Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Khutbah Idul Fitri 1437 H - Ust. H. Faris Jihady, Lc


Memaknai Ramadan untuk Individu dan Masyarakat

oleh : H. Faris Jihady, Lc
(Alumni KAMMI LIPIA, Sekjen KAMMDA Jakarta 2011) 


الله أكبر 9X

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده

الحمد لله رب العالمين، حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضاه، نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ به من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

أشهد أن لا إله إلا الله رب رمضان وشوال وجميع الشهور والأعوام، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله خير من صام وقام ودان بالإسلام صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وأصحابه وأتباعه إلى يوم الدين.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala pujian marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Ta'ala, Pemilik Semesta Alam, Pengatur segala urusan makhlukNya, pengatur penggantian siang dan malam, pengatur pergantian tahun dan bulan, Tuhan pemilik waktu, baik itu Ramadhan, Syawwal dan seluruh bulan lainnya. Atas segala karuniaNya kita bisa menghela setiap desahan nafas dalam Islam, Iman, Ramdhan, dan Hari Eidul Fitri yang indah ini.

Kita bersyukur pada Allah yang telah mengantarkan kita pada hari ini, saat kita telah paripurna menyempurnakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat tarawih), serta zakat fitrah kita. Hari dimana kita disunnahkan melantunkan takbir, tahmid, dan tahlil semata untuk Allah Subhanahu wa ta'ala sebagaimana panduan Al-Quran setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan
ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم ولعلكم تشكرون

Hendaknya kalian menggenapkan bilangan puasa itu, kemudian membesarkan Allah Ta'ala dengan takbir sesuai yang telah ia tunjuki, dan agar kalian bersyukur

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pertama, khatib mengingatkan diri khatib sendiri dan hadirin sekalian untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya, karena sesungguhnya selesainya kita menyelesaikan ibadah puasa, tarawih dan zakat fitrah tidaklah berarti kewajiban ibadah kita sebagai hamba telah selesai. Karena sesungguhnya kewajiban beribadah adalah kewajiban yang melekat sejak ruh kita ditiupkan dan dilahirkan ke atas muka bumi ini, hingga kita menghadap Allah kelak dan mempertanggungjawabkan tugas tersebut di hadapanNya.

Allah berfirman dalam surat alhijr 99
واعبد ربك حتى يأتيك اليقين

Karena sesungguhnya kita diperintahkan bukan untuk menjadi Ramadhaniyyin (hamba-hamba yang beribadah pada Ramadhan saja), kita bukanlah hamba Ramadhan, namun kita diperintahkan untuk menjadi Rabbaniyyin (hamba-hamba yang beribadah pada Allah semata di setiap saat).

Ma'asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Idul Fitri yang berbahagia

Tentu saja hari ini adalah hari yang selayaknya kita berbahagia, kebahagiaan yang fitri (sesuai dengan fitrah), sekaligus kebahagiaan yang syari' (dianjurkan oleh Syariat), betapa tidak, bukankah Rasulullah saw telah menjanjikan, bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka, dan kebahagiaan saat menghadap Tuhan, hari ini kita berbahagia hari ini karena kita telah berbuka setelah berpuasa 30 hari, dan seharusnya kita selalu berdoa dan berharap pada Allah agar kita juga berbahagia saat menghadap Tuhan kita, Allah SWT.

Kebahagiaan hari ini nyatanya tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan apapun, karena kebahagiaan hari ini berarti bahagia karena keberhasilan menyempurnakan kewajiban, kebahagiaan karena janji Allah kita akan diselamatkan dari api neraka, dan kebahagiaan karena didekatkan dengan surga.

Dahulu para ulama menamakan Hari Idul Fitri adalah Yaumul Jawaiz (hari pembagian hadiah), hari dimana manusia berbondong-bondong keluar ke lapangan dalam keadaan terampuni, sebagaimana ungkapan ulama besar dari kalangan tabi'in AzZuhri, Ulama lain Muwarriq Al-Ijli berkata, bagai dilahirkan ibu mereka, putih bersih tanpa dosa.

Orang beriman bahagia pada hari ini, ia bahagia karena dekat dengan AlQur'an selama 1 bulan penuh, bahagia karena berhasil mengendalikan syahwat makan minum dan seksnya, bahagia karena berhasil menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan berdiri bermunajat pada Allah melalui shalat Tarawih, bahagia karena mengkhatamkan ALQur'an di bulan turunnya AlQur'an.`

Sudah sepatutnya, di penutup Ramadhan ini dan permulaan Syawwal, patut kita mengevaluasi Ramadhan kita kemarin, apakah benar kita layak menjadi orang orang yang berbahagia? Orang-orang yang membanggakan kemenangan? Atau dalam bahasa kita من العائدين والفائزين?

Karena sesungguhnya sebagaimana kita sebutkan di atas, kebahagiaan sebenar tatkala kita berhasil mengevaluasi capaian Ramadhan kita dengan rekor dan capaian terbaik. Kalau kita bahagia dan gembira semata karena sudah selesai puasa 30 hari tanpa capaian-capaian terbaik, shalat tarawih terbaik, khatam quran terbaik, sedekah terbaik, berhijab terbaik, patut kita pertanyakan diri kita, jangan-jangan kebahagiaan dan kemenangan kita semu dan tidak berarti apa-apa.

Dalam AlQur'an Allah mendefinisikan kemenangan yaitu;
فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز

Sesiapa yang telah dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, sungguhnya dia telah menang dan beruntung

Seiring dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang menyeruak di hari ini, dan tentu saja kegembiraan dan kebahagiaan ini adalah sesuatu yang dibenarkan dalam agama, patut kiranya kita mengiringkannya dengan kesedihan, kesedihan karena momentum emas baru saja berlalu, momentum panen kebaikan, keberkahan, pahala dan ampunan baru saja lewat

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam tradisi salafusshalih (para pendahulu kita dari generasi awal umat ini, yang merupakan generasi terbaik) generasi sahabat, tabi'in dan tabi'ittabi'in, mereka berusaha keras menutup momentum Ramadhan ini dengan amal terbaik, amal puncak yang mereka persembahkan di hadapan Allah.

Tidak cukup dengan mempersembahkan amal puncak dan amal terbaik, mereka kemudian berharap dengan sangat agar Allah menerima amal mereka, dan sangat sangat khawatir jika amalan mereka ditolak.

Allah berfirman tentang mereka; "dan orang-orang yang telah mempersembahkan amal mereka, hati mereka sangat takut bergetar pada Allah" surat almu’minun57. Rasulullah ditanya oleh Aisyah, "apakah yang dimaksud ayat ini adalah mereka yang berzina, mencuri dan berbuat jahat ?” kata nabi, "bukan, mereka adalah orang orang yang selalu shalat, puasa dan bersedekah, dan mereka khawatir amalan mereka diterima".

Ali bin Abi Thalib mengomentari ayat ini; hendaklah kalian lebih bersemangat dalam memohon diterimanya amal lebih besar dibandingkan dari amal itu sendiri. Fadhalah bin Ubaid berkata, "seandainya aku tahu bahwa amalku diterima meskipun sebesar biji sawi, itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya".

Karena itulah sebagian mereka memiliki kebiasaan berdoa kepada Allah untuk mempertemukan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya, kemudian setelahnya berdoa pada Allah selama 6 bulan juga agar amal mereka diterima.

Inilah mereka, mereka yang kualitas amal ibadahnya jauh lebihb aik dan di atas kita, selalu merasa takut. Kenapa mereka merasa takut? Karena mereka khawatir merasa rugi, khawatir menjadi orang-orang yang terhalang dari ampunan Allah padahal pada saat yang sama banyak sekali peluang dan cara untuk mendapat ampunan Allah.

Rasululllah bersabda
الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة...

Juga bersabda
من صام رمضان

من قام ليلة القدر

من قام رمضان

Tinggal kita memilihnya dengan cara apa kita mendapat ampunan Allah, amal ibadah apa yang menjadi keunggulan kita. Shalat kah? Tarawih kah? Baca quran kah?

Setelahnya agar semangat Ramadhan ini terus terpelihara, Allah perintahkan kita untuk selalu istiqamah, karena orang yang berhasil dengan Ramadhan bukan semata berlebaran, berbaju baru dan berhalal bi halal. Namun yang dapat terus merawat semangat beribadah sebagaimana beribadah di Ramadhan, karena Allah sediakan Ramadhan selama satu bulan, agar kita dapat menebus kekurangan kita selama 11 bulan lainnya, dan agar kita dapat terkondisi dengan suasana Ramadhan di 11 bulan setelahnya.

Dalam rangka merawat semangat ibadah ini, Allah perintahkan kita untuk berpuasa 6 hari Syawwal setelah berlebaran, yang nilainya sama dengan berpuasa satu tahun. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang membalas dendam akibat syahwat makan minum yang tidak terkendali setelah berpuasa.

Allah juga perintahkan kita untuk menegakkan shalat lima waktu berjamaah, sebagaimana kita terbiasa ke masjid pada Ramadhan, hendaknya kita setelah Ramadhan rawat shalat kita. Saat kita terbiasa tarawih di Ramadhan, hendaknya kita rawat shalat malam kita, meskipun hanya 3 rakaat witir sebelum tidur. Allah perintahkan kita untuk selalu mentilawahi dan merenungkan AlQur'an, sebagaimana kita memiliki program tilawah harian pada bulan Ramadhan sudah sepatutnya kebiasaan baik ini kita lestarikan selepas Ramadhan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Apa yang kita bicarakan tadi adalah bagaimana sepatutnya kita bersikap sebagai individu dalam menutup Ramadhan dan menyambut Syawal ini, yaitu memadukan antara kebahagiaan yang sifatnya fitrah manusiawi ini dengan kesedihan dan pengharapan. Kesedihan disebabkan oleh berlalunya momentum emas paling berharga dalam usia kehidupan kita, sekaligus pengharapan agar amalan yang telah kita laksanakan pada Ramadhan kemarin diterima Allah Ta'ala.

Lalu bagaimana seharusny kita menyikapi berlalunya Ramadhan sebagai umat yang kolektif? Bagaimana seharusnya makna Ramadhan bagi umat? Terlebih di saat ini sedang mengalami saat-saat yang terpuruk, disibukkan oleh berbagai persoalan. Sebagian dari tubuh ummat ini mengalami kezaliman dan penganiayaan, sebagian lain disibukkan oleh materi dan syahwat.

Ramadhan, bagi ummat ini sepatutnya memiliki tiga makna penting;

1) Tanqiyah (seleksi), 2) Tamayyuz (keunggulan dan diferensiasi), 3) Tarbiyah (pendidikan)

Pada makna Tanqiyah (seleksi), Ramadhan sepatutnya berperan menyeleksi dan menyaring ummat ini dari unsur2 yang mengotorinya, banyak orang mengaku beragama Islam, bagian dari Islam namun sama sekali tidak berpikir, berperilaku cara Islam, tidak pula memikul beban kaum Muslimin. Dalam situasi senang, lapang, takkan tampak mana emas mana loyang, takkan tampak mana pemikul beban dan mana penambah beban, karena itulah Ramadhan disyariatkan, sebagai ujian hakiki bagi barisan ummat ini. Di dalam Ramadhan ini ada banyak kesulitan yang menjadi ujian; antara lain,

- ia merupakan fardhu (kewajiban), dan tabiat manusia adalah selalu ingin menghindari dari kewajiban dan tugas.

- Selain itu Ramadhan disyariatkan selama satu bulan penuh, tidak diperkenankan seseorang tidak berpuasa kecuali karena udzur yang betul betul diizinkan

- Ramadhan menguji kita untuk keluar dari kebiasaan. Makan minum dan hubungan suami istri adalah halal, namun dalam Ramadhan tiba2 semua itu diharamkan. Apakah kita siap untuk keluar dari kenyamanan dan kenikmatan?

- Yang lebih dari itu, adalah berpuasa dengan puasa yang hakiki sebagaimana diinginkan Allah, yaitu berpuasa lisan dari perkataan dusta dan kotor, dan berpuasa perbuatan dari menyakiti sesama.

Dari sinilah ujian sebenarnya berlaku, sesiapa yang lulus dari ujian ini dialah yang mampu memikul beban ummat ini, memimpinnya dan membawa ummat ini menuju kejayaan. Tidak mungkin orang yang hanya mengisi puasa dengan menonton televisi, buka bersama namun lupa shalat tarawih, tenggelam dalam sosial media akan lulus ujian dan memikul beban kaum muslimin. Hanya dengan orang orang berkualitas lah ummat ini dibangun dan dibangkitkan, dan kembali mengambil kejayaannya.

Pada aspek kedua, Tamayyuz (keunggulan dan kekhasan). Ramadhan mengajarkan kita sebagai ummat untuk berbangga dengan kekhasan kita sebagai kaum Muslimin. Adakah umat lain yang sama denga kita berpuasa 30 hari? Tidak ada. Adakah umat lain yang bertarawih berturut2 30 hari? Tidak ada.

Perasaan memiliki keunggulan dan kekhasan ini sangat penting dalam membangun identitas kita sebagai umat, karena pada dasarnya umat ini ditakdirkan sebagai khairu ummah (umat terbaik), ummat pelopor, dan bukan ummat yang hanya pengekor dan ikut2an atau bahkan tenggelam dalam cara hidup dan budaya orang lain. Janganlah kita malu dengan identitas keislaman kita, dengan AlQur'an kita, dengan syiar kita, apalagi minder dengan itu semua. Dengan rasa kekhasan dan keunggulan inilah kejayaan dan kebangkitan umat dapat diraih.

Terakhir, pada aspek ketiga, Tarbiyah (pendidikan). Ramadhan mendidik kita agar menjadi ummat yang mampu memimpin dan memikul amanah.

Ramadhan mendidik kita untuk;

- Responsif dan bersegera terhadap seluruh perintah Allah, tanpa banyak bertanya dan menunda-nunda, apalagi ragu-ragu. Tidakkah kita mendengar ayat yang selalu diulang, yaa ayyuhalladzina aamanu kutiba 'alaikumussiyam?

- Taat pada perintah Allah tanpa perlu mempertanyakan alasannya. Pernahkah kita mempertanyakan kenapa Ramadhan yang dipilih Allah untuk puasa 30 hari? Kenapa bukan muharram, sya'ban atau bulan lain? Kenapa harus dari fajar sampai maghrib? Kenapa tidak dari fajar sampai ashar atau isya? Tentu saja tidak pernah. Semua itu mengajarkan kita untuk selalu taat pada semua perintah Allah dan kita semua tidak lain hanyalah hamba yang diminta total melaksanakan perintahNya

- Mendidik kita untuk mengendalikan syahwat kita. Rasul saw pernah bersabda, "sesiapa yang menjaminkan bagiku terjaga apa yang ada antara kedua pipinya (mulut dan lisan), dan antara kedua pahanya (kemaluan), aku jaminkan baginya surga. Kenapa mengendalikan syahwat sangat penting bagi ummat ini? Ummat yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan, kemunduran dan kemiskinan takkan bisa dipikul oleh orang yang tak bisa mengendalikan syahwatnya, baik syahwat mulut dan syahwat bawah perut. Orang yang terbiasa puasa, maka secara alamiah terkondisi untuk selalu berusaha menjaga lisan dan kemaluannya.


بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Penutup

Sebagai penutup marilah kita memanjatkan doa dan pengharapan kepada Allah Ta'ala agar seluruh ibadah kita diterima Allah di penutupan Ramadhan ini, agar kita menjadi ummat yang betul2 terseleksi, teruji, memiliki kebanggan serta terdidik oleh Allah Subhanahu wata'ala.

Selanjutnya, pada penghujung khutbah idul fitri 1436 ini, marilah kita bersama-sama menundukkan kepala dan merendahkan hati kita seraya bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT, Pemilik Segala Keagungan:



الحمد لله رب العالمين حمدا كثيرا يوافي نعمه ويكافئ مزيده

يا ربنا لك الحمد ولك الشكر كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa.
اللَّهُمَّ إِنَّا عَبِيْدُكَ بَنُوا عَبِيْدِكَ بَنُوا إِمَائِكَ نَوَاصِيْناَ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيْناَ حكْمُكَ عَدْلٌ فِيْناَ قَضَاؤُكَ

Ya Allah sesungguhnya kami adalah hamba-Mu, anak dari hamba-hamba Mu, ubun-ubun kami ada di tangan-Mu. Segala takdir-Mu terhadap kami telah Engkau tetapkan, dan sungguh betapa adilnya ketetapan itu atas kami.
نَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

Kami memohon kepada-Mu dengan semua Nama yang Engkau Miliki, yang telah Engkau Namakan untuk Diri-Mu, atau telah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau Turunkan dalam Kitab-Mu, atau Engkau simpan dalam Ilmu yang Ghaib di sisi-Mu
أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوْبِناَ وَنُورَ صُدُوْرِناَ وَجَلاَءَ أَحْزَانِناَ وَذَهَابَ هُمُوْمِنا

Kami mohon, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, penghapus duka dan kesedihan kami, dan pelipur kegundahan jiwa kami.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami, karena ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami, karena ia menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

Ya Allah Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Kami telah berbuat zalim terhadap diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak ampuni kami dan sayangi kami, sesungguhnya kami termasuk orang orang yang merugi
ربنا اغفرلنا ولوالدينا وارحمنا كما ربونا صغارا

Ya Allah ya tuhan Kami, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka telah didik dan sayangi kami sewaktu kecil.

Rahmatilah guru-guru kami, saudara-saudara kami, dan pemimpin-pemimpin kami.

Ya Allah bimbinglah pemimpin kami untuk berlaku adil dan menegakkan syariat Mu, lindungi mereka upaya-upaya musuh-musuh agama yang menggelincirkan.

Ya Allah ya tuhan kami, tolonglah kami saudara-saudara kami yang sedang mengalami kesulitan penderitaan, dan kezaliman di belahan manapun dari bumi Mu ya Allah, sesungguhnya engkau maha mendengar setiap bisikan aduan mereka ya Allah 
 

KHUTBAH ‘IEDUL FITRI 1 SYAWAL 1437 H - Ust.Derysmono, Lc, MA

MENGGAPAI KEBERKAHAN DALAM BERMASYARAKAT

Oleh: Derysmono, Lc, MA 
(Ketum KAMMI LIPIA 2011/2012)


الله أكبر الله أكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.

Tiada kata yang lebih pantas yang terucap dari lisan seorang Hamba yang lemah, melainkan untaian puja dan syukur kepada Allah yang Maha Kuasa, atas segala karunia, hidayah, inayah dan taufiq-Nya sehingga di pagi yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama dalam rangka Shalat I’dul Fitri 1437 H, sebagai wujud syukur kita karena sudah melaksanakan shaum sebulan penuh lamanya. Hal ini sesuai dengan apa yang Allah ta’ala firmankan QS. Al-Baqarah ayat 185
قَالَ اللهُ تَعَالَى: .. وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. {البقرة : 185}.

“…Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, niscaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Ibadahan Shaum selama sebulan lamanya memberikan banyak pelajaran bagi kita semua baik ibadah fardiyyah (induvidu) dan ijtima’iyyah (sosial) yang kesemuanya itu bermuara pada satu tujuan agar kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa (لعلكم تتقون). Taqwa inilah indikator utama kemuliaan, indikator utama kebahagiaan dan indikator utama keberkahan. Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.
قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: يَآأَيـــُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. {الحجرات : 13}.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Pada pagi hari ini, gema takbir berkumandang silih berganti, sebagai wujud kebahagian yang bercampur dengan rasa sedih. Bahagia karena karena kita dapat melewati tarbiyah Shaum selama satu bulan, malam-malamnya kita isi dengan qiyamullail dan siang-siangnya kita isi dengan tilawatul Qur’an, rasanya hari-hari yang begitu indah yang sulit untuk dilupakan. Adapun rasa sedih karena kita tidak akan berjumpa lagi dengan Bulan ini, Bulan Ramadhon 1437 H, tidak akan pernah akan kembali ke pangkuan kita, padahal keutamaan ibadah sunnah di bulan yang mulia ini dilipat gandakan pahalanya bagai ibadah wajib, Allahu Akbar.

Pagi ini hati kita bahagian bercampur sedih, bahagia karena kita dapat berkumpul bersama, bersilaturrahim, bertemu dengan orang-orang yang kita cintai yang lama tak berjumpa, saling berjabat tangan penuh cinta dan kasih sayang, namun di sisi lain kita merasa sedih karena masih banyak saudara-saudara kita di tempat lain yang sekarang ini kelaparan, menderita, tak bisa berkumpul dengan orang-orang yang tercinta disebabkan perang saudara, lihat bagaimana kondisi saudara-saudara kita yang menderita di Palestina, Lihat bagaimana kesulitan saudara-saudara kita di Suriah, hidup dalam kemiskinan, kelaparan, ketakutan 4, 27 juta mengunngsi, 7, 6 juta kehilangan rumah. Lihat saudara kita yang menderita di Afganistan, Burma, Libiya, dan banyak negara lainnya yang kondisinya sangat memperhatikan. Belum lagi dengan saudara-saudara kita yang diuji dengan kemiskinan, para yatim dan dhuafa, yang tak ada lagi orang tua atau keluarga yang membantu mereka, yang memberi mereka makan dan minum, mengasihi mereka.

“Ya Allah maafkan kami yang tak pandai bersyukur atas nikmat yang kau beri, Ya Allah tolonglah saudara kami dimana pun berada, beri mereka makan saat mereka kelaparan, beri mereka pakaian saat mereka kedinginan, beri mereka kasih sayangmu yang tak putus putusnya”
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah


Kondisi bangsa kita yang sedang diuji dengan kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik Selama periode September 2014–Maret 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015), sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September 2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015)., hal ini berdampak juga pada moral masyarakat yang terus tergerus, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang sifnifikan. “Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus,” kata Wakil Ketua KPAI, Maria Advianti kepada Harian Terbit, Minggu (14/6/2015).

Dia memaparkan, 5 kasus tertinggi dengan jumlah kasus per bidang dari 2011 hingga april 2015. Pertama, anak berhadapan dengan hukum hingga april 2015 tercatat 6006 kasus. Selanjutnya, kasus pengasuhan 3160 kasus, pendidikan 1764 kasus, kesehatan dan napza 1366 kasus serta pornografi dan cybercrime 1032 kasus.

Selain itu, sambungnya, anak bisa menjadi korban ataupun pelaku kekerasan dengan lokus kekerasan pada anak ada 3, yaitu di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukkan bahwa 91 persen anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga, 87.6 persen di lingkungan sekolah dan 17.9 persen di lingkungan masyarakat. Belum lagi dengan krisis ekonomi yang mengguncang negara kita saat ini, bahkan juga dunia, PHK terjadi di mana-mana, perbuatan kriminal meningkat tajam, dan permasalahan terorisme yang semakin menakutkan dan mengkhawatirkan semua pihak.

Bisa jadi keberkahan yang Allah ta’ala titipkan kepada kita semua kini sudah mulai diambil, Keberkahan kita dalam bermasyarakat sudah hanya berorientasi kepada nafsu syahwat dan dunia saja, tidak lagi memperhatikan mana yang halal, mana yang haram. Jika suatu masyarakat demikian maka rahmat Allah dan keberkahan sangat jauh untuk menghampiri mereka semua. Hal ini diungkapkan Allah pada QS. An-Nahl ayat 112.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَضَرَ بَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْأ يَصْنَعُوْنَ. {النحل : 112}.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya daya kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; oleh karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebebabkan apa yang telah mereka perbuat”. (QS. An-Nahl: 112).

 
Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ



“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96). Ayat ini memberikan sinyal bahwa keberkahan yang diberikan Allah Swt, hanyalah kepada orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Layak menjadi pertanyaan, apa arti berkah? Kenapa manusia menginginkan keberkahan? Di dalam kamus Munjid disebutkan, bahwa berkah bermakna “an-nama’ waz ziyadah” (tumbuh dan bertambah). Sehingga dapat dimafhumi bahwa berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya. Sehingga, apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya.

Wajar saja jika manusia menginginkannya. Karena sudah kodrati manusia ingin mendapatkan hal yang lebih dan ingin selalu memberi manfaat buat orang lain. Apalagi Rasulullah Saw. sudah berpesan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.”

Ada beberapa hal yang menjadi sumber untuk mendapatkan keberkahan dalam bermasyarakat pertama; beriman dan bertaqwa, hal tersebut sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)
Kedua:bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim/14 : 7]

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :”Manfaat bersyukur tidak akan dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang telah ia dapatkan, dan nikmat tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai”

Ketiga : Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa


Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Dan (Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa” [Hud/11 : 52]

Akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Ad –berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan.

Keempat : Kejujuran

Keberkahan sesungguhnya akan bisa dibangun dan diraih melalui perilaku yang baik, yang berdasarkan iman dan taqwa, seperti kejujuran, kecerdasan (intelektual, spiritual, emosional, dan sosial), etos kerja yang tinggi, etika berusaha dan bekerja yang berdasarkan pada nilai-nilai tauhid dan kepekaan sosial yang tinggi. Di dalam Al-Qur’an dan hadits banyak digambarkan betapa kejujuran (ash-Shiddiq) akan meraih keberkahan, sebaliknya khianat, dusta, korup dan mengambil hak orang lain akan menghasilkan berbagai macam keburukan dan menjauhkan dari keberkahan. Rasulullah Saw. bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِىْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يـَهْدِى إِلَى اْلجَنَّةِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدِقُ حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يـَهْدِىْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يـَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً . {رواه البخارى}.

“Hendaknya kalian selalu berusaha menjadi orang yang benar dan jujur, kerena kejujuran akan melahirkan kebaikan (keuntungan-keuntungan). Dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga. Jika seseorang terus berusaha menjadi orang yang jujur, maka pasti dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu jujur. Jauhilah dusta dan menipu, karena dusta itu akan melahirkan kejahatan dan kejahatan akan menunjukkan jalan ke neraka. Jika seseorang terus-menerus berdusta, maka akan dicatat oleh Allah sebagai orang selalu berdusta.”(HR. Bukhari).
Perhatikan pula firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 188:
قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: وَلاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. {البقرة : 188}.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan cara bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 188).

 
Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Kelima: etos kerja yang tinggi
Islam juga mengajarkan etos kerja yang tinggi dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri kita untuk mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupan ini yang disebut dengan itqan atau ihsan. Sebagaimana sabdanya:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدَكُمُ الْعَمَلَ أَنْ يُتْقِنَهُ. {رواه الديلمي}.
Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai suatu perbuatan yang dikerjakan secara itqan (profesional)”. (HR. Ad-Dailamiy).
Salah satu do’a yang sering dibaca oleh Rasulullah Saw. adalah do’a terhindar dari sifat lemah, malas, kikir, dan penakut.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. {رواه البخارى ومسلم}.
Rasulullah Saw. bersabda: "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemah pendirian, sifat malas, penakut, kikir, hilangnya kesadaran, terlilit utang dan dikendalikan orang lain.”. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan dari fitnah (ketika) hidup dan mati". (HR. Bukhari dan Muslim).
Keenam: Rizqi yang halal
Disamping etos kerja yang tinggi, juga menumbuhkan etika bekerja dan etika berusaha. Artinya hanya rizki yang halal, baik substansinya maupun cara mendapatkannya yang dicari dan dilakukannya. Karena disadari, rizki yang halal akan menimbulkan keberkahan, sebaliknya rizki yang haram akan menimbulkan perilaku yang buruk. Allah berfirman dalam QS. 2: 168:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَآ أَيــُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فيِ الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ. {البقرة : 168}.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menyatakan:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.{الحديث}.
Rasulullah Saw. bersabda: ”Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya”. (al-Hadits).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Ketujuh: Kepekaan sosial dengan berinfaq, sedaqoh, dan zakat.

Disamping kejujuran, etos kerja, dan etika kerja yang harus kita bangun, kepekaan sosial pun harus senantiasa kita tumbuhkan. Artinya rizki yang kita dapatkan bukanlah sekedar untuk diri kita dan keluarga kita, tetapi disitu terdapat hak orang lain, terutama hak fakir-miskin. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 19.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ. {الذاريات : 19}.

” Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”. (QS. Adz-Dzariyat: 19).
Kepekaan sosial ini ditumbuhkan antara lain dengan cara memberikan sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan, terutama fakir-miskin, baik dalam bentuk zakat ataupun infaq dan shadaqah. Yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa kesediaan berzakat, berinfaq atau bershadaqah merupakan ciri utama akhlaq orang yang bertaqwa, yang sarana pembangunan ketaqwaan itu adalah ibadah shaum di bulan Ramadhan. Allah berfirman dalam QS. 3: 133-134.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُـتَّقِيْنَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فيِ السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (134). {ال عمران : 133-134}.

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134)”. (QS. Ali Imran: 133-134).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Yang perlu kita sadari adalah bahwa ternyata kesediaan kita untuk berzakat atau berinfaq akan menimbulkan ketenangan bathin, kejernihan pikiran, dan bahkan harta kita yang kita infaqkan akan semakin berkembang dan bertambah keberkahannya. Firman Allah dalam QS. 2: 261 dan QS. Ar-Rum ayat 39.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. {البقرة : 261}.

” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261).
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِنْدَ اللهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ. {الروم : 39}.

” Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. (QS. Ar-Rum: 39).

Mudah-mudahan dengan sifat-sifat tersebut di atas, yang merupakan sebagian dari sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa, kita bisa Menggapai keberkahan oleh diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita. Amien ya rabbal ’alamin.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَئِزِيْنَ الأَمِنِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فيِ زُمْرَةِ الْمُوَحِّدِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ الله ِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَلَوْ أَنَّ أَهْلُ الْقَرَى ءَامَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَنُوْا يَكْسِبُوْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.



DO’A KHUTBAH II


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَلاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ: أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Kami panjatkan segala puji dan syukur atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami, nikmat sehat wal ‘afiat, nikmat ilmu pengetahuan dan nikmat iman serta Islam. Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah kami semua hamba-hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami hamba-hamba yang ingkar dan kufur terhadap segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, kesalahan dan dosa kedua orang tua kami, kesalahan dan dosa saudara-saudara kami, kaum muslimin dan muslimat yang telah melalaikan segala perintah-Mu dan melaksanakan segala larangan-Mu. Andaikan Engkau tidak mengampuni dan memaafkan kami, kami takut pada adzab-Mu di akhirat nanti dan pertentangan bathin dalam kehidupan dunia ini. Ya Allah. Janganlah Engkau limpahkan adzab-Mu kepada kami, karena dosa dan kesalahan kami. Kami yakin ya Allah, rahmat dan ampunan-Mu jauh lebih luas daripada adzab-Mu.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Terimalah segala amal ibadah kami, terimalah ibadah puasa kami, terimalah shalat kami dan amal ibadah kami yang lain. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu bertaqwa, yang ridha dan ikhlas untuk melaksanakan segala aturan-Mu, yang ridha dan ikhlas, Islam sebagai ajaran-Mu, yang ridha dan ikhlas, Al-Qur'an sebagai imam dan petunjuk kami, yang ridha dan ikhlas, Nabi Muhammad Saw. sebagai panutan kami.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Berbagai macam ujian dan musibah kini sedang menimpa masyarakat dan bangsa kami. Kami yakin musibah itu bukan karena Engkau membenci kami, akan tetapi sebagai peringatan agar kami semua lebih dekat dan lebih cinta kepada-Mu. Agar kami semuanya lebih memiliki sikap سمعنا وأطعنا akan segala ketentuan-Mu. Agar kami semua kembali pada agama-Mu, yaitu agama Islam yang Engkau ridhai.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فيِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونْ فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْـئَلُوْهُ مِنْ فَضْـلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.