Tampilkan postingan dengan label alumni KAMMI LIPIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alumni KAMMI LIPIA. Tampilkan semua postingan

"من أعظم النعم"




الحمد لله الذي أنعمني                     بفهم كثير من المعاني
.
والصلاة والسلام على رسوله           محمد وعلى آله و أصحابه
.
عام يمضي و أنا أمشي                   بمزاحات الزمن تجري
.
مضى الأيام فتغير حال الإنسان          لكن الذكرى يبقى في فؤاد الحنين
.
إن الإيمان من أعظم النعم نسيه         كثير من الناس فيبيعونه
.
فما بال الإنسان ولد في كفره             أصبح كافرا ليس من إرادته
.
يشكر المسلم في اليوم خمس مرات     ولا يشكر الكافر لله ولو فترات
.
 ولله نازلة يضيقُ بها الفتى                صدرا وعند الله منها المنجى
.
حاولت في بحث كثير من المعاني        لكن عند الحب يموت كل بياني
.
فوجدت العلاج عند الله                     بقراءة القرآن و قيام الليل
.
فالحب نعمة من نعم الخالق               وليس وسيلة من وسائل القلق
.
وإذا سألتني عن هذه النعمة              فما جوابي إلا بالبسمة


Oleh : Salman Al-Farisi Basyir (Kepala Departement Mekominfo KAMMI LIPIA)

Permainan 5 Kembar Tak Terpisahkan


Ria, ujub, sombong, iri & dengki mereka adalah salah satu tag team paling berbahaya di dunia ini. Segerombolan pembunuh berdarah dingin dan sasaran utamanya adalah hati. Sangat sulit mengalahakan mereka karena mereka semua 5 kembar tak terpisahkan.

Bisa dibilang bahwa pertempuran kita dengan mereka tidak ada habisnya, jika kita berhasil menghindar/mengalahkan salah satu dari mereka, kembarannya akan datang dan membantu. “Oh ya ampun!!! mereka benar-benar menyusahkan, beraninya main keroyokan!!!”. 

Mereka itu saling berkaitan, orang yang sudah jadi korban mereka akan dipermainkan kedalam siklus yang terus berputar, tanpa disadari hatipun akan kritis dan harus mendapatkan pertolongan secepatnya.

Aku ingin mengambil sedikit contoh sederhana, suatu ketika kita mendapati fenomena bahwa teman kita sedang berbuat ria/ujub, lalu kita ingin menasihatinya, maka dimulai lah pertempuran awal, bertempur dengan rasa iri/dengki. Maka diujilah keikhlasan kita, bisakah kita menasihati teman kita ikhlas karena Allah? atau ternyata masih ada bintik hitam dengki dan iri di dalamnya? 

Ingatlah semua amalan kita berkaitan dengan niat, dan kerusakan niat berdampak terhadap keikhlasan amal. Lalu ketika kita menasihati teman kita mungkin kebanyakan dari mereka menolak dan tak menerima, lalu berkata “Kagak kok, gw gak riya, cuman mau cerita aja, tahaduts bi nni’mah kan dianjurkan” dan sejenisnya. Nah!!! disinilah sombong detected

“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. Kita juga perlu hati-hati, tahadduts bin ni’mah itu beda dengan ria, ria jelas melakukan atau memamerkan sesuatu demi mendapat pujian atau perhatian orang lain, sementara tahadduts bin ni’mah adalah memberitahukan kepada orang lain tentang kebahagiaan atau nikmat yang telah diberikan Allah dalam rangka mensyukuri atas yang telah dia berikan. Nah mirip-mirip kan?, terlihat sepele tapi sebenarnya berbahaya. Kita bisa saja berhusnudzon bahwa teman kita tidak bermaksud apa-apa melakukan hal demikian, tapi hati manusia siapa yang tau kecuali Allah?

Jika kita termakan oleh kelima sifat tersebut seperti contoh kecil diatas, maka kita sudah menjadi korban dan masuk ke siklus mereka (Naudzubillahi min dzaalik), menyusahkan bukan? Dan masih banyak lagi contoh kecil maupun besar tentang kelima sifat di atas, kalau dijelaskan semuanya mungkin gak ada habisnya. Gak bisa ngasih banyak saran sih, sering-sering aja inget Allah, kalau merasa salah satu sifat diatas terdeteksi cepet-cepet istigfar, dan yang paling penting sih perbanyak baca qur’an, karena dia obat hati yang langsung dianjurkan oleh Allah dan Rasulullah saw.

“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman 18] 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]

Mungkin segitu saja yang bisa saya tulis, sejujurnya tak bisa dipungkiri bahwa saat saya menulis Tulisan ini, sayapun sedang melakukan pertempuran dahsyat dengan kelima sifat tersebut. Mudah-mudahan Allah swt menjaga kita dari kelima sifat tersebut. Amiin.

Semoga bermanfaat.

Oleh : Salman Alfarisi Basyir (Staff Dept. Mekominfo KAMMI LIPIA)

Indahnya Kebersamaan



Ada canda saat bersua, ada rindu kala berpisah. Itulah indahnya ukhuwah. Anugrah besar yang mulai jadi barang mahal dinegeri ini. Mari kita rawat bersama, agar dunia ini bisa menjadi tempat yang nyaman untuk beramal dan berkarya.

Ada yang besar, ada yang sedang, ada pula yang kecil. Itulah warna - warni kehidupan. Mari maknai perbedaan dengan cara yang benar dan dewasa, bukan malah sebagai pembenar untuk berbuat salah dan menyimpang.

Ada yang menang, ada yang kalah. Itulah permainan. Kadang berkoalisi, kadang berkompetisi. Itulah dinamika politik. Ditangan para ahli ilmu, bahkan perbedaan bisa diracik menjadi orkestra yang mengalun merdu. Ditangan orang terampil, benang kusut sekalipun bisa dirajut berkelindan dengan pola yang unik. 

Ada banyak peristiwa yang bisa menjadi sarana kita berekspresi, mendewasakan diri sekaligus meraih prestasi. Pro kontra memang tak bisa dihindari, cinta dan benci juga sulit dipungkiri. Namun sadarilah, kita baru akan berkembang jika sudah menemukan lawan yang juga berkelas. Karena itu, pejuang sejati selalu menaruh respek yang besar, baik kepada kawan maupun lawan.

Oleh : Andi S Basuki

Menjawab Hujah Allah


Interaksi antara nabi dengan umatnya bukan hanya terjadi di dunia, tapi juga diakherat. Di dunia, nabi menyampaikan risalah, mendakwahkan dan membimbing umatnya. Sederhananya dirangkum dengan konsep "Syaahida, wa mubasysyira, wa nadziira, wadaa'iyan ilallaahi bi idzbihii, wa siraajam muniiraa". Respon dari umatnya beragam, yakni ada yang menjadi pembela, ada yang menerima, ada yang menolak dan ada juga yang menentang. Sèdangkan di akherat, kita bisa mendefinisikan dalam tiga bentuk. 

Pertama, Memberikan Syafa'at

Syafa'at di akherat bisa diberikan oleh banyak pihak. Para nabi, orang shaleh, syuhada dan bahkan Al Qur'an juga bisa memberikan syafa'at. Dalilnya melimpah ruah, tidak ada perdebatan dalam hal ini. Tentang syafa'at, prinsipnya sederhana saja. Yakni pihak yang memberikan syafa'at diberi ijin oleh Allah dan pihak yang menerima syafa'at tidak dalam posisi terhalang terhadap syafa'at. Dan diantara keistimewaan nabi Muhammad saw di akherat adalah menjadi orang pertama yang diberi ijin untuk memberikan syafa'at.

Kedua, Menjadi Saksi

Para nabi menjadi saksi atas perbuatan umatnya. Allah ta'ala akan mengkonfirmasi amalan suatu umat kepada para nabi. Misalnya, nabi Isa ditanya Allah tentang amalan kaum nasrani yang memiliki konsep trinitas. Tentu saja nabi isa mengelak, karena memang tidak mengajarkan amalan tersebut. Termasuk, nabi Muhammad saw juga akan menjadi saksi atas perbuatan umatnya. Karena amal perbuatan umatnya diperlihatkan kepadanya. Wallahu a'lam, apakah wasiat nabi "Man 'amila 'amalan laisa 'alaihi amrunaa, fahuwa raddun" juga termasuk dalam konteks tersebut.

Secara khusus, umat islam memiliki keistimewaan juga di akherat. Yakni menjadi "Ummatan wasathan, litakuunuu syuhada-a 'alan naas". Saat itu, banyak umat mengingkari dakwah nabi didunia. Lalu, para nabi minta saksi bahwa mereka telah menyampaikan dakwah sewaktu didunia. Umat islam terpilih jadi saksi dan memberikan persaksian bahwa para nabi telah berdakwah kepada umatnya masing - masing. Darimana kita mendapatkan pengetahuan tentang hal itu, sehingga layak diangkat menjadi "saksi ahli" diakherat kelak? Ya dari al Qur'an. Didalamnya banyak kisah dakwah para nabi kan?

Ketiga, Menjadi Hujah

Inilah yang agak berat. Jika tidak salah, keterangannya termaktub dalam kitab "Nashaihul 'ibaad". Yakni, Allah akan menjadikan para nabi sebagai hujah jika kita tidak bisa memenuhi kewajiban kita kepada Allah. Maksudnya, para nabi kan kondisinya ekstrim. Ada yang sangat kaya, ada yang sangat tampan, ada yang sangat faqir, ada yang sakitnya sangat lama dan lain-lain. Dengan segala ujian hingga tahap ekstrim sekalipun, ternyata mereka masih bisa beribadah dan melaksanakan kewajiban - kewajiban lainnya kepada Allah. Padahal mereka juga berstatus "Basyarum mitslukum", meski tidak memungkiri pula bahwa mereka adalah hamba - hamba pilihan.

Hujah 212

Sengaja kami memilih gambar polisi cakep sebagai ilustrasinya, karena gambar ini termasuk yang sangat populer beredar dimedsos. Artinya, wajah tampan sebenarnya juga bentuk ujian dari Allah, untuk melihat bagaimana amal seseorang. Nabi Yusuf adalah nabi yang dikaruniai wajah sangat tampan. Hingga meski tangan berdarah karena teriris pisau, para wanita seolah mati rasa karena melihatnya. Hingga meski rakyat Mesir kelaparan akibat kekeringan, mereka menjadi kenyang karena disidak olehnya. 

Boleh jadi kita dikaruniai wajah tampan, sehingga banyak dipusingkan dengan beragam acara sebagai model, sibuk shooting, undangan wawancara, foto selfi dll. Tapi janganlah hal itu membuat lalai beribadah dan enggan berjuang. Karena kelak diakherat kita akan dihadapkan pada hujah Allah "Itu nabi yusuf sangat tampan, tapi dia tetap bisa beribadah, berdakwah dan berjuang dijalan Allah". Kira - kira, apa jawaban kita saat itu? Karena setampan - tampannya kita, tidak akan bisa membius orang sakit dan tidak akan mengenyangkan orang lapar sebagaimana nabi Yusuf.

Setampan apapun wajah kita, tetaplah beribadah, berdakwah dan berjuang. Jangan sampai kita menjadi objek syair dari kyai zaman dahulu yang sering ditembangkan saat tabligh akbar "Sayang sungguh sayang, orang tampan tidak sembahyang. Sayang sungguh sayang, orang tampan tidak berjuang. Nabi Yusuf lebih tampan tetap sembahyang. Nabi Yusuf lebih tampan tetap berjuang"

Oleh : Andi S Basuki

212 Nikmat yang Tak Terputus


Ada seorang bapak-bapak bercerita kepada saya: "Saya dari kantor bersama teman-teman, tapi saya pakai ojek online tidak bareng dengan yang lainnya. Sesampai di tempat aksi super damai, saya turun dari motor, motornya udah pergi aja gak mau dibayar. Subhaanallah banyak nikmat kemarin."

Ada lagi yang menyampaikan: "Masya Allah... Nikmat Allah di aksi super damai kemarin sangat melimpah, tidak kekurangan makanan." 

"Hujan turun pas shalat jum'at itu saaaangat sejuk, nikmat sekali dan sangat tenang."

Iya, itu hanya beberapa orang saja yang menyampaikan kepada saya selepas aksi kemarin, masih banyak lagi kenikmatan-kenimkatan lain yang tak terbendung untuk diungkapkan.

Ada satu peristiwa yang membuat saya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan memaksa saya harus menulis tentang aksi super damai ini, dimana taman dan rumput-rumputnya masih terlihat indah nan hijau merkah.

Ingatkah ketika shalat jum'at dilaksanakan? lalu qunut nazilah beserta doa-doa dilantunkan? Allah memberi kenikmatan hujan, hujan yang sejuk dan menentramkan. Tidak ada petir, tidak ada angin kencang yang ada adalah kenikmatan, kesejukan dan penguatan hati serta langkah kaki.

Ya Allah... 

Seketika tergambar di benak saya dengan pasukan Badr, yang Allah menurunkan kepadanya nikmat hujan. Lalu menjadikan dengannya kekokohan hati, langkah kaki dan akhirnya alampun ikut beraksi.

Kenapa kita tidak kabur ketika hujan? padahal kalau dipikir-pikir dengan akal manusia hujan bisa membuat badan meriang lalu sakit. Itulah bedanya dengan kita, di kita hujan adalah nikmat Allah, di kita angin, hujan, panas, debu, petir adalah makhluk Allah kalau terjadi tidak boleh dihina atau disalahkan, kalau dihina berarti telah menghina Allah juga.

Allahu Akbar...

Kegigihan pasukan Ciamis juga membawa ingatan saya pada kegigihan salah satu sahabat kecil yang menangis tatkala Nabi melarangnya untuk ikut pasukan Badr. Iya, itulah sahabat mulia 'Umair bin Abi Waqqas, DR. Mahmud Muhammad 'Imarah menyampaikan bahwa umur beliau di kisaran umur murid Sekolah Dasar.

Kegigihannya ingin ikut pasukan Badr, tangisan kencang di hadapan Nabi karena tidak diizinkan ikut membuat hati Nabi luluh dan mengizinkannya ikut pasukan Badr. 

Merekapun disambut warga di setiap kota dengan rasa bangga dan tangis ibu-ibu, tangis karena bangga sebagaimana Abu Bakar menangis bahagia diminta Nabi untuk menemani hijrah.

Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan kegigihan pasukan Ciamis. Bisa jadi dengan kegigihan mereka menyadarkan hati saudara-saudara kita yang lain untuk ikut serta, walaupun awalnya mereka menutup hati dan membisu. 

"Saya pulang pak dari luar negeri hanya ingin ikut aksi super damai, ini panggilan hati nurani saya membela agama", ungkap seseorang alasan ia pulang dari luar negeri.

Ya Rabb... Semoga Engkau menurunkan kabar gembira sebagaimana Engkau menurunkannya di pasukan Badr. Aamiin.

Doa tali persaudaraan, saya menyebutnya begitu adalah salah satu doa yang dilantunkan di qunut nazilah waktu itu. Makna yang dalam akan hakikat cinta pada saudara, disatukan karena iman, rela meninggalkan kehidupan dunia demi membela Allah.

"Ya Allah, sesunggahnya Engkau mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukkanlah jalannya penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu, indahnya takwa kepada-Mu, hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."

Itulah doa yang terlantunkan dari lisan ahli ilmu di doa qunut nazilah kemarin. Sungguh sebuah ikatan persaudaraan yang tak terbatas oleh tempat dan waktu. Persaudaraan untuk menolong Allah Q.S. Muhammad: 7.

Dalam payung persaudaraan karena Allah, Allah himpunkan dalam aksi kemarin Para habaib, kyai, ahli ilmu, santri, tokoh negeri, artis, orang awam, bahkan presiden dan wakil presiden beserta beberapa menteri dan panglima TNI. Sehingga tatkala aksi 212 ini dijadikan lawakan dengan disandingkan dengan tokoh fiktif sableng (gila), samahalnya menganggap orang-orang yang ikut aksi adalah sableng semuanya sampai presiden dan wakilnya juga. Hal ini bisa dikategorikan hinaan yang melanggar Undang-undang, maka jagalah lisan kita.

Jaga terus persaudaraan kita, kawal terus proses penista agama jangan sampai lolos, kalau lolos akan hadir penista-penista agama yang lain. 

Semoga Allah memberi kabar gembira pada kita sebagaimana kabar gembira di Badr.

Oleh : Nadi Kejayaan (Staff Kastrat KAMMI LIPIA 2010-2011)