Tampilkan postingan dengan label Silaturahmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silaturahmi. Tampilkan semua postingan

KAMMI LIPIA Berkunjung ke Republika


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, mengadakan kunjungan dan silaturahim pengenalan media di Republika, Jumat (28/4) sore. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana sebuah media Islam bisa tetap konsisten dan eksis disetiap jaman.

“Kunjungan ke media kali ini, yaitu untuk belajar agar bisa mengaplikasikannya di media kami di kampus,” kata koordinator kunjungan KAMMI, Nur Fajrin Aslam, di kantor Republika, Jakarta Selatan, Jumat (28/4).

Fajrin mengatakan, rombongan yang hadir pada pertemuan kali ini ada sekitar 25-30 orang yang terdiri dari kader dan pengurus KAMMI komisariat LIPIA. Acara yang digelar sejak pukul 16.00 WIB tersebut di hadiri pula oleh beberapa staf redaksi dan sekretariat Republika.

Pertemuan berlangsung dengan begitu interaktif. Ada begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan, dimulai dari pertanyaan kapan sejarah berdirinya Republika, pengelolaan media Republika, hingga tips dan trik agar bisa menjadi media besar seperti Republika.

Redaktur Pelaksana Koran Republika, Subroto, yang saat itu hadir menjelaskan, Republika didirikan sebagai ajang untuk menyampaikan aspirasi bagi umat Islam. Tapi, tidak hanya dibentuk hanya dengan sentimen Islam semata, namun juga harus berpegang pada prinsip jurnalistik.

“Kita punya standar yang tidak bisa kita tawar. Republika juga sebagai bisnis media, harus bisa menjaga trust masyarakat. Agar begita kita bisa dijadikan referensi. Jadi kita harus tetap jaga, bukan hanya mengandalkan sentimen,” kata Subroto dalam diskusi tersebut.

Subroto mengatakan, prinsip jurnalistik tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dia pun mengimbau, agar mahasiswa LIPIA yang hadir khususnya, bisa lebih gencar dalam mengirim tulisan-tulisannya untuk dimuat di Republika. 

“Jangan sampai kalah oleh kampus lain, LIPIA kan kampus Muslim, harus banyak dong yang berkontribusi mengirim tulisan hasil karyanya. Jangan menyerah karena satu dua kali ditolak, terus coba,” jelas Subroto.

Menurut Subroto, banyak sekali rubrik dari Republika yang menyediakan ruang bagi tulisan-tulisan mahasiswa. Seperti di rubrik Islam Digest, Hikmah, Publika, dan lain-lain. Tulisannya pun bermacam-macam, dimulai dari cerpen, puisi, opini, hingga kajian kitab.

Fajrin mengungkapkan, sangat antusias dengan kunjungan media ke Republika. Selain dengan adanya background yang sama, juga bisa meraup ilmu yang bisa direfleksikan saat kembali beraktivitas di kampus. “Jadi kita banyak belajar, ini yang nggak bisa kita dapat dari kampus kita, kita punya background di lipia, dan akhirnya kita bisa keluar dan bergerak di tempat ini dan kita bisa membawanya ke kampus untuk diterapkan di kampus kita,” kata Fajrin. 




KAMMI LIPIA Bersilaturahim ke Al Muzzammil Yusuf



Alhamdulillah telah terlaksana agenda Silaturahim Tokoh (Siltok) KAMMI LIPIA pada Jum'at Sore (24/2).

Pada Siltok kali ini, kader bersilaturahim mengunjungi Ustadz Al Muzammil Yusuf, anggota DPR RI asal Dapil Lampung yang tempo hari sempat viral karena aksinya berorasi di Sidang Paripurna DPR-MPR membela Nurul Fahmi dalam kasus penistaan lambang negara. 

Ditemui di kediamannya di Kalibata, beliau mengapresiasi kunjungan ini dan menyampaikan motivasi kepada para kader agar selalu menjaga semangat dan konsistensi belajar di bidang keilmuan Syariah. 

"Kalian harus bersyukur bisa mendapatkan pengajaran ilmu syariah langsung dari ahlinya dan diatas rata-rata" ujarnya di pembuka. 

Dengan tema "Membangun wawasan Keindonesiaan dalam Bingkai Tauhid" beliau menekankan pentingnya peran tiap da'i dalam alam demokrasi. 

Karena demokrasi, seperti katanya, adalah lahan amar ma'ruf dan amar munkar, semua ideologi mampu berlomba dan bersaing memperebutkan suara. 

"Tiga hal yang harus dimiliki oleh da'i saat ini dalam bersaing di alam demokrasi: pengetahuan (ilmu), manajemen organisasi (amal jama'i), dan komunikasi yang baik", katanya.

Beliau juga menyampaikan pentingnya berani menyuarakan kebenaran, dan agar tidak salah menempatkan tawadhu'. Ikhlas dan tawakkal, tidak memikirkan apakah aksi kita kemudian menjadi viral atau tidak. 

Agenda silaturahim ini ditutup dengan foto bersama.
(rep/basyir)


Kunjungan KAMMI Komsat LIPIA ke TVRI


Rabu 26 Oktober 2016, KAMMI Komisariat LIPIA melakukan kunjungan ke stasiun televisi TVRI (Televisi Republik Indonesia) di Jl. Gerbang Pemuda Senayan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri oleh sebagian besar anggota Menkominfo, Ketua umum, sekretaris dan beberapa perwakilan dari departemen yang lain.

Kegiatan yang digagas oleh departemen Menkominfo ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM di komisariat dalam hal peliputan media dan menambah wawasan kader. Hal ini terlihat dalam pernyataan perwakilan rombongan dalam sambutannya.

"Tujuan sebenarnya kami melakukan kunjungan ini ialah untuk menjalin silaturahmi dan juga mencari ilmu, menambah wawasan khususnya dalam bidang peliputan," ungkap Nafis.

Ganep, selaku perwakilan dari TVRI mengatakan bahwa mereka sangat terbuka dengan kegiatan-kegiatan seperti ini dan juga memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin mempelajari tentang hal yang berkaitan dengan media untuk datang dan ikut dalam kegiatan yang diadakan oleh TVRI.

"Kami sangat senang dengan kegiatan positif seperti ini dan menerima dengan sangat terbuka, bahkan TVRI juga menyediakan kursus-kursus tentang pelatihan fotografi, jurnalistik dan masih banyak lagi. Dan kegiatan ini terbuka untuk umum," ucapnya.

Setelah kedua belah pihak menyampaikan sambutannya, acara dilanjutkan dengan diskusi-diskusi santai seputar perkembangan TVRI, jurnalistik dan peliputan.

"Sebagai televisi pertama di Indonesia, tapi kenapa TVRI seperti terlihat tidak berkembang dan jarang diminati masyarakat mengingat acaranya yang tidak sevariatif televisi swasta lainnya?" Tanya salah seorang peserta diskusi.

"TVRI ialah televisi nasional, artinya milik negara dan apa yang ditayangkan harus melalui proses panjang, juga dibatasi oleh undang-undang, dalam artian seluruh tayangannya harus independen dan mendidik. Jadi kami nggak bisa tuh nayangin musik sepanjang hari kaya di TV yang lain. Intinya, TVRI ini media negara, jadi seluruh tayangan dan kegiatan kami harus dapat menjaga keutuhan NKRI dan mendidik masyarakat," jelas Ganep.

Di akhir diskusi, terdapat penyerahan Cinderamata dari KAMMI Komisariat LIPIA yang diwakili oleh Amrin Nafis selaku selaku Ketua Umum dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Tidak hanya sampai di situ, setelahnya kami diajak untuk berkeliling di gedung produksi dan studio, melihat secara langsung proses shooting gambar, proses editing bahkan sempat foto bersama dengan pembaca berita TVRI.

(Rep: Abdur/ red: Edy)



Silaturahmi Tokoh : Rela Berkorban Itu Modal dan Nafas Perjuangan


Komisariat LIPIA melangsungkan Agenda Silaturahmi Tokoh ke kediaman Ust.Abdul Muiz Assaadih MA, di Pela Mampang, Jumat (21/10). Pertemuan itu membahas tentang makna “Rela Berkorban” yang sudah menjadi beban dikalangan manusia terkhusus pemuda.

Diawali dengan salam dan jamuan tuan rumah, kami yang berjumlah 26 orang terdiri dari BPH (Badan Pengurus Harian), anggota Kaderisasi dan beberapa perwakilan dari departemen Kebijakan Publik, Sosial Masyarakat, Mekominfo dan Ekonomi merasa terciptanya suasana kekeluargaan yang begitu kental.

“Dakwah itu tidak bersikap ganda, dakwah sepakat dengan satu sikap yaitu sikap “totalitas” yang diakhiri dengan semangat berkorban" kata Aldi selaku moderator membuka bahasan.

Dalam kesempatan itu, beliau yang merupakan salah satu dosen STIDDI Al Hikmah menyampaikan pentingnya sikap “rela berkorban” dalam dakwah. Menurutnya, dengan adanya semangat berkorban akan menjadi modal dan nafas perjuangan islam dalam menggapai kejayaan.

Melihat fenomena yang terjadi dikalangan pemuda, beliau menyampaikan perlunya belajar dari kisah dalam Al quran dan kehidupan para sahabat Rasulullah solloohu alaihi wasallam. Diantaranya adalah kisah burung hud hud yang militan dan detail dalam menyampaikan informasi dan alasan. Serta kehidupan Abu Dzar Al Ghifari dalam berjuang untuk bergabung dengan pasukan di perang tabuk.

Kemudian beliau memberikan permisalan bahwasanya dalam kaidah ilmu sharf tidak mungkin ada dua sukun dalam satu bacaan. Jika ada, maka akan membingungkan dan segera harus diberi harokah sehingga timbul lafadz dan nada yang seirama. Permisalan harokahnya itu adalah pengorabanan. Ruang sinergi antara ulama dan pemuda harus terus dijaga, karena ini adab pengorbanan dalam mengatur nafas perjuangan.

Acara diakhiri dengan sesi pemberian plakat yang diwakili oleh Nu’man salah satu anggota departemen kaderisasi dan diakhiri dengan sesi foto bersama. (Rep Aldi)


KAMMI LIPIA Kunjungi DDII





Senin, 4 April 2016, KAMMI LIPIA mengunjungi kantor DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) di Jalan Kramat Raya No. 45, Kramat, Senen, Jakarta Pusat. Rombongan yang berjumlah 17 orang itu terdiri dari BPH (Badan Pengurus Harian), anggota Kastrat dan beberapa perwakilan dari departemen Sosmas, Kaderisasi, Ekonomi dan Mekominfo.

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam ini diawali dengan sambutan dari pihak DDII, yang diwakili langsung oleh sekretaris umum, Hafidz Sholihin, ditemani dengan ketua bidang dakwah dan ketua bidang kaderisasi. Dalam sambutannya, ia berbicara tentang sejarah DDII.
“Dewan dakwah didirikan oleh  Dr.Muhammad Natsir pada 27 Februari tahun 1967, beliau adalah orang yang pertama kali menjabat sebagai jubir Masyumi (Majlis Syuro Muslim Indonesia), gabungan partai-partai Islam Indonesia. Yang pada tahun 1955 berhasil memenangkan PEMILU dengan jumlah suara mencapai 47%. Baru pertama kali itulah partai Islam menang, mengalahkan partai Nasionalis dann partai Komunis,” jelasnya.

Selanjutnya ia menjelaskan pentingnya sebuah kaderisasi untuk terus menjaga kelangsungan sebuah organisasi. Maka, dewan dakwah mulai membangun instansi pendidikan sebagai bahan pengkaderan, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
“Kaderisasi harus itu harus berlangsung, karena dakwah harus terus bejalan pula, oleh sebab itu Dewan dakwah mulai berpikir untuk membentuk jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi, sehingga sekarang terbentuk beberapa sekolah dan  STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M. Natsir yang bertempat di Tambun (Kabupaten Bekasi-red),” terang Hafidz.

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta kunjungan menanyakan tentang peran politik DDII, khususnya menyangkut pilkada DKI.
“Bagaimana sikap dewan dakwah sendiri menghadapi percaturan politik di Indonesia, khusunya di Jakarta, karena yang saya tangkap di media, dewan dakwah belum menunjukan gerakannya, atau bagaimana,”tanya Basyir, perwakilan dari kaderisasi KAMMI LIPIA.
“Karena dewan dakwah sekarang ialah berpolitik melalui dakwah, maka dewan dakwah tidak bisa melepaskan peran politik. Secara vulgar keluar memang belum mengeluarkan sikapnya,  tetapi dewan dakwah tetap bersama-sama dengan organisasi lain berkumpul di Majlis Ormas Islam atau disingkat MOI, inilah yang menjadi sarana kami untuk menyalurkan aspirasi poloitik, baik secara daerah maupun nasional. Majlis ini terdiri dari Dewan dakwah, Persis, Mathlaul Anwar, Al irsyad dan lain-lain,”jawab sekjen DDII itu.

Terakhir, Ia juga berharap KAMMI LIPIA bisa bekerjasama dengan BEM STID M. Natsir, karena pada tahun 2017 nanti akan ada hajat  besar dalam rangka menyambut 50 tahun jadinya DDII yang dimeriahkan dengan banyak kegiatan.
“Mungkin nanti teman-teman dari KAMMI LIPIA bisa bekerjasama dengan BEM STID, karena pada 2017 kita punya hajatan besar, dalam rangka menyambut hari jadi DDII yang ke 50, kami memiliki beberapa acara, diantaranya menulis buku, lomba menulis artikel tentang dakwah, penghargaan bagi pejuang dakwah dan seminar internasional,” ujarnya.

Setelah semua sesi selesai, acara kemudian ditutup dengan pemberian plakat ucapan terimakasih dari KAMMI LIPIA yang diwakili oleh ketua umum dan pihak DDII diwakili oleh sekertaris umum dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.