mengapa hawa nafsuku yang sudah mengambil alih dengan sempurna kini tiba-tiba mereda, inilah kenyataannya, hawa nafsu dan kemaksiatan telah merusak masa depan 2 anak muda yang sedang berdiri di sini. Amarah didalam diriku belum padam, namun semua itu seakan tersamarkan oleh penyesalan. Aku benar-benar merasa bodoh, merasa kosong, dan merasa hampa. Aku beranjak meninggalkan Romy tanpa melakukan apapun kepadanya, dia pun tersungkur di pojok dinding masih terdiam dengan tatapan kosong.

Aku berdiri di sebuah ruangan kosong, lalu aku melihat sosok bertudung yang agak samar berdiri tak jauh dari hadapanku. Kau siapa? Tanyaku. Dia berjalan mendekat kearahku lalu tersenyum. Aku sosok yang selama ini bersemayan di dalam hatimu. Apa yang kau inginkan dariku? Tanyaku kembali. Tiba-tiba iya memelukku dengan begitu erat, aku hanyut dalam dekapan perasaan yang begitu dalam pada kehampaan, membuatku tersadar bahwa dialah sang kehampaan yang selama ini tertanam di dalam hati. Namun pelukan eratnya benar-benar menghangatkan. Beberapa saat kemudian kehampaan melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan ruangan. Jadilah lelaki yang kuat, setelah pertemuan ini carilah aku kembali jika kau ingin tahu jawabannya.

Aku terbangun, pertemuan tadi ternyata hanyalah sebuah mimpi. Namun mimpi itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Sejak pertemuan dengan Romy, entah mengapa setiap ganja yang ku hisap menjadi penyesalan bagiku, namun apa daya, aku yang kala itu sudah mengalami candu hanya bisa menyesal Ketika barang haram tersebut habis terhisap olehku. Dan ditambah sekarang ini, pertemuanku dengan sang kehampaan semakin menimbulkan tanda tanya besar bagiku.

Beberapa hari kemudian aku mulai jarang berkumpul dengan teman-teman sepecanduku, aku benar-benar merasakan kehampaan dari setiap perbuatan yang kulakukan bersama mereka, mereka mulai sering melakukan hal-hal keji, mungkin itu dampak dari apa yang mereka konsumsi, aku yang tak ingin seperti mereka mulai menemukan kembali akal sehatku yang sudah lama terkubur, membuatku berpikir bahwa hal yang kulakukan ini adalah sia-sia dan tak ada gunanya.

Semua terasa makin jelas ketika menyaksikan temanku yang sedang menggunakan barang adiktif itu tewas dihadapanku. Sejak pemakamannya aku sudah tidak pernah berkumpul dengan teman-teman pecanduku. Penyesalan selalu datang di akhir, kehampaan sudah mulai merasuki seluruh sendi kehidupan. Aku berpikir untuk menyerahkan diriku ke tempat rehabilitasi terdekat.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku menyerahkan diri ke tempat rehabilitasi, aku mengingat bahwa dulu ayah pernah berkata bahwa pintu taubat Allah selalu terbuka sebelum ruh meninggalkan jasad. Aku yakin ini adalah kesempatan untuk berhijrah, mengembalikan lagi kehidupan yang sempat terenggut oleh oleh hawa nafsu dan kemaksiatan.

Kini aku bersyukur, setidaknya sudah kembali menemukan kehidupanku, uang yang dikirimkan paman setiap bulannya tidak lagi dibelikan untuk barang-baranhg haram, aku mulai menabung dan mencari rizki yang halal, shalat 5 waktu yang dulu ditinggalkan mulai kulaksanakan kembali, di usiaku yg masih cukup muda tentunya masih mempunyai keinginan melanjutkan kembali studi ke jenjang yang lebih tinggi. Aku sadar bahwa cobaan yang kualami 5 tahun bukanlah akhir dari kehidupan, tapi adalah sarana manusia untuk bermetamorfosis. Namun di sisi lain aku merasa mulai kehilangan sosok yang dulu sering menemaniku ketika masih bergelut dalam kegelapan. Sang kehampaan.. dimanakah engkau?

Aku masih teringat mimpiku 5 tahun yang lalu, aku mulai sadar apa jawaban dari kedatangannya saat itu. Kebanyakan orang mungkin mendefinisikan kehampaan adalah ketika mereka tidak memiliki pasangan hidup, atau dikala mereka kesepian, atau mungkin dikala mereka tidak memiliki boyfriend atau girlfriend di kesehariannya. Namun dari caranya datang, aku sadar bahwa sesekali dia akan datang, mengingatkanku akan tujuan dan kebenaran, dikala futur melanda dia akan datang kembali, bagai penanda bahwasanya aku sudah mulai jauh dari jalan Allah. Ketika kau mulai merasuki kehidupan, secara tak langsung kau mengingatkanku untuk mengingat Allah.

Ya..itulah tujuan kedatanganmu… Terimakasih sang Kehampaan..



Oleh: Salman Al- Farisi (Staff MEKOMINFO KAMMI LIPIA)

Pungguk Merindukan Bulan

Pernak-pernik Kutu Alin Ayam dan Bebek Berkilauan. Itulah kesanku saat pertama kali bertemu denganmu. Saat itu di parkiran sekolah, aku baru saja memarkir sepeda BMX butut yang dibelikan Papa lima tahun lalu. Kau berada di antara barisan motor Ninja dan Satria F milik siswa berpunya. Jantungku berdebar karena kau begitu cantik dan anggun, hingga malu menatapmu dengan mata yang hina ini. Seseorang yang tampak posesif berdiri di dekatmu. Aku kenal dia, Yanto, anak kelas 2 IPS yang bodoh dan begajulan, namun karena bapaknya pejabat teras daerah, sekolah tetap mempertahankannya. Dia sedang mengobrol bersama gengnya, sesekali menyentuhmu. Dan kulihat kaupun menyukainya. Entah kenapa aku gemetar karena rasa cemburu, padahal baru baru pertama kali melihat. Sejak saat itu dimulailah rasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentangmu.
 ***
Kali kedua aku melihatmu adalah saat pergi belajar kelompok ke rumah Edo. Dan tidak menyangka akan berpapasan denganmu di depan pintu rumahnya. Kemudian menatapmu sejenak yang bergeming tidak menghiraukan keberadaanku. Dengan anggun matamu yang sejernih lampu halogen menatap lurus ke taman bunga. Aku sadar, aku hanyalah seorang anak penjual gado - gado di pasar. Apalah artinya aku dibanding Yanto yang uang sakunya sehari setengah juta. Dia pasti bisa memenuhi kebutuhanmu yang kabarnya mahal itu. Dengan menggeleng pelan aku melanjutkan langkahku menuju ruang tamu tempat Edo dan yang lain sudah berkumpul untuk belajar bersama. Kami belajar logaritma, judul yang baru diajarkan di sekolah tiga hari yang lalu. Bisanya ini soal kecil bagiku, namun kali ini aku sulit berkonsentrasi. Pikiranku terus-terusan melayang pada sosok aduhai di depan pintu. Iya, itu kamu. Karena sudah tidak tahan, aku memberanikan diri bertanya tentangmu pada Yanto, yang sedari tadi cuma main PS milik Edo. Aku juga heran mengapa ia berada di sini, kami kelas IPA dan Yanto IPS, tentu ia tidak ikut belajar kelompok. “Yang di luar itu, kecengan baru To, siapa namanya?” Tanyaku dengan nada sambil lalu, seolah aku iseng saja. “Oh… itu Vixy, kenapa cakep yaah.” Jawab Yanto sambil matanya tidak lepas dari layar TV. “Oh, lumayan sih. Boleh gue kenalan?” Dadaku berdegub kencang membayangkan bisa menyentuhmu dan mendengar suaramu. “Nggak.” Degub di dadaku seketika berhenti. Dengan lesu aku membetulkan kaca mataku dan kembali ke meja belajar. Saat ini mungkin tidak bisa, tapi lain kali. Janjiku dalam hati.
 ***
Kali ketiga aku melihatmu, aku benar-benar dimabuk kepayang oleh pesonamu. Aku sudah berusaha mengalihkan pandangan darimu yang terus menempel pada Yanto di sekolah. Namun saat pulang sekolah kau muncul di pasar yang biasa aku datangi bersama Mama. Susah payah aku memutar jalan agar tidak berpapasan denganmu. Lalu keesokan harinya saat aku beli bubur di depan gang rumahku, kau juga ada di sana. Ntah bersama siapa. Namun kau berkilau seperti biasa, seolah kau memang diciptakan surga untuk merayuku, pemuda SMA yang pandai namun miskin ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku terus-terusan melihatmu berada dimana- mana. Mengapa Tuhan begitu tega padaku memberikan cobaan seberat ini. Mengapa aku terus menatap milik orang lain yang tentu saja tidak bisa aku miliki. Tiga hari ini aku bolos sekolah. Tidak biasanya aku begini. Namun segalanya mungkin terjadi sejak aku bertemu denganmu. Mama dan Papa berusaha membujukku akan membelikan apapun yang aku inginkan. Namun aku tidak ingin benda – benda berharga lainnya, aku cuma ingin kau. Yang menungguku di depan rumah setiap pagi dan mau menemaniku ke sekolah. Lalu sorenya saat pulang sekolah kita bisa berkeliling kota, kemanapun tempat yang kau suka. Tampaknya Mama dan Papa tidak mengerti hal ini.
 ***
Aku terbangun di kamarku yang gelap. Tubuhku berkeringat. Aku menyalakan lampu dan menatap jam dinding. Sudah pukul enam sore. Aku menatap keluar jendela, di luar sudah gelap. Aku mencondongkan tubuhku ke luar jendela untuk meraih daun jendela yang berayun keluar. Saat itulah aku melihatmu. Di bawah sana tiga meter dari tempatku berdiri di dalam kamarku di lantai dua. Kau berdiri dengan gesture khasmu di pekarangan rumah tetangga. Tidak salah lagi itu kau, dengan segala keanggunan seorang dewi, dan kilaumu yang tak pudar meski di malam hari. Dengan terburu-buru aku menarik daun jendela menutup, menguncinya dan berlari menuruni tangga rumah susun kami dan secepat kilat sampai di bawah. Dengan mengendap-endap aku mengintipmu melalui tembok pembatas antara rumah susun kami dan rumah tetangga. Kau masih di sana. Terima kasih Tuhan. Aku sedang bertanya – tanya dalam benakku dengan siapa kau kemari? Apa yang kau lakukan di sini? Mataku tak bosan-bosannya menatap tubuhmu yang berlekuk dan mulus. Bukan hanya mataku, jemarikupun tidak tahan ingin menyentuhmu. Dengan jantung berdegub aku memanjat pagar pembatas dan melompat di atas rumput tetangga yang untungnya tebal. Dengan pelan aku mendekatimu, aku takut mengejutkan pemilik rumah dan melarangku anak SMA yang tidak tau diri ini, mendekatimu yang cantik primadona semua orang. Akhirnya aku sampai di dekatmu. Dengan gemetar kuelus kulitmu. Kau bergeming. Di waktu maghrib yang lengang dan dibawah sinar bulan yang mulai mengintip di balik awan, menyinari sebuah bandul kecil terbuat dari karet yang menghiasi tubuhmu. Setan menyusup ke dalam dadaku. Timbul niat jahatku untuk menculikmu, sebentar saja. Aku ingin menghabiskan malam ini berdua saja denganmu. Tidak akan lama, aku menatap jam tanganku, tepat jam dua belas tengah malam, aku akan mengembalikanmu seperti Cinderella. Detik berikutnya aku sudah di tengah jalan, di antara lampu jalanan yang berkelip temaram, berdua saja denganmu. Beberapa kali kuangkat tangan kiri demi mencubit tangan kananku. Rasanya seperti mimpi, aku tidak percaya ada saat seperti dalam hidupku. Berdua saja denganmu berkeliling kota. Aku mengebut membelah jalan raya, baru kusadari bukan hanya kulitmu saja yang mulus, namun suaramu pun merdu. Mesinmu juga mulus satu tarikan saja terasa seperti terbang. Persenelingmupun halus, aku tidak perlu berkali – kali pindah gear saat jalanan sedikit macet. Segalanya sempurna tentangmu. Saat sedang sibuk mengagumi keelokanmu, mataku menangkap garis hijau fosfor di kejauhan. Aaah… itu polisi. Sedang ada razia kah? Aku menginjak rem dalam jarak dua meter sebelum antrian motor di depanku. Ya Tuhan, remmu pun sangat mantap, dengan cakram hidrolik dua piston, hampir saja aku bersalto di udara jika tidak hati – hati. Dengan sabar aku menunggu giliran berbaris di belakang antrian motor di pinggir jalan. Aku menepuk tangkimu yang muat sebelas liter bensin, dengan sayang. Asalkan bersamamu segalanya terasa indah. “Selamat sore, boleh lihat SIM dan STNK pak?” Seorang Polisi berjaket hijau mendekatiku. Dengan santai aku merogoh kantongku yang … kosong! Dengan panik aku merogoh kantong celana jinsku. SIM dan STNK pasti ada di sana, di dalam dompetku. Namun mendung tiba - tiba bergelayut di kepalaku saat kutemukan kantong celanaku juga kosong. Aku bahkan tidak membawa dompet! Aku sedang menyusun dialog di benakku untuk bernegosiasi, namun Pak Polisi terlanjur melihat ekspresi panikku. Dengan tegas ia menarik lenganku dan memintaku turun dari motor. Darimu sayang … gadis impianku. . Aku menatap jam digital di sebelah speedometermu yang berkelip sedih, mengingatkanku-bahwa kau adalah Cinderella yang harus kukembalikan sebelum tengah malam tiba. Dengan berat hati aku digiring menuju kantor polisi, meninggalkanmu bersama mobil barracuda yang sangat tak layak bersanding denganmu. Polisi segera menelepon orang tuaku setelah tahu aku masih pelajar. Aku menunggu Papa dan Mama datang dengan perasaan galau, khawatir mereka akan marah besar atas skandal yang aku perbuat ini. Akupun takut pemilikmu yang dengan sembrono meninggalkan kuncinya menempel di tangkimu, datang dan memisahkan kita. Namun apalah daya. Dia pemilikmu yang sah, dia yang memiliki STNK dan namanya tertera dalam lembar BPKB. Dan siapalah aku … pungguk merindukan bulan. Pelajar miskin yang jatuh cinta pada Honda CBR 150 R keluaran terbaru.
***
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud )

Penulis,
Tika Kinasih, staf kastrat KAMMI LIPIA

MUHASABAH CINTA

MUHASABAH CINTA
-A’la Dzunnuroin, LIPIA Jakarta-
 
“Assalamu’alaikum, akhi... alhamdulillah sudah ada jawaban dari ukhti Sabrina... dia menerima lamaran ana...”, lamat-lamat mataku mengeja kata demi kata yang tertulis di layar handphone. Ini adalah hari yang bersejarah untuk sahabat baikku, Fuad. Masa penantian jawaban siang-malam dari seorang akhwat yang berniat dinikahinya akhirnya berujung dengan sujud panjang penuh rasa syukur.
Tanpa sadar, mataku basah. Handphone yang sedari tadi kugenggam erat mendadak bergetar hebat. Saat sebutir air mata jatuh di layar handphoneku, aku menjadi sangat yakin bahwa ini bukanlah air mata bahagia. Ada pedih yang tiba-tiba menghunjam ke ulu hatiku jika membayangkan kelak sahabat baikku akan bersanding dengan gadis yang selama ini diam-diam telah memenuhi hatiku.
***
Kediaman Sabrina, seminggu kemudian...
            Prosesi khitbah berjalan khidmat. Dimulai dengan sambutan yang dibawakan tuan rumah, hingga penuturan orang tua Fuad mengenai maksud kedatangan mereka sekeluarga. Aku duduk di samping Fuad. Ia berkali-kali tersenyum ke arahku. Namun kubalas dengan senyum seadanya.
            Sabrina terlihat anggun dalam balutan jilbab hijau muda dengan kebaya senada. Ia menunduk dalam demi mendengar penuturan orang tua Fuad yang berniat mengkhitbahnya untuk putra mereka. Kini semua yang hadir menunggu jawaban dari Sabrina. Ibu Sabrina yang duduk tak jauh di sampingnya berusaha menguatkan hati putrinya dengan memegangi kedua pundaknya. Sabrina sempat terisak sebelum akhirnya menarik napas perlahan, “Dengan menyebut nama Allah, lamaran mas Fuad saya terima...”, ujar Sabrina lirih.
           
           Seketika jawaban sabrina disambut dengan gegap gempita kalimat takbir dan syukur. Fuad terlihat tak mampu berkata-kata lagi dan hanya bisa menahan luapan gembira dengan air mata bahagia. Sedang aku yang duduk disampingnya, masih berharap agar kalimat yang meluncur dari bibir Sabrina barusan adalah kebalikannya. Namun aku segera tersadar dan beristighfar berkali-kali dalam hati. 

Saat kupandangi Sabrina yang bertukar senyum dengan ibunya, tanpa terasa mataku basah. Aku sadar akan tatapan seorang akhwat yang duduk di samping Sabrina padaku. Kupikir ia merasa heran karena tatapanku yang lekat pada Sabrina di sertai dengan linangan air mata. Mungkin dalam hati ia bertanya-tanya, apa hubunganku dengan Sabrina?

            Meski demikian, aku sudah tak peduli. Bagiku yang telah kehilangan kasih sayang seorang ibu, Sabrina telah bisa menutup celah tersebut. Selain menjadi sahabat sejak kecil, ia telah menjadi penyemangat hidupku selama ini. Sabrina yang selalau ada untukku, kupikir akan berlangsung selamanya. Kupikir yang akan duduk di posisi Fuad hari ini dan mengkhitbahnya adalah aku. Kupikir yang nantinya akan merenda masa depan dalam sakinah mawaddah bersamanya adalah aku. Aku sama sekali tak mengira, bahwa Sabrina akan pergi ke suatu tempat yang tak pernah bisa kuraih lagi.
***


”Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka,...”, dengan berlinang air mata kulantunkan firman-Nya tersebut di sepertiga malam terakhir. Air mataku semakin deras membanjiri wajahku kala sampai pada ayat-Nya yang berbunyi, Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepadaNya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”  (QS Al-Baqarah: 235)


Aku sadar bahwa manusia tak memiliki kuasa apapun untuk mengubah perasaannya. Ini adalah teguran bagiku, yang selalu menunda kesempatan untuk mengkhitbah Sabrina meski telah siap lahir dan batin. Pada akhirnya, aku baru menyadari betapa berartinya Sabrina dalam hidupku ketika ia telah bersama orang lain. Oleh karena itu, usai kusempurnakan witirku aku momohon kepada Allah diberi kekuatan agar bisa mengihklaskan Sabrina dan senantiasa berhusnuzhon pada tiap-tiap ketentuan-Nya.

Malam masih menyematkan gulita yang pekat diluar sana. Aku hampir meraih mushaf kecilku saat handphoneku tiba-tiba berdering.

Assalamu’alaikum, akh Amrul?”, ujar sebuah suara di seberang sana. Dia adalah Said, salah seorang sahabatku yang berasal dari Sulawesi dan masih sama-sama aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA.
Wa’alaikumsalam warohmatullah... ya, akh. Ada apa?”, tanyaku langsung ke inti pembicaraan.
“Sebelumnya afwan jika mengganggu, tapi ini darurat. Ana baru ingat untuk pesan rujak seafoodnya 500 box...”, ujar Said dengan nada cemas.
“Banyak sekali...buat acara apa, akh?”, tanyaku penasaran.
“Untuk seminar keluarga sakinah di masjid Al-Ikhlas Jatipadang. Pematerinya ustadz Dani Setiawan yang alumunus LIPIA itu...”, terang Said.
“Wah, beliau yang ngisi??? Gratis kan acaranya?”


“Ckckck... Gini nih bawaan mahasiswa... maunya banyak, yang gratis-gratis pula... ”, ujar Said sembari terkekeh, “Iya, gratis akh... kebetulan WAMY (World Assembly Moslem Youth) yang jadi sponsornya...”
Aku pun terbahak mendengar ucapannya, “Oh, bagus deh kalau gitu. Jadi kapan acaranya?”
“Lima hari lagi akh, bisa?”
InsyaAllah...
Alhamdulillah kalo gitu... ana sempat khawatir, kalo antum tolak. Soalnya kan udah dekat ikhtibar (ujian)...”
Aku tersenyum. Dalam hati aku memuji kepedulian sahabatku itu, “Ndak apa, akh... masa rizki di tolak??hehe... kebetulan ana juga pengen sekali ikut kajian beliau...”
Syukron ya, akh... Assalamu’alaikum.
Usai kujawab salamnya, lantas KLIK. Sambungan terputus. Dalam hati aku bergumam, mungkinkah Engkau memberiku kesibukan ini agar perlahan dapat melupakannya, Rabbi...?
***
          Matahari di langit Jakarta pada musim kemarau memang tidak bersahabat. Teriknya yang menjilat-jilat seolah mampu membakar ubun-ubunku. Aku bersyukur telah menyiapkan kotak-kotak makanan yang dipesan Said sejak pagi, jadi saat ini tinggal kutata dengan rapi.
            Akh Amrul...”, panggil sebuah suara.
Aku menoleh dan tersenyum saat kudapati sosok Ibad di sana. Dia mahasiswa asal Rembang yang kini telah sama-sama duduk denganku di mustawa akhir syari’ah (Semester akhir Syari’ah) , “Waah... yang pengantin baru hadir juga to hari ini?”, godaku sembari menjabat tangannya erat.
            Dia terkekeh. “Iya dong akh... lha wong ustadz Dani pembicaranya, ndak boleh ketinggalan. Apalagi buat yang sudah berkeluarga...”, terangnya memberi alasan, “Lalu antum kapan nih deadlinenya? Sudah siap lahir batin kan?”
            Aku terbahak. “Deadline? Nyari calon istri macam nyari bahts (Makalah) aja antum ini... Siap sih siap akh, tapi calonnya yang belum ada, hahaha”
            “Yah, cepat-cepat saja lah akh... takut kehabisan bibit unggulnya...”


 


Kamipun tertawa berderai-derai.
            Sepuluh menit kemudian kami berpisah. Seminar hampir dimulai. Aku baru saja akan menyelesaikan pekerjaanku jika saja ekor mataku tidak menangkap sosok anak kecil dengan pakaian lusuh yang mengendap-endap di koridor akhwat. Aku berniat membiarkannya sampai ketika aku melihatnya mengambil satu kotak makanan tanpa sepengetahuan siapapun.

            Detik berikutnya, ia segera beranjak ke sebelah utara aula masjid. Akupun mengikutinya diam-diam. Dengan langkah cepat, kurang dari lima belas detik telah mampu kuraih pundaknya. Sentuhan pelan di pundak itu seketika membuat wajah anak tersebut berubah pias.

            “Ampun, mas... saya terpaksa melakukan ini... Ampuni saya, mas”, pintanya dengan wajah memelas.
Aku segera berlutut agar sejajar dengan tingginya. “Adik namanya siapa? Lalu pada siapa makanan ini akan diberikan, dik?”, tanyaku selembut mungkin. Aku ingin tabayyun (Memeriksa suatu kejadian dengan teliti dan hati-hati) seperti yang diajarkan Rasulullah jika mengadili sahabatnya yang berbuat kesalahan.

            “Saya Wahyu, mas... makanan ini untuk ibu dan adik saya... ibu saya sedang sakit dan ndak bisa kerja. Padahal bapak sudah ndak ada. Saya tidak mau kehilangan ibu dan adik saya juga, mas...”, jawabnya dengan wajah yang tertunduk dalam. Kali ini ia mulai terisak.

Terbit rasa iba dalam hatiku. Kutaksir umurnya barulah belasan tahun, namun ia telah belajar menjadi begitu dewasa karena himpitan hidup. Hatiku rasanya teriris jika membayangkan betapa berat hari-hari yang telah dilewatinya. “Wahyu tunggu sebentar di sini ya...”.

Aku bergegas menuju koridor akhwat dan meminta izin mereka untuk mengambil dua kotak makanan. Mereka yang mengetahui maksudku malah menyodorkan tiga kotak makanan yang terbungkus kantong plastik. “Untuk ibunya yang sedang sakit akh, butuh tenaga ekstra...”, ucap salah seorang diantara mereka yang ternyata mendengar percakapan kami.

Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya berlalu. Dalam hati aku bersyukur bahwa selain sibuk berorganisasi, aktivis LDK juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya.

Detik berikutnya, kuserahkan tiga kotak makanan tersebut kepada Wahyu. Saat ia menerima kotak makanan yang kusodorkan, air mata segera membanjiri wajahnya. Ia sudah membayangkan akan mendapat hukuman karena perbuatannya, namun yang terjadi malah sebaliknya. “Terimakasih mas, terimakasih... ibu selalu mengatakan bahwa orang yang berbuat baik pasti akan di balas oleh Allah. Semoga Allah membalas kebaikan mas dengan kebaikan yang berlipat ganda”, ucapnya tulus dengan berurai air mata.

Hatiku gerimis demi mendengar doa yang diucapkan dengan tulus oleh Wahyu. Akupun mengamininya berkali-kali dalam hati. Beberapa orang di koridor akhwat yang mendengar doanyapun ikut mengamini diam-diam. Aku tak menyangka bahwa itu adalah awal diijabahnya doa tersebut.
***
            Mata kuliah hadits yang disampaikan DR. Abdul Wahab Al-Hakamy menjadi mata kuliah terakhir yang kami pelajari hari ini. Beliau mengulas sebuah hadits Qudsi yang berbunyi, "[Putusan yang] Aku [tetapkan adalah] sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku akan bersama dengannya jika dia mengingat-Ku..."[Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Kitab Shahih Bukhari, Juz IX, halaman 120]. Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa seorang hamba harus senantiasa berperasangka yang baik pada tiap-tiap ketentuan Allah. Dengan demikian, maka Allah akan melimpahkan karunia dan kebaikan sesuai perasangka hamba tersebut kepada-Nya.

            Usai mendengar penuturan beliau, hatiku merasa tenang. Optimisme hidup yang sempat padam karena pernikahan Sabrina dengan Fuad seolah kembali menyala. Ya, aku harus ikhlas dan tetap berhusnuzhon pada ketentuan Allah, karena suatu saat Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik, tekadku dalam hati.

            Lima menit kemudian bel tanda usainya jam kuliah berdering. Aku baru saja akan berkemas saat kurasakan sentuhan halus di pundakku. Serta merta aku menoleh dan kudapati sosok Said di sana.
            Akhi... ana mau ajak antum nih...”, ujarnya dengan nada merajuk.
            “Kemana?”, tanyaku sembari memasukkan muqorror[Diktat] hadits ke dalam tas.
            “Ke tempat spesial...”, jawab Said dengan senyum lebar.
            “Acaranya?”
            “Acaranya spesial juga...hehe,”
            Aku sangat mengenal Said. Biasanya jika sudah seperti ini dia akan terus membujukku. Kulihat jam tanganku. Kebetulan besok Sabtu tidak ada jam kuliah. Rujak Seafood juga bisa kubuka malam hari. Jadi kuiyakan ajakannya.
            Melihatku mengangguk setuju, Said melonjak girang, “Pokoknya antum ga akan nyesal, akh”, ujarnya sembari menarikku keluar kelas.
***

 
            Usai shalat jum’at di masjid kampus, kami berangkat dengan motor masing-masing membelah kepadatan lalu lintas Jakarta. Untungnya, ruas jalan sepanjang Warung Jati Barat hingga Ampera tidaklah padat. Sehingga lima belas menit kemudian, kami telah memasuki daerah Kemang Selatan. Dalam hati aku masih bertanya-tanya ke mana Said akan membawaku. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah restoran terkenal di daerah Kemang. Ada yang sedang walimahkah?, tanya batinku penasaran.

            “Sudah sampai akh...”, ujar Said sembari memarkir motornya, “Ayo, masuk...”
            Aku hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.

            Saat memasuki restoran, dapat kutandai seseorang yang melambai pada kami. Pria berusaia setengah baya. Aku berusaha keras mengingat wajahnya yang nampak familiar bagiku dan terperanjat seketika saat menyadari sosok yang melambai pada kami tersebut. “Ustadz Dani???”

            Said hanya tersenyum melihat ekspresiku. “Ayo akh, kita sudah ditunggu beliau...”
            Batinku segera dirundung pertanyaan. Aku semakin gugup hingga tak tahu harus berbuat apa di depan ustadz sekaligus penulis yang kusegani tersebut.

            “Oh...jadi ini akh Amrul yang antum ceritakan itu?”, tanya ustadz Dani pada Said.
            Said hanya tersenyum dan mengagguk pelan, “Iya, ustadz...”.
            “Duduklah...”, pinta ustadz Dani ramah sembari mengembangkan senyumnya yang teduh.
            Kami berdua mengambil kursi di depan beliau. Pikiran konyol tiba-tiba melintas dalam benakku, Aku sudah lama ingin berfoto dengan beliau, apakah ini saatnya?.
            “Sebelumnya maaf karena memanggil kalian mendadak seperti ini. Saya ingin menyampaikan pertanyaan. Terutama pada antum, Amrul...”, ujar ustadz Dani sembari melepas pandangannya padaku.
            Mendengar namaku disebut, seketika wajahku terangkat. Mataku melebar karena kaget dan penasaran. “Ya, ustadz... pertanyaan apa itu?”
            “Jika ada seorang ikhwan yang memendam perasaan pada seorang akhwat, maka menurutmu apa yang sebaiknya dilakukan?”, tanya beliau lugas.

            Mendengar pertanyaan tersebut, entah mengapa hatiku bagai teriris. Seolah ada sebuah alugora raksasa yang menghimpit dadaku. Tiba-tiba bayangan Sabrina kembali berkelebat di benakku. Tanpa terasa mataku mengombak. Ketika setetes air mata jatuh, kusembunyikan wajahku dari beliau. “Jika ia seorang ikhwan yang telah siap lahir batin untuk menikah, maka sebaiknya ia segera mengutarakan isi hatinya. Jika ia malah menunda dan akhirnya akhwat tersebut dipinang oleh saudarnya, maka ia pasti akan sangat kesulitan melewati masa-masa tersebut, ustadz...”, terangku dengan suara yang berubah serak.
            Melihat ekspresiku yang tidak terduga, Said mengernyit. Dalam kepalanya tiba-tiba muncul tanda tanya besar tentang apa yang tengah kurasakan.
            “Jika dia seorang akhwat?”, kejar ustadz Dani.

            Aku menengadah. “Jika dia seorang akhwat, hendaknya ia memintakan seseorang yang menjadi walinya untuk menyampaikan isi hatinya pada ikhwan yang diam-diam disukainya...”, jawabku sembari menyeka air mataku.

            Ustadz Dani tersenyum lebar. Ia nampak puas dengan jawabanku. Semua yang ia tanyakan persis seperti permintaan seseorang. “Jika memang demikian, hari ini saya ingin menyelamatkan hati seorang gadis. Ia tengah memendam perasaan pada seseorang. Untuk menyelamatkannya, saya butuh bantuanmu, Amrul...”
            Aku semakin bingung merangkai hubungan pertemuan kami hari ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang beliau ajukan, “Bantuan seperti apa yang bisa saya berikan ustadz?”, tanyaku ragu-ragu.

            “Bantuan yang saya harapkan darimu adalah dari seorang akhwat yang bernama Alyssa. Beberapa bulan terakhir ia telah memendam perasaan padamu, dan persis sebagaimana penuturanmu saya sebagai walinya yang paling berhak untuk menyampaikan perasaannya...”, terang ustadz Dani tanpa melepas pandangannya dariku.

            Kalimat ustadz Dani barusan cukup membuatku dan Said terkaget-kaget. Aku seolah masih belum percaya dengan pendengaranku. Beberapa detik berikutnya adalah saat mulutku terkunci rapat, dan hanya meninggalkan otakku yang masih bekerja dengan keras mencerna maksud beliau. Beliau mengatakan bahwa ada seorang gadis yang selama ini menyimpan perasaan padaku, dan yang lebih membuat hatiku bergetar gadis itu adalah...

            “Ya, dia putriku...”, sambung ustadz Dani seolah mampu membaca isi hatiku. Beberapa saat kemudian, beliau terlihat menghubungi seseorang. Detik berikutnya adalah ketika seorang gadis dengan jilbab biru muda memasuki restoran ditemani seorang wanita paruh baya. Mereka berdua mengambil tempat duduk di sebelah ustadz Dani. “Ini adalah gadis yang ingin saya selamatkan hatinya, Alyssa...”, ujar ustadz Dani sembari menunjuk pada gadis dengan jilbab biru muda.

            Saat pandangan kami bertemu, aku segera teringat pada seorang gadis yang duduk di samping Sabrina pada hari ketika Fuad mengkhitbahnya secara resmi. “Kaukah itu?... yang duduk di samping Sabrina saat ia dikhitbah?”, tanyaku dengan suara bergetar. Aku masih belum bisa menyembunyikan kekagetanku.

            Alyssa mengangguk pelan. “Saat itu saya langsung tahu bahwa mas Amrul telah lama memendam perasaan pada Sabrina. Namun saya kagum melihat mas Amrul yang berbesar hati dan mengikhlaskannya. Saya menjadi semakin kagum pada mas Amrul saat memberikan kotak makanan kepada seorang anak di masjid Al-Ikhlas tempo lalu. Saat itu saya juga datang untuk mengantar abi[Ayah] yang akan mengisi seminar...”, tuturnya dengan suara yang lembut.

            Mendengar penjelasan Alyssa barusan, setitik embun surga seolah-olah jatuh menyejukkan hatiku. Aku benar-benar merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar. Balasan untuk orang-orang yang berhusnuzhon pada Allah benar-benar kurasakan hari ini.

            Ustadz Dani menjelaskan bahwa Alyssa baru saja lulus dari jurusan kedokteran Universitas Trisakti. Beliau juga menambahkan bahwa putrinya mengidamkan pendamping yang shalih, mampu menghormati dan mencintainya serta bisa mengimaminya di dunia dan akhirat.

Rasanya, aku masih belum percaya dengan rentetan kejadian yang kualami hari ini. Rabbi, betapa rizki yang Kau berikan ini begitu agung untukku, bisik batinku lirih. Air mataku kembali jatuh, laiknya gerimis yang tiba-tiba saja turun dengan perlahan di luar sana. Suara rintiknya yang bertalu-talu seolah mengiringi perginya kemarau panjang dari hatiku.


Jakarta, penghujung Syawal 1433 H.
Untuk orang-orang yang kucintai karena Allah,
terimakasih karena telah melimpahiku dengan banyak cinta.
(Cerpen ini meraih penghargaan III dalam Gebyar Kreasi Cerpen Tingkat Nasional 2012)